Part 7

"Papa, Mama..!!" Pekik Lilly seraya berlari menghampiri kedua orang tua nya.

Mendengar pekikan suara yang tak asing bagi mereka, kedua orang yang di panggil itu pun menoleh. Bangun dari posisi nya lalu menyambut pelukan putri nakal nya.

"Huaaa.. Lilly sangat merindukan kalian" Rengek Lilly memeluk erat kedua orang tua nya.

"Maaf nak, seperti nya kamu salah orang"

Mata Lilly langsung mendelik menatap kesal ke arah sang Mama. Lantas gadis itu melepaskan pelukan nya.

"Mama ga asik ah!" Dengus kesal Lilly.

Aili terkekeh pelan lalu menjitak kening sang putri. "Baru seminggu ga ketemu, jadi ga usah lebay anak nakal!"

Bibir Lilly mencibir, gadis itu pun beralih menatap sang Papa dan bergelayut di lengan nya. "Papa pasti merindukan ku 'kan?"

"Tidak"

Sontak saja tawa wanita setengah baya itu pecah melihat bibir Lilly semakin mengerucut penuh kekesalan.

"Selamat sore Pa, Ma" Sapa Erlan yang baru saja sampai.

Mereka menoleh ke asal suara, dan detik itu juga Aili memekik heboh.

"Astaga Mama sampai lupa, kenapa kamu baru datang?!"

"Tadi aku ngambil ini dulu, Ma" Jawab Erlan mengangkat beberapa paper bag.

Aili tentu tau apa isi paper bag itu, karena setiap berkunjung Erlan pasti membawakan sesuatu untuk nya dan sang suami.

"Aduh menantu Mama memang yang terbaik" Puji Aili. "Ayo sini duduk, kamu pasti lelah" Ajak nya menarik pelan Erlan agar duduk.

"Ck, anak nya sendiri ga di suruh duduk" Cibir Lilly.

"Duduk ya tinggal duduk, apa susah nya" Sahut ketus Aili. "Bi, tolong buatkan minuman untuk menantu saya!!" Lanjut nya berteriak.

"Aku juga Bi!" Timpal Lilly.

Semua nya telah duduk pada posisi nya, dimana Lilly di paksa untuk duduk di samping Erlan oleh sang Mama. Padahal gadis itu ingin menyempil di antara kedua orang tua nya itu.

Minuman beserta cemilan pun sudah datang. Kini ruangan itu di isi dengan obrolan ringan antara Erlan dan kedua orang tua Lilly.

Namun lain hal nya dengan sang nona muda di rumah itu yang malah asik dengan cemilan nya.

"Papa dengar Lilly akan di keluarkan dari kampus?"

"Ukhukk.. Ukhukk.." Lilly tersedak begitu mendengar pertanyaan Erick, sang Papa dengan lirikan maut nya.

Tanpa berucap Erlan mengambil gelas jus milik sang istri lalu menyodorkan nya dan tentu nya gelas itu langsung di terima oleh Lilly.

"Iya, Pa" Jawab Erlan melirik Lilly. "Maafkan Erlan yang belum bisa merubah kelakuan Lilly" Lanjut nya.

Jujur saja Erlan benar-benar merasa tidak enak pada kedua orang tua di hadapan nya. Pasal nya mereka menikah kan Lilly dan Erlan agar gadis itu bisa berubah.

Karena menurut mereka Erlan orang yang tepat dan sudah terjamin seluk-beluk nya. Lagipula Erlan adalah anak dari sahabat mereka.

"No, ini bukan salah kamu" Sahut Erick yang kemudian memfokuskan tatapan tajam nya pada Lilly. "Papa tau kamu sudah berusaha mengatur anak nakal itu, tapi dia terlalu keras kepala!"

"Papa sedang menyindir ku?" Tanya tak senang Lilly.

"Ly..!" Peringat Erlan saat nada bicara Lilly terdengar tidak sopan.

"Papa tidak menyindir, seharusnya kamu sadar diri dan sadar dengan status kamu sekarang!" Tegas nya.

Lilly menaruh kasar tempat cemilan kesukaan nya di meja bersamaan dengan gelaa jus nya. "Dari awal aku tidak mau di nikahkan oleh pria ini, dan dari awal status ku hanya seorang remaja yang bebas sebelum akhirnya terikat oleh pernikahan ini!"

Posisi duduk Erick yang awal nya terlihat santai kini langsung menegak dengan rahang mengetat. "Jangan permalukan keluarga Ly! Ingat sekarang di dalam diri kamu ada dua nama keluarga besar!"

