"Kita harus memastikan apakah benar Sade pelakunya atau hanya bayangan ketakutan sebab kamu sangat tertekan. Kita urai satu-satu ya, Asha," ucap Ghala, perlahan bangkit dan mengajak Asha duduk.
Dia membenarkan letak kaki istrinya agar tak mengalami nyeri kala duduk di lantai.
"Ehm." Asha mengangguk. Dia juga tak yakin, sebab bayangan itu muncul baru-baru ini.
Maghala termenung. Dia masih berpikir keras tentang benang merah antara kejadian kemarin, kehamilan Asha juga perusahaan Cyra.
Jika Sade pelakunya, mengapa baru muncul saat ini. Adhisty mengetahui bahwa perusahaan Cyra kebobolan dana beberapa waktu lalu dan dia sedang mencari sumber suntikan dana.
Apakah Sade memanfaatkan kesempatan dengan mengaku sebagai ayah biologis bayi Asha agar dapat berkuasa sebab dana yang akan di gelontorkan dalam jumlah besar. Status Sade adalah tuan muda ketiga di keluarga Sadana, samar akan kekuasaan.
Lengan kemeja koko Maghala di tarik pelan oleh Asha. Dia meminta kembali duduk di kursi rodanya sebab akan mandi dan bersiap salat Zuhur.
"Ya, Humaira?" ucap Ghala lembut, menoleh ke arah Asha yang masih duduk disampingnya.
Asha menunduk, dia masih malu jika Ghala memanggilnya dengan sebutan Humaira. Bagi Asha, panggilan itu istimewa. Dalam bayang benak, yang menyandang nama itu tentulah wanita salihah nan alim dan ayu, bukan sepertinya.
Tanpa aba-aba bahkan ucapan dari Asha, lelaki itu paham keinginan istrinya.
"Maaf ya, kelamaan melantai. Ada yang sakit?" tanya Ghala lagi, berjongkok setelah Asha sudah duduk di kursi roda.
Asha menggeleng pelan, dia lalu menekan tombol otomatis pada panel kursi roda, mundur beberapa langkah untuk menuju bathroom.
Maghala menahan laju Asha, dia lalu bangkit hendak masuk ke kamar mandi membantu wanitanya membersihkan diri.
Asha menahan lengan Ghala, dia menggeleng pelan. "Aku bisa, sudah belajar pelan. Sendiri saja," ucapnya menunduk malu. Selama ini dia tak ada rasa dengan Ghala akan tetapi beberapa waktu ke belakang, hatinya mulai goyah dan dia segan.
"Aku bantu seperti biasa. Kakimu belum kuat menopang meski di dalam ada besi penahan. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan kalian berdua. Selama aku bisa menjaganya," tutur Ghala lembut, mengusap kepala Asha lalu mendorong kursi rodanya masuk ke dalam bathroom.
Sementara Asha mandi, ponsel Ghala kembali berdering. Dia meninggalkan istrinya sejenak di sana.
"Ya, Hilmi?" sapa Maghala kala mengetahui identitas penelpon.
"Tuan besar masuk rumah sakit, akibat mengetahui jelas siapa pelaku pembobolan selama ini, Tuan muda," ujar Hilmi melaporkan kondisi Janu.
"Innalilahi, sudah ku duga. Bagaimana kondisi kakek? aku akan berusaha menyelinap malam ini dan pagi nanti harus sudah kembali," balas Ghala.
"Baik, Tuan muda," jawab asisten Janu.
Hilmi pun mulai menyiapkan rencana tersebut agar nanti malam dapat bertemu di titik seperti waktu silam.
Setelah panggilan berakhir, Ghala kembali ke kamar mandi dan membantu Asha seperti biasanya. Setelah itu, mereka keluar kamar membuat makan siang sekaligus menyiapkan menu untuk santap malam keluarga Cyra.
Pekerjaan dapurnya selesai, dia mendorong Asha kembali ke kamar, mengunci pintunya dari luar lalu mengerjakan tugas lain seperti biasanya. Ghala tak ingin mengundang kecurigaan Adhisty. Jualan live pun harus terbengkalai sebab kejadian kemarin.
Menjelang petang.
Mereka masih menepi di kamar saat keluarga Cyra tiba dan terdengar sesekali memaki Maghala bagai kebiasaan selama ini.
Selepas isya, ketika suasana terasa sunyi. Ghala menghampiri ranjang Asha, menekuk lutut dan bersandar di sisi, menatap lembut manik mata yang mulai mengantuk.
"Aku pergi dulu ya, menjenguk kakek. Beliau ada di rumah sakit. Sebelum subuh nanti, aku sudah kembali. Kau ingin aku panggilkan Denok atau sendiri di sini? kuncilah pintu dari dalam, lalu pasang penahan juga, bisa kan?" ucap Ghala, pelan.
Ashadiya mengangguk akan tetapi mulai cemas ketika membayangkan di tinggal Ghala semalaman. Dia meminta Denok agar menemaninya.
Tuan muda Magenta mengangguk, lalu bangkit. Saat Maghala akan mencapai ambang pintu. Tiba-tiba. Brak!
Alka menendang pintu kamar hingga handlenya rusak. Maghala mundur beberapa langkah ke belakang. Sementara Asha, bangun dan mencoba duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Geledah semua isi kamar ini!" teriak Adhisty meminta beberapa maid agar menemukan perhiasannya.
