Part 10

"Bagaimana? Lala sudah mengerti?"

Lala, gadis yang saat ini tengah memperhatikan jejeran angka dan huruf-huruf di buku tulis nya pun mengangguk.

"Lala mengerti, terima kasih kak Erlan" Sahut nya riang. "Untung ada kak Erlan, coba kalau ga ada bisa-bisa Lala di hukum karena belum mengerti materi ini"

"Sebenarnya mudah saja jika kamu ingin menghafal atau mendalami materi ini"

"Mudah apa nya, guru di sekolah setiap menjelaskan materi seperti ini pasti di buat rumit" Celetuk Lala kesal.

Hal itu pun membuat Erlan dan kedua orang tua gadis itu terkekeh kala melihat ekspresi kesal Lala.

"Sudah selesai 'kan?" Tanya Erick yang langsung mendapat anggukan dari Lala.

"Kalau gitu sana Lala masuk kamar dan tidur, sudah hampir jam dua belas malam"

Lala mengangguk mengerti, lagi pula gadis itu sudah mengantuk. "Lala tidur duluan ya"

Setelah mengucapkan kalimat tersebut dan mendapat anggukan dari keluarga nya, Lala pun beranjak meninggalkan ruang bersantai itu.

"Jadi nya kamu menginap, Lan?" Tanya Aili.

"Kayak nya Erlan pulang deh Ma"

"Sudah malam, menginap saja" Ujar Erick.

"Besok pagi ada meeting, jarak dari sini ke kantor Erlan kan cukup jauh Pa"

Erick dan Aili tentu mengerti, karena memang jarak dari gedung perusahaan sang menantu ke rumah mereka memakan waktu hampir satu jam. Belum lagi setiap pagi jalan selalu macet.

"Baiklah kalau gitu biarkan kalian di antar para penjaga" Putus Erick.

"Hum betul, ini sudah terlalu larut. Mama takut di jalan kalian kenapa-napa" Timpal Aili.

"Astaga tidak perlu Pa, Ma. Erlan belum mengantuk dan jalan di luar masih ramai kok"

Sepasang suami-istri itu pun saling bertatapan. Sampai akhirnya mereka menganggukkan kepala nya.

"Baiklah jika itu mau kamu, Mama akan buatkan kopi untuk di jalan. Takut nya nanti kamu mengantuk"

Erlan mengangguk tanda setuju, setelah nya Aili pun beranjak menuju dapur menyisakan Erlan dan sang Papa mertua Erick.

"Bagaimana Papa baik-baik saja 'kan? Apa perlu kita periksa ke rumah sakit?"

"Gapapa Lan, hal seperti ini sudah biasa jadi kamu jangan mikirin apapun"

Erlan menatap sang Papa mertua dengan raut khawatir nya dan hal itu pun menimbulkan decakan kesal dari Erick.

"Ck, kamu jangan meremehkan Papa ya! Papa itu kuat!" Kesal nya.

Terkekeh pelan lalu Erlan mengangguk-anggukkan kepala nya. "Iya Pa"

"Kopi datang" Seru Aili seraya menyerahkan botol stainless yang berisi kopi panas pada Erlan.

"Terimakasih Ma"

Aili mengangguk sebagai jawaban. "Lilly masih di kamar 'kan?"

"Iya Ma, nanti aku panggil dulu"

"Baiklah hati-hati, Papa sama Mama ke kamar duluan 'ya"

Erlan mengangguk dan bangun dari posisi nya. "Selamat malam Pa, Ma"

*

Ceklek~

Erlan pun melangkah mendekati Lilly yang berada di atas kasur queen size tersebut dengan posisi berbaring membelakangi pintu kamar.

Di tatap nya wajah damai Lilly yang tertutup beberapa helai rambut, dan ternyata gadis itu sudah terlelap.

"Tumben banget" Gumam heran Erlan.

Pasalnya walaupun sudah sangat larut, biasa nya Lilly tidak akan tidur jika tidak di paksa oleh Erlan.

Tak ingin membangunkan Lilly, Erlan pun secara perlahan mengangkat tubuh mungil itu ala koala yang untung nya tidak menganggu tidur sang istri.

"Aku lebih suka saat kamu tidur seperti ini" Bisik Erlan seraya berjalan ke luar kamar.

Tenang, damai dan terlihat begitu romantis. Itu lah kata yang cocok untuk menggambarkan suasana di dalam mobil saat ini.

Lilly masih pada tempat nya, dimana gadis itu berada di pangkuan Erlan yang sedang menyetir dan kepala gadis itu berada tepat di ceruk leher Erlan.

