Serena dan Raphaelo beserta rombongam tiba dini hari di kastel. Setibanya di kastel, Raphaelo meminta para kesatrianya untuk istirahat meski sebentar, karena esok pagi akan sibuk. Ia juga meminta Serena untuk segera masuk ke kamar dsn tidur. Serena yang memang lelah mengangukkan kepala. Ia juga meminta Raphaelo segera istirahat dan tidak memaksakan diri bekerja.
Serena kembali ke kamar. Baru beberapa saat memasuki kamarnya, pintu kamar Serena di ketuk. Serena yakin itu adalah Katie. Karena Katie pasti khawatir padanya sampai tidak bisa tidur. Begitu pikir Serena. Namun, keyakinanya salah besar. Orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Raphaelo, bukan Katie.
"Tu-tuan Duke ... ada apa?" tanya Serena.
Wajah Raphaelo memerah, "Sa-saya hanya ingin memastikan apakah Anda baik-baik saja atu tidak. Anda belum tidur?" tanya Raphaelo.
"Ya? a-apa maksud Anda dengan kata 'baik-baik saja?' apa Anda terluka? Saya baru mau ganti pakaian dan mau tidur," kata Serena.
Raphaelo tersenyum, "Ya, kalau begitu silakan beristirahat. Saya akan pergi," kata Raphaelo yang langsung pergi.
Serena merasa ada yang aneh dengan Raphaelo. Ia menatap kepergian Raphaelo sampai tak terlihat lagi.
"Apa maksudnya? dia kan tahu aku baik-baik saja. Kenapa juga tiba-tiba datang dan bertingkah aneh. Aku tak mengerti isi hati dan pikirannya," batin Serena.
Serena kembali masuk ke dalam kamar. Ia berganti pakaian dan langsung berbaring di tempat tidur setelah berganti pakaian. Serena nenatap langit-langit kamarnya, ia terpjkirkan akan dunia aslinya.
"Apa di dunia asli aku sudah dikuburkan? Yah, mana mungkin orang yang sudah tidak bernyawa di diamkan saja, kan. Kenapa dari sekian banyaknya tempat, aku harus datang ke sini? ke duni fiksi ini? apa Tuhan sedang merencenakan sesuatu padaku? meski ini adalah novel kesukaanku yang sudah puluhan kali aku baca, tapi kan tetap saja ini dunia novel. Dunia asing untukku. Setelah menjalani hidup sebagai tokoh yang paling kusukai, banyak hal yang kudapat dan ketahui. Banyak hal menarik juga mengerjutkan yang aku lihat. Dan semua itu tak tertulis dalam buku seolah dunia ini juga sedang berputar sendiri dengan alur berbeda, meski ini dunia buatan tangan seorang penulis. Hahhhh ... (menghela napas) bagaimana akhir hidupku di sini, ya? setelah meninggalkan dunia ini, apa aku akan pergi ke dunia lain lagi? Uhhh, aku mengantuk ... " batin Serena.
Serena mengedipkan matanya yang lelah. Ia sudah mulai mengantuk. Serena juga memikirkan keberadaan ruh 'Serena Asli' ia berpikir, apakah ruh Serena asli sudah berada ditempat yang seharusnya, atau masih berkeliaran tidak jelas. Semakin dipikirkan, semakin rumit dan semakin tak dimengerti oleh Serena. Serena memjamkan mata, dan terlelap tidur.
***
Keesokan harinya. Serena dan Raphaelo sarapan bersama. Ditengah-tengah waktu sarapan, Serena membahas tentang batu pemanas yang sebelumnya sudah ia jelaskan. Serena berniat untuk memulai membuat batu pemanas itu secapat mungkin, tentu saja ia butuh bantuan Raphaelo dan Hillrich sebagai penunjang keberhasilan pembuatan batu pemanas.
" ... jadi, Tuan Duke. Apakah saya boleh datang ke menara sihir dan membuat batu pemanas di sana? Jika batu pemanas di buat di sana, hasilnya akan lebih maksimal." kata Serena.
"Tentu saja Anda boleh melakukannya. Apa Anda lupa, jika Anda adalah Duchess Kyloach? Anda tidak perlu lagi izin pada saya, kecuali hal penting seperti akan bepergian atau urusan di luar urusan kastel. Silakan dengan nyaman melakukan apa saja yang Ands sukai dan inginkan. Di sini, tidak akan ada orang yang berani menentang perkataan Anda. Kekuasaan dan kedudukan sudah ada dalam genggaman tangan Anda." kata Raphaelo.
Serena menatap Raphaelo, "Terima kasih, Tuan Duke. Saya akan melakukan tugas dan kewajiban saya dengan baik. Anda jangan khawatir," kata Serena penuh semangat.
