Part 9

Ruang makan terasa begitu hening, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai makan nya atau pun berbicara.

Tentu nya Erlan mengerti akan keheningan ini, lantas pria itu menyenggol pelan lengan sang istri membuat tatapan Lilly beralih pada nya.

"Ayo bicara" Bisik Erlan.

"Apa?"

"Minta maaf Lilly..!"

"Aku 'kan sudah masak"

"Beda!!" Gemas Erlan sedikit memekik.

Alhasil tatapan kedua mertua nya terfokus pada mereka.

"Cepat minta maaf" Desak Erlan terakhir kali nya membuat Lilly mendengus pelan.

Akhir nya gadis itu mengalihkan tatapan nya kepada kedua orang tua nya. Lebih tepat nya sang Papa.

"Maaf"

Erlan mencelos kala mendengar penuturan sang istri yang terdengar seperti gumaman. Bahkan Lilly mengucapkan nya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Yang benar, sweety" Ucap lembut Erlan penuh penekanan, tak lupa tangan pria itu sudah berada di paha Lilly.

"Haishh..!!" Decak kesal Lilly.

Seumur hidup nya Lilly tidak pernah meminta maaf, bahkan pada orang tua nya walaupun mereka sering bertengkar.

Tetapi sejak bersama dengan Erlan, pria itu membuat Lilly harus mengucapkan kata maaf yang tidak ada di dalam kamus nya.

"Pa, Ma. Maafin Lilly"

"Lebih tulus!" Imbuh cepat Erlan.

"Erlan!!" Pekik frustasi Lilly.

Melihat itu tawa Erick dan Aili pun tak tertahan lagi. Memang sedari awal mereka sudah memperhatikan sepasang suami-istri itu, bahkan saat mereka memasak di dapur!.

"Hahaha sudah cukup Erlan" Ujar Aili di sela tawa nya.

Mata Lilly mendelik sebal, apa sebenarnya kedua orang tua nya dan Erlan sedang mengerjai nya?.

"Kami sudah terbiasa dengan ketidaksopanan anak nakal ini" Sambung Erick yang baru saja menghentikan tawa nya.

Erlan menggaruk pelan tengkuk leher nya, apakah sekarang dia terlihat konyol?.

"Apa kalian bersekongkol untuk mengerjai aku?!" Tanya sebal Lilly.

"Mana ada persekongkolan antara menantu dan mertua" Sahut cepat Aili, karena memang tidak ada persekongkolan di antara mereka.

"Hmm, hanya saja Erlan lebih dewasa dan tau bahwa sikap kamu sangat tidak sopan" Timpal Erick lagi.

Lilly memutar bola mata nya jengah. "Iya lah, dia kan udah tua!" Sahut nya sinis.

Hal itu pun mengundang rematan tangan Erlan pada paha nya dan mengundang tatapan tajam nya.

"Sakit..!!" Desis Lilly.

Tanpa menghiraukan desisan Lilly, Erlan pun beralih menatap kedua mertua nya. Orang tua kedua setelah orang tua nya.

"Ayo Pa, Ma di makan. Malam ini spesial Lilly yang masak sebagai permintaan maaf" Ujar sopan Erlan dengan senyum tipis nya.

"Hmm benarkah?"

Lilly mengangguk sebagai jawaban atas keraguan Erick, sang Papa. Saat ini Lilly tidak bisa berbuat banyak karena diri nya berada di bawah tekanan Erlan.

Senyum Erick dan Aili pun mengembang, Lilly sudah banyak berubah walaupun mulut tidak sopan itu sesekali melukai hati mereka.

"Baiklah ayo makan" Ujar Erick.

Baru saja Aili bergerak menyendok nasi ke piring sang suami, tiba-tiba saja suara teriakan yang tak jauh dari meja makan mengalihkan perhatian mereka.

"Kalian jahat, masa aku ga di ajak!!"

Aili menepuk kening nya, ia lupa akan kehadiran si bungsu yang saat ini berjalan mendekati meja makan dengan raut marah.

Lala Lawrence, anak kedua sekaligus terakhir di keluarga Lawrence sejauh ini. Dia yang yang baru saja berteriak

Umur Lala hanya berjarak tiga tahun lebih muda dari Lilly, yang arti nya gadis remaja itu berusia tujuh belas tahun.

"Astaga maafkan Mama sayang, Mama lupa memanggil mu"

Lala mendengus pelan. "Sudah biasa Mama selalu melupakan ku jika kak Lilly ada di rumah"

Aili terkekeh pelan, lantas menghampiri si bungsu lalu menekan kedua pipi chubby itu. "Maafkan Mama, sayang. Kamu tau sendiri 'kan gimana kakak kamu?"

Lala mengangguk mengerti, karena memang sedari pulang sekolah ia mengurung diri nya di kamar untuk belajar.

