Seminggu kemudian. Kereta kuda yang ditumpangi Raphaelo dan Serena tiba di istana utama. Penjaga taman membuka pintu kereta kuda. Raphaelo turun, ia mengukurkan tangan agar Serena bisa turun dari kereta kuda dan berpegang padanya.
Serena merangkul lengan Raphaelo, "Anda ingat apa yang saja ajarkan, kan?" tanya Serena berbisik.
"Ya, saya akan ingat." jawab Raphaelo.
Raphaelo menunjukkan undangan pada penjaga pintu. Penjaga pintu lantas membuka pintu dan mengumumkan kedatangan Raphaelo dan Serena.
"Duke dan Duchess Kyloach memasuki aula istana," kata penjaga.
Raphaelo dan Serena berjalan beriringan. Begitu memasuki aula, semua mata lekat memandang Serena yang berjalan denga percaya diri di samping Raphaelo. Serena tidak peduli dengan tatapan orang lain, ia hanya harua fokus menghadapi Kaisar.
Raphaelo dan Serena menghadap Kaisar dan Permaisuri Kekaisaran. Raphaelo lantas memberikan salam pada Kaisar dan Permaisuri.
"Salam kepala matahari besar kekekaisaran dan bulan kekaisaran. Semoga Anda berdua selalu sehat dan bahagia," kata Raphaelo.
"Terima kasih, Duke. Sudah lama sekali tak melihatmu," Kata Permaisuri.
"Kau datang juga akhirnya. Aku sudah menunggumu sejak lama," kata Kaisar.
Kaisar menatap Serena, "Siapa Lady di sampingmu, Duke?" tanya Kaisar.
"Dia istri saya, Yang Mulia." jawab Raphaelo.
"Ah, begitu rupanya." kata Kaisar.
"Salam, Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri. Semoga berkah Dewa selalu menyertai dan melindungi. Saya adalah Serena Kyloach," kata Serena dengan anggun dan lemah lembut.
"Bisa tolong angkat kepalamu, Duchess?" tanya Kaisar.
Serena mengangkat kepalanya menatap Kaisar. Begitu melihat wajah Serena, Kaisar langsung kaget dan melebarkan mata. Baginya wajah Serena mengingatkannya akan seseorang.
"Kenapa dia mirip sekali dengan Pamela? meski rambutnya hitam. Dan mata merah itu. Kenapa matanya harus merah seperti sibedebah Georgio." batin Kaisar.
Karena melihat suaminya diam saja, Permaisuri pun mempersilakan Raphaelo dan Serena menikmati pesta. Raphaelo dan Serena pamit undur. Mereka pergi menemui Putra Mahkota untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Yang Mulia Putra Mahkota." Kata Raphaelo.
"Oh, Duke Kyloach. Selamat datang. Terima kaaih sudah datang memenuhi undangan." jawab Putra Mahkota.
Begitu melihat betapa cantiknya Serena, Putra Mahkota pun lansung menaruh hati pada Serena. Raphaelo langsung tahu, kalau Putra Mahkota menatap Serena dengan tatapan mata tak biasa.
"Dia ... " kata Putra Mahkota menatap Serena.
"Dia istri saya, Yang Mulia." Jawab Raphaelo.
Serena memberikan salam dan ucapan selamat pada Putra Mahkota. Serena hanya terus menunduk, untuk menghindari tatapan mata Putra Mahkota. Ia merasa, ia tidak boleh menarik perhatian Putra Mahkota.
"Di novel asli Putra Mahkota merupakan Pria hidung belang tiada tanding. Kalau pria seperti itu sampai melihat parasa Serena, tidak mungkin tidak akan jatuh cinta. Aku saja yang wanita menyukai paras cantik ini. Sebisa mungkin aku harus menghindari tatapan buaya kekaisaran ini." batin Serena.
"Apa yang Duchess Kyloach lihat di lantai? apa lantainya terlalu menawan daripada rupaku?" kata Putra Mahkota.
Serena kaget, "Ma-maafkan saya, Yang Mulia. Agaknya kurang sopan, jika saya harus menatap langsung wajah Anda." kata Serena.
"Begitukah? tidak apa-apa. Tatap saja. Kapan lagi kau bisa menatapku, kalau bukan sekarang," kata Putra Mahkota.
"Wah lihat pria narsis ini. Bisa-bisanya dia berkata begitu di depan umum. Kalau aku terus mengindari tatapannya, aku akan dianggap sebagai pembangkang dan merugikan Raphaelo. Hisssshhh ... dasar pria sialan!" maki Serena dalam hati.
Serena lantas menadahkan wajahnya menatap Putra Mahkota. Dan benar saja, seketika mata Putra Mahkota terpaku dengan wajah memerah. Putra Mahkota bahkan dengan terang-terangan memuji kecantikan Serena.
