Serena diam mengamati situasi dan keadaan. Ini pertama kalinya ia menghadiri pesta megah. Raphaelo pergi untuk memenuhi panggilan Kaisar, meski enggan menemui Kaisar, tidak mungkin bagi Raphaelo untuk tidak pergi.
"Kaisar itu senang sekali mempermainkan orang, ya. Apa Raphaelo akan baik-baik saja?" batin Serena.
Serena melihat sekeliling sambil mengingat isi dalam novel. Diceritakan kalau Kaisar hanya memiliki satu anak, yakni putra mahkota. Karena itu Kaisar sangat sayang pada putra mahkota, sampai rela melakukan apa saja untuk putra mahkota. Bahkan membiarkan putra mahkota bertindak semaunya dan sesuka hati. Banyak sekali nona-nona bangsawan yang dikencani dan tiba-tiba diputuskan begitu saja dengan alasan bosan. Bisa dikatakan putra mahkota hanya mempermainkan perasaan nona-nona tersebut..
Dengan tampang yang memang rupawan, dan statusnya yang tinggi. Putra mahkota bisa dengan mudah meluluhkan hati Nona bangsawan incarannya dan lalu mengambil keuntungan dari nona bangsawan tersebut. Meski demikian ia tidak pernah mendapatkan keluhan, karena Kaisar selalu menutup mulut semua kelaurga Nona bangsawan yang ingin menuntut keadilan.
Serena menggelengkan kepala, "Dasar predator. Bisa-bisanya ada pria sampah sepertinya." batin Serena.
"Anda sendiri saja, Duchess?" tanya seseorang berdiri di samping Serena. Seseorang itu adalah putra mahkota.
Serena memalingkan pandangan, "Yang Mulia ... ya, saya sendiri. Suami saya sedang memenuhi panggilan baginda Kaisar," Jawab Serena.
"Wah, wah ....Duke Kyloach itu sangat tidak bertanggung jawab rupanya. Bagaimana bisa dia meninggalkan istrinya yang sangat cantik ini sendirian. Apa dia tidak takut kalau istrinya akan diambil pria lain?" Kata Putra Mahkota.
Serena mengerutkan dahi, "Hoho ... kau sengaja begini untuk memancingku, kan. Dasar iblis! bagaimana bisa kau tebal muka merayu istri orang lain? terlebih aku adalah istri Duke Kyloach. Duke wilayah utara yang mendapat julukan 'Duke Gila'. Kau cari mati, ya." batin Serena.
"Siapa pria lain yang Anda maksud, Yang Mulia? Apa pria lain itu ingin kehilangan salah satu jari tangannya? atau malah cari mati?" kata Serena sengaja.
Putra mahkota mengerutkan dahi, ia tidak senang akan ucapan Serena. Karena ia tahu ucapannya tidaklah sopan dan kasar, Serena lantas meminta maaf pada Putra mahkota. Serena berkata tidak bermaksud menyinggung dan akan berhati-hati dalam berbicara untuk kedepannya.
"Ah, ma-maafkan saya, Yang Mulia. Saya tidak sadar telah berbicara kasar dan tidak sopan." Kata Serena menundukkan kepala.
"Ti-tidak apa-apa, Duchess. Saya akan terima permintaan maaf Anda, jika Anda bersedia menemani saya mencari angin di taman." kata Putra Mahkota.
Serena kegat, "Ya? sa-saya?" tanya Serena.
"Dia gigih sekali. Padahal sudah aku peringatkan sampai seperti itu. Dia sengaja atau memang tidak punya malu sebenarnya?" batin Serena.
"Apa Duchess keberatan?" tanya putra Mahkota menatap Serena.
"Sialan! kalau begini kan aku jadi tidak bisa menolak." batin Serena.
"Dengan senang hati, saya akan menemani Anda, Yang Mulia." jawab Serena.
Putra Mahkota berjalan melewati Serena. Serena berjalan mengikuti putra mahkota dengan langkah pelan. Ia sengaja menjaha jarak dengan putra mahkota. Keduanya lantas pergi ke taman istana meninggalkan aula.
***
Di taman. Putra Mahkota memamerkan taman istana yang indah pada Serena. Ia mengatakan, kalau taman istana memiliki bunga-bunga langka yang tidak pernah ditemukan di lain tempat.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Duchess?" tanya putra mahkota.
Serena melihat sekeliling, "Ya, ini sangat indah, Yang Mulia. Saya baru pertama kali melihat taman seindah ini." jawab Serena.
"Perkataannya tidak salah. Taman ini memang indah. Sayang sekali, taman yang seperti ini hanya ada di istana." batin Serena.
Putra mahkota tiba-tiba menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya. Ia berkata, kalau ia sebenarnya bukanlah putra kesayangan Kaisar, karena ia hanyalah anak diluar nikah. Ia dijadikan putra mahkota dan ibunya dimikahi secara resmi setelah ratu terdahulu dan putra mahkota meninggal dalam kecelakaan kereta kuda.
Mendengar itu, Serena pun kaget. Ia baru mengerti, ternyata novel asli menghilangan cerita yang diceritakan Putra mahkota, dan langsung menceritakan tentang cerita putra mahkota yang sahkan menjadi anak sah dan Ibunya dinikahi resmi.
Serena menatap Putra Mahkota, "Saya tak akan bertanya, apakah Anda baik-baik saja atau tidak. Saya sudah tahu tanpa mendengar jawabannya. Anda sangat kuat, sehingga semua yang terjadi bukan apa-apa bagi Anda. Apakah rumor yang menyebar luas itu kebenaran? atau hanya kesengajaan Anda menyebarkan rumor buruk untuk diri Anda sendiri?" tanya Serena.
Putra Mahkota kaget, "I-itu ... " gumam Putra Mahkota yang langsung diam.
"Rupanya itu berita tak benar, ya." sela Serena.
Putra mahkota menatap Serena, "Bagaimana bisa kau yakin itu adalah rumor tak benar, Duchess? bukankah kau bicara dingin dan pedas karena rumor tersebut? Rumor yang mengatakan, aku adalah putra mahkota tak bermoral yang suka berfoya-foya dan mempermainkan wanita. Juga seseorang pembuat onar. Apa perkataanku salah?" kata Putra Mahkota.
Serena langsung menundukkan kepala, "Maaf, Yang Mulia. Saya tak bermaksud mengatai Anda. Memang benar, saya juga sempat berpikir demikian karena mendengar rumor yang beredar. Jujur saya terkejut mendengar cerita Anda, Yang Mulia. Saya tidak menyangka akan hal itu. Sekali lagi maafkan kata-kata saya yang menyakiti perasaan Anda." kata Serena.
Putra Mahkota tertawa, "Ya, tidak apa-apa, Duchess. Terima kasih kau mau mendengar ceritaku dan menanggapinya dengan baik. Sejujurnya aku tak sengaja ingin menggodaku atau mengganggumu. Melihat wanita sepertimu untuk pertama kali, jantungku sungguh berdegup kencang. Ehemmm ... (berdehem) dan karena kau lucu saat terlihat kesal, aku jadi sengaja menggodamu. Haha ... maaf, ya." kata putra mahkota tersenyum tampan.
Serena melongo, "Wah, dia curang sekali. Bagaimana bisa dia tersenyum tampan seperti itu? eh ... (melebarkan mata) apa yang aku lalukan? Aku kan sudah menikah, bisa-bisanya aku tergoda pada pria ini." batin Serena yang langsung memalingkan pandangan.
Putra mahkota menatap Serena, "Duchess, apa kau sakit? wajahmu memerah," kata Putra mahkota.
Serena menggelengkan kepala sebagai jawaban. Ia berusaha menyembunyikan wajah meronanya dari Putra Mahkota. Melihat Serena yang tak kunjung memperlihatkan wajahnya, Putra mahkota pun mendekat dan melihat apa yang terjadi. Kemunculan putra mahkota yang tiba-tiba, membuat serena kaget dan kakinya menjadi tak imbang. Serena hendak jatuh, tapi putra mahkota langsung merangkul pinggang dan memegang tangan Serena. Putra Mahkota dam Serena saling bertatapan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Putra Mahkota.
"Ya, saya baik-baik saja. Apa bisa Anda melepaskan tangan Anda, Yang Mulia?" tanya Serena.
Putra mahkota terkejut. Ia serega membantu Serena berdiri dengan baik dan melepaskan tangannya, lalu meminta maaf atas ketidaksopanannya. Serena tidak mempermasalahkan tindakan Putra Mahkota, karena Putra Mahkota sedang menolongnya.
Untuk menghindari suasana canggung, Putra Mahkota pun mengajak Serena berkeliling taman. Ia memberitahu Serena macam-macam bunga langka yang ditanam di taman istana, juga kegunanaan dari bunga-bunga itu. Dari putra mahkota, Serena mendapatkan pengertahuan baru tentanga bunga langka dan kegunaannya. Mereka mengobrol banyak hal. Mengobrol apa saja yang bisa dibicarakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments