BAB 17. MANISNYA PAGI

Hingga azan Zuhur, Hilmi masih gelisah. Dokter memang sudah memberikan banyak upaya medis dan tuan mudanya sudah lebih tenang di banding beberapa jam tadi.

Terdapat tumpukan kain basah di sekitar Maghala, juga baju yang kian terbuka. Tubuhnya lembab, infus pun terpasang di tangan. Dokter juga mengatakan sudah memberikan obat pereda efek samping dalam cairan tersebut. Dia meminta Hilmi agar membantu Maghala untuk banyak minum terutama air kelapa muda.

"Terima kasih, Dokter," ucap Hilmi saat tenaga medis keluar dari ruangan.

Asisten Janu menatap iba pada sosok nan lemah di atas brangkar. Tuan muda Magenta kini telah berpindah ke kamar perawatan. Hilmi pun duduk di sisi ranjang lelaki lemah itu.

Dia tahu Maghala banyak mengalah selama ini bahkan di keluarga Cyra pun dirinya tetap sabar meski di perlakukan seenaknya.

Menjelang asar, Maghala sadar. Meski masih tidak dapat membuka matanya secara penuh, Ghala sudah dapat berkomunikasi.

"Hilmi, dimana ini? kepalaku sangat sakit," gumam Ghala, meringis menahan nyeri hingga keningnya berkerut.

"Rumah sakit, Tuan muda. Anda terkena efek obat panas nan haram. Hampir saja berzina dalam keadaan setengah waras," tutur Hilmi pelan.

Maghala memejamkan mata rapat, jemari kanan mengepal geram. Butir bening pun jatuh, dia hampir melakukan dosa besar akibat kecerobohannya.

"Hilmi, aku ingat semuanya. Air minum yang ku ambil dari atas meja dan meneguknya hingga tandas di kamar Asha. Innalilahi, ulah siapa ini? apakah Sade atau mama?" lirih Maghala, menahan sesak. Dadanya bergerak turun naik secara cepat.

"Keduanya, kurasa. Anda harus waspada terhadap pria itu. Tuan muda ketiga Sadana Grup di kenal seorang Casanova," beber Hilmi.

Maghala diam. Dia mengingat perkataan lelaki itu tentang jabang bayi yang di kandung Asha. Mungkinkah itu benar? jika iya, maka semua ini saling terikat benang merah.

"Jangan beritahu kakek ya tentang kondisiku di sini. Aku tak mau beliau kembali tertekan. Bilang saja jika aku tidak enak badan," lirih Maghala lagi.

Dia masih merasakan rasa panas menjalar hingga timbul mual di sertai sakit kepala hebat. Ghala meminta Hilmi memapah ke kamar mandi.

Lelaki saleh itu berusaha memuntahkan isi perutnya dengan meminum banyak air dalam waktu cepat. Upayanya berhasil, meski lemas mendera juga denyutan kian hebat di kepala hingga Ghala merasa tak menapak bumi.

"Tuan muda!" seru Hilmi, menangkap tubuh Maghala yang hampir jatuh. Dia lalu memapah menuju brangkar.

"Baiknya Anda istirahat dahulu. Semoga malam nanti sakit kepalanya telah berkurang," sambung Hilmi setelah membantu Maghala berbaring.

"Salat dulu, tadi melewatkan waktu Zuhur. Tolong, jaga Asha selama aku tak ada di sana. Hilmi, tolong," gumam Ghala sebelum memulai ibadahnya.

Hilmi menepi, membiarkan tuan mudanya salat sementara dia menghubungi maid mata-mata di kediaman Cyra.

...***...

Sementara di hunian Cyra.

Setelah kepergian terapis, Asha meminta Denok agar tak meninggalkan dirinya sendirian di kamar. Sang maid pun mengikuti kemauan majikan wanitanya.

Asha melakukan salat asar sendiri seraya terus melihat ke arah jendela dan pintu. Dia gelisah. Tidak biasanya Ghala pergi dalam waktu lama tanpa kabar. Ashadiya cemas, terlebih kala petang mulai datang.

"Tolong tutup pintu pakai palang itu ya, Denok. Jangan membukanya selain suara suamiku yang meminta akses," pesan Asha, dia berkali melihat ponsel berharap Ghala sudah menyimpan nomer kontaknya kemudian memberi kabar.

"Baik, Non. Anda mau makan? Den Ghala sudah siapkan. Dia akan baik saja kok, pasti kembali malam ini," tutur Denok menenangkan.

Ashadiya mengangguk, dia menahan lapar bermaksud menunggu suaminya kembali akan tetapi sosok itu tak jua muncul membuat cacing dalam lambung meronta bagai demo mahasiswa.