"Persetanan!" Lilly bangun dan langsung meninggalkan ruangan itu.

"Lilly, kembali!" Teriak marah Erick.

"Sudah Pa, cukup. Ingat jantung mu" Ujar Aili mengusap-usap bahu sang suami.

"Anak itu..!!" Desis memburu Erick yang mulai memegang dada nya.

Erick memiliki masalah dengan jantung nya, jadi jika pria itu terlalu emosi maka dada nya akan terasa begitu nyeri.

"Minum dulu Pa" Erlan memberikan secangkir teh hangat pada pria itu.

"Sudah Mama bilang, jangan terlalu emosi. Anak kamu memang gitu" Lirih panik Aili.

Melihat hal ini membuat rasa bersalah Erlan semakin membesar. Tak banyak yang bisa ia lakukan dalam situasi seperti ini.

"Erlan, bisa bantu Mama menuntun Papa ke kamar?"

Erlan mengangguk lalu membantu sang mertua, menuntun tubuh Erick yang memang pada dasar nya hanya merasa lemas saat rasa nyeri itu datang.

"Sekali lagi maafkan Erlan" Erlan menunduk begitu dalam setelah membantu membaringkan Erick. "Erlan akan berbicara dengan Lilly, dan Erlan berjanji akan merubah Lilly secepat mungkin"

"Jangan memaksakan diri, Lan. Papa hanya tidak mau kamu merasa terbebani"

Erlan menggeleng cepat. "Tidak Pa, sungguh"

Senyum tipis menghiasi wajah pucat Erick. "Sejauh ini Lilly sudah sedikit berubah" Ujar nya menarik napas begitu dalam.

"Jika biasa nya Lilly akan melawan Papa hingga Papa tak kuat meladeni anak nakal itu, namun kali ini dia langsung pergi"

Erlan tersenyum tipis, entah tanggapan apa yang harus ia berikan karena sikap Lilly tadi sangat tidak sopan.

"Sekali lagi terimakasih kamu mau menikah dengan anak Papa. Jika bukan kamu Papa tidak akan tenang"

"Jangan bicara seperti itu Pa, Erlan menikah dengan Lilly karena Erlan mencintai Lilly"

Erick di buat kembali terkekeh, namun pria setengah baya itu masih terus memegang dada nya. "Papa tidak habis pikir, kamu bisa jatuh cinta pada perempuan tidak sopan seperti anak Papa"

*

Ceklek~.. Klik.. Klik..

Suara pintu kamar yang di buka kemudian di kunci oleh Erlan yang baru saja memasuki kamar Lilly.

Terlihat gadis itu tengah sibuk dengan handphone nya, tak melirik diri nya yang baru saja masuk sedikit pun.

"Jantung Papa kumat lagi" Ujar dingin Erlan seraya melepaskan jas dan dasi nya. Tak lupa pria itu membuka dua kancing teratas kemeja nya.

Lilly melirik sekilas Erlan lalu kembali menatap handphone nya.

Melihat tanggapan Lilly yang seakan tidak peduli membuat Erlan menggeram marah. "Lilly!"

"Lalu aku harus apa? Aku bukan dokter!" Sentak gadis itu dengan mata berair.

"Seperti nya kamu harus kehilangan dulu, baru sadar!"

Lilly mengalihkan pandangan nya ke arah jendela kamar nya. Setiap perkataan Erlan benar-benar menohok hati nya.

Merebut handphone di tangan Lilly, lalu Erlan melihat apa yang sedang di buka oleh sang istri di handphone nya.

Mata Erlan semakin memanas kala melihat room chat sang istri dengan kekasih nya, Nico.

Prangg!!

Erlan membanting handphone Lilly dengan napas memburu nya, sedetik kemudian pria itu mencengkram dagu Lilly.

...****************...

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Thor Gak mungkin kan kekasih Nico cuman Lily, Secara Nico ganteng anak sultan, Dan ketua BEM lagi, pastii ada yg lain selain Lily, Jadi biarkan Nico ketahuan punya pacar lain, Biar tau rasa Lily nya..

2023-09-11

1

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Pasti udah kebiasaan nihh, Ini juga terjadi karena didikan ortu yg terlalu memanjakan si anak, Makanya kelakuan nya kek gini,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️

2023-09-11

1

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

MEYTI DIANA SARI, S.M •§͜¢•

pak dosen kasih pelajaran buat istri mu, ubah dia jadi wanita yang sesungguhnya, jika bisa buat di hamil

2023-05-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!