13. Pernikahan Dan Pembasmian

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Akhirnya pernikahan Raphaelo dan Serena dilangsungkan. Pernikahan diberkati langsung oleh petinggi pertama kuil suci. Yang merupakan Kakak kandung dari Callisto, bernama Eleor.

Selama perosesnya, semua orang yang hadir menyaksikam jalannya sumpah pernikahan duduk dengan tenang. Mereka menjadi saksi Raphaelo dan Serena mengucap sumpah pernikahan untuk saling mengasihi dan setia dihadapan Dewa. Setelah mengucap sumpah pernikahan dan menyematkan cincin, Eleor meminta Raphaelo mencium Serena sebagai tanda berakhrinya sumpah pernikahan.

Raphaelo memeluk pinggang ramping Serena dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengusap wajah Serena denga lembut. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Serena. Tidak lama ciuman itu berakhirz, dan semua orang bersoka bahagia memberikan ucapan selamat. Sekarang Serena bukan lagi seorang Lady melainkan Nyonya.

"Selamat Tuan Duke, Nyonya Duchess."

"Selamat, selamat."

Terlihat Ramos menangis haru. Ia akhirnga menyaksikan langsung Tuannya menikah. Ramos jug menyatakan langsung rasa harunya. Mendoakan semoga wilayah utara diberkati oleh Dewa.

Hillrich, Callisto dan Eleor juga menyampaikan selamat. Mereka berbincang bersama membicarakan pesta yang sedang berlangsung.

Baru saja pesta digelar. Ada penjaga yang datang dengan terburu-buru menghadap pada Ryu. Dan setelah tahu apa yang terjadi, Ryu pun meminta maaf karena menyela obrolan dan mendekati Rapaheo. Ryu berbisik, memberitahu kalau ada  monster tingkat lima muncul dengan skala cukup besar di daerah perbatasan.

"Apa? bagaimana bisa?" tanya Raphaelo.

Serena menatap Raphaelo, "Tuan Duke, apa ada sesuatu?" tanya Serena penasaran.

"Monster tingkat lima sudah memasuki wilayah perbatasan. Apa sihir pelindungnya retak? bagaimana bisa?" gumam Raphaelo.

Serena mengerutkan dahi, "Apa Anda harus pergi?" tanya Serena.

"Apa boleh begitu? Saya tidak mau meninggalkan Anda," kata Raphaelo.

Serena tersenyum tipis. Ia berbisik, mengatakan kalau meminta Raphaelo mengajaknya ikut dalam pembasmian. Serena ingin mencoba kekuatan sihirnya secara langsung. Raphaelo menggelengkan kepala dan sempet menolak. Ia berkata kalau ia tidak akan membawa Serena sembarangan. Karena ia akan pergi area bebahaya. Serena terus membujuk Raphaelo untuk mengajaknya. Serena berkata kalau ia pasti bisa menjaga diri sendiri. Setelah dibujuk-bujuk akhirnya Raphaelo mengiakan permintaan Serena.

Raphaelo meminta Serena untuk bersiap. Ia menyampaikan apa yang terjadi pada  seluruh tamu. Dan meminta tamu untuk tidak panik dan takut, perasaan panik dan takut hanya akan  monster semakin mendekat. Lahipula setiap perbatasan selalu dilindungi oleh sihir perlindungan. Hanya saja kali ini jumlah monster terlampau banyak sehingga bisa menerobos sihir perlindungan yang dibuat.

Sebagai penguasa wilayah, Raphaelo tak bisa diam saja. Ia memerintah pasukan khususnya untuk bersiap. Serena segera pergi meninggalkan Raphaelo, ia meminta Katie membantunya berganti pakaian. Ia harus cepat berganti pakaian agar tak membuat Raphaelo menunggu. Sama seperti Serena, Raphaelo juga lekas bersiap. Ia tidak bisa melakukan pembasmian dengan mengenakan stelan jas putih yang ia kenakan untuk menikah.

***

Serena menunggang kuda bersama Raphaelo. Karena Serena belum bisa menunggang sendiri, dan tak mungkin juga bagi Serena naik kereta kuda. Yang ia bisa lakukan hanyalah duduk diam di depan Raphaelo agar tak meganggu Raphaelo fokua memacu kuda.

"Apa terlalu cepat? Anda baik-baik saja?" tanya Raphaelo.

"Tidak. Ini sudah cukup, dan saya juga baik-baik saja." jawab Serena.

Raphaelo memberikan perintah untuk berpencar dan pasukan khusus yang dibawanya langsug membentuk formasi menjadi tiga kelompok. Satu ke arah kiri, satu ke kanan dan kelompok tengah dipimpin Raphaelo terus berjalan maju menuju perbatasan. Dan tak lama mereka pun sampai diperbatasan.

Raphaelo dan Serena, juga pasukan khusus melihat adanya kerumunan monster yang sedang kelaparan. Sepertinya mereka sibuk sendiri sampai saling bertengkar dan memakan satu sama lain.

"Mereka kanibal?" tanya Serena.