Tiba-tiba. Dug. Dug. Dug.

"Ghala, makan malam gue mana!" suara Alka menggedor pintu kencang.

Asha melarang maid berkata apapun, dia mengikuti sikap Ghala, mengabaikan teriakan Kakak dan ibunya.

Tanpa terasa waktu berjalan, tepat pukul satu dini hari, pintu kamar Asha di ketuk pelan.

"Asha, Asha!" lirih Maghala. Dia di papah Hilmi. Memaksa pulang sebab cemas dengan Ashadiya.

Maid membuka panel, Asha yang memang masih terjaga sontak memekik tertahan melihat penampilan suaminya.

Maghala melangkah gontai menuju sofa, tanpa bantuan Hilmi agar Asha tidak iba kala melihatnya. Namun, apa daya, tenaganya habis. Ghala tersungkur tepat saat menyentuh tempat dia biasa berbaring.

"Ghala!" seru Asha dari atas ranjang. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Nona, maaf, beliau di celakai seseorang sehingga baru kembali. Motor beliau sudah di garasi, selamat istirahat," kata Hilmi, undur diri setelah merapikan posisi Maghala. Dia menyamar memakai seragam salah satu pelayan di rumah Cyra.

Ashadiya panik, dia susah payah meraih kursi rodanya. Mengingat cara Ghala saat mengajari dirinya untuk mandiri. "Ghala, Ghalaaa!" ucapnya menahan isak.

Prang. Suara kap lampu tidur, jatuh sebab tersenggol bahu kala lengan Asha mencari penahan untuk menopang diri pada meja nakas.

"Alhamdulillah," gumam Asha, terengah setelah berhasil duduk di kursi rodanya. Dia langsung menuju pintu, menarik kursi untuk menahan handlenya.

Setelah itu, Asha mendekat ke arah Ghala. Ragu-ragu saat akan menyentuh dahinya. Keringat sebesar jagung muncul di sana. Asha menduga, Maghala demam.

"Panas sekali, Ghala, kamu kenapa?" isakan itu kian jelas.

Ashadiya lalu menuju bathroom, menarik banyak handuk lalu membasahi dengan air hangat untuk di kompres ke dahi sang suami. Dia melakukan itu berkali, membuka kancing kemeja Maghala, lalu mengusap pelan dengan kain lembab nan hangat di sana.

Wanita ayu itu meraih selimut guna menutupi tubuh suaminya. Tak lupa menyalakan humidifier agar sirkulasi udara juga pernafasan Maghala lancar. Asha lalu menangisi sosok tegar di hadapan, meski tak henti beristighfar.

"Kamu kenapa? jangan sakit, Ghala," tangisan Asha menyertai sepanjang malam.

Dalam alam bawah sadar. Maghala tengah tertidur lelap di atas tumpukan dedaunan. Sinar mentari hangat menerpa tubuhnya, perlahan, dia melihat sosok ayu membelakangi arah cahaya. Wajah itu kian jelas terlihat kini, dia tersenyum ke arahnya. "Kuatlah untukku ya, Mas."

Beberapa jam berlalu, fajar pun menggantikan Dewi Malam. Maghala perlahan membuka matanya. Dia melihat wajah ayu dalam mimpi kini duduk di atas kursi roda disampingnya, menunduk dalam seraya memegang tasbih.

Tubuhnya terasa hangat sebab selimut menutup rapat hingga dada. Dahi pun terasa sedikit berat dan lembab. Maghala menarik benda dari atas keningnya lalu melirik ke lantai, banyak handuk basah dalam wadah di sana.

"Kau merawatku, Sayang?" gumam Ghala, tersenyum samar meski sesekali memejam.

Maghala meraih kursi roda Asha dan menariknya mendekat. Dia lalu menggenggam tangan Asha dan membawa menuju bibir untuk di kecup.

Tubuh Asha merespon, perlahan mata cantik itu terbuka. Sorot matanya berbinar.

"Alhamdulillah, masih sakit? yang mana? mau minum?" tanya Asha beruntun, dia lupa bahwa selama ini irit bicara.

Maghala hanya tersenyum melihat perubahan istrinya pagi ini. "Syukron jiddan, Humaira ya Azizati," lirih Ghala tak lepas memandang wajah ayu.

"Apa artinya," cicit Asha menunduk malu di tatap intens dengan senyum menawan Ghala.

"Makasih banget, kesayanganku yang memiliki pipi merona," balas Ghala mengecup jemari Asha yang masih dia genggam.

