Part 4

"Sebuah kemajuan bagi seorang Nyonya Muda Harrison pulang lebih awal" Sindir halus Erlan yang saat ini tengah melepaskan jas beserta kancing kemeja nya.

Mata nya terus menatap Lilly yang entah benar-benar fokus pada buku nya atau hanya sekedar membolak-balikkan nya.

Lilly sempat menoleh saat pintu kamar di buka. Namun, begitu melihat Erlan yang membuka Lilly kembali menatap buku nya. Tidak menyambut atau pun menghiraukan kehadiran pria itu sama sekali.

"Perlu bantuan, Nyonya muda?" Tanya Erlan yang saat ini berdiri tepat di belakang kursi Lilly.

"Berhenti memanggilku dengan iming-iming Nyonya Muda!" Sentak nya kesal.

"Bukan kah benar, kamu seorang Nyonya Muda di dalam keluarga Harrison?"

"Tidak, aku tidak pernah mau masuk ke dalam lingkungan keluarga mu dan aku masih lah seorang Nona Muda Lawrence!"

Erlan terkekeh pelan, kedua tangan nya sudah melingkar memeluk leher Lilly dengan pipi yang sudah bersentuhan dengan pipi Lilly.

"Lepaskan dan menjauh!" Pekik tak terima Lilly.

"Sadarlah istri ku" Bisik Erlan seraya mengecup daun telinga Lilly.

"Brengsek!" Lilly menghempaskan tangan Erlan dan bangun dari posisi nya.

Lilly menatap penuh kebencian pada pria tinggi di hadapan nya yang entah sejak kapan tidak memakai baju nya. Hanya tersisa celana bahan panjang nya saja.

"Pergi jangan menganggu ku!" Hardik Lilly marah.

Sesaat Erlan hanya diam menatap wajah marah Lilly yang terlihat begitu menggemaskan, sampai akhirnya secepat kilat pria itu mendaratkan kecupan basah nya pada bibir Lilly.

"Erlan..!!" Teriak murka Lilly seraya mengusap kasar bibir nya, bersiap menjambak rambut pria itu namun dengan cepat Erlan berlari ke arah kamar mandi.

"Tunggu aku honey, jangan terburu-buru aku harus mandi dulu" Balas berteriak Erlan dengan perkataan yang terkesan menggoda.

"Arghh! Dasar iblis pengganggu!" Erang Lilly frustasi.

Ini lah yang tidak Lilly sukai jika pulang lebih awal, dimana sisa waktu nya sebelum tidur akan terus di gunakan Erlan untuk menganggu nya.

Menghempaskan kasar bok*ng nya pada kursi yang ia duduki sebelum nya bersamaan dengan helaan napas yang tidak beraturan, lantas Lilly kembali memfokuskan diri nya pada buku catatan milik nya.

Cukup lama Lilly berkutat dengan buku dan laptop nya, mencari informasi terkait soal yang Erlan berikan tadi siang untuk nya sebagai hukuman.

Pada akhirnya Lilly kembali meraung kesal. "Kenapa tidak ada di internet? Kenapa tidak ada di situs mana pun?!!"

"Wajar jika tidak ada, karena aku membuat soal itu sendiri dan kamu harus menyelesaikan nya dengan otak sendiri" Sahut tiba-tiba Erlan.

Lilly hanya diam, tak menyahut atau pun menatap pria itu.

"Sudah makan?" Tanya Erlan yang saat ini berdiri di samping Lilly.

"Sudah" Jawab malas Lilly kembali mengutak-atik laptop nya.

"Makan apa? Kamu 'kan ga masak"

"Kata siapa ga masak?" Tanya balik Lilly.

"Tadi di meja makan kosong ga ada apa-apa"

Lilly berdecih pelan di iringi kekehan nya. "Aku masak untuk diri ku sendiri, jadi aku habis kan sendiri" Ucap nya dengan nada meledek.

Dalam sekali sentakan Erlan menarik lenga Lilly hingga gadis itu bangun dari posisi nya.

"Hei!" Tegur tak terima Lilly.

"Pantaskan seperti itu?"

Nada menekan penuh kegeraman, tatapan tajam dengan rahang mengetat milik Erlan berhasil mendominasi Lilly yang mulai takut menghadapi pria yang berstatus sebagai suami nya itu.

"Biasa nya saja--"

"Tidak ada biasa nya!" Potong membentak Erlan yang mengerti kemana arah perkataan Lilly. "Aku tidak makan jika kamu belum pulang setiap malam!"

