14. Inti Monster

Serena yang masih di atas kuda pun memegang erat tali kekang kuda karena kuda yang ditunganginya sempat terkejut dan gelisah tak karuan. Untungnya Serena berhasil menenangkan kuda itu dan tak lama turun dari kuda. Serena langsung berlari menghampiri Raphaelo. Ia khawatir, takut sesuatu terjadi pada Raphaelo.

"Tuan Duke ... Anda baik-baik saja?" tanya Serena.

Raphaelo menatap Serena, "Duchess ... kenapa Anda ke sini? saya baik-baik saja. Oh, ya, apa Anda melakukan sesuatu tadi? bagaimana bisa angin membawa pesan Anda? Hampir saja saya menghabiskan mana karena pertarungan yang sia-sia." kata Raphaelo.

"Soal itu ... saya merasakan angin ingin membantu saya, lalu saya bergumam pelan berharap angin bisa menyampaikan pesan pada Anda." kata Serena menjelaskan.

"Saya menerima pesan Anda. Karena itu saya berhasil mengalahkannya. Terima kasih, Duchess." kata Raphaelo.

"Bukan apa-apa. Saya senang bisa membantu Anda," jawab Serena.

"Tuan Duke, Nyonya Duchess. Anda berdua baik-baik saja?" tanya salah seorang kesatria yang menghampiri Raphaelo dan Serena.

"Ya, aku baik-baik saja. Tanahnya berguncang karena monsternya besar dan kuat. Terlebih monster itu sedang bermutasi." Kata Raphaelo.

"Tuan Duke, kami sudah mengumpulan inti monster." kata Kestaria lain yang datang mendekat pada Raphaelo.

Serena ingat sesuatu yang tertulis di novel. Kalau inti monster yang dilebur dengan kekuatan sihir, maka inti monster akan berubah menjadi batu pemanas yang akan menghangatkan tubuh secara alami.

"Tuan Duke, inti monster ini, akan Anda ke manakan?" tanya Serena.

"Tentu saja langsung dijual," jawab Raphaelo.

"Bisakah tidak dijual? Kita bisa memanfaatkan inti monster ini sebagai pemanas tubuh. Kita bisa jual dengan harga murah di pasar, agar penduduk miskin yang panghasilan tidak tetap, bisa membelinya." kata Serena

"Batu pemanas?" Tanya Raphaelo.

"Batu itu bisa dibawa ke mana-mana dan akan menghangatkan tubuh si pengguna. Bukankah itu akan sangat berguna untuk Wilayah utara yang selalu bersalju?" kata Serena.

Raphelo menatap Serena, "Nick, jangan jual inti monsternya. Kita bawa kembali ke kastel saja. Istriku ingin menggunakannya," kata Raphelo.

Serena tersenyum, "Terima kasih, Tuan Duke." kata Serena.

Raphaelo menunggu dua kelompok lain yang sebelumnya berpencar. Dan tidak beberapa lama mereka kembali dengan membawa banyak inti monster. Masing-masing dari pemimpin pasukan itu melaporkan situasinya pada Raphaelo. Setelah semua pasukan khususnya berkumpul dan selesai melapor, Raphaelo pun memerintahkan untuk kembali ke kastel.

Pasukan mulai bersiap, mereka naik ke kuda mereka masing-masing. Raphaelo meminta izin pada Serena, ia mengendong Serena agar mudah baik ke punggung kuda. Setelah Serena duduk, Raphaelo melompat dan duduk dibelakang Serena. Ia memegang tali kekang kuda dan memacu kuda berjalan lambat.

"Maafkan saya. Padahal seharusnya kita masih menikmati pesta jamuan. Saya kelalaian saya," kata Raphaelo merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Sebagai penguasa wilayah, memimpin pasukan membasmi mosnter kan sudah jadi kewajiban Anda. Jangan khawatirkan perasaan saya, Tuan Duke. Silakan lakukan seperti sebelum saya datang. Saya tidak mau menjadi beban Tuan Duke." kata Serena.

Raphaelo menundukkan sedikit wajahnya, "Aku tidak merasa terbebani dengan keberadaanmu. Aku hanya merasa bersalah karena dihari bahagia kita harus pergi mebasmi monster. Mungkin hanya kita saja, pasangan yang baru menikah dan seperti ini." kata Raphaelo.

Serena tertawa, mengiakan perkataan Raphaelo. Serena menambahkan, kalau pergi membasmi monster tidaklah seburuk yang dipikirkan. Ia seperti sedang berjalan-jalan. Sepanjang perjalanan Raphaelo dan Serena terus bercakap-cakap. Serena bertanya tentang jenis-jenis monster yang sudah pernah dibasmi, dan Raphaelo memberi tahu nama dan cara membasminya.