Ashadiya tak dapat menyembunyikan malu. Dia menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan kiri sebab Ghala menahan jemari yang lain.

Maghala terkekeh atas sikap Asha yang menggemaskan baginya pagi ini. "Maaf ya, membuatmu menunggu dan cemas, aku gak mampu meski sekedar menekan angka pada ponsel. Kamu, baik saja kan?" tanya Maghala masih menahan jemari Asha di atas dadanya.

"Ehm, Alhamdulillah baik. Di temani Denok semalaman sampai kamu tiba. Kamu kenapa? ada yang jahat ya?," ujar Asha polos. "Eh," imbuhnya lagi menyadari sesuatu.

Ghala tertawa kecil, Asha telah banyak bicara dengannya. Wajah ayu itu kembali menunduk.

"Iya. Kamu mau tahu penyebabnya?" tanya Ghala, diangguki antusias oleh Asha. "Nanti aku ceritakan."

Pagi yang damai, indah dan manis mengawali kedekatan keduanya setelah banyak peristiwa mendera.

.

.

...____________________...

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

ITU SADE HRS DIBERI PELAJARAN, HERANNYA ADHISTY KMN OTAKNYA, SEBAGAI IBU GK ADA HATI, PRASAAN & OTAKNYA..

2023-08-01

1

Imam Sutoto Suro

Imam Sutoto Suro

beneran super duper novel lanjutkan thor

2023-05-15

1

Fia Maziyya

Fia Maziyya

tak ada kesabaran yang sia sia, salut banget dengan karakter ghala, sulit mencari laki-laki yang seperti ghala di dunia ini, yang mampu menerima seorang wanita yang sudah tertanam benih orang lain, untuk urusan karakter kak Qive gak ada lawan, selalu the best dan mengagumkan😘😘😘

2023-04-28

3

lihat semua
Episodes
1 BAB 1. TERPAKSA DEMI ASHA
2 BAB 2. HARGA DIRI MUSNAH
3 BAB 3. DITEMUKAN
4 BAB 4. MENEMUI JANU
5 BAB 5. MISI DARI JANU
6 BAB 6. MIMPI BURUK
7 BAB 7. RAHASIA ALKA
8 BAB 8. USAHA MAGHALA
9 BAB 9. MENGENALI WATAK CYRA
10 BAB 10. KETAKUTAN ASHA
11 BAB 11. BOOSTER
12 BAB 12. KECURIGAAN ADHISTY
13 BAB 13. TUNTUTAN
14 BAB 14. CURHAT
15 BAB 15. UPAYA SADE
16 BAB 16. PETAKA
17 BAB 17. MANISNYA PAGI
18 BAB 18. MURKA JANU
19 BAB 19. KISAH SURAM
20 BAB 20. TUDUHAN ADHISTY
21 BAB 21. KODE DARI GHALA
22 BAB 22. KECEMASAN
23 BAB 23. BANTUAN
24 BAB 24. PATRIANUSA
25 BAB 25. SAMA PENTING
26 BAB 26. HEART TO HEART
27 BAB 27. ANGGUN DIAZAE
28 BAB 28. TEMUAN
29 BAB 29. PHOBIA
30 BAB 30. SIASAT
31 BAB 31. RAHASIA ASHADIYA
32 BAB 32. JEBAKAN GHALA
33 BAB 33. IDENTITAS GHALA
34 BAB 34. DILEMA
35 BAB 35. BERUBAH ALIRAN MELUKIS
36 BAB 36. KRITIS
37 BAB 37. KEJUJURAN
38 BAB 38. KEJUJURAN (2)
39 BAB 39. MULAI TERBUKA
40 BAB 40. JUNGKIR BALIK
41 BAB 41. ITS ME
42 BAB 42. SANG MENANTU
43 BAB 43. PENEGASAN
44 BAB 44. AISEL ALMAAS
45 BAB 45. MADAHARSA TUMBANG
46 BAB 46. RAHASIA DARI MADA
47 BAB 47. SEBELUM GEBRAK MEJA
48 BAB 48. MAHARANI DWIPA
49 BAB 49. MENGURAI KISRUH SANG CEO
50 BAB 50. JELANG MEETING ESOK
51 BAB 51. HIBAH
52 BAB 52. ADIL
53 BAB 53. MY OWN HUMAIRA
54 BAB 54. MOMENT BAHAGIA
55 BAB 55. MISI BARU GHALA
56 BAB 56. DEMI SANG NYONYA SAKHA
57 BAB 57. UPAYA
58 BAB 58. PREPARE SEGALANYA
59 BAB 59. DEBUT
60 BAB 60. READY FOR BATTLE
61 BAB 61. ULAH SI ANU
62 BAB 62. DI AKUI ADHISTY
63 BAB 63. TANTANGAN
64 BAB 64. SETERU
65 BAB 65. AKHIR DARI LAYLA
66 BAB 66. TERSANGKA
67 BAB 67. DHUAR
68 BAB 68. PENSIUN
69 BAB 69. NEW DAY
70 BAB 70. KEINGINAN ADHISTY
71 BAB 71. PENGUKUHAN
72 BAB 72. KALUT
73 BAB 73. NGAJI RASA
74 BAB 74. VONIS
75 BAB 75. TUNAI
76 BAB 76. SYUKUR
77 BAB 77. PENGEMBALIAN
78 BAB 78. ALMOST
79 BAB 79. AKUISISI
80 BAB 80. HAPPINESS
81 BAB 81. DAMAI
Episodes