"Kenapa lagi? mama menuduhku sebagai apa kali ini?" ucap Ghala, berdiri ke sisi ranjang Asha sebab istrinya mulai gelisah.
"Diam lu, Babu brengs-eekk emang!" sentak Alka, menunjuk wajah Ghala dengan tangan kiri, tatapannya nyalang.
Maghala menenangkan Asha, dia melihat beberapa barangnya mulai berantakan akibat penggeledahan. Satu yang Ghala kuatirkan, berkas laporan milik Magenta dan Cyra yang sedang dia selidiki, di temukan oleh maid. Bisa hancur semua rencana.
"Nyonya, maaf, ini bukan ya?" ucap salah satu maid paruh baya, membawa beberapa perhiasan dari laci meja sofa.
Adhisty memintanya mendekat, lalu menunjukkan pada Alka. "Ketemu kan, dia nyolong!" tuduh Adhisty, melirik tajam Maghala.
"Bang-kke lu!" sentak Alka menghampiri Maghala dan meraih kerah kemeja adik iparnya itu.
"Aku sama sekali tidak tahu atau bahkan melihat benda itu sebelumnya. Silakan panggil saja polisi, dan minta bukti sidik jari. Tidak akan di temukan jejakku di situ," balas Ghala tenang, menepis kasar cekalan Alka. Tatapannya tajam seraya memperingatkan dengan telunjuk yang mengacung agar Alka tak menyentuhnya lagi.
"Mana ada maling ngaku! ... panggil security!" pinta Adhisty pada maid, untuk mengamankan menantunya.
"Gak usah, seret aja langsung," ujar Alka siap mengepalkan tinjunya.
Maghala masih tenang. Toh ke kantor polisi pun dia akan meminta hak di dampingi pengacara dan mengajukan pemeriksaan sidik jari, justru akan lebih mudah mengetahui dan membalik tuduhan.
Security pun tiba, Alka menyeret Ghala akan tetapi tuan muda Magenta, melawan. Dia memukul lengan kakak iparnya hingga cekalan itu terlepas.
"Kalau kamu tidak ingin masuk bui, maka jujur saja di sini bahwa kau menginginkan harta keluargaku dengan menggerogoti secara perlahan-lahan," ujar Adhisty lagi, sambil duduk di sofa dan menopang kaki.
Maghala hanya diam sebab tidak merasa melakukan hal tersebut. Namun, dia ingin mendengarkan keinginan sang mertua.
"Pilihan kedua, ceraikan Asha dan kamu akan bebas dari segala tuduhan. Kelalaian hingga menyebabkan anakku cacat, mencuri, melakukan perbuatan tak menyenangkan terhadap tuan muda Sadana, merayu temanku saat mengantarkan paket, dan banyak lagi," bener Adhisty, menyunggingkan senyum sinis disertai tatapan remeh.
Maghala hanya membalas dengan senyuman, yang berubah menjadi kekehan mengejek. "Aku tidak akan menceraikan Asha. Jangan mencoba terlalu keras, Ma!" jawab Ghala tenang, sambil memasukkan kedua tangan di saku celana, sementara Asha menggelengkan kepala tanda dia tak setuju dengan kalimat ibunya.
"SATPAM! Seret dia!!" teriak Alka, geram akan sikap sombong Maghala.
"Enggak! jangan, Mama, kakak!" seru Asha histeris dari atas ranjang, memegang lengan Ghala, kuat.
Security menghampiri menantu Cyra, meski ragu, dua orang keamanan itu tetap berusaha menyentuh kedua lengan Ghala.
"Masih ada kesempatan, menyerah saja!" tawar Adhisty lagi, sembari memainkan perhiasannya dan memberikan senyuman sinis.
Maghala justru kian tersenyum, menggeleng seraya mencibir Alka. Tatapan pun seakan meremehkan putra sulung Cyra.
"Lekas, seret!" seru Alka lagi, menarik kemeja adik iparnya hingga Ghala terhuyung.
"Ayo, ke kantor polisi saja. Akan aku beberkan fakta sebenarnya, termasuk pencurian dana perusahaan. Kau kira aku takut? ini peringatan untukmu," bisik Ghala saat di depan Alka.
Putra sulung Cyra memandang remeh, mendecih ke wajah Ghala. Dia menganggap Maghala hanya pria benalu bodoh yang mudah di atur dan kelabui. Alka mengabaikan peringatan Ghala. Dia tetap meminta satpam menggelandang adik iparnya keluar kamar.
Ashadiya histeris, dia menangis dan berteriak, berusaha meraih kursi rodanya untuk mengejar Ghala.
"Ghala! jangan bawa Ghala, Maaa. Suamiku gak salah!" teriak Asha.
Maghala menoleh, menenangkan Asha. "Humaira, dengar pesanku tadi? tenanglah." Ghala kemudian meraih ponselnya sebelum di sita Alka. Dia menekan tombol panggilan cepat jika darurat, berharap Hilmi ingat pesan rahasia yang sempat dia utarakan.
"Ghalaaaaaaa....!" Ashadiya berhasil menaiki kursi rodanya lalu menekan tombol pada panel guna mengejar Maghala, akan tetapi Alka menutup pintu kamar segera agar Asha tidak kabur.
.
.
...________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
tunjukan dirimu ghala jgn lemah...
2024-05-09
0
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut thor
2023-05-15
0
Siti Chotijah
😥😥😥
2023-04-30
1