"Bisa kita seperti pasangan normal?"

"Aku juga ingin menunjukkan kemesraan di depan publik"

"Dan menghilangkan segala pertengkaran kita setiap hari nya"

Seperti itu lah gumaman Erlan yang sesekali mengusap kepala dan punggung Lilly. Memberi ketenangan pada sang istri.

Saat merasa sedikit bosan karena jalan di depan nya tidak ada hambatan seperti pagi hari, Erlan pun sesekali melilitkan jari nya pada surai panjang Lilly.

Namun mata nya tetap fokus pada jalan di depan, sampai tiba-tiba Erlan merasakan pergerakan Lilly yang seperti mencari posisi nyaman.

"Shh.. Jangan banyak bergerak, sweety" Bisik Erlan mengusap-usap punggung Lilly.

Seketika mata Lilly melebar, dan hal pertama yang ia lihat adalah ceruk leher dengan aroma khas yang sangat ia kenal.

"Ya--"

"Sut,, tenang lah. Aku sedang menyetir" Potong Erlan menahan punggung Lilly saat tau bahwa istri nya terbangun.

Lilly mengangkat sedikit kepala nya agar terbebas dari ceruk leher Erlan. Lantas mata nya langsung menangkap dimana ia berada dan jalanan remang yang sudah di lewati mobil Erlan.

"Kenapa aku bisa ada di sini?!" Tanya sewot Lilly yang tak berani menggerakkan tubuh nya.

Jika saja Lilly menggerakkan tubuh nya, maka akan berdampak bahaya. Antara saat ia menegakkan tubuh nya maka Erlan tidak bisa melihat jalan di depan nya, ataupun membuat sesuatu yang mengganjal di bawah sana terbangun.

"Kita akan pulang, sweety. Besok pagi aku ada meeting sebelum ngajar" Jelas lembut Erlan.

"Lalu kenapa aku bisa--"

"Duduk di sini?" Sela Erlan. "Tentu nya karena aku menggendong mu dari kamar hingga sekarang kamu berada di pangkuan ku" Lanjut nya.

"Awas, lepaskan tangan mu! Aku mau pindah ke sebelah!" Lilly menepuk pelan lengan Erlan yang memeluk pinggang nya.

"Sudah lah di sini saja. Tenang dan nikmati momen ini"

"Aku pegal, Erlan!"

"Tapi aku tidak"

Lilly mendengus kesal saat Erlan terus saja membalikkan perkataan nya. Rasa ngantuk nya hilang begitu saja, terlebih lagi saat ia mengingat sesuatu.

"Ekhemm.."

"Haus?"

"Kenapa tidak menginap saja? Bukan kah Lala butuh bantuan mu dan ingin kamu menginap?!"

Nada terkesan menekan dan seakan ingin memulai pertengkaran itu entah kenapa membuat bibir Erlan berkedut.

"Kamu cemburu hum?"

"....."

"Ayo lah, tidak lucu jika kamu cemburu pada adik mu sendiri" Ledek Erlan dengan kekehan pelan nya.

"Cih kata siapa aku cemburu?!" Sentak Lilly dengan nada tidak senang nya.

Erlan tidak menanggapi nya, tetapi ia memiliki sebuah ide jahil yang akan mengisi kebosanan perjalanan nya.

"Lala manis banget 'ya? Pipi nya juga chubby banget sampai-sampai tadi aku cubit terus"

Lilly hanya diam, terdengar napas gadis itu yang mulai tidak beraturan di samping telinga Erlan.

Menahan kekehan nya atau rasa ingin menggoda nya, Erlan pun kembali melanjutkan ide nya. "Kira-kira kalau Lala jadi istri sirih aku, gimana?"

"Brengsek!" Sentak emosi Lilly yang langsung menegakkan tubuh nya.

Alhasil Erlan pun menepi dan menghentikan mobil nya di jalan sepi itu.

"Kamu ingin menduakan ku dengan adik ku sendiri hah!" Lanjut Lilly bersiap mencabik wajah Erlan.

"Kenapa tidak? Lagi pula Lala bilang dia yang ingin menikah dengan ku dan yang di pilih oleh Papa dan Mama adalah kamu"

"Sialan--emhhh..!!"

...****************...

Terpopuler

Comments

s

s

astagaa /Chuckle//Chuckle/

2024-12-04

0

Kymclalu Cintanya Adijeq

Kymclalu Cintanya Adijeq

gk sabar nunggu bucin. nya lili 😁😁

2023-04-16

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!