Maghala menjeda kekepoan mengenai sosok Alka sebab azan subuh menggema. Dia mendekat kembali ke ranjang Asha untuk membantunya berwudhu.
"Salat dulu, kalau masih ngantuk, setelah dzikir nanti kamu boleh bobok lagi. Aku bangunkan saat sarapan," ujar Ghala.
Maghala membiarkan Asha berlatih sendiri mengendalikan kursi rodanya jika berwudhu. Tangan dan kaki Asha masih cukup kaku sehingga dia membutuhkan bantuan dan pengawasan.
Tepat pukul lima, Ghala menuju dapur, melihat menu sarapan untuk pagi ini. Tanpa banyak kata, dia mulai mengerjakan semua sesuai keinginan Adhisty.
Tiga puluh menit, semua hidangan untuk sarapan, telah apik tersaji di meja makan. Namun, ada saja ulah Adhisty yang seakan tak puas jika pagi harinya tidak di awali dengan memaki Maghala.
"Kan sudah ku bilang, kalau pagi itu pakai cawan kristal yang beli di Jerman, bukan ini!" seru Adhisty lantang seraya menunjuk pada cangkir bening berkilau meski berbeda model.
"Kan ini sama, Ma. Dari Jerman juga hanya beda bentuk. Kata Mama tempo hari jangan pake cangkir yang biasa sebab ada sedikit retak," jawab Ghala, mengemukakan alasan.
Tak senang menantunya mulai berani menentang ucapan, isi dalam cangkir pun berpindah ke tubuh Ghala. Adhisty menyiram lelaki yang telah berpakaian rapi.
"Mulai ngeyel kalau di bilangin! yang biasa aku pakai saja. Suruh siapa sih, ngeganti kebiasaan? kamu selalu bikin mood pagiku kacau!" tuntut Adhisty lagi.
Maghala meraup wajahnya yang terpercik oleh teh hangat. Baju pun kini basah. Dia lalu berjongkok ingin mengelap lantai agar tumpahan cairan itu tak membuat Adhisty terpeleset.
"Kurang ajar! kamu mau apa?" ucap Adhsity, menggeser posisi berdiri saat Ghala mulai berjongkok.
Duk! Kaki jenjang itu lalu menendang tubuh Ghala hingga dia jatuh terjengkang.
"Astaghfirullah. Aku ingin ngelap tumpahan itu, Ma. Bukan mau ngintip," sangkal Maghala, seraya menunjuk ke arah genangan air di lantai.
"Ngapain ngintip emak-emak. Noh, anaknya yang masih mulus aja, gak aku apa-apain," batin Ghala.
Adhisty tampak tak puas atas ucapan Ghala, dia menghentak kaki di genangan tumpahan teh lalu duduk di kursi mulai menikmati sarapan.
Pratt. Wajah Ghala terkena cipratan tumpahan kembali.
"Sabar, sabar," gumam Ghala melanjutkan mengelap lantai.
Alka bergabung menyusul sang bunda di meja makan. Lelaki itu terlihat lebih segar meski Ghala tahu semalaman Alka begadang.
"Ghala! kopi mana kopi!" tanya Alka menepuk bahu Ghala dengan sendok.
"Sebentar aku buatkan. Kopi sudah siap seduh ko," kata Maghala seraya bangkit membawa lap basah menuju dapur.
Tak lama, Maghala membawa kopi permintaan Alka juga teh hijau hangat dengan cangkir kristal yang Adhisty mau.
"Kamu mau bikin bibir aku celaka, Ghala!" teriak Adhisty lagi, kali ini dia melempar cangkir yang dipegang ke arah Ghala.
"Awh! Innalilahi. Panas, Ma," ucap Maghala spontan, mengusap dadanya agar tak melepuh serta berusaha menangkap cawan agar tak jatuh.
"Apa sih, Ma. Perkara cangkir aja repot. Tadi kan udah bener, malah ganti lagi kan nambahin masalah jadinya. Udah tau mantu babu ini lemot," cibir Alka seraya menyesap kopi.
"Pagi ini kopi bikinanmu enak. Kalau gak, udah kebayang kan ini kopi bakal ada dimana," sambung Alka kali ini ditujukan untuk adik iparnya.
Maghala memilih diam tak menanggapi dan berdiri mundur menjauh dari meja makan, agar pagi ini terlewati dengan cepat. Masih ada Asha yang harus dia urus juga setumpuk pekerjaan lainnya.
"Jangan lupa, ganti bunga, sarung bantal sofa. Kolam ikan juga sudah waktunya di kuras," kata Adhisty menyebut semua pekerjaan Ghala pagi ini.
Maghala hanya mengangguk sembari memberikan tanda isyarat oke dengan tangan kanannya.
