Tokk.. Tokk.. Tokk..
"Masuk!"
Pintu ruangan di buka oleh seseorang di luar sana, tanpa melihat pun sang pemilik ruangan sudah tau siapa orang itu.
"Langsung saja, hukuman apa kali ini?" Tanya to the point Lilly yang masih berdiam di ujung pintu sana.
"Masuk dan tutup pintu nya" Titah dingin sang dosen yang tak lain adalah Mr.Erlan.
"Katakan saja, saya tidak punya banyak waktu!"
Seketika tatapan Erlan yang awal nya terfokus pada komputer di depan nya, kini langsung menatap tajam Lilly. "Masuk!" Tekan nya.
Dengan rasa kesal dan marah yang menggerogoti otak nya, Lilly pun lantas menutup begitu kuat pintu ruangan Erlan hingga menimbulkan suara yang sangat bising.
"Ada apa?!" Sentak Lilly marah.
Pasal nya sebelum datang ke sini Lilly tengah menikmati makanan nya bersama sang kekasih, Nico.
Namun kegiatan nya terganggu begitu salah satu mahasiswa menyampaikan pesan dari pria di hadapan nya ini.
"Semakin hari kamu semakin tidak sopan, Ly" Geram Erlan yang kini bangkit dari posisi nya dan mendekati Lilly.
"Sudah saya bilang, saya tidak punya banyak waktu!" Ulang Lilly. "Cepat katakan masalah anda, Mr.Erlan Dallin Harrison!"
"Kenapa? Apa aku menganggu waktu mu bersama kekasih mu itu?"
"Ya! Anda sangat menganggu!" Teriak marah Lilly tepat di depan wajah Erlan.
Gigi Erlan bergemeletuk menahan amarah nya, dalam sekali tarikan pria itu merengkuh pinggang Lilly hingga tubuh kedua nya tak berjarak sedikit pun.
"Lep--"
"Ingat posisi mu, Nyonya Muda Harrison!" Tekan Erlan.
Hidung kedua nya saling beradu bahkan saat ini bibir mereka hampir tak berjarak karena Erlan terus memajukan kepala nya.
Lilly menahan dada Erlan agar pria itu berhenti memajukan kepala nya. "Menjauh brengsek!"
"Sangat tidak sopan mengumpati suami mu sendiri dengan kata seperti itu" Desis berat Erlan mengusap pinggang ramping Lilly.
Suami? Ya, ini lah yang mereka sembunyikan dari semua orang. Bahkan dari sahabat Lilly dan kekasih sekali pun.
Kedua nya memang sudah menikah bahkan sah di mata hukum dan agama, namun seperti ini lah rumah tangga mereka.
Erlan melepaskan rengkuhan nya pada pinggang Lilly hingga membuat tubuh gadis itu menjauh, bahkan saat ini Lilly sudah berbalik tentu nya berniat keluar dari ruangan Erlan.
"Diam di sini atau aku publish hubungan kita sekarang juga!"
Langkah Lilly terhenti di saat tangan nya bersiap menarik handle pintu. Mata nya memanas bersiap mengeluarkan bulir bening nya.
Melihat Lilly yang hanya terdiam lantas Erlan pun menghampiri nya dan menarik lengan Lilly. Kali ini tak ada berontakan dari gadis itu hingga kedua nya sudah duduk di sofa panjang.
"Sebenarnya apa mau anda?!" Sentak Lilly yang baru saja menyentak tangan Erlan. "Di kelas anda selalu menarget kan saya, bahkan anda berniat membuat saya tinggal di semester ini!"
"Masih bertanya apa mau ku?" Tanya balik Erlan. "Dan jangan salahkan aku jika kamu benar-benar tinggal di semester ini. Salahkan kelakuan mu, Lilly!" Lanjut nya.
Lilly hanya diam menatap wajah Erlan penuh kebencian. Pria di hadapan nya ini telah menghancurkan masa remaja nya. Menghancurkan segala impian nya terutama impian untuk menikah dengan Nico.
"Jauh kan pria itu"
"Tidak akan!"
"Dia tidak baik untuk mu, Ly"
"Lalu siapa yang terbaik untuk ku? Kamu?"
Mata Erlan memejam mendengar sahutan Lilly.
"Hanya Nico yang terbaik untuk ku, camkan itu!"
