Part 8

"Mau apa kalian bertemu hah!" Teriak murka Erlan tepat di depan wajah Lilly.

Mata gadis itu terpejam dengan nafas yang terasa tercekat. "Bukan urusan mu"

"Ini urusan ku, jelas urusan ku! Kamu istri ku, Lilly!"

Mata terpejam itu perlahan terbuka menampilkan netra coklat yang selalu membuat hati Erlan berdebar, namun kali ini tidak!.

"Ada kah seorang suami yang mencengkram istri nya seperti ini?" Tanya Lilly dengan nada datar nya.

"Lalu ada kah seorang istri yang tidak menganggap kehadiran suami nya dan malah berniat untuk pergi bersama selingkuhan nya?" Balas menohok Erlan.

"Nico bukan selingkuhan ku, dia kekasih ku!"

Erlan mendorong tubuh Lilly hingga berbaring di kasur, melepaskan cengkraman di dagu nya lalu beralih mencengkram kedua pipi gadis itu.

"Baiklah jika dia bukan selingkuhan mu, bagaimana jika kita mem-publish status kita dan lihat tanggapan orang-orang. Apa benar pria itu bukan selingkuhan mu?"

Sebisa mungkin Lilly menahan cengkraman itu. "Nico hadir lebih dahulu dalam hidup ku, jadi kamu lah perusak nya di sini!"

"Benarkah?" Erlan mengangkat sebelah alis nya, lalu melepaskan cengkraman nya. Namun pria itu semakin menindih tubuh Lilly.

"Bukan kah yang hadir lebih dulu dalam hidup mu adalah aku? Kalian bertemu saat kamu berkuliah di sana bukan?"

Lilly bungkam, memang benar apa ada nya. Erlan lah yang hadir lebih dulu dalam hidup nya, menganggu kehidupan tentram nya sejak ia masih menduduki bangku sekolah menengah.

"Seperti nya kamu ingin mengulangi permainan tadi siang, sweety?"

Plak!

"Brengsek!" Desis Lilly setelah menampar wajah Erlan.

"Baiklah, cukup. Mulai hari ini kamu akan melihat aku yang sebenarnya"

Setelah mengucapkan kalimat tersebut Erlan bangkit dari posisi nya dan langsung memasuki kamar mandi.

Menyisakan Lilly dengan tangan bergetar nya. "Siall kenapa harus bergetar!" Maki nya pada tangan nya sendiri.

"Jangan takut pada pria brengsek itu, Lilly! Dia harus di lawan agar tidak bisa menguasai kebebasan mu!"

Ya, Lilly terus meyakinkan diri nya untuk terus melawan Erlan. Walaupun sebenarnya setelah mendengar perkataan pria itu entah kenapa keberanian Lilly menjadi goyah.

"Lo harus keluar dari kamar ini sebelum pria brengsek itu keluar dari kamar mandi, Ly!" Peringat nya pada diri sendiri.

Setelah nya Lilly pun langsung bangun dan berjalan cepat ke ara pintu. Memegang handle pintu dan berniat membuka nya tetapi nihil pintu itu terkunci. Dan s*al nya kunci pintu nya tidak ada.

"Ah, s*al! Pasti di ambil pria itu!" Maki nya kesal.

Sedangkan di dalam kamar mandi gadis itu yang sedang di tempati oleh Erlan. Pria itu tengah membasahi tubuh polos nya dengan air yang terus keluar dari shower.

Pikiran Erlan berkecamuk. Di satu sisi ia sangat marah pada Lilly, namun di sisi lain ini konsekuensi yang sudah seharusnya ia terima.

Jauh sebelum menikah, Erlan tau seperti apa perilaku Lilly. Dan Erlan pun tau bahwa Lilly sudah memiliki kekasih.

"Menghadapi perempuan seperti Lilly memang seperti nya harus dengan kekerasan agar dia jera"

"Tapi aku tidak bisa menyakiti perempuan yang sangat aku cintai"

Erlan menggelengkan cepat kepala nya dengan tangan yang menjambak rambut nya. "Tidak, tahan Erlan!"

"Lilly tidak boleh mengetahui nya, tahan emosi mu!" Bentak nya pada diri sendiri. "Ingat, kamu tidak boleh menyakiti perempuan yang kamu cintai!"

*

"Berikan kunci kamar!" Pinta Lilly pada Erlan yang baru saja membuka pintu kamar mandi nya.

Tidak menunjukkan kekagetan nya walaupun sebenarnya Erlan kaget akan kehadiran Lilly yang berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Keringkan dulu rambut ku" Ujar nya seraya melempar handuk kecil ke wajah Lilly.

"Erlan..!!"

"Cepat keringkan jika ingin keluar, dan jangan memancing keributan karena aku tidak ingin bertengkar di rumah orang tua mu!"

