Kedatangannya kali ini mau meyampaikan apa yang ia dapat dari kuil dan penelitiannya tetang identitas asli Serena. Kedatangan Hillrich tentu saja disambut baik oleh Raphaelo dan Serena. Mereka lantas mengobrol di ruang kerja Raphaelo.
"Silakan bicara, Tuan Hill." kata Serena.
Hillrich memberkan beberapa lembar catatan yang ia bawa pada Serena. Ia berkata kalau ini adalah hasil penelitian yang ia lakukan. Juga hasil pencocokan yang dilakukan pihak kuil istana. Hillrich meminta Serena membacanya lebih dulu.
Dengan tenang dan hati-hati Serena mulai membaca. Dahinya berkerut, jantungnya berdegup kencang. Rasa gelisah dan penasaran melanda. Setelah membaca hasil dari penelitian Hillrich secara keseluruhan, barulah Serena tahu kalau siapa dia sebenarnya.
"Jadi benar, kalau saya punya kekuatan campuran? dan saya adalah keturunan dari penyihir agung juga Saintess?" tanya Serena menatap Hillrich.
"Saya akan jelaskan perlahan. Penilitian saya sudah jelas menunjukkan adanya kekuatan sihir dalam tubuh Anda. Dan setelah saya pelajari lebih lanjut, tentang perubahan penampilan Anda yang tiba-tiba dan simbol yang muncul. Itu akibat ledakan dua kekuatan yang Anda miliki. Yang mana kekuatan sihir bertemu kekuatan suci. Pada tubuh Anda, dua kekuatan itu sepertinya tak menyatu. Jadi kedepannya Anda tak perlu khawatir untuk menggunkan dua kekuatan secara terpisah. Dan seperti yang saya tulis, kemungkinan besar Anda adalah putri dari Saintess Pamela dan Pangeran Georgio. Meski nama Pangeran tak ditulis lengkap dalam buku, tapi saya sangat yakin inisial G dalam buku catatan yang ada di menara sihir adalah nama Pangeran Georgio. Kesimpulan ini bukan hanya pendapat saya pribadi, teman saya juga menyimpulkam hal serupa." jelas Hillrich panjang lebar.
Serena termenung. Ia berpikir, bagaimana bisa alir ceritanya berubah? Padahal di novel aslinya tak pernah dibahas tentang orang tua kandung Serena. Memang benar aku sempat curiga, saat membaca ceritanya, di mana Marquis dan Marchioness tak menyayangi Serena sampai-sampai rela melepaskan Serena untuk Viscount Bills hanya demi sejumlah uang.
"Banyak yang tidak aku tahu. Ternyata begini cerita yang kujalani," batin Serena.
"Begitu, ya. Saya memang mendapatkan perlakua tak baik dari Marquis dan Marchioness. Meski tak menyakiti secara fisik, Marquis membiarkan saya melakukan aktivitas berat selayaknya pelayan dan tidak memberikan saya pendidikan formal selayaknya putri bangsawan dengan alasan keterbatasan dana. Marchioness juga seolah malu mengakui saya sebagai anak karena mata merah saya. Sehingga beliau mengabaikan saya. Karena itu saya selalu melakukan apa-apa sendirian dan hanya Katie seorag yang mau membantu saya karena kami tumbuh besar bersama. Mereka pada akhirnya menjual saya pada seorang bangsawan bergelar Viscount yang sudah memiliki dua orang putra seusia saya. Itulah alasan terbesar saya melarikan diri ke wilayah utara, Tuan Hill." kata Serena mengungkapkan isi hatinya.
Serena tersenyum, "Saya tidak tahu harus bicara apa lagi. Saya senang juga sedih. Senang karena ternyata saya bukan anak kandung Marquis dan Marchioness sehingga kedepannya kami tak perlu bersinggungan lagi. Namun, saya sedih mengetahui fakta bahwa saya ditelantarkam orang tua kandung saya." lanjut Serena bicara dengan tubuh gemetar.
Raphaelo mengerutkan dahi, "Apa Anda baik-baik saja, Lady?" tanya Raphaelo.
Serene menganggukkan kepala, "Saya baik-baik saja, Tuan Duke. Jangan khawatir," kata Serena tersenyum lebar.
Hillrich sedih setelah mendengar cerita Serena. Ia baru menyadari, jika Serena hidup dengan penuh kesesakam selama ini. Beruntungnya Serena segera pergi, dan mengabaikan perintah untuk menikahi duda denga dua anak.
