Malam harinya. Serena dan Raphaelo makan malam bersama. Penampilan Serena berubah kembali seperti semula dengan rambut hitamnya. Serena telah berhasil mempelajari sihir penyamaran dalam waktu singkat. Karena ia tidak mau membuat kehebohan, maka Serena memutuskan untuk menyembunyikan penampilan aslinya. Serena meminta Raphaelo dan Hillrich untuk merahasiakan penampilannya dari orang luar.
Serena yang sedang sibuk berpikir, terlihat tidak lahap makan. Raphaelo mengira hidangan makan malamnya tak sesuai selera Serena. Raphaelo bertanya, apakah Serena ingin ganti menu makan malamnya? Serena kaget, ia bertanya apa maksudnya ganti? ia merasa makannya baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali.
"Lantas apa yang Lady pikirkan?" tanya Raphaelo.
"Hm ... soal kunjungan ke kuil suci. Apakah boleh saja tidak ke sana? Sejujurnya saya takut," kata Serena.
"Jadi, Anda berusaha menyembunyikan kekuatan Anda dari siapapun, begitu?" tanya Raphaelo.
Serena menganggukkan kepala. Ia menjelaskan alasannya ingin menyembunyikan kekuatannya. Pertama, ia tidak mau terlihat mencolok dimata siapapun. Kedua, ia tidak mau terlibat dalam urusan internal menara sihir ataupun kuil suci. Ketiga, ia ingin hidup bebas tanpa beban pikiran.
"Kalau memang harus melatih kekuatan sihir, saya akan lakukan. Saya hanya tidak mau orang lain tahu saya memiliki kekuatan. Itu saja," jelas Serena.
"Saya mengerti. Jika itu memang keinginan Lady, saya menghargainya. Soal melatih kekuatan sihir, saya bisa membantu Anda pelan-pelan. Saya akan bicara dengan Hillrich, agar dia menyimpan rahasia ini." kata Raphaelo.
"Terima kasih, Tuan Duke. Saya senang Anda mau mengerti," jawab Serena.
Raphaelo mengiakan ucapan terima kasih Serena. Ia berkata ia senang kalau bisa membantu. Mengingat Serena sudah dua kali membantunya. Dan itu adalah bantuan yang besar.
"Bagaimana dengan pernikahannya? bukankah kita perlu membuat surat kontrak, Tuan Duke." kata Serena.
"Setelah makan, mari kita buat surat kontraknya di ruang kerja saya. Silakan tulis apapun yang Anda inginkan dari saya tanpa rasa canggung." kata Raphaelo.
Serena tersenyum, "Dengan senang hati akan saya lakukan. Saya bukan orang yang serakah, tapi bukan berarti saya tidak menginginkan apa-apa juga. Apapun yang saya tulis nantinya, saya mohon Anda bisa memenuhinya, Tuan Duke." kata Serena.
Raphaelo menganggukka kepala mengiakan perkataan Serena. Keduanya pun lanjut makan dengan tenang. Setelah makan mereka bersama-sama berjalan menuju ruang kerja Raphaelo.
***
Di ruang kerja. Raphaelo dan Serena duduk berhadapan. Raphaelo memberikan kertas dan pena, mempersilakan Serena menulis apa yang diinginkan. Serena langsung menulis poin-poin penting yang ia pikirkan. Setelah selesai menulis, ia meberikan kertas berisikan keinginan Serena pada Raphaelo.
"Silakan Anda lihat dan baca, Tuan Duke. Ini adalah daftar keinginan saya," kata Serena.
Raphaelo menerima kertas dari Serena dan membaca daftar keinginan Serena. Serena hanya mengingkan lima hal selama masa pernikahan. Pertama, masa pernikahan hanya satu tahu. Kedua, Raphaelo diminta untuk melindungi Serena dari ancaman pihak luar, terutama keluarganya, Marquis Lucran. Ketiga, Serena diizinkan menjalankan peran sebagai Nyonya rumah sebagaimana mestinya dan diberikan kekuasaan mutlak. Keempat, selama masa kontrak pernikahan, tidak diperboleh adanya sentuhan fisik berlebihan. Kelima, tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Saling jujur, terbuka diperlukan untuk meminimalisir kesalahpahaman.
"Setelah satu tahun, saya akan pergi dari kediaman ini. Tentu saja selama masa kontrak, saya akan menepati janji saya untuk mengembangkan wilayah utara. Saya pastikan akan memberi keuntungan bagi Anda, Tuan Duke." kata Serena dengan yakin.
