Maghala menyingkap sebagian selimutnya lalu perlahan mencoba sedikit menegakkan badan. Asha mencondongkan tubuh untuk membantu merapikan sandaran agar posisi suaminya nyaman.
"Syukron," lirih Maghala masih sedikit menahan sakit berdenyut di kepala.
"Azan, a-aku siapin air untuk kamu mandi, ya," ujar Asha bersiap memundurkan kursi rodanya.
"Jangan. Aku bisa, sebentar lagi. Kamu duluan bersiap. Maaf ya, hari ini gak siapin semua keperluanmu, Asha," kata Ghala, pelan seraya menekan pangkal alisnya.
Asha urung beranjak. Dia diam, melihat sang suami. Dalam kondisi seperti ini saja, Maghala masih memikirkan segala kepentingan orang lain. Seharusnya semua ini adalah tugas Asha sebagai seorang istri.
Maghala merasa seseorang menatap intens padanya. Dia pun membuka mata kembali.
"Kenapa? ada yang sakit?" ujar Ghala menarik lebih dekat kursi rodanya. "Ini sakit?" sambung lelaki ini cemas, menyentuh perut Asha dengan ujung jarinya.
Ashadiya menggeleng, dia lalu menangis. "Ini bukan anakmu, jangan," cicitnya seraya terisak, menahan jemari Ghala.
"Kan janji mau merawat bersama. Gak boleh jahat pada mahluk Allah yang tidak berdosa. Entah kamu sadar atau tidak saat melakukannya. Paling penting jangan menambah dosa besar dua kali," imbuh Maghala, menyeka air mata Ashadiya.
"Kenapa baik padaku? aku jahat sama kamu, Ghala," balas Asha, menegakkan kepalanya.
"Karena Humaira, istriku. Kewajibanku mengasihi, menyayangi, menghargai, membahagiakan, juga memberikan nafkah bagimu ... perkara kisah adanya adek bayi, itu bukan urusanku. Ashadiya Cyra adalah tanggungjawab yang harus aku emban, dunia akhirat. Kau sadar? jika menyakiti dia, dosamu di bebankan padaku?" tutur Ghala lembut, membelai perut Asha yang mulai terlihat berbeda.
"Saat ijab, hidupmu tergadai padaku, Asha. Aku mengikrar janji pada ilahi. Engkau adalah titipan, dan aku wajib mengembalikan amanah jika waktunya tiba, dalam kondisi baik. Asha, aku mau tanya, kamu masih bersedia bertahan denganku atau tidak?" Maghala harus menanyakan ini agar hatinya teguh untuk mengasihi Asha lebih dalam.
Ashadiya menunduk, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia malu, sosok Maghala bahkan yang mengajarinya cara salat dan berwudhu kembali meski awalnya dia sangat enggan. Namun, melihat lelaki itu tenang saat beribadah, dia tergugah.
"Asha?" panggil Maghala lagi.
"Jangan pergi," lirih Asha menjawab.
Maghala memejam, hatinya lega. Apa yang dia pertahankan dan ucapkan berbalas baik. "Alhamdulillah. Ayo, salat dulu. Aku nyusul pelan-pelan," imbuh Ghala, menarik kedua telapak tangan Asha dari wajah dan menyeka jejak kesedihan di sana.
...***...
Semarang, saat yang sama.
Sejak kemarin siang, Hilmi sulit di hubungi. Janu kian cemas. Firasatnya mengatakan dia harus menanyakan kabar cucunya, Maghala.
Pagi ini, Janu mendesak asisten pribadinya itu agar menyampaikan kabar tentang Maghala.
"Ehm, anu, Tuan besar, itu," ujar Hilmi, bingung mengungkap kata.
"Am em am em, anu itu anu itu. Anunya siapa! kalau ngomong yang jelas, Hilmi!" sentak Janu tak sabar, suaranya meninggi.
Hilmi terkejut, dia menjauhkan ponselnya dari telinga. "Maaf, Tuan besar," cicit Hilmi.
"Jujur atau aku pecat!" ancam Janu, mulai murka dengan nada melengking.
Sang asisten panik, dia ketakutan. Bukan hanya kuatir akan serangan kesehatan sang majikan tapi juga cemas akan menjadi Romusa, rombongan muka suram, sebab pengangguran. "I-iya, iya, Tuan besar, baik," kata Hilmi.
Sang asisten pun menceritakan awal kisah bermula sejak malam hari. Pertengkaran dengan Adhisty dan Sade hingga peristiwa yang hampir menjerumuskan Maghala melakukan zina akibat jebakan mereka.
Seperti yang Hilmi duga, Janu murka. Sang asisten menjadi sasaran kemarahan pendiri Magenta grup. Meski tak ada di hadapan, sosok Janu masih menakutkan bagi Hilmi. Dia pun memejam, meletakkan tangan di dada agar debaran abnormal jantungnya mereda akibat bentakan dan makian sang majikan.
"Sambungkan dengan Ghala, lekas!" seru Janu lagi.
"Baik. Sebentar, Tuan."