Lilly menatap nyalang pria yang saat ini sudah duduk di kursi rias nya. Sedangkan Erlan membalas tatapan Lilly lewat kaca di meja rias itu.

Mendengus pelan, pada akhirnya Lilly mengalah dan menghancurkan Erlan yang hanya memakai handuk sebatas pinggang.

Menggosok cepat rambut Erlan dengan handuk kecil itu, Lilly pun mendapatkan hadiah tamparan kecil pada lengan nya.

"Perlahan, kepala ku saki!"

Malas menyahut karena pada akhirnya berujung pertengkaran, Lilly pun memelankan gosokan nya dengan mata yang terus mengedar.

"Setelah ini masak makan malam untuk aku dan orang tua mu"

"Ada pelayan"

"Apa kamu tidak berniat untuk meminta maaf pada Papa mu?"

Lilly diam, mata nya terhenti pada kaca itu. Dimana saat ini Erlan tengah menatap nya juga.

"Buatkan lah masakan yang enak untuk mereka sebagai permintaan maaf"

"Lalu guna nya pelayan, apa?"

"Aku sudah menyuruh para pelayan untuk kembali ke rumah belakang"

"Kamu! Seenaknya saja memerintah!"

"Kenapa? Aku juga tuan rumah di sini"

"Tapi--"

"Aku akan membantu mu, aku juga bisa memasak jadi tidak perlu khawatir"

Gerakan Lilly terhenti saat itu juga. "Jika bisa memasak, kenapa kamu terus menyuruh ku untuk masak?!"

"Karena itu tugas seorang istri"

*

*

Mulut Lilly di buat menganga kala melihat kelihaian tangan Erlan dalam memegang wajan dengan api yang sesekali naik ke permukaan wajah.

Terselip rasa kagum saat melihat itu, namun Lilly langsung menetralkan ekspresi nya saat Erlan melirik nya.

"Berikan itu" Ucap nya meminta kecap di tangan Lilly.

Lilly langsung memberikan nya, dan menonton aksi nya lagi. Hingga satu hidangan telah berhasil di buat pria itu.

"Apa enak?" Gumam Lilly saat melihat masakan Erlan.

"Coba saja, jangan meragukan aku. Sweety" Bisik nya memeluk perut Lilly.

"Ih apaan sih, lepas!"

"Coba dulu" Titah Erlan yang bersandar pada bahu Lilly.

Walaupun ragu Lilly mencoba masakan Erlan yang tentu nya bumbu tersebut di racik oleh pria itu.

Seketika mata nya melotot kala merasakan rasa yang sangat luar biasa dan cocok di lidah nya.

"Bagaimana? Enak bukan?"

Lilly langsung menetralkan ekspresi nya saat mendengar pertanyaan menggoda itu. "Biasa saja"

"Baiklah, hanya masakan mu yang enak dan sekarang ayo masak dengan benar" Ujar mengalah Erlan.

"Yasudah maka lepaskan ini!" Tepuk nya pada lengan Erlan yang masih melingkar di perut nya.

"Begini saja, lagipula bahan-bahan nya sudah kita olah tadi"

"Susah gerak nya, Erlan!"

"Gampang kok, nanti aku ikut gerak"

Napas Lilly memburu, menandakan betapa kesal nya ia meladeni kelakuan Erlan.

Mana bisa masak dalam posisi di peluk dari belakang seperti ini? Ruang gerak nya tentu menjadi terbatas dan lagi berbahaya!

"Ayo sweety, lebih cepat lebih baik"

"Lepaskan Mr.Erlan yang terhormat"

"Masak sekarang atau aku akan menambah tanda di leher mu di dapur ini juga!" Ancam tak main-main Erlan yang menempelkan bibir nya pada kulit leher Lilly.

"Oke-oke masak sekarang, tapi jangan salahkan aku jika tangan kamu terkena percikan minyak!"

"Tidak akan, sweety.."

Ya, pada akhirnya Lilly memulai acara masak-memasak nya dengan Erlan yang terus memeluk perut nya.

Dan tentu nya Erlan sangat bahagia, karena khayalan nya setiap saat melihat Lilly memasak akhirnya terwujud.

"Aku akan terus memeluk mu saat kamu memasak!"

...****************...

Terpopuler

Comments

Elizabeth Zulfa

Elizabeth Zulfa

emang bner keknya klo Lily g akan brubah sblm kalangan sesuatu zg brhrga dlm hdup ya... dngn pnyesalan itu mngkin zg bs merubah Lily jdi lbh baik

2023-05-22

2

Nur Amirah

Nur Amirah

kapan lilly berubah jadi lembut yaa thor?

2023-04-15

5

💥yuii💥

💥yuii💥

lanjut kk

2023-04-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!