Akibat Ghala terus menggoda dan mengalihkan ketakutan Asha dengan beceloteh tentang segala yang mereka temui di jalan, membuat Asha perlahan rileks duduk membonceng.
Dekapan erat di sekitar perbatasan perut dan dada perlahan melonggar, membuat Maghala sedikit lega sekaligus tahu bahwa Asha mulai nyaman. Meski tanpa sahutan suara atau melihat wajahnya tapi Ghala merasa Asha sesekali tersenyum sepanjang perjalanan.
"Asha, kamu tahu gak kenapa Matahari kian panas?" tanya Ghala saat berhenti di lampu merah.
Asha menggeleng, terlihat dari kaca spion bagian kiri.
"Ya karena Matahari, buka cabang dimana-mana," kekeh Ghala, seraya menarik kembali tuas gas untuk melanjutkan perjalanan. Sementara Asha masih setia dengan senyum rahasianya.
Tak lama, mereka tiba di parkiran rumah sakit. Maghala memilih tempat dekat dengan lift basement agar tidak terlalu jauh mendorong. Dia menurunkan tuas penyangga lalu membuka lipatan kursi roda. Ghala perlahan menggendong istrinya itu hingga dia nyaman duduk di sana. Lalu melepaskan helm dan menyisir rambut Asha menggunakan jemari.
"Sudah oke? kita masuk," tanya Ghala setelah memastikan semuanya telah rapi lewat isyarat Asha.
Setelah satu jam keduanya di rumah sakit, kini Ghala kembali mendorong kursi roda Asha menuju basement.
"Hampir dua belas minggu ya? are you happy?" bisik Ghala, berjongkok di depan kursi roda Asha. Menelisik ke dalam manik mata istrinya. Dia tahu, Asha tertekan di dalam sana saat dokter bertanya tentang kehamilannya.
"Apakah ini bukan keinginanmu? terjadi tanpa sengaja atau di paksa?" lirih Ghala lagi, membelai wajah ayu seraya menyeka butir bening dari sudut netra.
"Bayimu sudah besar dan tidak bersalah, juga akan segera di tiupkan ruh. Kita rawat sama-sama, oke?" Maghala bangkit, mengusap pucuk kepala Asha yang selalu diam bagai patung. Dia tidak menolak kehadirannya saja, Ghala sudah sangat bersyukur.
Sudah dua bulan usia pernikahan keduanya, Asha mulai menerima kehadiran Ghala di beberapa Minggu terakhir. Meski di awal sangat tak ramah, Ghala tahu bahwa istrinya itu hanya tidak dapat mengatakan yang sesungguhnya.
Tuan muda Magenta, bersikap lembut sebab tahu bagaimana rasanya di abaikan. Juga, rasa bersalah pada Asha, perilaku keluarga Cyra membuat nuraninya berkata agar menerima gadis itu sebagai istri dan memperlakukan dengan baik.
Ketika mereka kembali dari rumah sakit, kondisi rumah lengang, rupanya Adhisty telah pergi lagi. Semua pekerjaan Maghala sudah rapi sejak semula dia meninggalkan kediaman Cyra, tak ada tambahan to do list di meja dapur. Dia pun dapat beristirahat sejenak siang ini sembari menemani Asha.
Hingga makan malam menjelang, pasangan muda Cyra tak menampakkan batang hidung. Maghala hanya menyiapkan makan malam mereka lalu masuk kembali ke dalam kamar. Alka merasa heran pada adik iparnya akhir-akhir ini, dia mencurigai sesuatu.
"Ma, tumben si babu gak muncul. Akhir-akhir ini suka ilang kalau malam, Asha juga. Ada apa ya?" selidik Alka pada ibunya.
"Biarkan saja, yang penting kerjaan beres. Bagus gak nampakin muka daripada bikin mual dan emosi," sahut Adhisty, dengan wajah datar, melanjutkan makan.
"Aneh, akan aku selidiki, deh," gumam Alka. Otaknya berpikir bagaimana cara memergoki sikap mencurigakan adik iparnya itu.
Sementara itu, di dalam kamar Maghala.
Ashadiya menghabiskan makanannya secara cepat malam ini sebab dia ingin melihat dan membantu Maghala bekerja. Dia bahkan mendorong kursi rodanya menuju sofa.
"Mau lihat aku kerja?" tanya Ghala. Asha mengangguk. Dia terlihat antusias.
"Bismillah, doain jualan aku malam ini laris ya," ujar Ghala saat akan memulai live.
"Iya. Aamiin," jawab Asha, menambah kata baru, selain yang biasa dia ucapkan.
Maghala tersenyum, Asha mulai bersedia bicara dengannya. "Aamiin."
Wanita ayu membantu Ghala saat dia membutuhkan produk yang jauh dari jangkauan. Asha menemani suaminya hingga pukul sepuluh malam, hampir dua jam mereka berjualan secara live di salah satu apk.
Setelah menutup siaran langsung, Maghala langsung membalas pesan para pelanggannya. Malam ini, laporan statistik penjualan dari akun miliknya terbit.
Binar mata lelaki tampan itu kini terpancar, senyum menawan tersungging di wajah Maghala, pasalnya saldo milik tuan muda Magenta itu mulai bertambah signifikan.
