Pesta pun usai. Semua tamu pergi meninggalkan aula istana, begitu juga Raphaelo dan Serena. Keduanya naik ke kereta kuda, dan kereta kuda mulai berjalan membawa keduanya kembali ke kastel.
Dalam perjalan Raphaelo dan Serena berbincang-bincang. Raphaelo menceritkan kekesalan hatinya menghadapi Kaisar. Karena terlampau kesal, Raphaelo bahkan mengatakan ingin meratakan istana dengan tanah. Serena tersenyum, ia berkata kalau Raphaelo keren.
"Wah, anda keren, Tuan Duke. Hahaha ... " sahut Serena.
"Selama saya tadi tidak berada di sisi Anda, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Raphaelo.
Serena menganggukkan kepala, mengiakan pertanyaan Raphaelo. Serena menceritakan apa yang terjadi padanya dengan putra mahkota. Dan memberitahu Raphaelo siapa putra mahkota itu sebenarnya.
"Anda pasti tidak percaya seperti saya tadi saat mendengar perkataan beliau. Selain fakta yang saya katakan, ada hal menarik lain yang pasti akan membuat Anda tercengang." kata Serena.
"Apa itu, Duchess?" tanya Raphaelo.
"Ternyata beliau adalah ahli herbal. Pantas saja beliau begitu lantar memberitahu saya nama-nama bunga dan khasiatnya untuk tubuh." jawab Serena.
Raphaelo cukup terkejut dengan kenyataan kalau putra mahkota adalah ahli herbal. Sebab, di Kekaisaran, ahli herbal sudah sangat jarang ada. Karena itulah pengobatan lebih banyak dan sering menggukana sihir penyembuh dan kekuatan suci.
"Apa beliau menyembunyikan fakta itu?" Tanya Raphaelo.
"Entahlah ... beliau berkata kalau tidak ada yang tahu kecintaannya dengan herbal. Beliau memberitahu saya karena ingin menjalin pertemanan dengan saya. Namun, saya menolak. Saya berkata, jika ingin menjalin hubungan mau itu pertemanan sekalipun, harus atas izin Anda." kata Serena.
"Be-begitu, ya ... " gumam Raphaelo.
"Aneh sekali. Kenapa rasanya aku senang dia berkata seperti itu? awalnya aku sudah mulai kesal dan khawatir." batin Raphaelo.
"Ya, tentu saja harus begitu. Meskipun pernikahan kita hanyalah penikahan kontrak, tetap saja saya tak boleh bertindak semau saya. Anda adalah suami saya, siapapun orang yang ingin menjadi teman saya, Anda perlu tahu. Mau itu wanita atau pria sekalipun. Sudah saya katakan sejak awal, bukan? jika dalam hubungan kita, diperlukan kejujuran dan keterbukaan satu sama lain untuk menghindari adanya kesalahpahaman." jelas Serena.
"Ya, saya mengerti, Duchess. Lantas, apa rencana Anda selanjutnya? apakah Anda akan menjalin hubungan pertemanan dengan putra mahkota?" tanya Raphaelo.
"Apakah Anda mengizinkan? sejujurnya saya ingin mencoba berteman dengan beliau. Jika melihat keahlian beliau, bisa saja kita membutuhkam bantuan beliau, kan? Namun, saya juga tidak akan mempermasalahkannya, jika Anda tidak mengizinkan." Kata Serena.
Raphaelo terdiam. Ia berpikir keras menentukan jawabannya. Ia ingin melarang, tapi ia juga tak ingin mengekang. Tiba-tiba ia menjadi gelisah karena berpikir yang tidak-tidak tentang putra mahkota dan Serena.
"Kalau aku izinkan. Berarti mereka berdua akan menjalin hubungan baik dan pasti akan bertemu meski tak sering, kan? bagaimana kalau Putra Mahkota nantinya memendam perasaan pada Serena. Sejak awal tatapan matanya pada Serena sudah mencurigakan. Namun, kalau aku tak mengizinkannya, Serena pasti mengira aku ini seseorang yang berpikiran sempit dan pasti dia merasa tak nyaman." batin Raphaelo.
"Tuan Duke, Anda baik-baik saja?" tanya Serena bingung. Melihat raut wajah Raphaelo yang gelisah.
Raphaelo menatap Serena, "Haruskah Anda berteman dengannya? maksud saya, sa ... " kata-kata Raphaelo dipotong oleh Serena.