"Semua monster seperti itu. Yang kuat akan memangsa yang lemah. Yang kuat akan dimangsa yang lebih kuat dan seterusnya." jawab Raphaelo.

"Sam, temukan kepala mereka." Perintah Raphaelo.

Serena menatap Raphaelo, "Kepala? apa maksudnya yang paling kuat dari yang terkuat?" tanya Serena.

Raphaelo menganggukkan kepala, "Benar. Jika kita musnahkan yang terkuat, maka yang lemah akan langsung mundur ketakutan dengan sendirinya. Mereka punya insting kalau mereka akan mati kalau tetap menerobos. Namun, kali ini aku tak berniat membiarkan mereka lari. Mereka semua akan menemui hari akhir mereka." kata Raphaelo.

"Tuan Duke, kepala mereka ada di belakang." Kata seseorang yang baru datang.

"Ayo, kita kepung mereka dan kalian langsung saja bentuk formasi. Kunci mereka dalam lingkaran sihir. Kepalanya aku yang akan tangani," kata Raphaelo.

"Baik, Tuan." Kata beberapa pasukan dengan serentak. Mereka langsung bergerak dan melakukan apa yang diperintahkan Raphaelo.

Raphaelo menatap Serena, "Ini bisa saja berbahaya untuk Anda, Duchess. Jangan lakukan apa-apa dan tetap di atas kuda. Anda mengerti?" kata Raphaelo memperingatkan.

"Ini kali pertamaku ikut pembasmian. Dan aku tidak mau membuat kekacauan. Aku sebaiknya mematuhi perkataannya saja," batin Serena.

Serena menganggukan kelapa, "Saya mengerti, Tuan Duke." jawab Serena.

Raphaelo langsung turun dari kuda dan berlari mendekati seekor monster besar yang merupakan ketua dari kelompok monster. Ia berlutut satu kaki, dan merapal mantra. Terlihat sebuah lingkaran sihir berwarna biru keunguan yang semula kecil semakin membesar dan  membesar melayang di atas monster dan langsung mengunci monster itu. Sayangnya sihir perangkap yang dipasang Raphaelo berhasil dipatahkan. Dan Monster itupun mengamuk dan berlari ke arah Raphaelo.

"Sialan! Ternyata dia berpisah dari kelompoknya karena sedang bermutasi." batin Raphaelo.

"Sebelum waktu mutasinya selesai, aku harus bisa segera membunuhnya." batin Raphaelo lagi.

Raphaelo segera menarik pedangnya dan berlari maju untuk bertarung dengan monster. Kulit monster yang bermutasi pun tak bisa dilukai dan itu membuat Raphaelo sia-sia menyerang. Meski begitu Raphaelo berusaha mencari titik lemah monster itu.

Melihat pertarungan sengit antara Raphaelo dan monster, membuat Serena semakin khawatir. Serena berpikir, bagaimana bisa monsternya tak terluka padahal berkali-kali tergores pedang sihir Raphaelo.

"Kenapa monster itu tak terluka sama sekali? Dia terlihat sangat kuat," batin Serena.

"Apa yang bisa kulakuan? Andai saja aku tahu di mana titik lemah monster itu." batin Serena mencengkram jubahnya.

Tiba-tiba dahinya terasa dingin dan mata Serena bisa melihat adanya cahaya dari dalam tubuh monster itu. Serena kaget, ia tidak tahu apa yang terjadi padanya.

"Jangan-jangan itu kelemahannya. Itu ... mata? mata monster itu hanya ada satu?" batin Serena.

Serena tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Meksi tahu di mana letak kelemahannya, ia tidak tahu caranya menyampaikan pada Raphaelo. Tidak mungkin juga baginya untuk berteriak karena Rapgaelo tak mungkin bisa mendengarnya. Tiba-tiba angin berhembus dan Serena merasa angin itu seolah ingin membantunya menyampaikan pesan pada Raphaelo.

"Mata ... " gumam Serena memejamkan mata.

Raphaelo yang sedang bertarung tiba-tiba mendengar suara yang tak asing.

"Mata ....  "

"Mata? suara ini?" batin Raphaelo kaget.

Raphaelo mundur dan memalingkan pandangan menatap Serena. Terlihat Serena menatapnya dengan tatapan cemas. Raphaelo menatap monster dan mengeratkan tangan memegang pedang. Ia mencari keberadaan mata dari monster, sampai akhirya menenukan mata dari monster itu. Raphaelo melompat tinggi, dan mendaratkan pedang sihirnya tepat di kepala monster. Raphaelo segera melompat, menjauh dari monster. Dan tiba-tiba monster itupun berteriak-teriak seperti sedang kesakitan.

Raphaelo kembali berlutut satu kaki dan membuat lagi sihir perangkap. Kali ini ia membuat Monster tak bisa bergerak. Sampai akhirnya monster itupun meledak dan mengguncang tanah disekitarnya. Pedang Raphaelo melayang di udara, kembali dengan sendirinya ke tangan Raphaelo.

Terpopuler

Comments

Puput Regina Putri

Puput Regina Putri

makin seru ...brasa liat langsung pertarungan nya 🤗

2024-05-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!