Maghala menghampiri Asha, berjongkok di depan kursi roda sang istri dan menunjukkan tampilan di layar ponselnya.
"Alhamdulilah, dua kali lipat dari semula. Asha, makasih ya," ucap Ghala sumringah, menanti reaksi istrinya atas apa yang dia sodorkan.
Mata sipit Asha melihat angka dua digit di sana. Senyuman manis itu terbit untuk pertama kalinya hingga gigi gingsul Asha terlihat.
Maghala tertegun, apakah penglihatannya tidak salah? Asha baru saja tersenyum untuknya.
"Maa sya Allah, cantiknya istriku kalau tersenyum," puji Ghala membuat wanita pendiam itu tersipu, semburat merona terlukis di wajah Asha.
"Boleh minta lagi? lihat aku, Asha," pinta Ghala.
Lelaki tampan, meletakkan gawainya di pangkuan Asha, Maghala lalu setengah bangkit bertumpu pada kedua lututnya. Tangan kekar nan lembut itu menggenggam jemari Asha yang terkulai di atas pangkuan. Kedua bola mata teduh pun menatap iris warna coklat terang milik Asha.
Perlahan, wajah yang terbiasa menunduk itu terangkat. Pandangan keduanya bertemu, sudut bibir tipis nan berwarna bak Cherry itu tertarik ke atas membentuk sebuah lengkung senyuman manis, yang hanya dia bagi untuk Maghala sakha.
"Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad, Alhamdulillah. Makasih, Asha, booster banget ya Allah," ucap Ghala kian membuat pipi Ashadiya bersemu kemerahan
"Humaira." Ghala menyebut sebuah panggilan. "Ashadiya Humaira," ucap Maghala, memberikan senyum menawan miliknya.
Moment manis bagi keduanya rusak manakala pintu kamar mereka di buka paksa Alka.
Brak!
Alka berkacak pinggang di ambang pintu, dia lalu memendar pandangan ke sekeliling. Matanya menemukan sesuatu, seperti peralatan dan perlengkapan yang digunakan untuk membuat vlog, video atau sejenisnya.
Maghala yang paham bahasa tubuh Alka langsung bangkit dari berjongkok lalu mengamankan semua perlengkapan jualan miliknya. Asha pun ikut membantu sang suami, menghalangi Alka.
"Minggir!" usir Alka, mendorong kursi roda Asha menjauh.
"Asha!" seru Ghala, cemas istrinya akan terjatuh. Namun, Asha sanggup mengendalikan dirinya.
"Sini, aku lihat, kamu punya apa!" teriak Alka merebut apa yang Ghala sembunyikan di balik tubuhnya. Dia mencengkeram bahu Ghala lalu membalik paksa badan adik iparnya.
"Tidak ada hubungannya dengan Cyra. Ini usaha untuk menafkahi istriku," seru Ghala mempertahankan apa yang dia miliki.
"Jangan macam-macam. Sudah bagus di sediakan tempat tinggal, malah bikin malu! jualan apa begini, ecek-ecek receh! gembel!" sentak Alka membuang semua produk sample yang Ghala kumpulkan. Bunyi nyaring benda jatuh ke lantai menggema, barang Maghala berserakan.
"Aku gak jualan produk, hanya rekanan dengan distributor dan supplier. Aku cuma promote saja. Kak, balikin!" seru Ghala terengah. Asha tak tega melihat suaminya di perlakukan kasar.
"Kakaaaaakk!" teriak Asha, mengagetkan Alka dan Maghala.
"Orang macam dia, diam-diam bakalan nusuk dari belakang, kita harus waspada terhadap semua perilaku, Asha! Aku takkan pernah memberikanmu peluang apapun, Babu!" sentak Alka lagi, wajahnya merah padam, telunjuk pun menunjuk kasar ke arah Ghala.
"Aku tak bernafsu merebut Cyra. Perusahaan keluarga kalian hanya menunggu waktu untuk runtuh. Jangan susah payah mengurusi aku, Kak. Pikirkan saja keberlangsungan nasib status pewaris Cyra, apakah akan berlanjut untukmu setelah sesuatu mencuat nanti," kata Ghala menyiratkan perlawanan.
Tatapan mata kedua pria beradu. Alka menduga apakah Ghala mengetahui sesuatu sebab ucapannya tadi. Kian hari Alka merasa bahwa Maghala bukan pria biasa.
"Apa maksudmu?" sinis Alka, memegang tripod speaker bluetooth, siap membanting keras sebab tangan kanannya mengacung ke atas.
"Jangan mencoba batasku! letakkan itu atau kita perang. Aku jamin kau akan menyesal nanti!" ancam Ghala kali ini, sorot matanya tajam untuk sang ipar.
"Kau berani?" tantang Alka lagi. Rahangnya tegas hingga urat leher pun terlihat menonjol.
"Apa Kakak ingin bertaruh denganku?" balas Maghala sakha, masih setia dengan tatapan menusuk.
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Dhewi Nurlela
bagus ghala lawan aja alka sdh keterlaluan
2024-07-24
0
Edy Sulaiman
gitu dong jgn mau dikekang ataupun diintimidasi terus olh org, tunjukan taji mu ghala...
2024-05-09
0
AlAzRa
kang Ghagha, ngalah wae tow, selow... mesakna Asha
2023-04-24
1