"Tidur lah.." Bisik Erlan yang semakin menenggelamkan wajah nya pada tengkuk Lilly.
Mata Lilly memang sejak awal terus terpejam, namun bibir nya terus mengeluarkan isak tangis nya, bahkan sejak kejadian di dalam mobil.
"Tidur, sweety" Bisik Erlan lagi setelah beberapa menit berlalu.
"Lepas.." Ucap Lilly yang terdengar seperti gumaman. Tangan nya berusaha melepaskan tangan Erlan yang melingkar di perut polos nya.
"Berhenti bertingkah seakan aku baru saja memperk*sa mu, sweety..!"
"Ya, kamu memang hampir memperk*sa ku hikss.. Lepaskan hikss..!!"
"Aku suami mu, jadi kata memperk*sa sangat tidak cocok. Lebih tepat nya aku ingin meminta hak ku!"
Tangis Lilly semakin menjadi. Baru kali ini perempuan pembuat onar sekaligus queen bullying itu menangis seperti ini.
Dan ini semua berawal dari kejadian panas di dalam mobil, dimana tiba-tiba saja Erlan melahap bibir nya begitu rakus.
Bahkan Lilly tidak bisa bergerak melawan nya karena tangan pria itu yang menahan nya dan juga ruang di dalam mobil yang sempit.
Hingga kini Lilly berakhir di atas kasur dengan tubuh yang sudah di penuhi tanda merah keunguan bahkan hingga paha perempuan itu.
"Dan satu lagi, di antara kita sudah tidak ada perjanjian sialan itu!"
Mata Lilly sontak terbuka, melihat kertas perjanjian yang Lilly buat sejak awal pernikahan mereka kini sudah tidak berbentuk lagi karena Erlan menyobek nya.
Erlan yang awal nya masih membenamkan wajah nya pada tengkuk Lilly, kini mulai menjauhkan kepala nya dan membalik paksa tubuh Lilly agar menghadap nya.
Di tatap nya mata terpejam yang terus mengeluarkan bulir bening itu, lalu Erlan mengusap bibir tipis Lilly yang sudah membengkak.
"Pilihan mu sekarang hanya ada dua. Putuskan pria itu, atau publish hubungan kita"
Lilly menggeleng, kedua pilihan itu sangat tidak masuk akal bagi nya.
"Buka mata mu"
Perlahan Lilly membuka mata nya, dan Erlan dapat menangkap dengan jelas mata memerah sang istri karena terus menangis.
"Tidak hikss.. Aku tidak akan meninggalkan atau pun memutuskan Nico hikss.."
Erlan tersenyum. "Baiklah kalau begitu kita publish saja status kita sebagai sepasang suami-istri".
Lilly kembali menggeleng, jika hal itu terjadi maka sama saja ia harus berpisah dengan Nico.
Sedikit geram dengan Lilly, Erlan pun kembali mendaratkan bibir nya pada leher yang sudah di penuhi tanda kepemilikan nya.
Mengigit dan meny*sap nya begitu kuat membuat Lilly menangis semakin kuat seraya berusaha menjauhkan kepala Erlan.
"Baiklah ini pilihan terakhir" Ucap Erlan setelah berhasil menambah tanda kepemilikan nya.
Pria itu kembali menatap manik berair milik Lilly. "Jika kamu tidak ingin memutuskan nya atau mem-publish hubungan kita. Maka layani aku selayak nya suami yang kamu cintai dan berikan segala nya yang aku mau"
"Kenapa hikss..?" Lilly menatap Erlan penuh kebingungan sendu nya.
Alis Erlan terangkat sebelah pertanda bingung.
"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu mengajukan pilihan seperti ini hikss.. Bukan kah tadi kamu bilang ingin menjadikan Lala istri kedua mu? Maka pergi lah hikss.. Pergi dan minta pada Lala hikss..!!"
Setelah mengutarakan kalimat tersebut, Lilly langsung menyentak tangan Erlan dan bangun dari kasur.
Menarik selimut untuk menutupi tubuh nya, Lilly pun berniat melangkah dengan perasaan campur aduk nya.
