"Karim?" gumam Ghala, sambil menggeser tombol hijau ke atas pada layar.
"Assalamualaikum, Karim. Kau sudah kembali? maafkan aku, gerobaknya rusak dan sedang diperbaiki," ujar Ghala pada sahabat sekaligus teman jualan angkringan yang mereka rintis.
"Wa 'alaikumsalam. Ghala, maaf, aku belum bisa kembali ke Jakarta, masih dalam masa pemulihan. Uang sewa kontrakan bagaimana, jika kamu gak jualan sebab gerobak rusak?" tanya Karim cemas.
"Jangan kuatir, sudah aku bayar hingga enam bulan ke depan. Kamu lekas sehat, nanti kita bicara banyak hal," ucap Ghala menenangkan sang sahabat.
Suara Karim tiba-tiba terjeda dan tidak jelas.
Asha berusaha bangun tanpa bantuan Ghala, sebab lelaki itu tengah bicara dengan seseorang. Dia meletakkan kedua tangan ke kepala ranjang lalu menarik tubuhnya perlahan. Kegiatan ini, tak luput dari perhatian Maghala.
"Halo, halo, Karim?" sebut Ghala berkali.
Percakapan mereka terputus sebab signal ponsel Karim yang hilang timbul. Ghala pun kembali meletakkan benda pipih itu di atas meja.
Lelaki yang sudah mempunyai wudhu itu melihat ke arah ranjang, dia mengulas senyum dan perlahan bangkit mendekat.
"Bisa?" tanya Ghala lembut, sembari duduk di sisi tempat tidur.
Asha mengangguk, lalu menghela nafas setelah dia berhasil duduk. Kedua kakinya masih sangat sulit di gerakkan. Dokter mengatakan kesempatan untuk dapat berjalan normal kembali masih terbuka lebar. Hanya saja, terdapat luka di tungkai yang cukup parah sehingga Asha memilih tidak membebankan bobot tubuh di sana.
"Keren, mau langsung mandi atau belajar stretching lagi sendiri," tanya Ghala bersiap membantu.
Asha masih berat mengeluarkan kata, dia hanya menarik selimutnya sehingga telapak kaki itu terlihat lalu perlahan menggerakkan jemari kakinya. Butir keringat muncul, mata sipit itu memejam dengan sudut bibir tertarik ke atas disertai desisan halus, tanda Ashadiya menahan sakit.
"Sudah dulu. Jangan di paksakan, kamu hebat. Banyak kemajuan sejauh ini, mandi ya, biar segar," ucap Ghala mendekat, ingin mengusap peluh di dahi Asha yang tertutup anak rambut.
Wanita ayu mengibaskan tangan kanan, dia menolak dengan menggeser tubuh bagian atas. Asha tahu Ghala sudah punya wudhu dan tak ingin membatalkannya sebab perkara sepele.
"Gampang wudhu lagi," balas Ghala paham bahasa tubuh Asha, dia lalu meraih tisu dan menyeka keringat di kening dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.
Sedekat ini dengan Ghala membuat Asha sedikit berdebar. Ada sekelumit rasa hadir menyentil kalbu. Wangi segar parfum menyatu pas dengan suhu tubuh sang suami, selalu saja membuat Asha merasa nyaman.
"Aku siapkan air dulu. Sudah bisa mandi sendiri kan?" tanya Ghala lembut, memandang wajah yang masih setia menunduk.
Asha mengangguk pelan, dia menepis malu sejak satu bulan lalu jika ingin mandi, meski Ghala tak pernah melihatnya dalam keadaan tanpa busana secara utuh, tetap saja ingatan itu membuat rikuh. Sikap Asha mengundang reaksi gemas dari Maghala. Dia mengacak rambutnya lalu bangkit menuju bathroom.
Setelah salat subuh, Ghala keluar kamar seperti biasa untuk menyiapkan sarapan. Namun, saat baru mencapai pintu dapur, salah seorang maid menahannya.
"Den, gak usah masak lagi. Nyonya besar dan tuan muda sudah pergi sejak subuh tadi. Kata beliau, ada urusan genting di perusahaan," terang maid paruh baya.
"Ada tugas baru untukku?" tanya Ghala ingin memastikan bahwa dia tak akan mendapat ocehan saat sore nanti.
"Tidak ada," balas maid lagi.
Maghala mengangguk lega, dia hanya akan membuat sarapan kesukaannya dan Asha pagi ini. Konsentrasi memperbaiki tripod juga mulai membuat video baru untuk produk sample anyar.
Menjelang makan siang.
Saat Maghala keluar kamar untuk menyiapkan menu untuknya dan Asha. Terdengar suara Adhisty di teras rumah, akan masuk ke hunian bersama seorang pria. Ghala melanjutkan niatan menuju dapur tanpa memedulikan kehadiran mereka.
