Di kursi samping ranjang rawat itu, Erlan duduk dan masih diam membisu sejak perkataan nya terakhir kali di dalam mobil.
Bahkan kedua orang tua nya pun ikut diam, memperhatikan segala tingkah Erlan saat ini.
Mengusap-usap punggung tangan yang terasa hangat itu, namun Lilly tak kunjung membuka mata nya.
Hingga akhirnya dokter dan perawat pun kembali masuk setelah penanganan pertama kali nya.
"Maaf tuan, nyonya. Kami harus kembali memeriksa nona Lilly"
"Lan, bangun" Ujar pelan Adam seraya menepuk bahu sang putra.
Erlan langsung bangun, dengan tidak rela ia melepaskan genggaman tangan nya pada tangan Lilly.
Pemeriksaan kembali di lakukan oleh sang dokter bersama perawat nya. Tentu dengan begitu mendetail.
"Kenapa istri saya belum bangun, dok?" Tanya parau Erlan.
"Demam nya sudah turun, tetapi kami akan kembali memeriksa darah nona Lilly agar lebih jelas"
Melihat pemeriksaan telah selesai Erlan pun kembali duduk di kursi itu, laly menggenggam begitu erat tangan Lilly.
"Baik dok, terima kasih dan saya sangat menunggu hasil nya" Ujar Adam.
Sang dokter pun mengangguk. "Kami permisi tuan, nyonya" Pamit nya sebelum akhirnya meninggalkan ruang rawat VVIP tersebut.
"Bagaimana ini Dad? Apa kita harus memberitahu Erick dan Aili?" Tanya bingung Moon.
"Jangan Mom!" Sentak Erlan membuat sepasang suami-istri itu kaget. "Aku mohon jangan, aku ga mau mereka tau dan memisahkan aku dengan Lilly" Lanjut nya dengan suara lebih pelan.
"Memang nya jika seperti ini, kami tidak akan menjauhkan kalian?" Sahut Adam.
Erlan menatap wajah sang Daddy dengan tatapan memelas nya, tak lupa kepala nya terus menggeleng.
"Jangan Dad.."
"Setelah sekian lama dia tidak menguasai diri mu, lalu kenapa hari ini dia bisa muncul hah?!"
Erlan menunduk, ia ingat kenapa sisi lain dalam diri nya bisa menguasai diri nya. Tentu nya saat di taman siang itu. Dimana Lilly meneriaki nya, menampar nya, bahkan mempermalukan nya di depan umum.
Dengan ragu Erlan menjelaskan semua nya karena memang tidak ada yang bisa Erlan sembunyikan dari kedua orang tua nya.
Moon terduduk di sofa ruangan itu, tubuh nya melemas mendengar penjelasan putra nya.
Pantas saja sisi kejam itu bisa menguasai tubuh Erlan. Pasalnya dulu sebelum Erlan menderita gangguan DID ini, ia sering di bully bahkan di permalukan di tempat umum oleh teman sebaya nya.
"Aku mohon Dad, Mom. Jangan pisahkan aku dengan Lilly walaupun hanya sementara waktu" Pinta memelas Erlan, bahkan pria itu sudah bersimpuh di kaki kedua orang tua nya.
"Bagaimana jika dalam jangka waktu singkat ini, dia kembali menguasai tubuh mu?" Tanya Adam membuat Erlan bungkam. "Bagaimana jika dia melukai Lilly lebih jauh?"
Erlan menggeleng samar. "Tidak, Erlan akan menahan nya. Erlan--"
"Omong kosong!" Bentak Adam. "Kamu lupa, terakhir kali kamu membunuh pelayan di rumah saat dia terus menguasai tubuh mu!"
Ini lah yang Erlan takut kan sejak mendengar suara sang Mommy sore tadi. Kenapa orang tua nya berkunjung di waktu yang tidak tepat seperti ini?
Perdebatan itu terhenti saat telinga mereka menangkap suara yang berasal dari ranjang rawat sana.
Lilly mendesis pelan merasakan sakit di kepala nya saat mencoba membuka mata ketika telinga nya mendengar perdebatan tersebut.
Hingga saat diri nya sedang berusaha membuka kelopak mata nya, tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangan nya dan mengecup nya beberapa kali.
"Sweety, kamu sudah sadar 'kan?" Tanya lirih Erlan penuh harap.
