Huda langsung menghubungi Mada dan memanggil ambulance untuk tuan besar Magenta. Evakuasi Janu ke rumah sakit berhasil dilakukan tepat waktu. Kolestrol dan tekanan darah tinggi lelaki renta itu melonjak signifikan setelah membaca laporan Ghala.
Madaharsa menunggui sang kakek di sisi brangkar rumah sakit. Dia bertanya pada Huda apa penyebab semua ini, akan tetapi sang sekretaris pribadi Janu hanya diam dan menggeleng pelan.
Janu sesungguhnya hanya sesak, dia pun tahu kedatangan Mada dan Maharani ke kamar perawatan, mungkin sekedar memastikan bahwa dirinya masih hidup atau telah amblas, mangkat meninggalkan Magenta grup.
...***...
Saat yang sama, Jakarta.
Maghala masih di atas sajadah kala Janu menelponnya tadi setelah mereka salat Duha, bahkan Asha memperhatikan semua sikap dan perkataan suaminya.
Ashadiya meminta duduk di bawah agar bisa lebih dekat dengan suaminya kala beribadah. Maghala kini memutar badan berbalik menghadap Asha.
"Aku masih punya kakek. Nanti kalau adek bayi dalam kandunganmu sudah bisa di ajak pergi jauh, kita jenguk beliau," ujar Ghala.
Asha hanya diam dan mengangguk, kembali ke mode pendiam. Kali ini Maghala memberanikan diri bertanya pada Asha tentang sosok Sade.
"Asha, maaf, apa kau sesungguhnya mengenal Sade? dia bilang bayimu adalah anaknya," ucap Ghala, hati-hati, memberikan pandangan lembut padanya.
Degh.
Wajah ayu dalam balutan mukena itu tampak terkejut. Bola mata pun bergerak tak fokus. Ghala mengenali bahasa tubuh Asha jika ketakutan atau tertekan. Dia lalu menarik tubuh Asha mendekat dan memutar memunggungi dirinya.
Tuan muda Magenta memeluk Asha dari belakang. Tangannya terulur, mengusap perut Asha dari luar mukena. "Jika iya, aku tetap akan menerima. Apa yang ku alami kemarin mungkin pernah menimpa padamu," bisik Ghala, menyandarkan kepala di bahu kanan Asha.
Belaian, tutur kata nan lembut dari Maghala, membuat hati Asha tenang. Dia seakan terlindungi. Perlahan bibir semerah Cherry itu membuka suara.
"Ehm," suara lembut Asha, ragu.
"Aku gak akan memotong ucapanmu. Suamimu hadir utuh, lahir batin. Jangan takut lagi, ya. Seorang calon ibu, harus bahagia," ucap Ghala pelan, membubuhkan kecupan di bahu tempat kepalanya bersandar.
Asha menghela nafas panjang nan lembut terhembus. Mata sipit itu memejam, mencoba mengingat kejadian yang membuatnya hina. Dia berusaha merangkai urutan kejadian meski awalnya tidak bisa, akan tetapi potongan ingatan itu muncul di alam bawah sadar ketika tidur.
Putri bungsu Adhisty tak dapat mengatakan pada siapapun bahwa dia telah di lecehkan, hanya berharap benih itu tak tumbuh. Namun, kenyataan tak seindah harapan, Ashadiya kecewa, marah dan terhina saat mendapati telah ada kehidupan di rahimnya.
Ingin melenyapkan tapi dia tak tega, hingga kejadian malam itu mempertemukannya dengan Maghala meski harus mendapatkan cedera parah seperti saat ini.
Ashadiya mulai menceritakan kisah kelam yang menimpanya.
"A-aku kenal Sade dari Anggun. Kawan sesama pelukis, kami bertemu saat launching karya sekaligus peresmian gedung seni milik keluarga Anggun."
"Setelah itu, Sade terus menguntit ku hingga aku jengah. A-aku tidak suka keramaian juga tidak ingin menjalin hubungan dengan pria sepertinya. Suatu hari, a-aku terpaksa menolak Sade di taman bunga hutan kota, saat tengah melukis."
"Aku tahu, Anggun menyukai Sade sehingga memutuskan untuk menjauh dari keduanya. Setelah aku menolak dia, mungkin pria itu kesal. Tapi Sade tetap mengawasi kemanapun aku pergi."
Ashadiya mulai gelisah, duduknya tak tenang meski Ghala masih memeluk.
"Mau di teruskan atau sudah?" bisik Ghala lembut. Mengusap kedua bahu Asha.
Wanita ayu pun menoleh, melihat ke dalam manik mata teduh milik suaminya, dia berniat melanjutkan mumpung Ghala tak kemana-mana. Asha mengangguk pelan.
"Suatu hari, ada undangan party merayakan keberhasilan Anggun sebab dia terpilih dari banyak kandidat, untuk membuat dua karya dan akan di pajang di galery seni ternama di Hongkong."
"Saat itu, aku pun sedang mendaftarkan diri ke even penting di Jerman. Aku lolos sementara Anggun tidak. Kami berjarak, tapi aku tetap datang saat dia mengundang ke perayaannya."
Suaranya mulai parau, duduk pun kian gelisah, Ashadiya susah payah melanjutkan kisah tersebut.
"Malam itu, entah apa yang terjadi. Aku bagai cacing kepanasan. Ingin pulang, rasanya tidak mungkin, kepalaku sangat sakit sehingga memutuskan menginap di hotel yang sama dengan pesta Anggun."
"Keesokan pagi, aku sudah dalam keadaan berantakan, tubuhku sangat sakit dan semuanya hancur. A-aaku kotor dan hina," ungkap Asha.
Tangis Ashadiya pecah, bahunya terguncang hebat, dia berbalik badan, tak lagi mampu meneruskan kisah pilu.
Maghala memejam, persis dirinya kemarin, jika Hilmi tak datang maka dapat dipastikan nasibnya bagai Asha. Dia memeluk tubuh sang istri erat, membiarkan Asha menangis dalam dekapan.
"Kau ingat tidak, saat merasa tubuhmu aneh, apakah sebab telah meminum sesuatu di pesta? Sade juga hadir di sana?" tanya Ghala, seraya membelai lembut kepala Asha.
Wanita dalam pelukan mengangguk. Asha mengatakan Sade bahkan menjadi tamu istimewa malam itu, dia merasa tidak meminum alkohol, hanya jus buah.
"Minumanmu di sodorkan oleh siapa?" imbuh Ghala lagi mencoba menebak pelakunya.
"Semua temanku hafal, aku suka jus buah. Aku tidak tahu, minuman mana yang mengandung obat itu," sahut Asha, masih menangis.
"Oke. Anggun suka Sade dan Sade menyasar dirimu. Ini hanya dugaanku saja, temanmu bersekongkol, mulai saat ini jangan tanggapi ajakan dari circle yang dulu. Oke? ... kau ingat, siapa pria malam itu, ehm--" Ghala menjeda, dia tak tega meneruskan kalimatnya.
Ashadiya mengangguk mengerti, kisah menyakitkan itu harus dia bagi pada Ghala sebab hanya dialah yang dapat di percaya saat ini, Asha lalu memilih menjawab pertanyaan sang suami.
"Awalnya aku tidak ingat kejadian mengerikan itu, tapi wajah Sade, perlahan muncul hingga ingatan itu utuh ku ketahui."
"Aku benci dia. Aku benci anak ini. Ghala!" Asha menjerit, dia meremat kemeja koko dan memukul dada Maghala beberapa kali.
Lelaki sabar itu, hanya memeluk kian erat. Membelai punggung Asha seraya membisikkan lembut kalimat istighfar.
"Astaghfirullah. Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikman nashir. La haula wala quwwata illa billah," ucap Ghala berulang kali hingga Asha tenang.
Keduanya masih di posisi semula, saling memeluk hingga kini berbaring di atas sajadah. Ashadiya mulai tenang dalam buaian Maghala. Meski mata memejam dan jemari membelai lembut tubuh Asha, akan tetapi otak cerdas keturunan Magenta berpikir cepat.
Maghala menyimpulkan, jika memang kisah Asha demikian maka clue ada pada Anggun. Sahabat istrinya terduga kuat sebagai otak di balik semua ini.
Anggun sakit hati pada Asha, sebab memiliki dua motif perkara sehingga ingin membuat sang sahabat rusak. Sementara lelaki itu mungkin tanpa sengaja menangkap gelagat Asha dan memanfaatkan kesempatan entah untuk menggaet atau sekedar menjadikan sang istri kunci meraih kekuasaan. Demikian, analisa sementara tuan muda Magenta.
Mereka di pertemukan atas garis nasib, meski Asha kehilangan kesempatan untuk mengikuti ajang kompetisi di Jerman yang susah payah di perjuangkan sebab kecelakaan malam itu tapi, keduanya justru saling menguatkan saat ini.
"Kau ingin membalas mereka?" bisik Ghala setelah keduanya menikmati waktu dalam diam.
Ashadiya mengangkat kepala dari atas dada sang suami, dia melihat wajah yang juga tengah menatapnya penuh cinta.
"Boleh?" lirih Asha, masih dengan wajah sembab dengan banyak jejak air mata.
"Kita balas sama-sama. Jangan menunjukkan kelemahan ya, Humaira. Doakan aku, membalas tidak melulu dengan kekerasan, istriku pelukis hebat bukan? tetap rajin terapi ya, Sayang, bangkit perlahan sampai musuh tak menyadari kamu tengah membangun kekuatan," balas Ghala.
Ashadiya, tersenyum manis mendengar kalimat dukungan dari Maghala. Binar mata sipit itu mendadak bening dan cerah memancarkan bahagia. Keduanya masih betah menjalin kedekatan hingga melupakan rasa lapar yang perlahan mendera raga.
Rasa sakit pada kaki dan juga tangan Asha, mendadak berkurang setiap hari akibat perlakuan manis sang suami.
.
.
..._________________...
...Ghala, mommy baper, 😭...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
TERKADANG KETEGASAN & KEKERASAN DIBUTUHKN UNTUK TEGAKKN KBENARAN,, BKN UNTUK BLAS DENDAM, TPI MMBRIKAN PELAJARAN..
2023-08-01
3
Sulaiman Efendy
BENARKN ANGGUN TRLIBAT...
2023-08-01
2
Sulaiman Efendy
BRARTI MMG DIJEBAK DGN OBAT TIDUR DN PRANGSANG..
2023-08-01
2