"Apa Marquis dan Marchioness itu sudah kerasukan iblis? bagaimana bisa mereka berdua melakukan hal tak terpuji pada Lady Serena. Aku akan beri mereka pelajaran nanti, sekalian bertanya bagaimana bisa Serena tinggal bersama mereka selama ini." batin Hillrich.
"Oh, ya, Lady Serena. Saya bertanya, apakah boleh teman saya dari kuil suci datang menemui Anda? dia berkata kalau dia hanya ingin menyapa dan mengenal Anda." tanya Hillrich.
"Dari kuil suci? beliau bukan seperti orang-orang yang saya takuti, kan?" tanya Serena.
Hillrich menggelengkan kepala. Ia menjawab, jika temannya itu adalah salah satu dari sembilan pilar kuil suci. Hillrich juga mengatakan, kalau ia sudah menyampaikan keinginan Serena yang ingin menyembunyikan identitas san kekuatan.
Serena menatap Raphaelo seolah meminta izin. Raphaelo menatap Serena, lalu tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia mengizinkan apapun keinginan Serena dan apa yang akan Serena lalukan. Asalkan tak memebahayakan nyawa Serena.
Serena tersenyum cantik mengucapkan terima kasih pada Raphaelo. Serena langsung menjawab pertanyaan Hillrich dan mengiakan permintaan dari teman Hillrich. Mendengar jawaban Serena, Hillrich senang dan langsung berterima kasih dengan sepenuh hati.
"Bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" tanya Hillrich.
"Berhubung kau datang, bisakah kau membantu mencarikan seseorang yang bisa menikahkan kami? aku dan Serena tak bisa menikah hanya dengan selembar kertas, kan?" kata Raphaelo.
Hillrich tersenyum, "Itu bukan masalah besar. Bukankah ada temanku yang merupakan petinggi kuil suci? Aku akan minta bantuannya nanti," jawab Hillrich.
"Terim kasih untuk bantua Anda, Tuan Hill." kata Serena.
"Bukan apa-apa, Lady. Tidak perlu berterima kasih," Jawab Hillrich.
Mereka bertiga lantas mendiskusikan perihal pernikahan dengan seksama. Hillrich bangak memberikan masukan untuk Rapahelo dan Serena yang sama-sama tak punya pengalaman. Meski akan menggelar pernikahan sederhana, tetapi Hillrich ingin pernikahan Serena dan Raphaelo berkesan. Terutama dimata para pelayan dan butler yang sudah sangat lama mendambakan pernikahan yang akan datang.
***
Malam harinya. Setelah makan malam, Katie mendatangi Serena dengan membawakan selimut baru untuk Serena. Katie dan Serena pun berbincang-bincang.
"Kau tampak senang, Katie. Apa ada seseuatu hal yang membuatmu senang?" tanya Serena
"Ya, Nona. Saya ... sangat, sangat, sangaaaat senang. Sampai rasa senang saya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi." jawab Katie.
"Kemarilah dan duduk. Lantas ceritakan padaku, apa yang membuatmu sangat senang." pinta Serena.
Katie duduk di tepi ranjang setelah meminta izin Serena. Ia pun mengungkapkan perasaan senangnya, dan apa hal yang membuatnya senang.
"Anda tahu? awalnya saya tidak mengerti jalan pikiran Anda. Saya mengikuti apa yang Anda perintahkan. Untuk tetap diam dan percaya tanpa banyak bertanya. Namun, dalam hati saya selalu gundah. Terlebih Anda tiba-tiba pergi ke utara tanpa penjelasan apa-apa. Sesampainya di sini, saya semakin khawatir kalau-kalau kedatangan Nona dan saya tak diterima dengan baik di sini. Saya kan pernah dengar kalau penguasa wilayah Utara adalah 'Duke Gila'. Namun, setelah beliau muncul dan bicara, saya jadi berpikir akalu julukan itu berlebihan." kata Katie.
Serena tersenyum, "Mungkin saja itu benar, mungkin juga tidak. Karena wilayah utara selalu tertutup salju, dan tidak banyak orang yang bisa bertahah disini, mereka tidak tahu apa yang terjadi di wilayah ini, kan?" sahut Serena.
"Di novel, julukan itu diberikan karena suatu alasan. Duke muda yang baru pertama kali terjun ke medan perang membrantas suku bar-bar, menggila dengan membantai semua musuhnya. Pada akhirnya ia pulang dengan membawa kemenangan. Tak hanya itu. Saat pembasmian monster, kegilaannya muncul sehingga membuat para kestarianya takut kalau-kalau Raphaelo tak bisa mengendalikan kesadarannya." batin Serena.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments