11. Mulai Terkuak

Hillrich pergi menemui sahabatnya yang ada di kuil suci. Sahabat Hillrich adalah pemilik kekuatan suci dengan tingkat tinggi. Dan termasuk salah satu petinggi kuil suci dari sembilan petinggi yang ada. Ia datang untuk mengambil hasil penelitiannya. Sebelumnya, ia menitipkan darah Serena pada temannya itu untuk dilihat, apakah memang benar Serena memiliki keterikatan dengan Saintess atau  hanya wanita biasa dengan anugerah dewa yang bisa memiliki kekampuan penyembuh. 

Hillrich berdiri bersandar dinding, ia sedang memandangi taman bunga kediaman temannya. Tak lama seorang pria menghampirinya dengan membawa sebuah gulungan.

"Kenapa hanya berdiri, Hill? masuklah ke dalam," kata seseroang itu mengajak Hillrich masuk ke dalam kamarnya.

Hillrich menatap temannya itu dan tersenyum. Ia lantas berjalan mengikuti temannya masuk ke dalam sebuah kamar. Di sana mereka duduk berhadapan dan teman Hillrich meletakkan gulungan yang ia bawa ke atas meja.

"Ini yang kau inginkan," katanya.

"Apakah itu hanya kekuatan biasa?" tanya Hillrich.

"Tidak. Itu bukan kekuatan biasa seperti anugerah dewa ataupun semacamnya. Darah ini menyatu dan membuat tongkat pusaka Saintess bersinar lalu melayang dengan sendirinya. Aku sampai terkejut menyaksikan itu dan untungnya tak ada yang tahu selain aku. Siapa dia? maksudku pemilik darah ini? Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya teman Hillrich.

"Jadi, begini. Pemilik darah ini ingin mebyembunyikan identitas aslinya. Ia berkata terus terang padaku, kalau ia takut kalau-kalau akan ditahan di kuil suci. Itu yang dia katakan saat akan kubawa ke sini. Dan kau perlu tahu ini. Dia tak hanya memiliki kekuatan suci, tapi juga kekuatan sihir." kata Hillrich memberitahukan.

"Apa? itu mustahil. Apa kau sedang bergurau denganku, Hill? di dunia ini, tidak pernah ada seseorang yang bisa memiliki dua kekuatan sekaligus. Kau tahu sendiri, kita terbagi atas tiga golongan. Seseorang dengan kekuatan fisik, seseorang dengan kemampuan sihir, dan terakhir dengan kemampuan kekuatan suci. San setiap orang hanya memiliki satu dati tiga golongan atau tidak sama sekali." jelas Callisto.

"Itulah yang membuatku bingung. Aku yakin dia bisa memiliki keduanya. Bahkan dia memiliki ukiran simbol di dahinya. Dua simbol bergabung. Coba jelaskan, apa artinya itu?" kata Hillrich.

Callisto diam mengerutkan dahinya. Ia mencoba mencerna perkataan temanya itu. Kenyataan kalau ada seseorang dengan dua kemampua saja sudah sangat aneh, ditambah terdapat ukiran simbol. Lebih tepatnya dua simbol dalam satu tempat. Callisto menggelengka kepala. Ia menyerah karena lelah berpikir.

"Aku tidak tahu. Aku menyerah," kata Callisto.

"Penelitianku menunjukkan kalau dia adalah keturunan penyihir agung, dan setelah melihat hasil dari pencocokanmu  dia juga adalah keturunan Saintess. Coba ingat, siapa diantara para Saintess yang menjalin hubungan dengan penyihir agung." kata Hillrich.

Callisto melebarkan mata, "Saintess Pamela pernah beberapa kali mendapatkan kunjungan dari Pangeran Georgio. Apa saat itu kau belum masuk ke menara sihir?" kata Callisto.

"Saintess Pamela? Bukankah beliau adalah Tuan putri dari kerajaan barat?" tanya Hillrich.

"Saintess memiliki warna rambut emas dengan mata hijau yang indah. Apakah warna rambut Serena berubah karena mengikuti warna rambut Saintess Pamela?" batin Hillrich bertanya-tanya.

Callisto menganggukkan kepala, mengiakan kata-kata Hillrich. Hillrich diam memegang dagu dan berpikir. Ia masih sangat penasaran akan identitas asli Serena.