Tetapi, gerakan nya terhenti begitu tangan Erlan kembali melingkar di perut nya.
"Jadi ini?" Ucap Erlan seperti sebuah pertanyaan. "Hal ini yang menganggu pikiran mu dan membuat mu menangis seperti ini?"
"Tidak! Aku tidak peduli, dan aku menangis karena ke brengsekan mu, sialan hikss..!"
Erlan terkekeh, perkataan yang biasanya terdengar begitu menusuk hati nya dan sangat pedas.
Kini entah kenapa malah terdengar begitu menggemaskan, belum lagi istri nakal nya ini terus terisak dalam ocehan nya.
"You're jealous, sweety"
"No, bast*rd!"
"Shitt.. Tangis mu semakin membuat ku ingin memiliki tubuh mu seutuhnya!"
Seketika isak tangis itu terhenti bersamaan dengan napas Lilly yang semakin tercekat. Tidak, ia tidak mau menyerahkan semua nya pada Erlan.
"Soal perkataan ku di dalam mobil, itu semua hanya candaan ku, sweety. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar cemburu atau tidak" Ujar Erlan memecah keheningan sesaat.
"Dan ternyata kamu benar-benar cemburu yang arti nya sudah ada aku di sela hati kecil mu" Lanjut nya.
Lilly terus diam, diri nya semakin bergelut dengan batin nya sendiri setelah mendengar perkataan Erlan.
"Tidak! Tidak mungkin aku menyukai pria penganggu dan pengatur ini!"
"Aku hanya mencintai Nico, dan aku akan segera mengajukan surat perceraian!"
"Ya benar, kamu hanya emosi Ly! Kamu hanya emosi saat mendengar adik mu akan di permainkan oleh bajiingan ini!"
Sibuk bergelut dengan batin nya, tanpa sadar kini Erlan sudah kembali menuntun tubuh nya untuk berbaring.
Bahkan tangan dan kaki pria itu sudah membelit tubuh yang hanya memakai dal*man saja.
"Diam nya kamu, maka aku anggap kamu setuju dengan pilihan terakhir" Bisik Erlan menyadarkan Lilly dari lamunan singkat nya.
Lilly menoleh dan hal itu pun berhasil membuat hidung nya bersentuhan dengan hidung Erlan.
"Sudah cukup enam bulan ini aku membebaskan diri mu dari segala nya. Dan sekarang waktu nya aku mengambil peran ku sebagai seorang suami"
Lilly yang berniat bicara pun seketika kembali bungkam kala Erlan lagi-lagi mengeluarkan perkataan yang begitu menohok nya.
Cup!
Erlan mengecup lembut bibir yang berada tepat di hadapan bibir nya. "Sudah terlalu malam. Ayo tidur besok kamu ada kelas pagi dan aku ada meeting pagi-pagi sekali"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut bersama kecupan hangat nya, Erlan pun langsung membenamkan kepala nya pada sela leher Lilly.
Tanpa perlawanan, penolakan, atau pun sahutan membuat senyum di bibir Erlan terukir.
"Selamat datang di hidup ku, Lily Lawrence" Batin nya sebelum memejamkan mata nya.
Lilly masih terdiam membeku, mata nya kini menatap kosong pintu kamar yang terlihat begitu jauh dari jangkauan nya.
Entah apa yang ada di benak Lilly saat ini, yang pasti ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran nya.
Mata nya pun beralih menatap rambut berantakan Erlan. Lilly dapat merasakan terpaan napas teratur pria yang melilit tubuh nya pada kulit leher nya yang terasa perih.
"Aku tidak cemburu, aku membenci mu yang mengatur hidup ku dan merengut kebebasan ku"
...****************...
Jangan lupa vote dan dukungan nya🤗
Seeyou pada pembaca baik🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Rasain tuh, Queen bullying tetap juga manusia biasa ikut kodratnyanjuga sebagai seorg anak dan Istri..
2023-09-11
1
yujee
salpok ma tipus😭
2023-04-17
2
💥yuii💥
lanjut kk...🥰🥰
2023-04-17
1