Kepergian duo rusuh Cyra membuat Maghala sedikit lega. Dia lalu menuju kamarnya untuk melihat apakah Asha sudah bangun atau masih tidur. Ghala akan mengerjakan semua tugas hingga selesai lebih dulu sehingga bisa fokus di kamar mengurus Ashadiya.
Maghala sakha mengerjakan semua tugas pagi itu dengan cepat. Kolam ikan dia kuras dibantu salah seorang tukang kebun yang iba padanya.
Tepat pukul sepuluh, semua pekerjaan telah tuntas. Maghala menuju kamar membawa sarapan sekaligus makan siang untuknya dan Asha.
Untungnya, Ashadiya tak banyak membuang waktu Ghala hari ini sehingga dia bisa fokus mengerjakan beberapa video promosi untuk akun jualan yang baru saja di buat. Maghala mempelajari beberapa tutorial cara menjadi affiliate online shop.
Hingga Asar, Maghala masih berkutat dengan akun jualan di salah satu apk. Dia mengisi dan menata etalase tokonya dengan apik. Menyertakan keterangan detail juga hal penunjang lain.
Beberapa video yang dia buat telah di upload dua puluh menit lalu. Maghala menutup ponselnya sementara dia salat dan mengurus Asha. Mengerjakan pekerjaan rumah kembali dan memasak untuk makan malam.
Menjelang Maghrib, Maghala kembali masuk ke kamar. Dia menyempatkan diri membuka akun tadi siang. Alangkah terkejut Ghala, kala melihat viewer akunnya meningkat dalam waktu singkat. Bahkan sudah ada yang mengirimkan pesan menanyakan ketersediaan stok.
"Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Asha, doain ya," seru Ghala senang sementara Asha hanya bengong tak mengerti.
Ashadiya Cyra melihat Maghala hari ini banyak diam, pria itu sibuk mengerjakan sesuatu yang tidak dia pahami.
...***...
Sudah lebih dari satu pekan Maghala menambah kesibukan diri menggarap bisnis yang masih dia rahasiakan dari Asha. Hampir setiap hari Ghala mendapat beberapa produk sample dari distributor yang dia promosikan produknya.
Makian, tumpukan tugas sehari-hari masih dia lakukan dan terima. Adhisty bahkan mulai mengurangi jatah biaya untuk keperluan Asha.
Sejurus langkah itulah, jika malam, Ghala kerap melakukan live selama satu jam sebelum tidur. Setelah itu, memeriksa berkas Magenta grup sambil melakukan panggilan dengan Hilmi membahas misi dari Janu.
"Asha, Alhamdulillah. Aku sudah punya tabungan lagi. Kamu mau beli apa? apa dia menginginkan sesuatu?" tanya Ghala suatu malam sebelum Asha tidur, seraya menunjuk ke perut istrinya.
Asha menggeleng pelan, bayi ini hadir bukan atas keinginannya jadi dia tak peduli. Maghala duduk di sisi ranjang, menunjukkan saldo hasil jualan online di salah satu apk.
"Doakan aku ya, biar kita bisa fisioterapi ke rumah sakit khusus tulang dan syaraf. Uang dari Mama hanya cukup untuk fisioterapi selama satu tahun, belum termasuk biaya melahirkan nanti. Aku ingin kamu lekas pulih dan mulai berlatih lagi," ucap Ghala, mengusap jemari Asha.
"He em," jawab Asha singkat, mengangguk seperti biasanya.
"Tidurlah. Aku masih harus live promo dan mengerjakan sesuatu, amanah dari seseorang. Jangan begadang, gak baik buat janin kamu," tutur Ghala lembut, bangkit dari ranjang Asha setelah mengusap pucuk kepala istrinya.
Ashadiya Cyra memilih tidak segera memejam malam itu, dia ingin melihat Maghala lebih lama. Intonasi suara lemah lembut kala bicara dengannya, senyum menawan pria itu, wangi tubuh jika dia mendekat, juga kesabaran tiada batas membuat Ashadiya takjub.
"Kamu tangguh sekali, tak pernah menunjukkan kelemahan di depanku. Bersikap selayaknya suami meski aku dingin terhadapmu. Maghala sakha, semangat ya, doaku untukmu," lirih Asha, memperhatikan Ghala dari atas ranjang.
"Setelah anak ini lahir, apakah kau akan menceraikan aku, Mas Ghala?" batin Asha, gamang.
.
.
...__________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Arman Maulana
novel indosiaaar....
2024-06-30
0
Sulaiman Efendy
EMAK2 KLO MSH LAYAK PAKAI GK APA2 JUGA...😂😂😂😂😂😂😂
2023-08-01
2
Imam Sutoto Suro
keren banget lanjutkan thor
2023-05-14
2