Setelah menempuh perjalanan hampir satu minggu, akhirnya Serena sampai di wilayah utara. Begitu sampai, Serena menyampaikan kedatangannya, dan tujuan kedatangannya. Serena tanpa ragu ingin segera menghadap Duke Kyloach.
Penjaga gerbang melaporkan pada Butler. Dan Butler melapor pada Asisten Duke. Duke yang menerima kabar kedatangan tamu tak diundang pun teekejut. Ia merasa aneh, karena ada tamu yang datang pada saat badai salju berlangsung di wilayah utara.
"Siapa yang datang di tengah badai salju?" tanya seorang pria tampan berambut perak bermata kuning. Yang tak lain adalah Duke Kyloach.
"Nona dari wilayah selatan. Beliau berkata ingin langsung menemui Anda karena urusan mendesak," kata Asisten Duke, Ryu.
"Sampaikan pada Butler aku akan menemuinya setelah berganti pakaian." kata Duke.
"Baik, Tuan." jawab sang Asisten yang langsung pergi meninggalkan ruang kerja Duke.
***
Pesan sudah disampaikan. Kini Serena sedang menunggu kedatangan Duke di ruang tunggu kastel Duke. Serena diberi selimut, begitu juga Katie. Seren tak mengira kalau ia tiba tepat pada saat badai salju sedang berlagsung.
"Uhh ... apa aku bisa bertahan tinggal di sini? Bisa-bisa aku mati beku," batin Serena.
Pintu ruangan dibuka, seseorang masuk dan menghampiri Serena. Melihat seseorang itu, Serena sangatlah terkejut.
"Mata kuning, rambut perak. Dialah Raphaelo Michael Kyloach. Pria yang cintanya bertepuk sebelah tangan pada Serena." batin Serena.
"Sa-salam kepala Tuan Duke. Saya Serena Lucran, dari wilayah selatan." kata Serena memperkenalkan diri.
"Senang bertemu Anda, Lady. Saya Raphaelo Michael Kyloach. Pemimpin wilayah Kyloach," jawab Raphaelo memperkenalkan diri.
Raphaelo mempersilakan Serena duduk. Tanpa basa-basi, Raphaelo bertanya apa tujuan Serena datang jauh-jauh ke wilayah utara? Apalagi Serena datang tepat pada saat badai salju sedang berlangsung.
"Saya tidak akan bertele-tele. Saya datang untuk menawarkan sesuatu. Saya akan membantu Anda mengembangkan wilayah ini selama satu tahun. Sebagai balasan, Anda hanya perlu menikahi saya. Saya tidak butuh uang, saya hanya butuh perlindungan dan posisi Duchess." jawab Serena.
Raphaelo kaget, "Apa? Maaf, Lady. Apa Anda sadar dengan ucapan Anda?" kata Raphaelo.
"Wanit ini datang jauh-jauh ke sini untuk menikah denganku? Dia berkata akan mengembangkan wilayah utara, apa maksudnya? Wanita yang aneh," batin Raphaelo.
"Saya tahu pasti Anda berpikir seperti ini. Saya datang dengan keadaan sadar dan mental yanh baik, Tuan Duke. Saya jauh-jauh datang dengan tujuan baik, bukan sebaliknya. Saya tahu keadaan wilayah utara seperti apa, karena itu saya akan membantu Anda mengembangkan wilayah. Silakan Anda lihat ini," kata Serena mengeluarkan sebuah kertas dan meletakkan di atas meja.
Raphaelo mengambil kertas itu dan menatap Serena, "Apa ini, Lady?" tanya Raphaelo.
"Silakan Anda lihat sendiri," jawab Serena.
Raphaelo membuka kertas dan melihat isi didalamnya, "Apa ini sebuah peta? bisakah Anda menjelaskannya maksud tanda merah ini?" tanya Raphaelo menunjuk tanda merah dalam kertas.
"Itu adalah lokasi di mana terdapat tambang batu sihir dengan tingkat kemurnian tinggi. Jika Anda tidak percaya, silakan utus seseorang menggali di tempat yang bertanda merah. Saya dengan senang hati memberikan semua tambang itu pada Anda tampa meminta bagian sepeser pun. Saya hanya minta Anda menikahi saya dan memberikan posisi Duchess." jawab Serena mengungakpan keinginannya.
Raphaelo terdiam. Ia melipat kertas di tangannya dan menatap Serena. Raphaelo bertanya apa alasan Serena ingin mendapatkan posisi Duchess? dan kenapa harus menikah dengannya? Serena pun menceritakan keadaann yang sebenarnya pada Raphaelo. Ia sedang melarikan diri dari pernikahan paksa. Serena mengatakan, kalau ia hendak dinikahkan dengan Viscount yang sudah memiliki dua anak seumuran dengannya. Dan mengatakan segala keburukan Viscount itu.