Dapat mereka lihat kelopak mata Lilly terus bergerak seakan berusaha membuka mata nya.
"Lilly?.."
"Bangun, nak.."
Perlahan mata Lilly terbuka, hal buram pertama yang di tangkap oleh pengelihatan nya adalah wajah sembab Erlan.
Berkedip beberapa kali, kini Lilly dapat melihat dengan jelas wajah kacau suami-Nya.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Erlan, tetapi pria itu langsung memeluk tubuh nya yang masih berbaring di ranjang rawat itu.
"Jangan sakit, aku sedih" Bisik Erlan terdengar begitu sendu.
"Kepala kamu sakit, Ly?" Tanya Moon begitu pelukan Erlan terlepas. Wanita setengah baya itu mengusap pipi sang memantu yang masih membiru.
"Sedikit, Mom" Jawab pelan Lilly.
Di tatap nya wajah cantik yang di penuhi luka dan lebam serta leher yang di balut perban kecil. Moon pun kembali meneteskan air mata nya.
"Maafkan anak Mommy, nak.." Sendu nya terisak. "Mommy pikir Erlan sudah sembuh karena lama dia tidak menunjukkan sisi kepribadian itu hikss.."
Menyesal? Sungguh Moon menyesal ketika melihat keadaan Lilly. Seharusnya sebelum ia menikahkan putra nya dengan anak dari sahabat nya ini, Moon memeriksa keadaan Erlan terlebih dahulu.
Tetapi karena sejak kuliah Erlan tak menunjukkan kepribadian ganda nya lagi, Moon pikir Erlan sudah sembuh hingga lupa dengan gangguan itu.
Lilly bingung ingin menyahut seperti apa, kepala nya hanya bisa mengangguk dan menggeleng karena jujur banyak hal yang masih belum ia mengerti di sini.
Terlebih lagi tentang pria yang saat ini menangis di lengan nya dan berstatus sebagai Suami-Nya.
"Ly.."
Lilly menoleh pada sosok pria setengah baya yang seumuran dengan sang Papa yang saat ini menatap nya penuh keprihatinan.
"Untuk masalah ini, Daddy minta tolong pada kamu untuk merahasiakan nya dari keluarga mu 'ya?" Pinta Adam.
Lilly terdiam tidak menyahut. Kini otak nya tengah berputar memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika orang tua nya mengetahui hal ini.
Kembali menatap Erlan yang terus terisak di lengan nya, seketika pikiran Lilly tentang kemungkinan tersebut langsung buyar.
"Jika kamu masih takut pada Erlan, Daddy dan Mommy akan membawa mu tinggal bersama kami"
"Tidak hikss.. Lilly tidak boleh jauh dari ku!!" Sahut Erlan cukup kuat. "Lilly istri Erlan, jadi Lilly harus tetap di samping Erlan"
Erlan menatap wajah putra nya dengan tatapan datar, tidak seperti sebelum nya yang penuh kehangatan.
"Bagaimana jika Lilly ingin memberitahu Papa dan Mama tentang kejadian menyakitkan ini? Bahkan hampir membunuh Lilly" Tanya nya menatap Adam dan Erlan secara bergantian.
"Kemungkinan besar kalian akan berpisah dan kami tak lagi bersahabat karena tentu nya orang tua mu kecewa" Jawab Adam sesuai dengan pikiran Lilly sebelumnya.
Memang ini kesempatan besar untuk Lilly agar dia bisa berpisah dari Erlan, tetapi ia tidak ingin merusak persahabatan orang tua nya.
Dan di dalam lubuk hati nya, ada sebuah rasa ketidakinginan saat mendengar bahwa diri nya akan berpisah dengan Erlan.
"Jangan Ly, aku mohon jangan. Aku mohon tetap di samping ku, tetap di sisi ku dan tetap bersama ku sampai aku mati"
Adam dan Aili terdiam mendengar penuturan Erlan. Apa anak nya secinta ini pada Lilly? Bahkan pria itu lah yang memaksa mereka untuk menjodohkan nya dengan Lilly.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kok Aili?? Aili kan ortunya Lily thor..🤫🤫
2023-09-11
0
Qaisaa Nazarudin
Ini juga Lily penyebabnya, kalo Lily gak bersikap kasar,Melawan terus,Erlan gak mungkin kambuh deh..
2023-09-11
1