Alka tak gentar dengan Ghala, dia membanting tripod juga speaker bluetooth milik adik iparnya.
Brak!
Maghala memejamkan mata, investasinya kembali di hancurkan. Mungkin ini adalah hal sepele tapi Alka menyulut api permusuhan padanya. Ghala tak ingin berdiam diri.
Reaksi Asha di luar dugaan. Wanita itu melempari Alka dengan benda yang ada di dekatnya.
"Asha!" seru Alka, mengangkat tangan ke udara ingin memukul.
"Hentikan. Jangan sakiti Asha," ucap Maghala, menghalau tindakan Alka.
"Awas ya, kamu!" ancam Alka lagi, sembari keluar kamar dan membanting pintunya keras.
Brak!
Maghala menghela nafas panjang, dia memejam sejenak lalu mulai membereskan kekacauan. Asha ingin membantu tapi Ghala melarangnya. Sudah larut malam dan tidak baik jika ibu hamil ikut begadang.
"Tidur saja, biar aku. Gak banyak yang mesti di bereskan, kok," ucap Ghala mendorong kursi roda Asha ke sisi ranjang lalu mengangkatnya.
Wanita itu tak lantas memejam, Asha tetap menemani Maghala hingga pria itu selesai dan ruangan kembali rapi.
"Tidur, yuk. Aku lelah," kata Maghala mendadak merasakan fisiknya letih. Memikirkan perlakuan kelurga Cyra, amanah Janu hingga berusaha memberikan nafkah nan layak bagi Asha, memenuhi ruang otak yang sempit.
Setelah malam itu. Alka kerap mengawasi segala tindak tanduk Ghala meski adik iparnya ini hanya sekedar mengerjakan setumpuk pekerjaan rumah seperti biasanya.
Maghala tak banyak bicara, dia hanya membuka mulut jika di tanya. Pun apabila pertanyaan itu tak membutuhkan jawaban, Ghala memilih tetap bungkam.
"Kapok kan? makanya jangan belagu!" cibir Alka suatu pagi.
"Masa kamu percaya, tampilan begini membahayakan?" imbuh Adhisty, melirik Maghala yang berdiri di sudut ruang saat sarapan, seperti biasanya.
"Ya waspada aja sih, Ma. Kan kutu busuk itu tak melulu ada di tempat buruk. Justru dia mulai menyusup manakala segala kondisi masih terlihat baik saja," beber Alka, menatap tajam Maghala.
Kondisi ini berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Maghala tetap teguh dan melakukan apa yang dia bisa, tanpa banyak terpengaruh oleh sikap Alka.
Suatu malam, kala hendak mengambil air minum sebab lupa mengisi teko di kamar, Ghala mendengar keributan dari lantai dua. Langkahnya gontai, sesekali menguap dengan mata sayu tak lantas membuat teriakan Adhisty yang memekakkan telinga, membuat Maghala tertarik.
"Ada apa sih di atas?" gumam Maghala menuju dapur, mengacuhkan kegaduhan di tengah malam.
"Gak tahu, Den, dari tadi begitu," jawab salah satu maid yang bertugas malam ini.
Maghala duduk di pantry, meneguk pelan air minum lalu kembali ke kamar. Tubuhnya tak dia pungkiri lebih lelah dari hari biasa sebab Janu meminta agar Ghala secepatnya menyelesaikan misi.
Tuan muda Magenta melangkah pelan menuju kamar, melewati tangga. Dia betul-betul mengantuk hingga khawatir teko penuh itu akan jatuh jika tak mendekap erat.
Tiba-tiba. "Ghalaaaaaaaaa! panggilkan Maghala!" seru suara Adhisty dari lantai dua, memecah kesunyian malam buta.
Maid yang baru saja melihat menantu Cyra itu pergi, tergopoh menghampiri Ghala yang sedikit lagi mencapai pintu kamar. "Den, dipanggil nyonya besar ke atas," ujar maid.
Maghala enggan akan tetapi wanita paruh baya disampingnya merengek agar dia memenuhi panggilan Adhisty.
"Aku letakkan ini dulu di kamar, takut Asha bangun kehausan," ujar sang menantu Cyra, melanjutkan langkah.
Setelah mencuci mukanya agar lebih segar, Maghala menaiki barisan anak tangga menuju kamar Adhisty. Saat dia tiba, wanita itu tengah melayangkan tamparan ke pipi. Alka.
Plak. "Jangan berani-beraninya kamu mengelak. Bukti di depan mata! ini!" Adhisty melempar banyak kertas ke wajah putra sulungnya.