"Kalau aku memberitahu kejadian-kejadian atau peristiwa penting sesuai isi novel, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk balas budi? selain itu, aku pasti akan membuat wilayah utara makmur meski disini dikenal sebagai wilayah dingin. Setelah satu tahun aku akan pergi dari sini dengan tenang. Aku dan Katie, kami akan berkelana keseluruh penjuru negeri sesuka hati kami." batin Serena berangan-angan.
Raphaelo menandatangani dan memberikan cap pada kertaz yang diberikan Serena. Raphaelo menyetujui perjanjian pernikahan kotrak satu tahun dengan Serena.
"Saya harap Anda tidak memaksakan diri nantinya. Jangan hany memedulikan wilayah utara, pedulikan juga diri And. Jika Anda butuh sesuatu, atau bantuan saya, silakan bicara tanpa canggung. Sesuai perjanjian, diantara kita harusa saling jujur dan percaya, agar tidak timbul kesalahpahaman." kata Raphaelo.
Serena menganggukkan kepala, "Saya mengerti, Tuan Duke. Hal sama juga berlaku untuk Anda. Jangan sungkan menegur saya langsung," kata Serena.
Keduanya lantas berdiskusi menentukan hari pernikahan. Serena mengatakan, kalau pesta pernikahab tak perlu digelar mewah. Cukup sederhana saja. Lagipula dari pihaknya tak akan ada tamu yang datang. Serena juga meminta Raphaelo mengundang semua pelayan dan prajurit yang ada di kastel. Mengundang Hillrich dan beberapa penyihir lain juga. Raphaelo setuju. Ia berkata kalau ia nantinya akan minta bantuan Ryu untuk menyebar undangan . Serena diminta untuk mempersiapkan segala sesuatunya oleh Raphaelo. Ia akan mengikuti apa kata Serena. Dengan senang hati serena menerima permintan Raphaelo.
Setelah selesai berdiskusi, Serena pamit undur diri dari hadapan Raphaelo. Ia berkata kalau ia lelah dan ingin istirahat. Raphaelo langsung berdiri dari sofa tempatnya duduk dan mengulurkan tangan. Ia berkata ia akan mengantarkan Serena ke kamarnya.
"Mari, saya antar, Lady ... " kata Raphaelo.
"Tidak perku Tuan Duke, saya akan pergi sendiri. Terima kasih atas perhatian Anda." kata Serena.
"Anda tidak perlu sungkan. Saya tidak merasa direpotkan," kata Raphaelo.
Serena tidak enak hati kalau menolak lagi permintaan Raphaelo yang ingin mengantarnya ke kamar. Ia lantas menyambut uluran tangan Raphaelo dan berdiri dari sofa tempatnya duduk. Keduanya bersama-sama pergi meninggalkan ruang kerja Raphaelo menuju kamar tidur Serena.
Di tengah jalan mereka kembali berbincang. Serena bertanya, apakah ia boleh mendekorasi ulang kastel Duke? karena ia merasa suasana di kastel agak menyeramkan karena perabotan gelap yang digunakan. Raphaelo tersenyum, ia berkata Serena boleh melakukan apapun yang disukainya. Ia tidak terlalu memerhatikan urusan dalam kastel, seperti melihat gudang persediaan makanan atau perabotan. Semua diserahkan pada Ramos, Butler kastel.
"Apa warna yang Anda sukai, Tuan Duke? apa Anda mau saya mendekorasi kamar Anda juga?" tanya Serena.
"Jujur aku menyukai warna-warna gelap. Satu warna cerah yang juga saku sukai," jawab Raphaelo.
Serena menatap Raphaelo, "Oh, benarkah? warna apa itu?" tanya Serena.
"Warna merah, seperti bola mata Anda. Mendiang Ibu saya juga memiliki mata serupa." jawab Raphaelo.
"Padahal Marquis dan Marchioness membenci warna mata ini. Saya juga selalu diejak dan dikucilkan karena mata merah yang katanya mirip mata iblis. Oh ... bicara soal mata, saya juga menyukai mata Anda, Tuan Duke. Warna mata Anda tampak serasi dengan warna rambut Anda. Ini pujian," kata Serena tersenyum.
"Ya, saya akan terima pujian Anda. Padahal saya sama sekali tak menyukai warna mata saya. Untuk menyembunyikan warna mata mencolok ini, saya harus minum ramuan khusus." kata Raphaelo.
Tanpa sadar langkah kaki keduanya sudah sampai ditujuan. Tepatnya di depan kamar Serena. Serena mengucapkan terima kasih pada Raphaelo dan membuka pintu. Serena masuk ke dalam kamar tanpa melihat ke arah Raphaelo lagi. Setelah melihat Serena masuk, Raphaelo lantas pergi meninggalkan kamar Serena untuk kembali ke ruang kerjanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments