Jika di ruang kerja Adhisty dan Sade sedang merencanakan sesuatu. Lain hal, di kamar pasangan muda Cyra. Maghala menemani Asha tidur menjelang tengah malam. Dia duduk di sisi ujung ranjang sang istri.
"Jangan cemas. Pintu kamar kita, sudah aku pasang penahan agar tak dapat di buka meski menggunakan kunci serep," ucap Ghala menunjuk ke arah pintu.
Urusan makan malam pun terlewati begitu saja. Mereka hanya memakan kudapan ringan yang tersedia di kamar sebab tak lagi bernafsu untuk mengunyah makanan berat.
Asha mengangguk, sesekali air matanya masih menetes. Sorot mata sendu itu tak lepas melihat sosok suami yang tengah memejamkan mata, dan menengadahkan wajahnya.
"Ghala, maaf ya. Terima kasih dan jangan sakit," batin Asha melihat memar di wajah juga lecet pada buku jari.
Pikiran Maghala berkecamuk. Dia sangat marah melihat Asha di perlakukan demikian. Anehnya Adhisty sama sekali tidak membela anaknya.
Keesokan pagi.
Maghala menjalankan aksi mogok kerja bagi keluarga Cyra. Teriakan, makian Alka dan Adhisty yang menggedor pintu kamar, tak dia hiraukan lagi. Ghala fokus beribadah dengan Asha.
"BABU! mana sarapan aku!" teriak Alka, sembari menendang pintu keras.
Brak. Brak. Brak.
"BEBEGIG SAWAH! lekas," sentak Alka, masih setia berusaha membuka pintu kamar Maghala.
Duk. Duk. Duk.
"Ghala! keluar! apa kau tidak butuh uang untuk terapi Asha? hari ini jadwal anakku check up," seru Adhisty, mengguncang handle pintu berulang kali.
Cklak. Cklak.
Asha sesekali terkejut atas suara gaduh dan kasar yang ditimbulkan mereka. Namun, melihat Ghala hanya duduk tenang di atas sajadah, membuat Ashadiya pun ikut menenangkan dirinya.
Beberapa menit setelah keributan pagi hari mereda, Ghala keluar kamar bermaksud membuatkan Asha sarapan sebelum terapisnya tiba.
Seorang Maid menghampiri Ghala kala menantu Cyra menuju dapur. "Den, ada pesan dari nyonya besar," ujar wanita paruh baya, menyodorkan selembar kertas.
Maghala membaca pesan di sana. Adhisty memintanya mengantarkan sebuah paket ke alamat yang dia tulis. Mertuanya pun menitipkan pesan untuk sang penerima.
Tuan muda Magenta menuju meja makan, dia lalu menyelipkan kertas tersebut di bawah bingkisan yang di maksud. Ghala lalu melanjutkan niatan membuat sarapan bagi mereka berdua.
Suami Asha sangat berkonsentrasi di dapur sehingga peluhnya menetes. Ghala sengaja membuat banyak menu yang akan dia bawa ke kamar, sebab dirinya masih malas bertemu keluarga Cyra.
Saat melewati ruang makan sembari membawa baki menuju kamar, Maghala melihat gelas milik Asha telah terisi air minum di atas meja makan. Dia heran.
"Bukannya gelas Asha ada di dalam kamar ya? kok di sini?" gumam Maghala.
Dia berpikir mungkin lupa membawa benda itu dan maid membantu mengisinya. Ghala meraih tumbler tersebut dan meletakkan di atas baki kemudian melanjutkan langkah.
"Asha, makan dan minum dulu," kata Maghala saat telah berada di kamar mereka.
Wanita ayu itu menunjuk gelas di atas meja sofa, dia baru saja minum.
"Loh, ini gelas siapa?" tanya Ghala heran.
"Aku," jawab Asha singkat.
"Couple?" lanjut Maghala menegaskan kalimat Asha.
Putri bungsu Cyra, mengangguk. Maghala duduk di sofa untuk menata makanan Asha. Sebab dia kehausan dari dapur, air minum tadi Ghala teguk hingga tandas.
Tok. Tok.
"Den, terapis datang," suara maid dari luar kamar. Maghala bangkit, membuka pintu agar tenaga medis itu masuk.
Merasa Asha aman sebab ada maid dan terapis. Dia akan mengantarkan paket amanah Adhisty ke alamat tujuan yang letaknya tidak terlalu jauh.
"Aku pergi sebentar ya, Asha. Ada mereka. Mau antar titipan ibumu, dekat kok," ucap Ghala.
Seperti biasa, Asha mengangguk seiring langkah Maghala keluar kamar. Motor matic putih itu mulai melaju meninggalkan Mansion. Dering ponselnya tak dia hiraukan, dia ingin lekas sampai di tujuan karena kepalanya mendadak pening.
Lima belas menit berikutnya, setelah bertanya dua kali pada warga sekitar, akhirnya Ghala menemukan lokasi.
Gerbang rumah bercat hijau tosca itu sudah terbuka saat Maghala tiba. Dia memarkirkan motornya di pelataran garasi, kemudian mengetuk pintu.
Tok. Tok.
Tiba-tiba pandangan Maghala berkunang-kunang, jantung pun berdegup cepat, rasa panas menjalari tubuh dan peluhnya mulai menetes.
Saat lelaki tampan berkutat dengan rasa asing yang mulai hadir tidak semestinya. Suara lembut seorang wanita terdengar.
"Maghala ya? mari masuk dulu. Kamu kok keringetan begitu, haus kan?" ucap tuan rumah, meraih lengan Ghala.
"I-iya a-aku. Ini," Ghala menyerahkan bingkisan titipan Adhisty. Namun, diabaikan oleh wanita tersebut.
Sentuhan itu bagai sengatan listrik menjalar ke tubuh Maghala. Pria tampan pun seakan tak dapat mengendalikan dirinya kala belaian lembut sang wanita intens menyentuh kulit.
Usapan, bisikan lembut memicu reaksi lebih panas dari sebelumnya. Maghala susah payah menjaga otak tetap waras. Dia menolak perlakuan itu meski tubuh merespon sebaliknya.
Saat wanita itu berusaha intens mendesak Maghala yang sudah setengah sadar dan menggelinjang. Tiba-tiba. Glatrak. Prang. Suara benda jatuh di bagian belakang rumah.
Wanita ayu pun merasa terganggu, aksi panasnya tertunda. Kepulan asap membumbung membuat tuan rumah panik. Dia mengabaikan sejenak mangsanya di kamar.
Saat dia kembali, lelaki tampan yang tengah di ujung tanduk kewarasan itu menghilang. Sang tuan rumah panik, menghubungi seseorang guna menceritakan kegagalan misinya.
"Bodoh! mengapa bisa lolos, kamar itu sudah ku lengkapi dengan kamera. Kau seharusnya tak memedulikan gangguan apapun. Orangku mengawasi di sekitar," umpat seorang lelaki di ujung sana.
"Masa aku lanjut, rumahku penuh asap dan kalian tak seorangpun datang membantu. Dimana orangmu itu! saat aku berjibaku sendiri, mereka baru tiba, telat! pokoknya aku minta bayaran!!" sergahnya tak ingin di salahkan. Panggilan pun terputus dengan cacian menyertai.
Mendengar kegagalan ini, sang pria mengubungi partnernya. Hendak mengumpat bahwa wanita yang dia sewa, bodoh, sehingga misi kali ini juga amblas.
"Kenapa jadi menyalahkan aku? kau kan yang eksekusi sedangkan aku menyediakan tempat sesuai keinginanmu bukan? tugasku selesai lah. Jika dia gagal ya urusanmu. Aku gak mau bayar fee wanita itu sebab risiko ada padamu," balas Adhisty.
"Tante jangan seenaknya dong. Kan ini rencana kita berdua," bantah Sade. Keduanya pun ricuh saling menyalahkan dan masing-masing tidak bersedia membayar jasa sang wanita penggoda.
...***...
Hilmi menyuap seorang maid untuk mendapatkan informasi di dalam kediaman Cyra. Dia ingin melindungi tuan mudanya secara diam-diam. Pagi ini, Hilmi mencurigai sesuatu. Panggilannya tidak di gubris sehingga dia mengikuti Maghala.
Dugaannya terjadi, dia lalu melempar bom asap ciptaannya untuk mengelabui mata-mata dan agar dapat menyelinap ke dalam.
Penampilan Maghala berantakan. Hilmi terpaksa membawa tuan mudanya dalam kondisi demikian ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.
"Tolooooooooooong," teriak Hilmi kala baru tiba di depan IGD. Beberapa suster lalu membantu mengeluarkan Maghala dari dalam mobil. Ghala sangat kacau, era-ngan, des-ahan menguak udara pagi ruangan medis.
"Tuan muda, bertahanlah, maafkan aku terlambat," sesal Hilmi tak tega melihat reaksi obat telah bekerja hebat. Wajah sang asisten diliputi kecemasan, tangannya bergetar saking dia panik menyaksikan Maghala sangat tersiksa.
"Dokter berikan yang terbaik. Tolong," mohon Hilmi saat mendorong brangkar Ghala ke IGD. Asisten Janu, duduk gelisah di koridor. Sesekali berjalan mondar mandir di sana. Dia cemas akan fisik dan kondisi jantung Maghala tak kuat menahan hasrat menggebu nan tiada tersalurkan.
.
.
..._____________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Mazree Gati
mahgala terlalu giblok
2024-05-17
0
Sulaiman Efendy
HERAN DGN RMH ORG KAYA, GK ADA KUNCI SLOPNYA, KITA YG ORG BIASA SAJA, SELAIN KUNCI PUTAR, KITA JUGA TAMBAH KUNCI SLOP, BAIK UNTUK PINTU UTAMA, PINTU SAMPING, DAPUR, DN JUGA KAMAR..
2023-08-01
0
Imam Sutoto Suro
wooow amazing story thor lanjutkan seruuuu
2023-05-15
0