Karena tak ingin sesuatu terjadi pada Serena, Raphaelo pun memeluk Serena dan berbisik, jika semua aka baik-baik saja. Mengingatkan Serena, jika semua akan baik-baik saja.
"Setelah saya bantu buka pintu, jangan pernah ajak saya ke sini lagi, Tuan Duke." kata Serena.
"Ya, saya tidak akan memaksa Anda, Lady." jawab Raphaelo.
Setelah cukup lama berperang dengan ketakutan. Akhirnya Raphaelo dan Serena sampai di depan pintu rahasia. Serena mengerutkan dahi, ia berpikir pintu dihadapannya seperti pintu permainan dalam game, di mana pemainnya harus memecahkan teka-teki dulu untuk bisa membuka pintu.
"Boleh langsung saya buka?" tanya Serena.
"Silakan," jawab Raphaelo.
"Berdasarkan novelnya, membuka pintu ini sangatlah mudah. Hanya perlu meneteskan darah di segel dan pintu akan terbuka dengan sendirinya. Mari kita coba lalukan. Jika gagal maka aku akan mengutuk penulis novel ini," batin Serena.
"Tuan Duke, apakah Anda punya belati? atau pisau lipat? Apapun itu berikan pada saya," pinta Serena.
Raphaelo langsung memberikan sebuah pisau kecil yang biasa ia bawa. Ia ingin bertanya untuk apa, tapi ia tidak mau dikatai banyak bicara dan sebagainya. Makadari itu ia memilih diam dan hanya melihat.
Serena menerima pisau pemberian Raphaelo dan menatap segel di lantai, di depan pintu. Serena menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.
"Ayo lalukan. Demi kelangsungan hidup, demi masa depan yang cerah. Hanya menggores tangan saja, bukan hal besar bagiku. Dibandingkan aku harus menjadi merpati dalam sangkar emas." batin Serena.
Serena menempatkan tangan tepat di atas segel yang berbentuk lingkaran sihir dengan simbol-simbol aneh. Serena memejamkan mata dan menggores telapak tanganya dengan pisau.
"Umhh ... " rintih Serena saat pisau berhasil menggores telapak tangannya.
"Lady ... " panggil Raphaelo kaget.
Serena berdoa, agar apa yang dilakukannya berhasil. Ia berharap pintu segera terbuka. Raphaelo kaget, saat tahu apa yang dilakukan Serena. Tiba-tiba lingkaran sihir yang ada dilantar bersinar. Ajaibnya, darah Serena terserap oleh lingkaran sihir itu dan pintu pun terbuka. Serena membuka mata, ia senang karena berhasil membuka pintu.
"Berhasil," kata Serena senang.
Raphaelo memegang tangan Serena yang tergores. Ia segera mengelurkan sapu tangan dan membalut luta ditelapak tangan Serena.
"Apa yang Anda lakukan, Lady? apa Anda ingin mati?" sentak Raphaelo marah.
Serena kaget, "Ma-maafkan saya, Tuan Duke." kata Serena.
Raphaelo menatap telapak tangan Serena, "Jika caranya seperti itu, seharusnya Anda bilang. Biarkan saya yang melakukannya. Lihat telapak tangan Anda," kata Raphaelo.
Serena memengang tangan Raphaelo, "Saya bersalah karena melukai diri. Tolong jangan marah, Tuan Duke. Saya hanya ingin menunjukkan keseriusan saya untuk membantu Anda. Luka ini bukan apa-apa dibandingkan harapan Anda bisa menembus masuk pintu ini. Karena pintunya sudah terbuka, bukankah sebaiknya kita lihat apa isinya?" kata Serena.
Raphaelo sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Ia ingin sekali marah, tapi juga tidak tega. Raphaelo lantas menggandeng Serena masuk dalam ruang rahasia itu. Begitu membuka pintu, Raphaelo dan Serena terkejut dengan isi dalam ruangan. Ruangan itu tampak rapi dan bersih tanpa debu sedikitpun. Rapahelo melihat banyak rak buku dan tumpukan buku di mana-mana. Ada juga alat-alat penelitian.
"Bagaimana bisa ruangan ini bersih? padahal tak pernah dikunjungi," kata Serena.
"Karena ruangan ini dilindungi sihir perlindungan. Sehingga ruangan ini selalu bersih," jawab Raphaelo.
"Apa saya boleh lihat-lihat ruangan ini, Tuan Duke?" tanya Serena.