"Oh ... begitu pantas saja monster tadi sulit dilukai. Itu karena sedang dalam proses bermutasi, ya." gumam Serena.

"Monster yang bermutasi seperti itu biasanya adalah monster yang senang berburu makhluk magis. Mereka tidak hanya menyantap dagingnya, juga bisa menyerap kekuatan makhluk magis itu juga." jelas Raphaelo.

"Apa Anda pernah menghadapi monster yang sudah bermutasi?" Tanya Serena.

"Pernah. Mosnter itu bermutasi sebagai manusia dan membunuh banyak penduduk diam-diam. Diluar dugaan, monster itu memiliki naluri manusia dan berperang layaknya manusia, menggunakan senjata dan kekuatan sihir. Itu adalah pembasmian terpanjang yang pernah kami lalukan. Jumlahnya tidak hanya puluhan, tapi mencapai ratusan. Dan dipertarungan itu juga, saya mendapatkan sebuah luka dipunggung." jelas Raphaelo.

"Itu pasti luka yang sangat menyakitkan," jawab Serena.

"Luka itu bukan apa-apa bagi saya, dibandingkan saya yang telah kehilangan dua rekan saya." sahut Rapharlo.

Serena melebarkan mata. Ia merasa sedih mendengar cerita Raphaelo. Serena berpikir, dua reka yang dimaksud Raphaelo pasti adalah Kesatrianya. Karena tidak mau membuat Raphaelo sedih mengingat kedua rekan yang sudah tiada, Serena memutuskan diam. Tiba-tiba Raphaelo dan Serena dikejutkan dengan seorang kesatria yang mendekat.

"Tuan, Nyonya ... ada sekumpulan serigala  menghadang jalan. Apa yang harus kita lalukan?" tanya kesatria itu.

"Serigala?" tanya Raphaelo memastikan pendengarannya.

"Ya, serigala perak." jawab kesatria itu.

Karena penasaran, Raphaelo pun memacu kudanya berjalan melambat melihat kawana  serigala itu. Serena kaget, saat bertatapan dengan salah satu serigala itu.

"Itu kan ... " gumam Serena.

"Ada apa, Duchess?" tanya Raphaelo.

"Tuan Duke, bisakah Anda turun? Sepertinya itu serigala yang saya kenal," kata Serena.

Jawaban Serena mengejutkan Raphaelo dan juga semua orang yang ada di sana. Para kesatria saling menatap karena tidak percaya dengan apa yang Nyonya pemimpin mereka katakan.

"Nyonya Duchess ... apa Anda yakin? mereka bukanlah serigala biasa. Serigala perak adalah serigala terkuat yang ada di hutan. Dan mereka juga adalah Makhluk magis yang tidak bisa dijamah manusia biasa." Kata salah satu kesatria.

Salah satu serigala melolong seperi sedang memanggil. Serigala itu maju selangkah demi selangkah dan berhenti, ia ia berada di barisan paling depan.

"Sepertinya mereka sedang menunggu seseorang dan tidak akan membiarkan kita lewat begitu saja," kata salah seorang kesatria.

"Apa maksdunya itu? sahut kesatria lain.

"Apa mereka akan menyerang kita? padahal kita sudah sangat lelah karena baru selesai bertarung dengan monster." Sahut kesatria lain.

"Mereka semua pasti khawatir kalau-kalau serigala itu menyerang. Mereka juga pasti tak akan percaya apa yang aku katakan, karena serigala pada dasarnya memanglah hewan buas. Berbeda dengan anjing atau kucing yang bisa dipelihara. Namun, aku yakin kalau mereka datang untuk menyampaikan sesuatu. Dan keyakinanku membuatku bertekad untuk tahu apa yang ingin mereka sampaikan. Karena itu aku harus cepat-cepat menyelesaikan ini." batin Serena.

Serena menatap Raphaelo, "Tuan Duke, saya akan mendekat pada mereka." kata Serena.

"Apa? tidak boleh, itu berbahaya." kata Raphaelo.

"Apa yang wanita ini katakan? Dia akan mendekati kawan serigala yang bahkan tubuhnya lebih besar dariny? yang benar saja," batin Raphaelo.

"Apa Anda meragukan saya? sejauh ini, apakah ada kata-kata saya yang tidak bisa Anda percayai?" tanya Serena.

Mata Raphaelo melebar. Memang benar apa yang Serena katakan, kalau sejauh ini Serena selalu mengatakan hal-hal yang tak masuk akal, tapi hal-hal itu justru ia percayai begitu saja tanpan ragu. Meski demikian, Raphaelo tetap khawatir akan tindakan yang akan Serena lakukan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!