"Kau sangatlah cantik, Duchess. Duke, kau beruntung." kata Putra Mahkota menatap Raphaelo.
"Pujian Ands berlebihan, Yang Mulia. Jika Ands berkata demikian, Anda seperti meremehkan para Lady, dan Nyonya yang menghadari pesta ulang tahun Anda. Kecantikan itu semu. Dan semua wanita itu cantik, tanpa terkecuali." jawab tegas Serena.
"Kalau kau hidup di duniaku. Kau pasti sudah menjadi playboy kelas kakap. Dasar tidak tahu malu. Beraninya merayu istri orang. Terlebih suaminya ada di hadapannya," batin Serena.
Putra Mahkota langsung tersentak dengan kata-kata Serena. Ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapan Serena. Dan mau tidak mau, Putra Mahkota meminta maaf atas ucapannya yang tak mengenakkan.
Serena menerima permintaan maaf Putra Mahkota. Ia berkata, kalau sebagai Putra Mahkota kekaisaran, sebaiknya tak boleh menunjukka sikap yang bisa menjatuhkam harga diri dan menodai reputasi sebagai Putra Mahkota itu sendiri. Serena pun pamit undur diri, ia menarikn Rapahaelo pergi. Raphaelo juga izin pamit, keduanya pergi meninggalkan Putra Mahkota.
Putra Mahkota tersenyum, "Bagaimana bisa ada Wanita seberani itu? dia membuatku berdebar dengan perkataannya." batin Putra Mahkota.
Serena dan Raphaelo berada di balkon. Serena menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napasnya. Ia beberapa kali mengatur napasnya. Melihat Serena yang seperti itu, Raphaelo pun menebak, jika Serena sedang sangat kesal.
"Apa Anda sekesal itu pada Yang Mulia Putra Mahkota?" tanya Raphaelo.
"Terlihat jelas, ya? padahal saya sudah menahan diri sebaik mungkin," jawab Serena.
Raphaelo tertawa, "Haha ... saya sempat khawatir, karena beliau menatap Anda tanpa berkedip. Namun, seepetinya kekhawatiran saya adalah hal yang sia-sia." kata Raphaelo.
Serena menatap Raphaelo, "Apa maksud Anda? Anda tidak berpikir saya akan jatuj hati pada beliau, kan? Hahhh ... (menghela napas panjang) yang benar saja, Tuan Duke. Daripada menyukai beliau, saya lebih baik menyukai Anda. Beliau bukan apa-apa dibandingkan Anda. Setidaknya di mata saya seperti itu," jawab Serena.
"Yang benar saja. Aku pasti sudah gila kalau mengukai pria hidung belang seperti putra mahkota itu. Perkataanku tidak salah, Raphaelo seratus, tidak, ribuan kali lebih baik dari segi manapun dibandingkan putra mahkota itu." batin Serena.
Deg ... deg ... deg .... jantung Raphaelo berdegup kencang. Raphaelo merasa aneh, karena ia tidak pernah berdebar. Ia berpikir kalau jantungnya bermasalah.
"Apa jantungku bermasalah? Meski kelelahan aku tak pernah berdebar seperti ini," batin Raphaelo.
Serene mendekatkan wajahnya ke wajah Raphaelo, "Taun Duke ... apa Ada masalah? apa Anda sakit?" tanya Serena.
Raphaelo kaget, "Tidak, tidak. Saya baik-baik saja." jawab Raphaelo memalingkan pandangan karena malu memperlihatkan wajahnya yang memerah pada Serena.
Serena mengerutka dahi, "Kenapa Anda berpaling? ayo, perlihatkan wajah Anda pada saya, Tuan Duke." kata Serena.
Serena menyentuh dahi Raphaelo. Ia merasakan suhu tubuh Raphaelo yang hangat. Serena lantas menatap Raphaelo dan Raphaelo menatapnya. Wajah Raphaelo semakin memerah.
"Apa sebaiknya kita pulang saja? Anda sepertinya demam," kata Serena.
"Bisa-bisaya pria yang disebut 'Duke Gila' sakit. Ya, Duke kan juga manusia. Dia bukan Dewa atau malaikat. Kau ini bodoh sekali, Serena." batin Serena.
"Apa wanita ini tidak sadar dengan apa yang dilakukannya? yang membuat wajahku memerah kan dia, kenapa juga dia harus tiba-tiba menyentuhku dan membuatku kaget." batin Raphaelo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Puput Regina Putri
ulu...ulu .mulai tumbuh kah benih"bucin🤗
2024-05-22
0
Lay's
Aaaaaa gemashhh
2024-01-29
0