"Apa Anda sedang khawatir? Apa yang Anda pikirkan, Tuan Duke? jangan-jangan Anda berpikir kalau saya akan menjalin hubungan khusus dengan beliau nantinya. Kalau itu yang ada dalam pikiran Anda, maka Anda salah besar. Saya bukanlah orang yang tidak menepati janji, dan tidak setia. Saat ini saya adalah istri Anda, Duchess Kyloach. Mau seberapa tampan atau sebarapa kayanya pria lain menggoda saya, dan meski mereka berusaha keras, saya pasti akan menolak dengan tegas. Saya menghargai Anda sebagai suami saya. Perkataan saya bukanlah bualan," kata Serena menegaskan perkataannya.
Raphaelo melebarkan mata, "Ahh ... (mengusap kasar wajahl maafkan saya. Saya terlalu jauh memikirkan hal yang sudah pasti." kata Raphaelo.
Serena tersenyum cantik, "Tidak apa-apa. Wajar Ands berpikir demikian, karena putra mahkota sudah membuat Anda tidak nyaman sejak awal. Saya tidak memaksa Anda untuk mengizinkan, makadari itu lupakan saja. Kita masih bisa bicara dan bertemu meski bukan teman, kan. Itupun kalau masing-masing dari kami tidak sibuk." kata Serena.
Raphaelo menggelengkan kepala, "Tidak, Duchess. Saya tak akan melarang Anda untuk menjalin pertemanan dengan putra mahkota. Seperti kata Anda, menjalin hubungan baik diperlukan guna kerjasaama pada masa depan. Saya tidak mau menjadi suami yang egois, dan melarang Anda begini atau begitu." kata Raphaelo dengan tegas.
"Terima kasih sudah mengizinkan, Tuan Duke." kata Serena menatap Raphaelo.
Raphaelo mengiakan perkataan Serena, berkata kalau itu bukanlah apa-apa. Keduanya lantas duduk tenang tanpa bicara. Tiba-tiba kereta kuda yang ditumpangi Serena dan Raphaelo bergundang. Ternyata roda kereta kuda telah melewati jalan berlubang. Karena jalanan gelap dan sudah larut malam, maka kusir tak bisa menghindari jalan tersebut.
"Ma-maafkan saya, Tuan dan Nyonya." kata kusir panik.
"Ya, tidak apa-apa." jawab Raphaelo.
Akibat dari guncangan itu, Serena terlempar ke arah Raphaelo, membuatnya seolah menjatuhkan diri ke dalam pelukan Raphaelo.
"Ma-maaf, Tuan Duke. Saya tak sengaja," gumam Serena.
"Aku tahu, diamlah dulu, karena kereta kudany terus berguncang, tidak mudah kembali ke tempat dudukmu." Kata Raphaelo.
"Maaf, Tuan, Nyonya. Saya akan berhati-hati," kata kusir.
"Tidak apa-apa. Jalan perlahan saja," kata Raphaelo.
Serena merasa aneh, karena ia berada dalam pangkuan Raphaelo. Ia khawatir Raphaelo tidak nyaman, mengingat Raphaelo tidak terlalu suka bersentuhan dengan orang lain secara langsung.
"Dia tidak akan langsung mendorongku, kan?" batin Serena.
Serena menatap Raphaelo, "Apa saya berat?" tanya Serena.
Raphaelo menatap Serena, "Tidak sama sekali. Anda lebih ringan dari dugaan saja. Kalau hanya segini saya bisa menggendong Ands hanya dengan satu tangan," jawab Raphaelo.
Serena tersenyum, "Candaan Anda tidak lucu, Tuan Duke." Kata Serena.
"Anda mengira ucapan saya hanya candaan? saya serius, Duchess. Saya akan berikan makanan yang enak dan banyak, agar berat Anda meningkat. Istri saya tidak boleh ringan seperti bulu," kata Raphaelo.
Wajah Serene memerah, "Umm ... dia ini pandai bicara, ya. Padahal dalam novel dikatakan pria ini tak banyak bicara. Memang benar, kita tak boleh percaya begitu saja, kalau tidak membuktikannya secara langsung." batin Serena.
Raphaelo mengusap wajah Serena dengan lembut, "Apa Anda sakit? wajah Anda merah. Anda pasti sangat lelah karena perjalanan dan menghadapi sikap Kaisar yang seperti itu. Tidurlah, saya akan bangunkan saat kita sampai." kata Raphaelo.
Entah mengapa, Serena memang merasa lelah dan mengantuk. Sepertinya Raphaelo menebak dengan benar keadaan Serena.
"Kebetulan saya memang mengantuk, Tuan Duke. Kalau memang tidak apa-apa, saya mau tidur. Mohon bantuannya," kata Serena.
"Ya, Duchess. Tidurlah," jawab Raphaelo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Puput Regina Putri
aseekk jalan pun mendukung 🤭
2024-05-22
0