"Aku akan siapkan peralatan diam-diam agar lebih leluasa bereksplorasi. Asha, doakan aku ya," lirih Maghala melempar pandang ke arah ranjang dimana istrinya tidur.
Tepat pukul satu dini hari, lelaki tampan tapi terlihat lusuh itu menata bantal di atas sofa panjang, menarik selimutnya, lalu memejamkan mata, bersiap melepas lelah yang menyelimuti raga.
Sebelum subuh, Maghala sudah terbangun. Dia telah menyusun jadwal kegiatan hari ini, semoga tidak ada tugas dadakan lagi sehingga mempunyai waktu lebih untuk memulai usaha rahasianya.
Rutinitas pagi Maghala masih setia berteman teriakan, ocehan, makian bahkan julukan baru di dapat pagi ini.
"Benalu," teriak Adhisty memanggil menantunya, berdiri berkacak pinggang seraya mengetukkan heel ke lantai.
Maghala muncul dari dalam kamar dengan Asha yang telah wangi dan rapi.
"Eh, Asha tumben sarapan bareng kita," ujar sang mama, sedikit menahan diri kala melihat putrinya sangat rapi sepagi ini.
Tidak ada sahutan dari Asha, dia hanya diam. Maghala yang telah paham kebiasaan istrinya, cekatan mengambil sajian segar berupa potongan buah sebagai menu Asha hari ini.
"Heh, kamu kasih makan apa anakku? masa sepagi ini di kasih makan buah, jus apa itu? terlihat menjijikkan," cibir Adhisty, menunjuk dengan dagu saat melihat hidangan untuk putrinya.
"Aku yang minta," ucap Asha singkat, padat, membungkam cibiran ibunya.
Glek! Adhist tertohok.
"Silakan duduk, Ma. Scramble egg with mushroom and coleslaw," ujar Maghala menyodorkan pinggan milik Adhisty.
"Asha, tumben kamu makan bareng kita," sapa Alka melihat adiknya duduk bersama di sana.
"Kamu juga makan, jangan sampai pingsan sebab tugas hari ini banyak. Rumput mulai panjang, juga banyak sarang laba-laba di ceiling. Panaskan mobil sport Alka lalu dry clean gaun malam milikku untuk jamuan lusa nanti," tutur Adhisty, bibirnya tak henti membeberkan tugas Maghala hari itu.
"Tumben," batin Maghala.
"Baik, Ma. Sudah aku catat semua," jawab Ghala sembari menarik kursi di sebelah Asha, agar mudah menyuapi istrinya.
Mungkin karena kehadiran Asha di meja makan, mereka sedikit merendahkan volume suaranya.
"Aku mau buah import, Ma," ucap Asha meminta pada ibunya, gadis itu mengharap dengan tatapan memohon.
"Kamu punya suami, minta ke Ghala," balas sang mama, mulai mencoba aksi. Dia bahkan tak melihat ke arah Asha.
"Oke, akan aku belikan. Kamu mau buah apa?" tanya Ghala menoleh ke arah Asha.
Tiada jawaban lagi, ibu hamil itu hanya diam.
"Kalau Asha diam, artinya kamu gak bakalan mampu beli. Buah kesukaan Asha itu melon Jepang yang harganya satu juta lebih. Kamu pengangguran, mana punya uang segitu banyak," sindir Adhisty lagi, bibirnya tertarik ke atas, menyeringai sinis.
"Jangan sampai ponakan aku ngacay gara-gara bapaknya gagal memenuhi keinginan ngidam bininya," tawa Alka bergema.
Maghala diam, dia bukan ayah biologis bayi yang tengah dikandung Asha, akan tetapi bersedia memenuhi keinginan wanita ayu di sampingnya ini.
"Bilang saja. Akan aku usahakan, oke?" bisik Ghala saat menyuapkan suapan terakhir potongan buah.
Entah hanya pandangan Maghala saja atau memang Asha bersikap manis pagi ini. Sekilas dia melihat wanita disampingnya mengangguk samar.
"Peach dan anggur shine muscat," jawab Asha pelan.
Maghala mengangguk. "Oke, In sya Allah kebeli," ujarnya lagi.
Alka terbahak, dia mencibir Maghala. "Kamu tahu gak berapa harga anggur yang di minta Asha?" kekehnya geli melihat ekspresi pede Maghala.
"Biarkan saja dia malu saat di depan kassa, gak bisa bayar," sambung Adhisty ikut tertawa renyah hingga mulutnya terbuka lebar.
"Kalau gak mampu ya bilang aja sih, badut kawe, lo," ejek Alka seraya bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.
Tak lama, Adhisty ikut bangun dari sana. Dia meraih dompet dari dalam tas lalu melempar satu ikat uang senilai dua juta ke arah Maghala.
"Tuh, buat keperluan yang aku suruh tadi. Sisanya untuk beli buah Asha. Pengangguran kok belagu setinggi langit!" ejek Adhisty melangkah pergi, decihan dari mulut pun lolos.
Hanya tarikan nafas yang dapat Maghala tunjukkan di hadapan Asha. Dia lalu membenahi semua kekacauan di meja makan dan bergegas mengerjakan tugas lainnya.
Tepat pukul sebelas siang, Ghala meminta izin pada Asha pergi keluar rumah untuk melaundry pakaian milik ibunya serta membeli buah pesanan Asha.
Motor matic putih miliknya meluncur meninggalkan kediaman. Saat memotong rute agar lekas sampai di tujuan, tiba-tiba jalannya di jegal sebuah mobil mewah.
Ciiiittttt. Suara decit ban, bergesekan dengan aspal jalan.
"Innalilahi," pekik Maghala, menarik tuas rem kencang, membelokkan stang motornya hampir membentur pohon di sisi jalan.
"Siapa sih! tapi kayak kenal," gumam Ghala saat melihat plat mobil di depannya.
"Selamat siang, tuan muda," sapa seorang pria perlente, membungkukkan badan saat baru keluar dari mobilnya.
"Siang ... loh, Hilmi, ada apa? kakek baik saja kan? kamu ngagetin sih, sudah berapa hari di sini?" cecar Ghala terkejut melihat asisten pribadi kakeknya berada jauh dengan beliau.
"Tuan besar Janu, sedikit stres. Anda diminta beliau untuk pulang. Menyudahi masa pelarian," pinta sang asisten. Mendekat ke arah Ghala, dia menahan stir motor sang tuan muda. Sorot mata Hilmi terlihat sendu, alisnya ikut bertaut hingga wajah cemas itu kentara.
"Tiga hari dalam pengintaian, tuan muda. Anda bahkan tak memberi kabar jika telah menikah. Saya terpaksa melakukan penjegalan sebab situasi Magenta grup tengah krisis," tutur Hilmi lagi, pandangannya kini menunduk, dia menghela nafas berat nan panjang.
"Kan ada Kak Madha, Bibi juga di sana. Banyak orang pintar membantu kakek," elak Maghala. Dia masih ingat ucapan menyakitkan dari penghuni Magenta grup.
Hilmi menghela nafas. Dia tahu ini tak akan mudah, tuan mudanya memang sengaja menyingkir.
"Mohon Anda pertimbangkan tentang ini. Keberlangsungan hajat hidup karyawan ada di tangan Anda," pinta Hilmi lagi, kali ini dia menepuk jemari Ghala di atas stir masih dengan binar mata sayu.
Maghala memejam, menghembus nafas kasar seraya menekan pangkal alisnya. Dilema, dia tak akan meninggalkan Asha. Justru ingin menunjukkan pada keluarga Cyra bahwa dirinya lelaki berguna.
"Pulanglah dulu, akan aku pikirkan nanti. Jika ada kesempatan menyelinap pergi, aku akan pulang sejenak menemui kakek," sahut Maghala.
"Baik. Anda hanya perlu menekan tombol panggilan cepat pada ponsel. Semua akan siap dalam sekejap," pungkas Hilmi, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman samar. Sorot pandangan pun kini berbinar cerah.
Maghala mengangguk, lalu melanjutkan perjalanan menuju tujuan.
Tiada keributan di kediaman Cyra, mungkin para penghuni telah lelah hingga energinya habis meski sekedar melayangkan makian untuk menantu sampah mereka. Maghala tenang mengerjakan sesuatu di kamar dengan Asha.
Dia melihat istrinya lahap memakan anggur yang dia beli memakai kartu andalan miliknya. Sisa uang dari Adhisty hanya cukup untuk membeli setengah kilo peach. Senyum pun tersungging di bibir manis Maghala.
...***...
Keesokan pagi.
Maid mengatakan bahwa Maghala tak perlu membuat sarapan. Semua penghuni Cyra telah pergi sejak pagi buta keluar kota untuk urusan bisnis.
Merasa mendapat peluang menyelinap pergi, dia bergegas menyelesaikan semua pekerjaan rumah seperti biasanya. Maghala lalu menekan tombol panggilan cepat, sesuai instruksi Hilmi.
Dua jam kemudian.
"Asha, aku pergi sebentar ya. Dini hari in sya Allah telah kembali ke sini lagi. Kamu gak apa kan, ku tinggal sebentar?" kata Maghala pada Asha yang baru saja rapi.
"Semua kebutuhan kamu ada di sana, sudah aku siapkan," imbuhnya lagi, menunjuk ke arah meja sofa.
Asha melihat penampilan Maghala tak seperti biasanya. Dia sangat tampan, rapi dan wangi. Tanpa sadar, Asha mengangguk.
"Syukron, take care ya." Maghala keluar kamar, menitipkan Asha pada salah satu maid lalu meninggalkan kediaman Cyra.
Beberapa menit berikutnya. Tuan muda Magenta, tengah menuju titik temu guna terbang ke satu kota.
"Apa aku akan disambut baik di sana?" batin Maghala, risau.
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Budi Hermawan
ada kata2 Sukron..
magala itu aslinya orang arab ya...
2024-08-22
0
Datu Zahra
Astaga, bapaknya aja enggak tau siapa itu bayi, keluarga gila enggak punya malu. Enggak ikhlas mc dapet istri dan keluarga hina begitu
2024-06-10
1
Edy Sulaiman
Sultan nich Maghala mc kita..
2024-05-09
0