20. Meninjau Wilayah

Satu bulan kemudian. Serena ikut Raphaelo meninjau wilayah. Sebagai Duchess ia juga berhak tahu kehidupan penduduk wilayahnya. Ia juga sedang memasarkan batu pemanasnya untuk penduduk dengan harga yang sangat terjangkau. Sehingga para penduduk senang karena mereka bisa tetap hangat tanpa perlu membeli banyak kayu bakar untuk tungku perapian mereka.

Tidak hanya itu, Serena juga membuka pasar murah, di mana ia menjual bahan makanan dengan setengah harga saja. Serena tahu bagaimana sulitnya bertahan di tengah-tengah ketidakmampuan, sama seperti kehidupannya saat ia masih menjadi Lissa.

"Semuanya, mohon perhatiannya sebentar. Izinkan saya menyampaikan beberapa hal sebelum pasar murah dibuka. Seperti yang telah disampiakan kestaria Kyloach, bahwa mulai hari ini sampai seterusnya, setiap dua pekan dalam satu bulan, akan diadakan pasar murah. Saya tahu, betapa sulitnya hidup dalam ketidakmampuan dan ketidakberdayaan. Karena itu juga sejak awal wilayah Kyloach membebaskan pajak. Bukan begitu? pasar murah ini saya buka khusus untuk kalian semua warga penduduk wilayah Kyloach. Dengan ini saya harapkan kalian tidak perlu jauh-jauh lagi pergi ke wilayah lain untuk membeli bahan makanan, sayur atau buah-buahan segar. Saya, Duchess Kyloach lah yang akan menyediakan kebutuhan kalian semua. Dan saya minta kalian mau membantu kami, sebagai balasan atas kemurahan hati Pemimpin wilayah. Apa kalian semua bersedia membantu?" tanya Serena.

"Ya, Duchess. Saya akan membantu."

"Saya juga. Tidak, bukan saya saja, tapi seluruh keluarga saya."

"Saya juga, saya juga."

Semua orang tampak bahagia. Selama ini mereka harus ke luar wilayah untuk mendapatkan bahan makanan yang mereka butuhkan, itupun dengan harga yang cukup mahal. Tanah dingin wilayah utara tak bisa dijadikan lahan pertanian. Sehingga rata-rata penduduk laki-laki beekrja sebagai pemburu monster atau penebang kayu. Sedangkan wanitanya menjadi ibu rumah tangga atau pelayan di wilayah lain.

Serena meminta Ryu mengumpulkan semua penduduk pria dewasa yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau pun yang sama sekali tak bekerja. Mereka akan diberi pekerjaan agar bisa memiliki pendapatan. Apa saja yang akan dilakukan, itu nanti akan dijelaskan terpisah oleh Raphaelo. Yanh jelas Serena sudah mengarahkan apa yang seharusnya Raphaelo sampaikan. Sedangkan Serena sendiri kini berada di antara kelompok wanita dewasa. Serena memperlihatkan hasil rajutan, berupa syal, mantel, dan lain sebagainya. Serena mengatakan, jika kini para wanita bisa bekerja di rumah dan berkreasi, dan tentu saja bisa menghasilkab banyak uang.

"Kalian biasanya pergi ke wilayah lain, dan itupun hanya bekerja sebagai pelayan tidak tetap atau perusuh. Lebih baik kalian tetap berada di rumah, menjaga anak-anak kalian, mengawasi orang tua kalian yang sudah tua. Biarlah para suami kalian saja yang bekerjad di luar rumah." kata Serena.

Serena menjelaskan tentang apa itu rajutan dan manfaatnya, juga menjelaskan singkat cara-caranya. Serena bahkan turun tangan langsung untuk mengajari para wanita. Serena mengatakan, jika rajutan ini memanglah belum menarik perhatian, tapi bukan berarti kalangan bangsawan tidak memiliki minat.

"Beberapa tahun setelah ini, rajutan akan menjadi tren. Karena Serena yang tak memiliki uang simpanan untuk melarikan diri dari Viscount, merajut dan menjualnya pada bagsawan. Dan tidak disangka bagsawan itu menyukai rajutan buatan Serena. Sayangnya Serena tak bisa melarikan diri meski telah mengumpulkan uang, dan berakhir meregang nyawa karena depresi. Menyedihkan sekali hidup Serena ini. Serena yang itu berbeda dengan yang sekarang, maka tidak apa-apa kalau rajutan itu aku buat terkenal mulai dari sekarang dan nantinya aku akan mengubah wilayah utara menjadi pasar pusat rajutan itu berasal." batin Serena tersenyum.

Kurang lebih empat jam, Serena mengajar hari itu. Dari sekian banyak yang belajar, beberapa orang mampu mengikuti dan berhasil membuat rajutan, beberapa masih ada yang gagal dan ada yang sama sekali tak bisa. Serena tetap memuji para Nyonya yang gagal dan tidak bisa, mengatakan kalau mereka semua adalah para wanita hebat karena sudah mau bekerja keras dieprtemuan pertama. Serena mengatakan, dipertemuan selanjutany, ia akan memperkenalkam sulaman. Di mana para Nyonya yang mungkin kesulitan merajut, lebih menyukai dan memahami sulaman.

"Pertemuan berikutnya tiga hari dari hari ini. Para nyonya sekalian, silakan datang ke kastil. Mari belajar dan berlatih bersama. Kaian bisa membawa anak-anak kalian bersama. Dan untuk seterusnya, saya harap kalian mau teru berusaha seperti hari ini. Hasil tidak akan tercapai tanpa usaha, karena usaha adalah jalan menuju keberhasilan itu sendiri. Kalian mengerti?" kata Serena.

"Ya, Nyonya Duchess."

"Ya, kami mengerti."

Serena tersenyum cantik. Ia berharap keinginannya untuk mengembangkan wilayah utara bisa sesegera mungkin terlaksana. Serena pun berpamitan dan pergi meninggalkan para Nyonya untuk istirshat makan siang.

***

Setelah mengajar, Serena istirahat di tempat kepala desa setempat. Raphaelo juga baru datang, dan tampak cukup lelah. Raphaelo kaget, saat melihat Serena yang masih terlihat semangat tanpa lelah sedikit pun.

"Apa Anda sangat lelah, Tuan Duke?" tanya Serena.

Raphaelo duduk di samping Serena, "Berbeda dengan saya, Anda tampak baik-baik saja, ya. Apa Anda tidak lelah?" tanya Raphaelo.

"Bohong kalau saya berkata saya tidak lelah. Saya sangat, sangat, sangat lelah. Namun, rasa lelah saya luntur seketika saat mengingat betapa gigihnya para Nyonya yang berlatih tadi. Saya senang, akhirnya bisa mewujudkan sedikit keinginan saya," jawab Serena.

Raphaelo menepuk bahu kirinya, "Mau pinjam bahu saya? kali ini saya berikan harga diskon," Kata Raphaelo menggoda Serena.

Serena tersenyum, ia langsung mendekat dan merebahkan kepalanya ke bahu Raphaelo. Banyak hal yang terjadi setelah keduanya pulang dari istana, saat hari pesta ulang tahun Putra Mahkota. Raphaelo dan Serena menjadi lebih dekat dan semakin akrab satu sama lain. Meski sesekali saling malu dan canggung. Namun, mereka tidak lagi ragu dalam mengungkapkan perasaan atau isi pikiran mereka. Dan Serena sering meminjam bahu Raphaelo untuk bersadar, dengan alasan bahu Raphaelo itu lapang dan luas. Setiap merasa lelah, Serena pasti langsung menemui Raphaelo di manapun dan meminjam bahu Raphaelo.

"Serena ... " panggil Raphaelo.

"Ya? silakan katakan apa yang ingin Anda sampaikan, Tuan. Saya mendenagrkan," jawab Serena.

"Terima kasih ... " gumam Raphaelo.

"Untuk?" tanya Serena.

"Semuanya. Banyak hal yang sudah Anda lakukan dan Andan berikan untuk saya juga wilayah utara. Saya mengatakan ini bukan hanya sebagai pemimpin wilayah, tapi juga senagai seseorang yang Anda bantu." kata Raphaelo.

"Seseorang apa maksud Anda? bicara yang jelas," sahut Serena. Serena sebenarnya tahu apa maksud ucapan Raphaelo, tapi ia suka menggoda dan menjahili Raphaelo.

Raphaelo diam saja, wajahnya memerah. Serena mengangkat kepalanya dan menatap Raphaelo. Ia mengusap wajah Rapharlo dan matanya bertatapan dengan mata Raphaelo. Serena berkata, jika ia tidak perlu ucapan terima kasih. Raphaelo hanya perlu bersikap baik dan hangat padanya, agar ia yakin kalau suaminya bukan pria dingin yang akan mengabaikannya atau membuangnya setelah tidak dibutuhkan.

Terpopuler

Comments

Puput Regina Putri

Puput Regina Putri

hmmmmm....bab makin tipis 🥺

2024-05-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!