Updated 81 Episodes

1
BAB 1. TERPAKSA DEMI ASHA
2
BAB 2. HARGA DIRI MUSNAH
3
BAB 3. DITEMUKAN
4
BAB 4. MENEMUI JANU
5
BAB 5. MISI DARI JANU
6
BAB 6. MIMPI BURUK
7
BAB 7. RAHASIA ALKA
8
BAB 8. USAHA MAGHALA
9
BAB 9. MENGENALI WATAK CYRA
10
BAB 10. KETAKUTAN ASHA
11
BAB 11. BOOSTER
12
BAB 12. KECURIGAAN ADHISTY
13
BAB 13. TUNTUTAN
14
BAB 14. CURHAT
15
BAB 15. UPAYA SADE
16
BAB 16. PETAKA
17
BAB 17. MANISNYA PAGI
18
BAB 18. MURKA JANU
19
BAB 19. KISAH SURAM
20
BAB 20. TUDUHAN ADHISTY
21
BAB 21. KODE DARI GHALA
22
BAB 22. KECEMASAN
23
BAB 23. BANTUAN
24
BAB 24. PATRIANUSA
25
BAB 25. SAMA PENTING
26
BAB 26. HEART TO HEART
27
BAB 27. ANGGUN DIAZAE
28
BAB 28. TEMUAN
29
BAB 29. PHOBIA
30
BAB 30. SIASAT
31
BAB 31. RAHASIA ASHADIYA
32
BAB 32. JEBAKAN GHALA
33
BAB 33. IDENTITAS GHALA
34
BAB 34. DILEMA
35
BAB 35. BERUBAH ALIRAN MELUKIS
36
BAB 36. KRITIS
37
BAB 37. KEJUJURAN
38
BAB 38. KEJUJURAN (2)
39
BAB 39. MULAI TERBUKA
40
BAB 40. JUNGKIR BALIK
41
BAB 41. ITS ME
42
BAB 42. SANG MENANTU
43
BAB 43. PENEGASAN
44
BAB 44. AISEL ALMAAS
45
BAB 45. MADAHARSA TUMBANG
46
BAB 46. RAHASIA DARI MADA
47
BAB 47. SEBELUM GEBRAK MEJA
48
BAB 48. MAHARANI DWIPA
49
BAB 49. MENGURAI KISRUH SANG CEO
50
BAB 50. JELANG MEETING ESOK
51
BAB 51. HIBAH
52
BAB 52. ADIL
53
BAB 53. MY OWN HUMAIRA
54
BAB 54. MOMENT BAHAGIA
55
BAB 55. MISI BARU GHALA
56
BAB 56. DEMI SANG NYONYA SAKHA
57
BAB 57. UPAYA
58
BAB 58. PREPARE SEGALANYA
59
BAB 59. DEBUT
60
BAB 60. READY FOR BATTLE
61
BAB 61. ULAH SI ANU
62
BAB 62. DI AKUI ADHISTY
63
BAB 63. TANTANGAN
64
BAB 64. SETERU
65
BAB 65. AKHIR DARI LAYLA
66
BAB 66. TERSANGKA
67
BAB 67. DHUAR
68
BAB 68. PENSIUN
69
BAB 69. NEW DAY
70
BAB 70. KEINGINAN ADHISTY
71
BAB 71. PENGUKUHAN
72
BAB 72. KALUT
73
BAB 73. NGAJI RASA
74
BAB 74. VONIS
75
BAB 75. TUNAI
76
BAB 76. SYUKUR
77
BAB 77. PENGEMBALIAN
78
BAB 78. ALMOST
79
BAB 79. AKUISISI
80
BAB 80. HAPPINESS
81
BAB 81. DAMAI

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!