"Mama selalu saja lebih percaya pada orang lain. Aku kan sudah menyangkal dengan memberikan laporan bandingan sebab tuduhan satu ini. Seharusnya Mama tela'ah lagi, ini fitnah untukku!" seru Alka, tak terima dituduh Adhisty. Dia mengusap pipi kiri bekas tamparan sang ibu.
Alka menangkap sosok pria berdiri di depan pintu dengan ekor matanya. Dia menduga bahwa itu adalah sang adik ipar, lalu berteriak memanggil Ghala.
"Heh, Babu, ngapain kamu di sana!" sentak Alka mengalihkan topik kemarahan Adhisty.
Nyonya besar Cyra, melangkah menuju pintu sementara Alka duduk di sisi ranjang ibunya.
"Ghala, masuk. Bereskan kekacauan ini, lekas!" titah sang mertua saat pintu telah membuka lebar.
Kertas berserakan, ada bekas pecahan kaca di sana juga genangan cairan berwarna merah dengan bau khas anggur. Ghala menduga, Alka tengah menyesap wine kala Adhisty meminta dia datang ke kamarnya.
"Ayo cepat bereskan, aku sangat lelah!" ucap Adhisty lantang, dia masih mengenakan setelan formal dan emosi sebab urusan perusahaan tak kunjung selesai.
Maghala bergegas merapikan apa yang diminta oleh sang mertua. Sekilas pandang, dia melihat bahwa ini adalah bukan kertas biasa. Senyum tersungging samar di bibir Maghala, dia akan menyelidiki. Siapa tahu dapat menemukan kejanggalan yang akan dia gunakan untuk melawan balik Alka, melalui Adhisty.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, ruangan sang nyonya kini telah rapi kembali. Maghala pun turun ke lantai dasar, langsung menuju kamarnya dan memilah berkas di sana.
"Yes, sepertinya ini adalah laporan keuangan, proposal aneh juga eh, resi, faktur dan apa ini?" ucap Ghala, sumringah sebab baru saja mendapat data lengkap perusahaan Cyra.
"Oke, Alka. Mari kita kupas tuntas dirimu lebih dulu. Jangan-jangan ini adalah sesuatu yang tanpa sengaja ku dengar malam itu, astaghfirullah, proyek abal-abal Alka!" pekik Ghala. Matanya mendadak membola tak lagi di hinggapi kantuk, dia pun menutup mulutnya, berharap teriakan kecil tadi tak menarik perhatian Asha.
Maghala belum sepenuhnya mengenali karakter Asha yang kerap berubah-ubah. Dia harus hati-hati untuk sementara waktu.
Ingin kembali berbaring dan melanjutkan tidur akan tetapi netra terlanjur terjaga. Ghala memilih olah raga ringan agar tubuhnya kembali bugar. Dia lalu mandi dan siap menelusuri jejak yang Adhisty lingkari di atas kertas tadi.
"Oke, mari kita mulai. Ini lebih menarik dari berkas milik Magenta sebab bisa dijadikan senjata ketika Alka mengusikku lagi. Aku takkan tinggal diam, jangan menjegal upayaku untuk bangkit, Alka," gumam Ghala.
Lelaki tampan dengan balutan baju Koko dan sarung itu mulai membuka laptop milik Asha dan berkonsentrasi di sana. Maghala memusatkan perhatian pada poin-poin yang di tandai dengan spidol.
Pekerjaan ini dia lakukan hingga menjelang waktu fajar, memilih menutup kembali laptop saat melihat Asha menggeliat tanda wanita itu mulai terjaga.
"Sabar Ghala, sabar. Kunci sudah di tangan, saatnya membalikkan keadaan secara perlahan nanti. Sekarang bagaimana caranya agar Alka tidak mengetahui bahwa kamu lah yang membongkar kedok dia. Momennya harus pas," batin Ghala, sejenak memejam, menyandarkan kepala di badan sofa. Salah satu jemarinya menekan pangkal alis, kemudian menarik nafas panjang.
Tiba-tiba. Ponsel milik Ghala berbunyi.
"Siapa lagi?" lirih Ghala, malas menjangkau dimana ponselnya berada.
.
.
...___________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
excellent story'thor lanjutkan
2023-05-14
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Selalu ngerasa kurang klo baca,,,, 🤭✌
Ayo Ghala semangat, semoga aj yg nelfon bukan Hilmi dan semoga kakek Janu baik² aj, 😌
2023-04-24
1
AlAzRa
bismillahirrahmanirrahim, semangat bang Ghagha
2023-04-24
1