Suasana di dalam ruangan itu menjadi hening setelah kepergian Adam dan Moon yang mengerti akan waktu yang di butuhkan kedua nya.
"Kamu mau minum?" Tanya Erlan dengan wajah yang cukup segar setelah membasuh wajah nya.
Lilly menggeleng pelan, dalam diam nya sesekali Lilly mencuri pandangan menatap wajah Erlan. Gadis itu bingung akan semua nya, termasuk perasaan nya.
Sampai akhirnya Lilly tersentak kaget kala merasakan usapan pada pipi nya yang masih terasa berdenyut nyeri.
"Masih sakit?" Tanya Erlan yang langsung mendapat anggukan kecil dari Lilly.
"Maafin aku 'ya? Aku benar-benar ga tau kalau ini semua akan terjadi" Ucap nya tulus.
"Sebenarnya trauma seperti apa yang menimpa kamu?" Tanya Lilly pada akhirnya yang sejak mendengar penjelasan pria itu selalu Ilia tahan.
Erlan tersenyum kecut, sejujurnya ia tidak ingin mengingat kejadian menyakitkan itu. Tetapi pada akhirnya ia harus menjawab karena yang bertanya adalah Istri-Nya..
"Saat kecil.. Aku hanya lah sosok pria lemah yang selalu menjadi korban bully teman-teman ku. Bahkan mereka tidak segan-segan untuk memukul ku" Erlan menarik napas nya begitu dalam sebelum menghembuskan nya secara perlahan.
"Bahkan waktu itu saat sopir terlambat menjemput ku. Aku di hina oleh orang tua mereka dan ada juga yang melempar kepala ku dengan batu karena aku sempat mendorong anak nya"
Lilly terdiam sesaat, adakah manusia seperti itu? Adakah sosok orang tua yang melempar anak seseorang dengan batu?
"Lalu bagaimana dengan mu saat itu?"
Senyum hangat langsung menghiasi wajah Erlan. Pertama kali nya ketika ia cerita ada yang menanyakan keadaan nya saat itu.
"Kepala ku berdarah dan tak lama setelah itu aku sudah tidak sadarkan diri. Bahkan aku tidak tau siapa yang membawa ku ke rumah sakit karena seingat ku, wanita yang melempar kepala ku dengan batu besar itu langsung kabur"
Lilly tidak bisa berkata-kata lagi, ternyata masa kecil Erlan sangat menyakitkan dan sekarang Lilly dapat mengerti kenapa pria itu bisa mengalami gangguan DID ini.
"Dan mungkin tadi siang karena kamu menampar ku, bahkan memaki aku di tempat umum. Aku kembali mengingat masa menyakitkan itu hingga tanpa sadar aku tidak bisa menahan diri ku"
"Apa semenyakitkan itu saat di bully?"
Erlan mengangguk membuat Lilly langsung teringat akan korban-korban bullying-Nya.
"Maka dari itu, setiap kamu membully teman-teman mu aku tidak pernah datang ke tempat kejadian walaupun para dosen meminta ku"
Sekarang Lilly semakin mengerti! Pantas saja dosen yang terkenal akan ketegasan nya ini, dan biasa nya selalu ikut campur jika terjadi masalah di kampus tetapi tidak pernah menegur nya secara langsung di tempat kejadian.
Erlan menggenggam tangan Lilly seakan tau apa yang di pikirkan gadis itu.
"Maka dari itu, aku ingin kamu berhenti membully mereka. Walaupun mereka sudah dewasa tapi tetap saja jika mental nya tidak kuat"
"Emm,, baiklah akan aku coba" Jawab ragu Lilly.
"Kamu harus melakukan nya, karena jika kamu kembali membuat masalah maka pendidikan kamu terhenti di sini"
Terhenti? Tentu terhenti karena jika di keluarkan dari universitas itu Lilly tidak akan di terima di universitas mana pun.
Sedikit lucu begitu mengingat diri nya mendapat surat ancaman seperti itu, padahal mertua nya adalah pemilik universitas tersebut dan kedua orang tua nya adalah donatur terbesar nya.
Tetapi Lilly seakan di tampar kenyataan saat mengingat kelakuan nya yang memang sudah di luar batas.
"Bagaimana, apa aku sudah di maafkan?"
Lilly bergumam bingung, jadi semua ini salah nya? Tetapi dia tidak akan melakukan itu jika Erlan tidak membuat tanda kepemilikan nya hingga memenuhi leher dan dada nya.
"Berikan waktu untuk aku berfikir dan lebih baik sana kamu belikan aku roti. Aku sangat lapar" Jawab Lilly.
"Aku minta tolong sama Mama aja ya? Mereka 'ka lagi di luar"
"Ga mau, sana kamu yang beli!"
"Tapi nanti kamu sendirian di sini"
Lilly berdecak kesal. "Oh, jadi ga mau di maafin nih?" Ancam nya.
"Oke-oke aku yang akan beli, tapi aku akan memanggil perawat untuk menemani mu"
"Ga usah lebay deh, aku baik-baik aja"
Erlan mengacuhkan perkataan Lilly, kini pria itu sudah menekan salah satu tombol dimana setelah beberapa saat datang lah dua orang perawat.
"Kalian, jaga istri ku!" Titah Erlan saat perawat tersebut hendak bersuara.
Lilly hanya memutar pandangan nya, Erlan memang tidak mau mengalah dan akan tetap pada pendirian nya.
"Baik tuan" Jawab dua orang perawat itu.
Cup!
Erlan mengecup singkat kening Lilly. "Aku beli roti nya dulu, jangan banyak gerak!"
Setelah nya pria itu melangkah meninggalkan ruangan rawat Lilly.
*
Brugh!.
"Shhh.. Maaf tuan, saya tidak--" Ucapan pria itu terhenti kala mata nya menangkap sosok pria yang baru saja ia tabrak. "Mr.Erlan?!" Lanjut nya kaget.
Erlan berdehem singkat menanggapi ucapan pria yang baru saja menabrak nya di kantin rumah sakit ini.
"Mr., ada di sini? Siapa yang sakit?" Tanya sopan Nico pada sosok dosen tegas yang sering menghukum kekasih nya, ah salah. Mungkin mantan kekasih nya.
"Istri saya" Sahut singkat Erlan dengan mata yang beralih menatap penjual kopi yang masih membuat kopi nya.
Nico mengangguk mengerti, memang ia tahu bahwa Erlan sudah menikah. Tetapi ia tidak siapa istri dosen nya, itupun Nico ketahui saat tidak sengaja mendengar para dosen wanita yang sedang menggosip.
"Kamu ngapain ada di sini? Ada yang sakit?" Tanya Erlan sebagai basa-basi nya.
"Ah, itu. Keluarga saya ada yang sakit" Sahut Nico sedikit gugup.
Erlan mengangguk kecil sebelum akhirnya kopi pesanan nya telah selesai di buat.
"Saya duluan" Ujar Erlan sebelum melangkah.
"Silahkan Mr., dan salam pada istri anda semoga lekas sembuh"
Mendengar perkataan Nico, Erlan pun menghentikan langkah nya dan berbalik menatap pria itu dengan senyum tipis nya.
"Ya, terima kasih dan akan aku sampaikan salam mu pada Istri-Ku" Sahut Erlan membuat Nico menggaruk tengkuk nya malu.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
raraaa
*perawat kak
kok jadi pesawat😭
2023-04-21
4