Mata Lilly seketika melebar, tidak mungkin pria di depan nya ini menunggu diri nya untuk masak dan makan bersama 'bukan?

"Aku selalu menunggu kamu pulang dan menunggu masakan mu lalu kita makan bersama, tetapi apa?" Napas Erlan memburu dengan urat di leher nya yang terlihat begitu jelas. "Kamu selalu pulang tengah malam!"

Saat itu juga jantung Lilly rasanya berhenti berdetak dengan rasa nyeri yang menghantam perasaan nya.

Lilly jelas tau bahwa Erlan sangat menyukai masakan nya, terbukti sejak pertama kali ia memasak makanan dan semua nya di habiskan oleh pria itu.

Hanya ini kelebihan yang Lilly punya selain wajah cantik nya, dimana ia sangat lihai dalam memasak apapun. Namun dalam urusan lain nya ia sangat buruk, termasuk pelajaran.

"Ba-baiklah aku akan masak sekarang" Gugup Lilly berusaha melepaskan genggam erat tangan Erlan pada tangan nya.

Percaya atau tidak, rasa nya saat ini Lilly ingin menghilang dari hadapan Erlan. Pasalnya sejak awal menikah lima bulan yang lalu Erlan tak pernah mengeluarkan ekspresi dan tatapan seperti ini pada nya.

"Lepas Erlan, aku akan--" Ucapan Lilly terhenti begitu Erlan menyentak tubuh nya untuk berjalan.

Menyeret Lilly agar mengikuti langkah besar nya, akhirnya kini langkah Erlan terhenti tepat di depan kitchen table.

"Masak yang banyak!" Titah nya dingin dengan ekspresi yang sudah berubah, tidak seperti sebelum nya.

Setelah mengucapkan tiga kata tersebut, Erlan langsung duduk pada kursi yang berhadapan langsung dengan dapur dimana ia bisa melihat gerakan Lilly saat memasak.

Namun lain hal nya dengan Lilly yang malah terdiam menatap aneh pria itu. "Apakah dia punya riwayat gangguan ekspresi?!" Batin nya tak senang.

"Cepat!"

Sesaat sebelum melangkah Lilly melayangkan tatapan kesal nya. Hingga akhirnya gadis itu mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan yang ada di lemari pendingin itu.

Mengolah segala jenis sayur-mayur dan perbumbuan, Lilly terlihat sangat lihai bak seorang master chef di sebuah restoran berbintang.

Dan hal itu pun tak lepas dari tatapan mata elang milik Erlan. Membayangkan diri nya yang saat ini membantu Lilly bahkan memeluk gadis itu dari belakang dengan latar yang romantis.

Bercanda sambil mengolah sayuran dengan gadis kecil yang membuat nya jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena melihat Lilly tengah menyiram tamanan di rumah nya dengan mulut yang terus mengeluarkan umpatan tidak terima nya.

Yang kebetulan saat itu Erlan berkunjung ke rumah keluarga Lawrence untuk mengantarkan cake buatan sang Mama untuk keluarga itu, dimana kedua orang tua mereka saling bersahabat sejak menduduki bangku sekolah.

Entah karena terlalu lama melamun atau Lilly yang terlalu cepat saat memasak, kini di hadapan Erlan telah terhidang berbagai jenis makanan.

"Makan lah!" Ketus Lilly menyerahkan piring berisi nasi yang baru saja ia ambil.

Cup!

Erlan mengecup sekilas pipi Lilly sebelum akhirnya berucap. "Terimakasih istri ku"

"Tirimikisih istri ki" Cibir kesal Lilly seraya melangkah dan berniat meninggalkan dapur.

Erlan di buat terkekeh mendengar cibiran sang istri, namun dengan cepat ia menahan lengan Lilly. "Temani dong, masa suami mau makan di tinggal"

"Bunuh boleh ga sih?" Celetuk Lilly kelewat kesal.

"Jangan dong, nanti kamu jadi janda"

...****************...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Pantesan, Pasti Erlan yg minta dijodohin sama Lily ke ortunya ya kan 😂

2023-09-11

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Erlan mmg harusnya bersikap tegas dan keras sedikit aja ke Lily, Untuk kebaikan nya sendiri, Menurut ku sikapnya Lily mmg udah keterlaluan ke siswa dan juga Dosen2 gak ada hormat2 nya, Jadi Erlan sebagai Suami lah yg akan membimbing istrinya utk berubah..

2023-09-11

1

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

bisa takut juga ya

2023-05-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!