Tepat pukul satu dini hari, Maghala tiba di kediaman Cyra. Dia menuntun motor sejak dari gerbang dengan harapan kedatangan dirinya malam ini tidak di ketahui oleh para penghuni Mansion.
Pemuda tampan itu menyelinap masuk melalui pintu dapur, menyusuri pelan lorong di sana guna menuju kamar di bagian depan hunian ini.
Saat melewati ruang kerja Alka, dia melihat pintu yang tak menutup sempurna. Langkah Maghala pun kian mengendap, akan tetapi dia mendengar sesuatu. Kakak iparnya itu seperti sedang berbicara pada seseorang di dalam sana.
Intonasi suara Alka yang biasanya menggelegar, kini terdengar sangat pelan. Maghala berhenti sejenak. Nalurinya mengatakan bahwa mungkin ini adalah rahasia sang kakak ipar.
"Aku punya kenalan yang memproduksi bahan seperti keinginan pasar. Kau siapkan saja pembiayaan untuk itu sesuai draft RAB (rencana anggaran belanja). Juga ajukan proposal untuk menjalin kerjasama dengan vendor agar biaya produksi dapat di tekan," ujar Alka.
"Vendor yang mana? bagaimana dengan uji kelayakan sebelum kita teken kontrak, Bos?" suara dari interkom yang terhubung dengan ponsel Alka.
"Biar aku yang mengajukan pada mama. Kau siapkan saja rancangan juga mintalah pada divisi keuangan agar bersiap mengucurkan dana," titah sang direktur.
"Baik, Bos!" jawab asisten Alka.
"Jangan lupa, imbalan, siapkan beberapa bungkus untuk orang-orang itu. Kerjakan dengan rapi," pungkas Alka.
Maghala masih berdiri di balik dinding kala obrolan itu berakhir. Meski suaranya tidak begitu jernih, tapi Ghala sanggup mencerna dengan baik maksud di balik setiap kata.
Dia melihat Alka tengah menikmati minuman di ruangannya. Maghala pun melanjutkan langkah menuju kamar.
Saat pintu biliknya terbuka, dia melihat Asha masih mengenakan baju yang sama seperti pagi tadi, meringkuk di ranjang. Ghala menduga, istrinya itu merajuk sebab maid tak mengerti keinginan nona muda Cyra.
Maghala meletakkan semua dokumen dari Janu ke dalam lemari, dia lalu menuju kamar mandi menyiapkan air untuk Asha mandi sekaligus dirinya bersih-bersih.
Beberapa saat kemudian. Ghala mengguncang bahu Asha lembut.
"Asha, mandi dulu yuk biar segar. Maaf ya, aku meninggalkanmu begitu lama," kata Ghala berulang kali hingga Asha bangun.
Asha mengerjap, dan segera merentang tangan meminta bantuan untuk bangkit. Ghala memberikan senyuman menawan lalu mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.
Wangi sabun dari tubuh Ghala membuat Asha sempat merasa kehilangan dia seharian. Putri bungsu Cyra enggan mandi jika bukan Ghala yang menyiapkan kebutuhannya sebab lelaki ini telah hafal semua kebiasaan Asha.
"Rileks?" tanya Ghala, menggosok punggung mulus Asha dengan spons hangat.
Asha mengangguk. "Iya," lirih sang wanita ayu.
"Alhamdulillah, habis ini bisa tidur nyenyak deh." Ghala merentang handuk untuk menutupi tubuh polos Asha. Dia menundukkan pandangan setiap kali membantu istrinya mandi, agar membuat gadis itu merasa nyaman.
Tak jarang, Ghala menutup mata atau berbalik badan kala Asha melepaskan busananya atau hendak memakai baju setelah mandi.
"Kita keringkan rambut kamu dulu. Hari ini gak keluar kamar ya? sudah makan?" tanya Ghala beruntun seiring suara hairdryer.
Asha hanya menunduk, mengangguk tanpa suara seperti biasanya. Maghala dengan telaten membopong istrinya kembali ke pembaringan.
"Selamat tidur, jangan lupa baca doa seperti yang aku ajarkan," ucap Ghala, membelai pucuk kepala Asha lalu dia menuju sofa panjang, tempat melepas lelah.
Asha merasakan ketulusan pria itu, meski terlihat lelah tapi dia tetap sabar meladeninya. Mata cantik Ashadiya melihat ke arah jam, hampir pukul dua pagi.
Tak lama, Maghala sudah lelap di depan sana. "Makasih Maghala," lirih Asha, menarik selimut. Tubuhnya kini jauh lebih segar nan rileks berkat sang suami.