"Pangeran Georgio adalah pangeran yang mengasingkan diri sampai saat ajal menjemputnya. Tidak banyak yang kuketahui tentang beliau, tapi aku memang pernah mendengar beliau memiliki kekuatan sihir yang hebat. Dalam buku tidak tertulis kalau pengeran adalah penyihir agung. Hanya ada inisial G. Ahhh ... aku mengerti sekarang. Begitu rupanya. Guru sengaja menutupi identitas pangeran Georgio." batin Hillrich menganggukkan kepala.

"Apa yang kau pikirkan, Hill?" tanya Callisto.

"Bukan apa-apa. Calli, bisakah kau rahasiakan percakapan kita ini? hanya kau dan aku yahg tahu fakta jika kemungkinan dia adalah anak dari saint Pamela dan Pangeran Georgio. Karena dia berasal dari wilayah selatan." kata Hillrich.

"Bilang padanya aku ingin bertemu. Tidak untuk mencelakai atau menyeretnya tinggal di kuil suci. Hanya ingin menyapa dan mengenal saja." kata Callisto.

"Ya, akan ku sampaikan." jawab Hillrich.

Setelah banyak berbincang, Hillrich pun berpamitan pada Callisto. Ia lantas pergi meninggalkan kediaman Callisto.

Callisto memandangi kepergian Hillrich, "Kalau memang apa yang dikatakan Hillrich benar adanya. Maka dia adalah orang yang nantinya bisa merubah dunia." batin Callisto.

***

Seren sibuk mendekorasi kastel. Ia mengganti semua perabotan tua yang perlu diganti. Butler sangat bersemangat, karena akhirnya ada Serena yang mengurus rumah. Kabar Serena yang akan menikah dengan Duke pun disambut hangat semua penghuni kastel dan para kesatria.

"Nona ... silakan makan cemilan dan minum teh dulu. Jangan terlalu memaksakam diri," kata Butler.

"Terima kasih, Ramos. Sepertinya kau lebih bersemangat dibandingkan aku, ya." kata Serena.

Ramos tersenyum, "Anda benar, Nona. Sudah lama saya mendambakan hari di mana kastel ini memiliki Nyonya rumah. Akhirnya hari itu tiba. Saya sungguh senang," kata Ramos.

"Aku harap aku bisa menjadi Nyonya rumah yang bijaksana dam bisa mengimbangi kemampuan Tuan Duke. Mohon bantuanmu untuk ke depannya, Ramos." kata Serena.

"Dengan senang hati, Nona. Silakan Anda bertanya, jika ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan. Jangan sungkan untuk bicara pada saya kalau anda butuh sesuatu." kata Ramos.

Serena tersenyum. Ia akhirnya mengerti, kenapa di novel asli Ramos menjadi salah satu orang kepercayaan Raphaelo selain Ryu. Ternyata kesetiaan dan ramah tamah Ramos itu nyata, bukan hanya bualan semata. Serena bisa melihat langsung dan merasakan ketulusan Ramos sejak awal i datang ke kastel Duke.

Ramos dan Serena berbincang-bincang. Dan tak berselang lama Raphaelo muncul. Raphaelo memerhatikan sekitar. Ia membandingkan ruanga sebelum dan sesudah didekorasi.

"Selera Anda mengesankan, Lady." kata Raphaelo.

Serena tersenyum, "Benarkah? apakah Anda suka, Tuan Duke?" tanya Serena.

"Ya, ini lebih terlihat terang dan menyegarkan. Daripad sebelumnya," jawab Raphaelo.

Serena mengatakan, ia memang sengaja memadukan warna untuk memanjakan mata. Bagaimanapun tempat tinggal harus terasa nyaman dan enak di pandang, Raphaelo mengangguk-angguk pelan. Ia mencoba memahami penjelasan Serena.

Serena lantas menawari Raphaelo minum teh dan cemilan bersama. Raphaelo tak menolak. Ia dengan senang hati menerima tawaran Serena. Mereka lantas membahas pernikahan yang sebentar lagi akan digelar.

"Apakah tidak ada sesuatu yang Anda butuhkan? silakan bicara, jika ada yang Anda butuhkan." Kata Raphaelo.

"Untuk saat ini saya masih belum membutuhkan apa-apa. Jika saya punya keinginan, saya akan langsung meminta pada Anda." jawab Serena.

"Baiklah. Begitu juga tidak apa-apa. Intinya jangan sungkan pada saya," kata Raphaelo.

Serena lega. Akhirnya ia bisa segera menikah dengan Raphaelo. Meskipun itu hanyalah pernikahan kontrak. Serena menilai Raphaelo merupakan sosok yang baik dan ramah, dan yang pasti adalah, Raphaelo bisa melindunginya dari ancaman berbahaya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!