6. Ancaman Viscount Bills

Viscount Bills marah besar. Setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menyayangkan sikap Marquis dan Marchioness Lucran yang menyembunyikan fakta kaburnya Serena dari rumah. Viscount tidak mau tahu apapun. Ia ingin melihat Serena dan menikahi Serena dalam waktu tiga hari, atau ia akan menarik semua dana dan investasi pada keluarga Marquis Lucran.

"Saya tidak mau tahu alasan apapun. Anda berdua harus segera menemukan  Serena. Saya akan kembali tiga hari lagi untuk menjemput Serena. Jika dalam waktu yang ditentukan Serena masih belum ditemukan, maka saya akan langsung menarik semua investasi dan dana yang saya berikan pada Anda berdua. Tolong camkan kata-kata saya. Saya permisi," kata Viscount Bills yang langsung pergi meninggalkan kediaman Marquis.

Lidia terkejut. Ia langsung meminta pada suaminya untuk segera menemukan Serena karena hanya Serena satu-satunya orang yang diminati Viscount Bills yang kaya raya. Lidia berkata kalau ia tidak mau benar-benar jatuh bangkrut dan miskin. Mendengar ucapan Istrinya, Marquis pun semakin marah dan kesal. Ia berkata, kalau sebaiknya istrinya itu diam dan tidak banyak bicara.

"Tidak bisakah kau diam saja? jangan hanya peduli pada pergaulan kelas atas, pikirkan cara menemukan Serena." kata Miguel.

Lidia mengertkan dahi, "Sayang ... kau membentakku?" kata Lidia.

Miguel membuang muka, "Kembalilah ke kamar dan merenung. Jangan membuatku semakin kesal dan murka." jawab Miguel.

Lidia marah. Ia tidak terima diperlakukan tak baik oleh suaminya. Bagaimanapun, ia adalah seorang Mrchioness sejak sebelum menikahi Miguel, Ia berkata tak seharusnya Miguel merendahkannya. Lidia terus mengungkit kejadian pada masa lalu, di mana ia merebut posisi Ayahnya hanya demi Miguel.

"Sudah cukup! hentikan omong kosongmu dan ergilah dari hadapanku. Aku muak kau terus mengoceh, Lidia Lucran. Jika kau terus mengungkit masa lalu, lebih baik kita berpisah saja. Aku tidak masalah, meski aku bukan lagi seorang Marquis. Itu lebih baik daripada hidup mendengar omong kosongmu." kata Miguel. Yang akhirnya mengungkapkan isi hati dan pikirannnya.

"Apa?" kata Lidia syok. Lidia mendekati Miguel, "Coba kau katakan sekali lagi. Kau berkata ingin berpisah dariku? kau mau menjadi rakyat biasa seperti dulu? baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu itu. Kita berpisah dan kau bisa keluar dari rumah ini. Akku akan katkan pada Viscount Bills, jika dia bisa mengambil kembali semua uang dan investasinya. Aku akan menjual perkebunan dan kediman ini, lalu pergi." kata Lidia.

"Apa maksudmu bicara seperti itu, LIdia?" tanya Marquis.

"Kenapa? apa kau berpikir aku ssungguh tak akan bisa hidup tanpamu? jangan kau coba-coba mengancamku, Miguel. Aku ini bukan orang yang akan bermurah hati seperti yang kau pikirkan." kata Lidia.

Lidia berbalik dan pergi. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia menghentikan langkahnya dan mengatakan kalau ia siap berpisah kapanpun dengan Miguel. Setelah berpisah, orang yang akan banyak merugi adalah Miguel bukan dia. Lidia kembali melangkah pergi meninggalkan Miguel sendirian di ruang ramu kastel. Miguel lngsung duduk lemas, ia ttidak sangka Lidia akan berani membalas kata-katanya. Ia berpikir, apa yang dikatakan Lidia tak ada satupun yang salah. Jika ia berpisah dan pergi meninggalkan gelarnya, maka ia hanya akan hidup terlunta-lunta sebagai gelandangan.

"Arrrgh ... sialan!  ini semua gara-gara anak tidak tahu diri itu. Bisa-bisanya dia pergi setelah sausaah payah aku pungut dan aku besarkan." gumam Miguel.

***

Di kediaman Duke, Serena sedang duduk termenung di depan cermin. Rambutnya di sisir dann dirapikan oleh Katie. Serena memikirkan kata-kata Hillrich. Yang mengatakan kalau kemungkinan Serena memiliki hubungan darah dengan Saintess.

"Apa benar Serena dan Saintess ada hubungan darah? apa Hillrich tidak salah? Tidak, tidk. Tidak mungkin Hillrich salah. Dia kan penyihir tingkah sembilan dan memikili kekuatan tertinggi di menara sihir. Kemampuannya sudh tak diragukan lagi. Lalu bagimana dengan kekuatan sihir yang kumiliki? aaaaa ... kepalakku sakit memikirkan ini. Padahal aku datang ke sini agar bisa melarikan diri dari pernikahan konyol dengan Viscount." batin Serena.

Katie bingung, melihat raut wajah Serena yang tampak tidak baik. Katie pun bertanya, apa hal yang sedang Serena pikirkan? Serena kaget, ia menjawab, jika ia baik-bak saja. Katie kembali menyisir rambut Serena, ia percaya kalau Nonanya baik-baik saja, karena ia hanya harus percaya ucapan Nonanya.

"Apa ada kabar dari Wilayah selatan?" tanya Serena.

"Apa maksud Anda dari kastel Marquis? Saya tidak mendengar kabar apapun." jawab Katie.

Serena mendengarkan Katie yang mengomel. Mengeluhkan tentang perilaku buruk Marquis dan Marchioness. Perkataan Katie membuka mata Serena, jika ia memang tidak diperlakukan dengan baik.

"Apa Nona tahu? dulu sekali saya sempat berpikir kalau Anda adalah anak angkat Marquis dan Marchioness, karena ttak ada satu bagian pun dari Nona yang mirip dengan beliau berdua. Baik itu penampilan wajah, warna rambut ataupun warna mata." kata Katie.

Deg ... perkataan Katie membuat Serena tersadar kalau ia memang tidak ada kemiripan sama sekali dengan Marquis atau Marchioness, orang-orang yang selalu dipanggilnya Ayah dan Ibu setiap hari. Orang-otrang yang mengabikannya dan hanya membesarkan ala kadarnya saja. Kalau saja Serena tak diam-diam belajar, maka ia hanya akan menjadi boneka bodoh.

"Untung saja Serena asli punya pemikiran jauh dan luas. Ia mau belajar menulis dan membaca meski itu haruss sembunyi-sembunyi. Apa ya, yang sebenarnya Marquis dan Marchioness pikirkan tentang Serena. Kalau memang Serena adalah anak mereka, Kedua orang itu kan harusnya memberikan kasih sayang dan cinta. Bukan malah bersikap acuh tak acuh." batin Serena.

"Mungkin saa ucapanmu ada benarnya, Katie. Bisa saja aku memang anak angkat Marquis dan Marchioness. Kalau aku anak kanddung mereka, tidak mungkin mereka mengabaikanku. Tidak mungkin Marchioness yang merupakan Ibuku menyuruhku bekerja di dapur dengan alasan belajar. Mereka bahkan tak mengirimiku ke sekolah. Guru tata krama juga hanya datang sehari sebelum upacara kedewasaan." kata Serena.

Lissa kaget. Ia tidak hanya ingat kehidupan aslinya sebelum menjadi perasuk. Tidak hanya ingat akan isi novel yang sekarang adalah dunia tempat tinggalnya, tetapi ia juga bisa mengingat kehidupan Serena asli. Seolah Serena asli menunjukkan semua ingatannya pada Lissa yang telah merasuki tubuhnya.

"Ukh ... " gumam Serena merasa pusing.

"Nona ... Anda kenapa?" tanya Katie.

"Kepalaku sedikit sakit, Katie. Bisaah kau mintakan obat pada Ramos?" kata Serena.

"Baik, Nona. Saya akan mintakan obat pada Tuan Butler. Anda lebih bik berbaring dan istirahat saja." kata Katie.

Katie memapah Serena berjalan mendekati tempat tidur. Membantu Serena berbaring dan menyelimuti Serena. Katie berpamitan untuk pergi mengambil obat. Serena menganggukkan kepa tanpa menjawab. Ia merasakan kepalanya semakin sakit dan pandangannya berputar-putar.

Terpopuler

Comments

amanda

amanda

what? berarti dia bukan anak nya si miguel.... wow terungkap sudah👏👏

2023-10-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!