"Keluarga saya sedang berada diambang kebangkrutan. Dan orang tua saya hendak menjual saya. Saya menolak keras menikah dengan duda dan seorang pria tak bermoral. Karena itu saya datang menemui Anda dan mengajukan penawaran ini." jelas Serena.
Raphaelo mengerutkan dahi, "Kalau semua perkataan wanita ini benar, tentu saya wilayah utara akan sangat diuntungkan dengan ditemukannya tambang batu sihir. Tidak hanya satu, wanita ini menandai lima tempat. Bagaimana dia bisa tahu lokasi tambang? sedangkan aku saja yang tumbuh besar di sini tak mengetahuinya." batin Raphaelo bimbang.
Serena menatap Raphaelo, "Apa dia sedang memikirkan perkataanku? apa dia masih ragu? wajar jika dia ragu. Aku pun akan bereaksi sama kalau tiba-tiba ada yang datang dan mengajukan tawaran seperti ini. Dia pasti berpikir aku aneh, kan? aku bukan orang aneh, aku tahu semua yang terjadi di dunia ini. Dari hal paling kecil sampai hal terbesar. Karena aku mengingat semua isi novelnya." batin Serena.
"Apa Anda masih ragu dengan tawaran saya? begini saja, silakan Anda pastikan lebih dulu tabang batu sihirnya dan setelah itu mari kita bicara lagi. Karena tidak hanya tambang, saya juga punya hal lain yang bisa saya lakukan untuk Anda." kata Serena.
Raphaelo menganggukkan kepala, "Baiklah. Seperti perkataan Lady saja. Saya akan kirim orang memeriksa dan kita bicara lagi setelah tambang berhasil ditemukan. Selama itu silakan Anda tinggal di sini dengan nyaman. Katakan semua keperluan Anda pada Butler atau pelayan." kata Raphaelo.
"Saya mengerti. Terima kasih atas kebaikan hati Anda, Tuan Duke. Saya tidak akan mengecewakan Anda," kata Serena.
"Tidak perlu berterima kasih. Jika memang tambang itu ditemukan, maka sayalah yang harus berterima kasih pada Anda," kata Raphaelo.
"Umh, Tuan Duke ... boleh saya minta sesuatu hal?" tanya Serena. Ia ingat akan hutan sihir yang ia lewati.
"Ya, silakan katakan, Lady." jawab Raphaelo.
"Apakah Anda bisa melindungi hutan gelap yang ada dibalik gunung?" tanya Serena.
Raphaelo mengerutkan dahi, "Hutan gelap di belakang gunung? apa maksud Anda hutan terlarang? hutan itu bukan hutan wilayah kami, tapi untuk apa Ands meminta saya melindungi hutan itu?" tanya Raphaelo emnatap Serena.
"Karena hutan itu bukanlah hutan terlarang seperti rumor yang beredar, Tuan Duke. Hutan itu adalah hutan sihir, tempat tinggal makhluk magis dan para spirit." Jelas Serena.
"Apa? apa Anda yakin?" tanya Raphaelo.
Serena menganggukkan kepala. Ia mengataka kalau ia sangat yakin. Sebagai bukti keaslian informasinya, Raphaelo juga diminta mengutus orang untuk memeriksa hutan oleh Serena. Dan Raphaelo pun mengiakan perkataan Serenan.
Raphaelo bangkit berdiri dan memanggil Butler kastelnya. Raphaelo memerintahkan Butler untuk pergi mengantar Serena ke kamar tamu untuk istirahat. Dan meminta Butker melayani Serena dengan baik. Setelah itu Raphaelo pergi meninggakkan Serena untuk kembali ke ruang kerja.
"Mari ikuti saya, Nona." kata Butler.
"Ya," jawab Serena.
Serena berjalan mengikuti Butler. Katie mendampingi Serena. Sesampainya di kamar, Butler mempersilakan masuk dan mengatakan kalau Serena butuh sesuatu, tidak perlu sungkan bicara. Butler juga menyampaikan kalau ia juga akan menyediakan kamar bagi Katie, pelayan Serena. Bulter izin pergi, karena akan mengantat Katie. Serena mengiakan, dan berterima kasih.
Serena menatap sekitar kamar. Ukuran kamar itu jauh lebih besar dari kamarnya di kediaman Marquis. Kamarnya juga rapi dan bersih. Serena merasa lega, setidaknya ia bisa tinggal dengan nyaman dan tenang untuk sementara waktu tanpa gangguan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Puput Regina Putri
mkch thor crita nya menarik gk bertele tele 👍
2024-05-22
0
🍃Red Green🍂
hampir 1 minggu? ku kira hanya 2 hr,,,hmmm
2023-04-28
1