Tuut. Tuut. Bunyi nada tunggu. Hilmi mengulang panggilan sebab Maghala tak mengangkatnya.
Setelah beberapa detik menunggu. "Assalamualaikum, ya Hilmi?" suara lemah Maghala terdengar.
"Wa 'alaikumsalam, tuan mu--" ucap Hilmi membalas salam.
"Ghala!" suara Janu menyerobot keduanya.
"Kakek? ada apa ini sampai multi call?" tanya Maghala berpura.
"Jangan pura-pura. Segera kembali ke sini, lekas tuntaskan misi dariku dan gantikan Madaharsa!" pinta Janu tegas.
"Gak bisa Kek. Aku akan selesaikan misi kok, tinggal finishing touch saja," balas Ghala, ingat akan pekerjaan dari Janu.
"Ya sudah, berarti kakek yang akan membalas perbuatan Cyra padamu dan mengatakan bahwa kau cucuku!" sergah Janu lagi, tak terima dengan perlakuan Adhisty.
Maghala menghela nafas. Dia baru saja pulih dan otaknya dipaksa untuk berpikir cepat.
"Kalau Kakek memaksa begitu. Silakan saja, tapi jangan harap aku kembali ke keluarga Magenta dan menggantikan kak Mada. Kakek, pilih mana?" ujar Maghala membalikkan ancaman Janu.
"Ghala!" seru lelaki renta di ujung sana.
"Aku bisa selesaikan ini. Satu-satu, Kek. Nanti ku kirimkan salinan dokumen yang sudah Ghala tandai. Pesanku, tetaplah berpura Kakek tak paham dengan aksi mereka ya. Buatlah rencana apik untuk membongkar semua ini tapi tidak mempermalukan keduanya di depan umum. Jangan menciptakan dendam baru, oke?" pinta Maghala untuk Janu.
Permintaan yang di rasa sulit, akan tetapi wajib di laksanakan sebab Janu ingin Maghala kembali. Pendiri Magenta grup, kini dilema. Ingin menarik Maghala tanpa menyakiti Mada.
Sambungan via udara itu hening sejenak. Janu berpikir cepat sehingga dia menyetujui usulan sang cucu.
"Baik. Kirimkan padaku," ucap Janu. "Kamu harus pegang janjimu, Ghala. Kakek takkan mengusik hingga kamu menyerah di sana dan kembali pada Magenta. Jaga diri baik-baik, kenalkan aku dengan istrimu nanti," pungkas Janu menutup panggilan sementara Hilmi masih tersambung dengan Ghala.
"Maaf, tuan muda. Aku terpaksa menceritakan sebab di ancam akan di pecat," keluh Hilmi pada Ghala.
"Ehm, gak apa. Hilmi, aku kirimkan email, tolong di cek setelah ini ya," pinta Ghala menutup panggilan.
Beberapa puluh menit kemudian.
Janu janardana, terpana saat Huda, sekretaris di Magenta grup menunjukkan berkas laporan yang Ghala temukan dan baru saja Hilmi kirim padanya.
Lelaki senja itu sungguh tak mengira, dia telah di tusuk oleh dua orang terdekatnya sendiri. Madaharsa terlihat pendiam akan tetapi dia mendirikan perusahaan di dalam perusahaan. Semua list order yang masuk di alihkan ke miliknya.
Sementara Maharani, menarik uang dalam jumlah besar sebagai langkah memperluas jaringan akan tetapi tiada modal yang kembali alias bodong.
Janu lemas, wajahnya memucat hingga dada pun ikut turun naik dengan cepat. Sang sekretaris panik, dengan cekatan dan sigap, dia memasang selang oksigen juga menyalakan alat pembersih udara di ruangan.
"Tuan besar, Tuan, tarik nafas panjang perlahan," ucap Huda, menuntun Janu agar rileks kembali. Dia sampai memeragakan gerakan rileksasi sesuai anjuran dokter.
"Astaghfirullah. Maghala, selamatkan kakekmu ini," lirih Janu. Matanya memejam, tangan kanan menekan dada kiri sebagai tanda dia sesak nan terkejut. Janu susah payah duduk, hingga Huda membantunya berbaring.
Namun, baru saja Janu dalam posisi terlentang, Huda menangkap kejanggalan dari tubuh majikannya. Dia pun kembali panik, menepuk pelan lengan Janu hingga mengguncang bahu beliau. Wajah sang sekretaris mulai memucat.
"Tuan, Tuan, Tuan....!"
.
.
...__________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
buseeet mantap dah thor lanjutkan seruuuu
2023-05-15
1
AlAzRa
sehat kek, katanya mau ketemu istrinya Ghala 😢
2023-04-29
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Mom jangan buat Kakek Janu kenapa² dong, kasian Asha klo harus di tinggal Ghala kembali ke Magenta,,, 😌
Eh Btw masih penasaran sm barang yg di letakkan Adhisty di laci kamar Asha apa ud ad bhasan di bab sebelum nya yaaa,,, 🤔
2023-04-29
2