Sebelum subuh, Maghala terbangun. Dia lupa menyediakan air minum untuk istrinya. Ghala tergesa menuju dapur.
Saat melewati ruang kerja Alka. Lagi, Maghala mendengar percakapan aneh kakak iparnya itu.
"Pokoknya harus selesai pagi ini. Aku lembur membuat semua yang kita butuhkan. Menjadi kacung meski di keluarga sendiri itu gak enak," ujar Alka lagi.
"Baik, Bos!" jawab pria di sana.
"Usahakan semua cair pekan depan," kata Alka lagi seraya menutup panggilan.
Maghala buru-buru menghindar sebelum pria itu melihatnya di sana.
Putra sulung Adhisty keluar dari ruang kerjanya menuju lantai dua. Maghala lalu melintas kembali masuk ke kamar.
Tubuhnya masih lelah, kantuk pun terasa menggelayut tapi otak mengajak berputar cepat. Dua kali mendengar percakapan rahasia Alka membuat Ghala menyimpulkan sesuatu.
"Dia seperti sedang merencanakan penggelembungan dana atau rekanan fiktif. Bisa jadi tentang pengadaan bahan produksi jika mendengar penuturan di awal tadi," gumam Maghala, duduk di sofa yang biasa dia gunakan untuk tidur.
"Enghhh," suara serak Asha. Wanita itu mulai terbiasa bangun sebelum subuh sejak Ghala kerap memaksanya ikut salat fajar.
"Minum dulu, aku lupa tadi," ujar Maghala, menyodorkan gelas pada Asha, setelah membantunya duduk bersandar.
"Asha, posisi Alka di perusahaan sebagai apa?" tanya Ghala pada istrinya, duduk di sisi ranjang.
"Wakil Direktur Utama," lirih Asha.
"Apa dia punya usaha lain atau jabatan selain itu? ehm, proyek pembangunan aset misalnya?" sambung Ghala.
"Enggak." Asha menggeleng.
"Jabatannya tinggi ... pantas saja, dia punya kewenangan untuk menandatangani sebuah kontrak atau mengajukan proposal saat internal meeting," gumam Ghala.
Asha hanya diam, mengamati Maghala bicara meski tak mengerti ucapan suaminya ini.
"Hari ini kita lemaskan jemari kamu yang kanan. Masih sakit gak?" tanya Ghala meraih jemari Asha dan memijatnya pelan.
"Aah, aahh, sakit, sakit," lirih Asha. Suaranya sangat mahal.
Semenjak mereka menikah, Ghala hanya mendengar kata iya, enggak, sakit, atau rintihan yang keluar dari mulut Asha.
"In sya Allah sembuh dan bisa melukis lagi. Doakan usaha aku maju ya, agar kita bisa punya uang untuk pengobatan kamu. Sementara, pakai metode akupuntur dulu untuk melemaskan syarafnya," ucap Ghala, mengecupi jemari Asha. Setiap pagi, dia melakukan itu sebagai bentuk maafnya telah menyebabkan tangan lentik ini kaku.
Ashadiya mengangguk. Hanya Ghala yang memperlakukan dirinya dengan baik.
Sambil menunggu waktu azan, Maghala menghubungi Hilmi, dia meminta agar menyelidiki Alka di luar sana. Jika dugaannya tepat, Alka akan menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Hilmi pun mengerti keinginan tuan muda Magenta, dia lalu mengirimkan banyak link profile siapa Alka sebenarnya. Latar belakang pendidikan, prestasi di perusahaan bahkan aset pribadi.
Tuut. Tuut.
"Halo, tuan muda. Tautan profile beliau sudah aku kirimkan. Silakan Anda buka," ujar Hilmi.
"Thanks, Hilmi. Aku akan menyelidiki dia dari dalam. Tak akan ku biarkan hak istriku di ambil paksa orang-orang tamak," ujar Ghala.
"Tapi Anda membiarkan hal seperti ini di keluarga Magenta," sahut Hilmi lagi.
"Semata hanya ingin menjaga kesehatan kakek dan kini aku dilema," kata Ghala menutup perbincangan dengan Hilmi.
"Alka, mari kita lihat, apakah kamu memiliki hal menarik untuk di ulas," kekeh Ghala saat menekan satu laman web.
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
mantap dah thor lanjutkan
2023-05-14
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Masih burem belum bisa menebak, 🤭✌
2023-04-18
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
wah Ghala Sabar banget ya bisa loh nahan, 🤭
2023-04-18
1