"Dia adalah ... pacarmu," tebak Maghala seraya terkekeh. Pernyataan bodoh, pikirnya.
Asha tetap bungkam. Tapi Maghala tak patah arang, Ashadiya adalah satu-satunya hiburan baginya. Menggoda sang istri yang tak pernah merespon merupakan tantangan tersendiri.
Setelah sarapan, Maghala mendorong kursi roda Asha menuju teras samping untuk berjemur sementara dirinya membersihkan bekas peralatan makan pagi ini.
Sebab kedatangan Maghala di rumah ini, membuat Alka memecat sebagian ART dan membebankan tugas mereka padanya. Beberapa maid yang tersisa acap kali merasa iba melihat sang menantu diperlakukan bak sampah.
"Den, sarapan dulu. Jangan sampai sakit, sebab kondisi lemah pun gak akan merubah tabiat nyonya," ucap salah satu maid saat Maghala mengerjakan semua tugas di dapur.
"Gak masalah Mbak-mbak, santuy. Toh aku terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Maklum, pedagang," kekeh Maghala, menghibur diri meski lelah jiwa raga.
Setelah dari dapur, dia lalu menuju kamar Adhisty, kemudian bilik Alka untuk mengganti seprei, selimut, gorden juga menggulung karpet kamar dan membawanya ke ruang cuci.
Kala melintas ruang tengah, Maghala meletakkan keranjang kotor lalu menarik kursi roda Asha dari teras samping, mendorongnya menuju ruang tengah untuk menonton televisi agar istrinya tak bosan.
"Aku sambil kerjakan yang lain ya, kalau kau butuh aku, goyangkan saja lonceng seperti biasanya, oke?" ujar Ghala sebelum meninggalkan Asha sendiri.
Menjelang Zuhur semua pekerjaan telah selesai. Ponselnya kini berdering, menampilkan sebuah nama di sana.
"Assalamualaikum, ya, Kak," sapa Maghala saat menjawab panggilan Alka.
"Ghala, bawakan aku map laporan yang tertinggal di meja ruang kerja. Map warna coklat, lekas," titah Alka di ujung sana.
"Baik, aku lihat dulu," jawab Maghala menuju ke ruang kerja kakak iparnya.
"Halo, ada gak? Ghala!" seru Alka, tak sabar.
"Gak ada Kak, di meja bersih. Aku buka laci pun kosong," sahut Maghala seraya merubah panggilan menjadi video call.
"Goblok banget sih! kalau gak ada di sana ya cari di kamar kek, meja makan, ruang keluarga atau kamar mama. Buruan napa!" sentak Alka lagi.
Menantu keluarga Cyra pun tergopoh menuju kamar Alka di lantai dua, memeriksa detail di sana, lalu beralih ke kamar mertuanya.
"Ghala, cepat! kuya!" teriak Alka gusar.
Maghala tak memedulikan makian Alka, dia tetap tenang mencari benda yang di maksud. "Ini bukan Kak?" tanyanya saat menemukan berkas yang di cari berada di meja rias Adhisty.
"Nah, iya. Lekas bawa kemari dalam sepuluh menit. Aku gak mau tahu!" bentak Alka seraya menutup panggilan sepihak.
Tut. Tut. Tut.
"Astaghfirullah. Ampun, ampun. Untungnya gak pada darah tinggi ya, emosi mulu." Maghala tertawa kecil.
"Kayak punya pintu Doraemon, sekejap tiba. Jakarta itu macet masbro, gak kayak di Saranjana," gumam Maghala bergegas menuruni tangga dan bersiap mengantar berkas ke kantor Cyra.
"Asha, aku pergi dulu antar ini ke Kak Alka, ya. Pulangnya sekalian belanja bulanan. Aku gak akan lama," kata Maghala saat melewati Asha yang di temani seorang maid.
Seperti biasa, wanita cantik itu hanya melirik sekilas lalu acuh kembali.
Lelaki tampan itu hanya mengganti kaosnya dan meraih jaket. Deru suara motor menandakan bahwa Maghala telah meninggalkan kediaman mewah keluarga Cyra.
...***...
Sesuai dugaan, dia terjebak kemacetan. Bukan Maghala jika tak memiliki solusi di saat genting.
"Untung motor ini boleh di bawa, coba kalau pakai mobil. Aku bisa di geprek saat tiba di kantor," gumam Ghala sembari menyelinap ke bahu jalanan yang lumayan longgar.
Dua puluh menit di butuhkan Maghala hingga sampai di kantor Alka. Namun, dia terlambat. Iparnya itu sudah memulai meeting. Maghala pun di antar oleh sekertaris Alka menuju ruang rapat.
Tok. Tok.
"Maaf, Pak. Berkas file nya tiba," kata sang sekretaris.
"Suruh masuk," sahut Alka menjeda jalannya presentasi oleh salah satu manager.
Maghala pun masuk ke ruangan itu. Menyerahkan berkas langsung ke tangan sang pimpinan.
"Lama amat! kamu laki tulen kan? kenapa lambannya mengalahkan nenekku yang berusia hampir tujuh puluh tahun," ejek Alka, menyeringai, ditujukan untuk adik iparnya.
"Tulen, Kak. Aku pamit, terima kasih," ujar Maghala tak ingin mengundang cibiran. Dia berbalik badan hendak keluar ruangan.
"Buru-buru amat sih, aku belum cek loh, ini benar atau tidak," ucap Alka lagi, sembari membuka ikatan map.
Maghala menghentikan langkah, lalu berdiri menepi ke sisi layar infocus.
"Dea, lain kali kalau dia datang ke sini, kamu langsung buka akses saja ke kantorku. Dia babu, biasa aku suruh-suruh, kok," ujar Alka lagi ke sekretarisnya.
Beberapa pasang mata menatap nanar pada sosok tampan di depan sana. Dea bahkan tersenyum miris, merasa malu atas perilaku pimpinannya.
Maghala tersenyum, lalu menunduk. Tiada hari tanpa ejekan dan hinaan yang dia terima dari keluarga ini.
"Mungkin keputusanku tepat, menikahi Asha meski awalnya terpaksa. Kasihan Asha, bakal makin depresi jika sikap mereka begini." Batin Maghala.
"Eh, Babu. Tampang doang ganteng, kerja lamban. Lain kali jangan terlambat begini. Sana pulang," cibir Alka lagi, seraya mengibaskan tangan mengusir Maghala yang langsung keluar ruangan.
...***...
Kadiaman Cyra.
Menantu Cyra tiba menjelang asar dengan membawa banyak barang belanjaan. Dia menaruh semua bawaannya di atas meja pantry, sebagian di lantai.
Maghala menjatuhkan diri duduk di depan kulkas, membuka salah satu pintunya dan meraih air dingin guna melepas dahaga.
"Alhamdulillah. Penat ya Robb, tapi mau gimana lagi, aku masih meraba peluang," gumam Maghala bergegas membereskan semua dan akan menuju kamar untuk membersihkan diri.
Setelah dia rapi, ingin bersantai sejenak menemani Asha sembari memijat kakinya, teriakan Alka yang baru pulang kerja, terdengar lagi.
"Ghalaaa!!!!!"
"Ya, Kak. Aku di sini," kata Maghala seraya mendorong kursi roda Asha keluar dari kamar.
"Nih, cuci mobil. Nanti malam aku pergi ke party. Jangan lupa mandikan Moly, dia mau ku bawa serta untuk di kawinkan dengan jenis yang sama. Cepat!" titah Alka melemparkan kunci dan menunjuk Moly di dalam kandang.
"Oh iya, satu lagi. Mulai malam ini, jika aku masih melihatmu ada di pinggir jalan dengan gerobak bodoh itu. Kakimu akan ku patahkan. Paham!" ancam Alka menunjuk tajam ke arah wajah adik iparnya.
Maghala menghela nafas panjang. Urusan sepele yang bisa dilakukan jasa cuci mobil di jalanan dan pet shop pun, harus tangan dia yang mengerjakan. Jalan usaha untuk memberi Asha nafkah, kini kandas juga.
"Sabar ya, Asha, pijatanmu tertunda," kekeh Maghala, meninggalkan Asha di ruang keluarga. Setelah memastikan istrinya nyaman, dia menuju garasi dengan membawa kandang kucing kesayangan Alka.
Tepat azan Maghrib, tugas dadakan bagai tahu bulat, selesai. Pekerjaan akhir akan dia jelang setelah salat nanti, membuat menu makan malam.
Deru mobil Alka menjauh, berganti dengan milik Adhisty yang baru tiba di hunian. Dia langsung mengecek semua pekerjaan menantunya itu.
"Ghalaaa, siapkan makan malam," seru sang mertua, mengetuk pintu kamar sambil lalu dan terus berjalan menaiki tangga.
"Sudah, Ma. Silakan," balas Ghala di ambang pintu kamar, menunjuk ke arah ruang makan.
Lelaki taat itu hendak menghampar sajadah, saat suara melengking Adhisty kembali terdengar.
Brak! pintu kamar di buka paksa Adhisty.
"Ghala! yang benar saja, menu begitu kamu sajikan untukku?" sentaknya marah, hingga mata sipit Adhisty membola. "Buatkan steak, mashed potatoes dan salad. Semua harus siap setelah aku selesai mandi," imbuhnya lagi, setelah menunjuk tajam ke arah meja makan lalu dia melenggang pergi.
Maghala menengadah, melepas hembusan nafas ke udara saat hendak melanjutkan ibadahnya. Dia menoleh ke arah Asha yang hanya diam.
"Salat dulu yuk. Setelah ini, kita makan. Asha, aku akan mencari alternatif usaha lain untuk memenuhi kebutuhanmu," tutur Ghala lembut mengusap kepala Asha yang memakai mukena.
Waktu bergulir cepat, semua pekerjaan Maghala telah selesai. Mendekati tengah malam, suasana kediaman Cyra terasa sangat sunyi. Namun, seorang pria masih terlihat sibuk memainkan ponselnya duduk di sofa kamar seakan mencari sesuatu di sana.
"Nah, dapat." Sorot mata Maghala berbinar.
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Datu Zahra
Anak dan adik hamil diluar nikah, enggak malu malah menjadi orang lain tumbal dan dihina. Cewek hamilnya juga enggak tau malu, udah punya aib sok suci dan angkuh. Aneh manusia
2024-06-10
1
Edy Sulaiman
apakah ada kehidupan menantu spt mc kita ini didunia nyata...
2024-05-09
0
Sulaiman Efendy
INI MAGHALA KOQ SABAR BENAR JDI MANUSIA, APA MAGHALA NI GK BSA DUEL, DIANCAM KOQ TAKUT...
2023-08-01
2