"Ayo makan, hari ini kakak kamu dan kak Erlan yang masak"

Seketika mata gadis remaja itu berbinar dan secepat kilat ia menyelip di antara kursi Erlan dan Lilly.

"Benarkan kak Erlan yang masak?" Tanya antusias Lala.

"Tidak La, kakak hanya membantu" Sahut lembut Erlan.

Sesaat bibir Lala mengerucut kecewa, namun pada akhirnya gadis itu kembali tersenyum dan tanpa menghiraukan kehadiran Lilly.

Lala pun menyerobot duduk di sisa kursi yang saat ini Lilly duduki.

"Lala..!!" Tegur geram Lilly.

"Pindah sana kak, Lala mau duduk di sini" Usir nya tanpa basa-basi.

"Ih apaan sih enak aja! Kakak yang lebih dulu duduk di sini!"

"Aku ingin duduk di samping kak Erlan. Sana kakak geser, lagi pula kakak 'kan sudah sering bertemu kak Erlan sedangkan Lala jarang"

"Lalu apa peduli ku?" Ketus Lilly tak mau mengalah, bahkan gadis itu sedikit mendorong tubuh sang adik agar bangun.

Namun hal itu malah mengundang tangan Erlan untuk menahan bahu Lala saat tubuh gadis remaja itu tersentak.

"Astaga Lilly, nanti Lala bisa jatuh!" Tegur Erlan.

Mata Lilly melebar sempurna, terlebih lagi saat melihat kedua tangan Erlan yang memegang bahu sang adik.

Plak! Plak!.

Lilly menepuk cukup kuat punggung tangan Erlan. "Apaan ini, lepas! Ga usah sentuh-sentuh adik ku!" Geram nya.

Refleks Erlan pun melepaskan tangan nya dengan mata yang menerjab bingung, dan jangan lupakan kedua orang tua yang saat ini sudah mulai makan seraya menyaksikan pertengkaran mereka.

"Lilly cemburu tuh kayak nya" Bisik Aili di sela kunyahan nya yang langsung mendapat anggukan dari Erick.

"Ya udah kalau gitu kamu geser, nanti Lala jatuh dan terbentur meja makan gimana?"

"Kok aku? Kan aku dari awal sudah duduk di sini, Lala nya aja yang nyerobot!"

"Sesekali mengalah pada adik mu, Ly. Kamu kan kakak nya"

Tatapan Lilly semakin menajam, kenapa Erlan berbicara seakan tak butuh lagi kehadiran nya?.

"Tau nih, benar apa yang kak Erlan bilang. Sesekali kakak mengalah"

Sedikit memukul kesal meja makan, lantas Lilly pun berdiri. "Oke fine!"

Lilly pun berjalan mengitari meja makan dan duduk di samping sang Mama. Dimana ia berhadapan dengan Lala, Aili berhadapan dengan Erlan dan Erick di kursi utama.

"Ekhemm,, sudah ayo makan!" Tegas Erick memecah keadaan. Padahal sedari tadi diri sudah memulai makan nya.

Mereka pun mulai makan, Lala mengambilkan beberapa lauk untuk Erlan yang biasa nya di lakukan oleh Lilly.

Sedangkan Lilly yang melihat itu, tanpa sadar genggaman sendok di tangan nya semakin menguat.

"Ayo kak kita makan"

Erlan mengangguk dan suasana sekitar entah kenapa terasa sangat berbeda. Selama beberapa saat hanya terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.

Hingga akhirnya gadis remaja berpipi chubby iru kembali mengeluarkan suara nya.

"Kak Erlan menginap di sini 'kan?"

Erlan menggeleng pelan, dan menelan makanan di mulut nya terlebih dahulu. "Kakak harus pulang, besok pagi ada meeting kalau dari sini kejauhan"

"Yah.." Gumam tidak semangat Lala. "Padahal Lala ingin belajar bersama kak Erlan, ada beberapa tugas yang Lala tidak mengerti"

Sejenak Erlan menatap kedua orang tua nya yang hanya mengangguk kan kepala nya tanda terserah dengan keputusan Erlan dan beralih menatap Lilly.

Rawrrr!!

Tatapan gadis itu seakan ingin memangsa nya hidup-hidup, hingga membuat Erlan sempat tersentak kaget.

"Kakak menginap ya? Ya kak ya?" Bujuk manis Lala dengan wajah imut nya.

"Emm baiklah kak Erlan akan membantu Lala"

Tring!

Lilly menaruh kasar sendok di tangan nya, kemudian dengan tegukan kasar juga gadis itu meminum air putih nya.

"Aku sudah kenyang!" Setelah nya Lilly langsung pergi.

...****************...

Terpopuler

Comments

🦋ꪖꪗꪖ𝕫 •*ᥫ᭡

🦋ꪖꪗꪖ𝕫 •*ᥫ᭡

Apakah ini bisa di sebut bumbu-bumbu cembukor?

2023-04-16

5

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!