Baru saja makan siang masuk memenuhi rongga lambung yang kosong, ketukan keras di pintu menggangu aktifitas pasangan muda Cyra.
"Den, dipanggil nyonya besar ke ruang kerja," suara dari luar kamar.
"Sebentar ke sana, aku bantu Asha dulu," ujar Ghala, mengangkat Asha ke ranjang setelah dia meminum obatnya.
"Aku tinggal ya, jika mulai ngantuk, tidur saja. Live nya udahan kok, sisa balas pesan dan rekapan ke supplier tentang orderan hari ini," ujar Ghala sembari menarik selimut.
"Iya," jawab Asha, dia memiringkan tubuhnya pelan menghadap ke arah Ghala.
Sejurus kemudian, menantu Cyra sudah di depan ruang kerja Adhisty. Tok. Tok.
"Masuk!" sahut suara dari dalam.
Maghala membuka pintu, sedikit terkejut akan kehadiran seorang pria yang tempo hari di kenalkan padanya.
"Ghala, kau pasti bertanya-tanya siapa ayah biologis dari bayi yang Asha kandung bukan? aku telah menemukan pria itu, tugasmu sebagai suami Asha, berakhir," ujar Adhisty, bicara sambil bersedekap tangan di depan dada.
"Maksudnya berakhir?" tanya Ghala berpura-pura tak mengerti.
"Ceraikan Asha. Toh, kamu juga tidak punya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan Asha. Boro-boro mau biayain pengobatan dan lainnya," cibir Adhisty lagi.
"Astaghfirullah. Aku niat menikahi Asha bukan untuk mainan atau apapun itu. Asha tetap istriku, aku sedang berusaha mencukupi apa yang dia butuhkan," jawab Maghala tenang, masih sambil berdiri.
"Kau dengar itu, Tuan Sade? dia belagu bukan main kan? Babu, benalu kok merasa paling hebat," kekeh Adhisty, menjatuhkan harga diri Ghala di depan Sade.
Pria perlente itu menatap Ghala dari atas hingga ujung kaki. Postur tubuhnya tegap, kulit bersih, wajah tampan meski tak terawat dengan baik. Mungkin sebagian orang takkan percaya jika dia adalah pedagang pinggir jalan sebab penampilan keseluruhan, menjadikan nilai plus bagi Maghala.
"Kau tahu, bahwa harga diri pria itu terletak pada ini? setidaknya memiliki pekerjaan," ujar Sade mengisyaratkan uang dengan menggesekkan kedua jari, telunjuk dan jempolnya.
Maghala masih diam, ingin mengetahui apa saja yang akan di katakan olehnya.
"Kau bisa mendapatkan wanita lain setelah ini. Memiliki pekerjaan dengan posisi bagus atau ingin kembali pada bisnis lama pun boleh, aku akan mengaturnya untukmu asalkan Asha terbebas dari pria pansos sepertimu," tutur Sade, membujuk Ghala dengan iming-iming harta.
"Maaf, aku sudah punya pekerjaan," jawab Ghala lugas.
Adhisty dan Sade terbahak. "Iya, sebagai babu," jawab keduanya.
"Serahkan Asha, biarkan pria lain menggantikan tugas semestinya untuk putriku. Asha pantas mendapatkan lelaki yang lebih segalanya darimu," kata Adhisty lagi, meminta Ghala menceraikan istrinya.
"Apa kau sedang merencanakan sesuatu? ingin menguasai warisan Cyra sebab Asha adalah ahli warisnya?" tuduh Sade. "Jika itu tujuanmu, ya pantas saja, bukankah kau tidak cinta dan terpaksa menikahinya dulu? lalu motif apa kalau bukan perkara harta," lanjut sang tuan muda Sadana.
"Dan kau, apa motifmu? bukankah Tuan muda sanggup mencari wanita yang lebih segalanya dari Asha? lalu mengapa memilih istriku? atau jangan-jangan Anda sengaja mencelakainya?" ucap Maghala membalikkan tuduhan.
Tatapan matanya tak berkedip, menusuk lelaki muda yang sedang duduk di sofa dengan menopang kaki. Kini, gantian Maghala yang memindai penampilan Sade dari atas hingga bawah seraya menyunggingkan senyum remeh.
"Kau!" geram Sade merasa terintimidasi oleh Ghala.
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
tolong thor diulas kilas balik tuh ceritanya asha smpai kecelakaan n hamil n msk rmh sakit serta bisa mc yg di beri tanggung jawab ngawini Asha..
2024-05-09
0
Sulaiman Efendy
BENARKN SI SADE YG HAMILI ASHA, CMA CRITANYA GMN, DIPAKSA & DIPERKOSA, ATAU DIJEBAK DGN OBAT PRANGSANG, PANTAS SAAT LIHAT SADE, ASHA KETAKUTAN
2023-08-01
0
Imam Sutoto Suro
mantap ceritanya lanjutkan thor
2023-05-15
1