Setelah mengucapkan kata-kata nya Lilly pun bangun dan bersiap untuk kembali melangkah, namun lagi-lagi langkah nya tertahan oleh perkataan Erlan.
"Sebelum aku pulang dari kantor, kamu harus sudah ada di rumah!"
Lilly menoleh menatap remeh Erlan. "Siapa anda mengatur hidup saya?" Sinis nya.
"Suami mu, nona Lilly Lawrence"
"...."
Erlan ikut bangun dan berdiri tepat di hadapan Lilly. Menarik dagu gadis itu dan mengunci tatapan nya.
"Jika saat aku pulang dan kamu belum ada di rumah, maka jangan salahkan aku.." Bisik nya dengan nada penuh arti.
"Sialan!" Maki Lilly seraya menghempaskan tangan Erlan.
Kali in Erlan tidak marah, justru pria itu malah terkekeh pelan. Namun kekehan nya begitu mengerikan.
"Jangan lupa untuk membawa kartu rencana studi mu di atas meja ku, sweety"
Lilly menoleh ke arah meja pria itu, dan mata nya pun menangkap jelas kartu rencana studi milik nya.
"Lain kali aku tidak akan melepaskan mu"
Cup!
*
"Ah sialan!!" Lilly mengacak-acak rambut nya penuh rasa frustasi dan kesal.
Terlihat sejak keluar dari ruangan Erlan gadis itu terus meraung kesal hingga membuat para sahabat nya bingung. Tak jauh berbeda dengan Nico.
"Sebenarnya ada apa dengan mu, Ly?" Tanya Elena yang tak sanggup mendengar kekesalan gadis itu.
Nafas Lilly memburu, bahkan mata nya memerah. Di samping nya ada sang kekasih yang sedari tadi mengusap-usap punggung nya.
"Apa Mr.Erlan memberikan hukuman berat pada mu lagi?" Tanya lembut Nico.
Namun Lilly tak menyahut sedikit pun membuat mereka yang duduk di meja paling pojok itu khawatir.
Nico bangkit dari posisi nya membuat Lilly dan para sahabat nya menatap pria itu.
"Mau kemana?" Tanya Lilly.
"Aku mau temui Mr.Erlan, dan berbicara pada nya untuk meringankan hukuman kamu"
Baru saja Nico berniat melangkah tetapi dengan cepat Lilly menahan tangan nya. "Jangan Nic. Aku gapapa"
Suara lembut itu akhirnya keluar, bahkan kini tatapan Lilly pun mulai melembut dengan senyum tipis nya.
"Terus kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir sayang"
"Aku hanya kesal saat mendengar dia akan membuat aku tinggal di semester ini" Bohong Lilly dengan senyum manis nya.
Nico kembali duduk dengan helaan nafas berat nya. "Sudah aku bilang, berubah sedikit aja. Setidaknya hormati para dosen, bisa?"
Lilly menggeleng. "Tidak bisa"
Nico bergumam jera, kekasih nya ini tidak bisa untuk di ajak berubah.
"Kenapa? Kamu ga suka?" Tanya Lilly dengan tatapan tidak bersahabat nya.
"Bukan begitu sayang, hanya saja apa tidak sebaiknya berubah?"
"Arghh! Tau ah, terserah kalian!" Erang marah Lilly yang langsung bangun dan berlalu meninggalkan meja itu.
"Ly!" Panggil mereka yang ikut bangun dan mengejar gadis itu.
*
**
Tepat pukul enam sore, Erlan baru saja melangkah kan kaki nya di rumah besar yang ia tempati bersama Lilly.
Hal pertama yang ia lihat adalah sepatu Lilly yang di taruh secara asal di depan pintu sana dan entah kenapa hal itu justru membuat pria itu tersenyum.
"Padahal aku sudah bersiap untuk menghamili mu, tetapi kamu malah menuruti perkataan ku" Batin Erlan seraya menaruh sepatu gadis itu ke tempat yang seharusnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•
gak salah aku tebak tadi jika mereka suami istri 😁
2023-05-12
4
Jeon Melly💫
Wah Ternyata Mereka Sudah Menikah🤭
2023-04-13
3
Kymclalu Cintanya Adijeq
visual. nya di tunggu.. semoga lisa, laki. nya jungkook. atau. TAEHYUNG 🥰🥰
2023-04-13
6