"Silakan saja. Saya juga akan melihat-lihat meja kerja Ibu saya," jawab Raphaelo.
Karena sudah diizinkan, Serena pun berjalan meninggalkan Raphaelo. Ia melihat-lihat catatan yang tertempel di dinding. Padahal Serena tak pernah belajar atau tahu menahu tentang sihir. Anehnya ia langsung tahu gambar-gambar apa yang dilihatnya.
"Aneh sekali. Bagaimana aku paham tulisan ini. Padahal ini bukan tulisan resmu Kekaisaran." batin Serena.
Serena menatap Raphaelo, "Tuan Duke, apa ini? bisa Anda jelaskan pada saya?" tanya Serena.
Raphaelo mendatangi Serena. Ia melihat apa yang diberikan Serena. Raphaelo menggelengkan kepala, menjawab kalau ia tidak bisa membaca tulisan tersebut. Mengatakan kalau itu adalah mantra yang ditulis dalam tulisan kuno.
Serena mengerutkan dahi menatap tulisan di kertas yang dipegangnya. Karena penasaran, Serena bergumam-gumam dan tanpa sadar telah merapal mantra itu. Sesuatu terjadi, tiba-tiba sinar muncul menyelimuti tubuh Serena. Serena terkejut, karena ia takut sesuatu telah terjadi padanya. Tidak hanya Serena, Raphaelo pun takut hal buruk terjadi pada Serena.
Sinar itu perlahan sirna dan Serena baik-baik saja. Hanya saja, tiba-tiba rambut hitam Serena berubah menjadi warna emas dan tubuh Serena tumbuh sedikit tinggi. Raphaelo yang melihat keanehan itu pun kaget. Ia tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Serena
"Tuan Duke, ada apa?" tanya Serena yang heran, karena Raphaelo menatapnya lekat.
"Rambut Anda berubah warna," kata Raphaelo.
Serena memegang rambut panjangnya dan melihatnya. Serena pun kaget karena warna rambutnya menjadi emas, bukan hitam. Ia menatap Raphaelo dan bertanya apa yang terjadi? Hal aneh lainnya terjadi, telapak tangan Serena yang sebelumnya terluka karena goresan pisau, tiba-tiba sembuh. Bahkan tak berbekas. Serena baru menyadari tubuhnya semakin tinggi dan kulitnya terasa segar.
"Apa yang terjadi?" gumam Serena.
"Apa mungkin ini wujud asli Anda?" tanya Raphaelo.
Serena menatap Raphaelo, "Apa maksud Anda, Tuan Duke? bagaimana bisa penampilan saya seperti ini? saya yakin ini pengaruh sihir," kata Serena.
Raphaelo mendekati Serena, "Sepertinya Anda bukan orang biasa-biasa saja, ya? lihat dahi Anda, muncul simbol aneh yang belum pernah saya lihat." kata Raphaelo.
Serena memegang dahinya, "Si-simbol apa?" tanya serena.
Serena melihat kiri kanan mencari cermin dan akhirnya menemukan sebuah cermin berukuran besar. serena langsung berlari ke cermin dan melihat simbol yang dimaksud. Serena tidak tahu simbol apa yang terukir didahinya. Simbol berbentuk bulan sabit dan didalam bulan ada matahari.
"Apa ini? Kenapa seperti ini? sebenarnya aku kenapa? aku bisa gilaaaaa ..." batin Serena.
"Tuan Duke, simbol apa yang terukir di dahi saya?" tanya Serena.
"Saya tidak tahu, Lady. Saya akan panggil Hillrich. Kemungkinan dia tahu simbol apa itu," kata Raphaelo.
"Ya, tolong panggil Tuan Hillrich. Saya tidak tenang karena tiba-tiba penampilan saya seperti ini." kata Serena.
Raphaelo memanggil Hillrich dengan sihir pemanggilan. Dan tak berselang lama, Hillrich langsung muncul dengan sihir teleportasi mengikuti sihir pemanggilan Raphaelo.
"Raphaelo, ada apa? Tidak biasanya kau memanggilku dengan sihir pemanggil," tanya Hillrich.
"Hill, bisakah kau periksa Serena? Setelah merapal mantra dengan tulisan kuno, penampilannya tiba-tiba berubah." kata Raphaelo.
Hillrich menatap ke arah tangan Raphaelo menunjuk. Dan Hillrich pun kaget, melihat penampilan baru Serena yang tampak tak asing baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments