Maghala melihat lewat ekor mata, jika Asha memperhatikan dirinya dari balik selimut. Dia pun mengulas senyum.
Satu jam Maghala habiskan untuk membuat video unboxing semua produk sample yang dia punya. Mengunggah ke akun jualan lalu menyiapkan konsep konten esok pagi. Tak lupa, Ghala menyempatkan diri untuk membalas beberapa pesan masuk di ponselnya sebelum tidur.
Asha masih belum memejam meskipun kelopak matanya terasa sangat berat. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas tepat, waktu paling lama dia terjaga di malam hari. Putri bungsu Adhisty masih penasaran dengan apa yang di lakukan Ghala.
Maghala menyadari istrinya belum tidur, dia khawatir Asha sedang kesakitan pada luka bekas operasi atau janinnya tak dapat di ajak kompromi.
Dengan langkah gontai, wajah lelah dan mata sayu tanda kantuk menyergap, Maghala menghampiri ranjang Asha.
"Kok belum tidur? ada yang sakit? atau lapar?" tanya Ghala, mulut Asha bak memiliki kunci. Jika bukan dia yang memulai, maka Asha takkan mengatakan apapun.
Seperti biasa, Asha hanya menggeleng. Dia menarik selimutnya hingga batas leher lalu berbaring miring, memunggungi Ghala.
"Sini, aku balur ya, biar kakimu hangat," kata Ghala.
Lelaki sabar itu meraih minyak gosok pada rak obat di atas meja nakas lalu menyingkap selimut dan membubuhkan di telapak kaki Asha.
"Dia sangat peka," batin Asha, menyimpul sebuah senyuman rahasia.
Setelah memastikan pendingin udara bersuhu sedang, selimut Asha rapat menutup tubuhnya, Maghala kembali ke sofa. Tak sampai lima menit, Ghala sudah menjelajah alam mimpi.
Aktivitas siang yang menguras tenaga, sedangkan malam menyita kerja keras di otaknya membuat jam tidur Maghala kacau. Sebab serentetan pekerjaan beda dunia inilah, bobot tubuhnya menurun drastis.
Sarapan pagi Maghala kali ini adalah julukan baru Alka yang mulai di sematkan padanya.
"Pagi, Bebegig sawah. Makin mirip aja kamu," kekeh Alka sembari manarik kursi di meja makan. Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk senyuman mengejek.
"Kumplit banget ya, benalu, babu, pengangguran, sekarang setan sawah," timpal Adhisty, tertawa riang. Dia sampai mengebrak meja beberapa kali tanda bahwa setuju dengan Alka.
Maghala tak mempunyai energi untuk meladeni dua penghuni yang kerap memancing emosinya, sudah hafal kebiasaan mereka. Dia memilih diam dan meninggalkan ruang makan menuju kamar. Dia harus pandai mengatur waktu agar semua pekerjaan dapat diselesaikan sesuai tenggat. Maghala ingin apa yang dia kerjakan saat ini efektif dan efisien.
Setelah kepergian anggota keluarga Cyra, Ghala sigap membersihkan semua kekacauan pagi. Melakukan pekerjaan rumah yang menumpuk seperti biasanya.
Asha tak lagi bernafsu keluar kamar jika Ghala sudah masuk kembali ke bilik mereka. Apa yang dilakukan pria itu di sofa lebih menarik perhatiannya dibandingkan dengan suasana di luar meski hunian Cyra amat luas.
"Asha, mau keluar gak? tapi aku gak bisa nemenin lama," ujar Ghala, berjongkok di depan kursi roda Asha menawarkan berjalan pagi di sekitar Mansion.
"Enggak," lirih Asha menunduk, dia segan di tatap oleh manik mata teduh milik pria di hadapan.
"Aku ambilkan buah mau? jus? Snack?" tawar Ghala sebelum dia berkutat mencuri waktu membuat konten.
Asha mengangguk, tangan kanannya dia naikkan ke atas, lalu menunjuk ke arah pintu sebagai tanda dia ingin ikut dengan Maghala ke dapur.
"Come on, kita ke dapur ambil ransum," kekeh Ghala mendorong kursi roda Asha bagai tengah bermain dengan bocah usia dini.
Tak lama, keduanya kembali dengan membawa banyak makanan dan buah. "Jangan takut kehabisan, nanti aku beli lagi. Adek bayi harus banyak nutrisi, kamu juga," kata Ghala seraya mendorong kursi roda Asha ke sisi ranjang.
"Itu," tunjuk Asha ke arah sofa yang jarang dia sambangi semenjak di tempati oleh Ghala.
"Mau lihat aku kerja?" tanya Ghala memastikan, sebab tak biasanya Asha meminta hal demikian.
Wanita ayu itu mengangguk. Maghala mendorong Asha menuju ke sana. Dia pun duduk, meraih map coklat yang dia selipkan di bawah kursi.
Tak ada lagi obrolan, Ghala asik meneliti berkas, menyambungkan ponselnya dengan headset agar lebih fokus mendengarkan suara Hilmi di kejauhan.
"Bocornya di sini, purchase fiktif yang dilakukan bibi. Juga cocok dengan mutasi asing meski selisihnya tipis. Selain itu, akun kakak bertambah, tolong di selidiki lagi agar betul valid," kata Maghala berbicara sembari banyak melingkari temuan yang mencurigakan.
"Baik, tuan muda. Apa yang Anda curigai sama persis dengan milik saya," imbuh sang asisten.
"Nanti malam kita lanjutkan lagi. Aku harus mengerjakan sesuatu," timpal Ghala, merasa Asha memperhatikan sejak dia bicara tadi.
"Baik," suara Hilmi terdengar kala headset terlepas dari ponsel Ghala.
Kesempatan ini pun digunakan oleh Maghala untuk meminta izin dari Asha menggunakan laptop yang teronggok di atas meja rias.
Tuan muda Magenta, memberikan senyum manis untuk istrinya. "Asha, aku boleh pinjam laptop kamu yang itu?" tanya Ghala menunjuk ke arah meja rias.
Asha mengikuti arah pandang Ghala, dia lalu mengangguk beberapa kali.
Merasa harus menjelaskan agar Asha tidak salah arti, Ghala mengatakan nanti malam dia harus menyelidiki sebuah laporan keuangan, tugas dari seseorang yang amat dia sayangi.
Lagi-lagi, Asha hanya mengangguk. Dia lalu fokus menghabiskan makanan sementara Ghala keluar kamar untuk mengerjakan tugas selanjutnya.
"Aku tinggal gak apa ya, bunyikan lonceng jika kau butuh sesuatu," ucap Maghala sebelum keluar kamar.
Tepat azan Maghrib, lelaki tangguh itu membawa baki berisi makanan untuk Asha dan dirinya. Dia meminimalisir interaksi malam hari dengan keluarga Cyra, toh mereka pun akan langsung masuk kamar setelah dinner.
Sejak bada isya, Maghala mulai membuka laptop Asha, menanyakan sandi WiFi kediaman Cyra dan mulai menjelajah. Ingatannya kembali pada profile Alka juga rencana sang kakak ipar yang dia dengar beberapa waktu lalu.
"Oke, kita lanjutkan dulu mumpung Hilmi belum online," ucap Ghala, sembari melirik ke ranjang Asha.
Jemari Maghala lincah membuat satu kode, berusaha mengenali sandi akun Alka sehingga dapat meretas dengan leluasa. Hanya hitungan menit, senyum Ghala kembali terbit, dia kini tengah memandang deretan informasi tentang sang kakak ipar.
"Maha benar Alka dengan segala sikapnya," kekeh Ghala seakan menemukan harta. Sorot matanya memancarkan binar kebahagiaan.
"Ini toh. Ckck, tega ya, kalian sama saja saling suap menyuap. Magenta dan Cyra," keluh Maghala.
Asha yang memperlihatkan dari jauh amat penasaran sehingga dia gelisah di atas ranjang. Tanpa sadar, Ashadiya terlalu lebar bergulir hingga ke sisi tempat tidur.
"Asha!" seru Ghala, berlari secepat yang dia bisa, kala istrinya hampir jatuh akibat berguling ke sana sini.
"Panggil aku, jangan diam saja jika kau ingin mengutarakan sesuatu," imbuhnya sambil membopong tubuh Asha ke tengah ranjang.
"Maaf jika semua kelalaian ku menyebabkan kamu seperti ini. Aku tahu, maaf tak membalikkan keadaan, tapi tolong jangan buat aku makin merasa bersalah ya," tuturnya panjang.
Jika Alka banyak mengeluarkan sejumlah uang ke berbagai rekening, diduga untuk para wanita. Maka dia, mengenali watak Asha sebagai putri keluarga Cyra yang terabaikan. Adhisty bahkan tak bertanya lagi tentang kondisi pengobatan putrinya.
"Maaf, jika aku belum sepenuhnya mengerti dirimu, ya. Maafkan aku, Asha," ucap Ghala menatap Asha sendu sebab rasa bersalah itu masih bercokol di hatinya.
Asha bingung, bukan ini maksud kegelisahan yang mendera. Ingin berkata tidak akan tetapi dia selalu saja terkunci oleh tatapan teduh Ghala.
"Bukan itu, Ghala. Aku cuma mau...."
.
.
...____________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
MAU APA,, BICARA ASHA....
2023-08-01
1
Imam Sutoto Suro
buseeet mantap dah thor lanjutkan
2023-05-14
2
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Mau apa,,,, 🤔 ish mom suka banget ngegantung, 🤭😁
2023-04-22
1