Ramos tiba-tiba datang dan menyampaikan kabar, jika ada undangan dari Kekaisaran. Undangan untuk menghadiri pesta ulang tahun Putra Mahkota. Ramos meletakkan undangan di atas meja di hadapan Raphaelo.
"Kekaisaran? apa yang pembawa pesan katakan, Ramos?" tanya Serena menatap Butler.
"Pembawa pesan berkata, jika ini undangan penting dan orang yang diundang wajib hadir. Namun, ada hal lain lagi. Itu ... " kata Ramos tiba-tiba terdiam.
"Itu apa, Ramos? Cepat katakan," sela Raphaelo.
"Kaisar mengirimkan satu surat lagi, pembawa pesan berkata kalau surat tersebut berisikan daftar nama pasangan yang bisa anda bawa ke pesta." jawab Ramos menudukkan kepala.
"Apa?" sentak Raphaelo kaget.
"Padahal aku sudah menikah. Dan kabar pernikahanku pun pasti sudah sampai ke telinga Kaisar. Namun, apa yang membuatnya harus melakukan ini?" batin Raphaelo.
Serena terkejut saat mendengar perkataan Butler. Ia berpikir susuatu yang sama dengan Raphaelo, kalau Kaisar sengaja melakukannya, meski tahu Raphaelo telah menikah. Di dalam novel, memang sedikit dijelaksan, kalau hubungan Raphaelo dan Kaisar tidaklah sebaik yang terlihat.
Raphaelo menatap Serena, "Dia pasti sudah berpikir yang bukan-bukan karena ini." batin Raphaelo.
Raphaelo menatap Ramos, "Apa pembawa pesan itu masih ada?" tanya Raphaelo.
"Ya, pembawa pesan ingin Anda memberikan balasan." jawab Ramos.
"Pergilah, dan bawakan aku kertas juga pena. Aku akan balas pesannya sekarang," perintah Raphaelo.
Ramos segera pergi. Ia pergi mengambil kertas dan pena di ruang kerja Raphaelo seperti yang diperintahkan Raphaelo.
"Jangan terlalu dipikirkan, Duchess. Hal seperti ini memang sering terjadi. Sejujurnya saya pun muak menghadapinya," kata Raphaelo.
"Apa Kaisar tidak tahu kabar pernikahan kita? dan apa maksud perkataan Anda? Hal seperti ini rupanya tak sekali, dua kali terjadi, ya." jawab Serena.
"Tidak mungkin Kaisar tidak tahu. Beliau pasti sengaja melakukan ini. Saya sering mendapat surat berisi daftar nama Lady-lady yang menurut Kaisar cocok dengan saya. Beliau terus mendesak saya untuk menikah. Padahal saya tidak berminat untuk menikah. Beliau yang mendengar kabar permikahan kita pasti kesal, itulah kenapa beliau tetap mengirim daftar nama pasangan untuk saya. Maaf, Duchess. Karena saya, sepertinya Anda akan menhadapi sesuatu yang tidak menyenangkan kedepannya." kata Raphaelo.
"Apa alasan beliau seperti itu? apa beliau ingin memegang kendali atas Anda?" tanya Serena.
"Ya, karena di Kekaisaran ini, hanya sayalah satu-satunya master pedang sihir. Tanpa saya, Kekaisaran bukanlah apa-apa. Beliau ingin menikahkan saya dengan Lady dari keluarga faksi pendukungnya. Dengan begitu, lady tersebut akan menjadi mata beliau dan saya pun berada dalam genggamannya." jelas Raphaelo.
"Apa ini artinya saya berjasa karena sudah membuat Anda keluar dari jerat Kaisar. Saya tidak menyangka akan hal itu. Berarti, pernikahan kita saling menguntungkan, bukan?" kata Serena.
"Bukan seperti itu, Duchess. Lebih tepatnya pernikahan ini sangatlah menguntungkan saya. Banyak hal yang sudah Anda berikan pada saya, dan saya belum tentu bisa memberikan sebesar apa yang Anda berikan itu." kata Raphaelo.
"Tidak masalah. Cukup dengan Anda percaya dengan saja. Ands tidak perlu memusingkan diri untuk menbalas apa yang saya berikan, karena saya tulus membantu Anda." Jawab Serena
Deg ...
Raphaelo kaget mendengar ucapan Serena. Melihat Serena yang mengatakan itu sambil tersenyum lebar, Raphaelo berpikir mungkin memang benar Serena tulus membantunya. Seperti kata serena saat pertama kali bertemu, jika Serena ingin mengembangkan wilayah utara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments
Puput Regina Putri
oh ayolah...bisa gak saling jatuh cinta gtu ..gumush kan liat nya 😁
2024-05-22
0