Hingga azan Zuhur, Hilmi masih gelisah. Dokter memang sudah memberikan banyak upaya medis dan tuan mudanya sudah lebih tenang di banding beberapa jam tadi.
Terdapat tumpukan kain basah di sekitar Maghala, juga baju yang kian terbuka. Tubuhnya lembab, infus pun terpasang di tangan. Dokter juga mengatakan sudah memberikan obat pereda efek samping dalam cairan tersebut. Dia meminta Hilmi agar membantu Maghala untuk banyak minum terutama air kelapa muda.
"Terima kasih, Dokter," ucap Hilmi saat tenaga medis keluar dari ruangan.
Asisten Janu menatap iba pada sosok nan lemah di atas brangkar. Tuan muda Magenta kini telah berpindah ke kamar perawatan. Hilmi pun duduk di sisi ranjang lelaki lemah itu.
Dia tahu Maghala banyak mengalah selama ini bahkan di keluarga Cyra pun dirinya tetap sabar meski di perlakukan seenaknya.
Menjelang asar, Maghala sadar. Meski masih tidak dapat membuka matanya secara penuh, Ghala sudah dapat berkomunikasi.
"Hilmi, dimana ini? kepalaku sangat sakit," gumam Ghala, meringis menahan nyeri hingga keningnya berkerut.
"Rumah sakit, Tuan muda. Anda terkena efek obat panas nan haram. Hampir saja berzina dalam keadaan setengah waras," tutur Hilmi pelan.
Maghala memejamkan mata rapat, jemari kanan mengepal geram. Butir bening pun jatuh, dia hampir melakukan dosa besar akibat kecerobohannya.
"Hilmi, aku ingat semuanya. Air minum yang ku ambil dari atas meja dan meneguknya hingga tandas di kamar Asha. Innalilahi, ulah siapa ini? apakah Sade atau mama?" lirih Maghala, menahan sesak. Dadanya bergerak turun naik secara cepat.
"Keduanya, kurasa. Anda harus waspada terhadap pria itu. Tuan muda ketiga Sadana Grup di kenal seorang Casanova," beber Hilmi.
Maghala diam. Dia mengingat perkataan lelaki itu tentang jabang bayi yang di kandung Asha. Mungkinkah itu benar? jika iya, maka semua ini saling terikat benang merah.
"Jangan beritahu kakek ya tentang kondisiku di sini. Aku tak mau beliau kembali tertekan. Bilang saja jika aku tidak enak badan," lirih Maghala lagi.
Dia masih merasakan rasa panas menjalar hingga timbul mual di sertai sakit kepala hebat. Ghala meminta Hilmi memapah ke kamar mandi.
Lelaki saleh itu berusaha memuntahkan isi perutnya dengan meminum banyak air dalam waktu cepat. Upayanya berhasil, meski lemas mendera juga denyutan kian hebat di kepala hingga Ghala merasa tak menapak bumi.
"Tuan muda!" seru Hilmi, menangkap tubuh Maghala yang hampir jatuh. Dia lalu memapah menuju brangkar.
"Baiknya Anda istirahat dahulu. Semoga malam nanti sakit kepalanya telah berkurang," sambung Hilmi setelah membantu Maghala berbaring.
"Salat dulu, tadi melewatkan waktu Zuhur. Tolong, jaga Asha selama aku tak ada di sana. Hilmi, tolong," gumam Ghala sebelum memulai ibadahnya.
Hilmi menepi, membiarkan tuan mudanya salat sementara dia menghubungi maid mata-mata di kediaman Cyra.
...***...
Sementara di hunian Cyra.
Setelah kepergian terapis, Asha meminta Denok agar tak meninggalkan dirinya sendirian di kamar. Sang maid pun mengikuti kemauan majikan wanitanya.
Asha melakukan salat asar sendiri seraya terus melihat ke arah jendela dan pintu. Dia gelisah. Tidak biasanya Ghala pergi dalam waktu lama tanpa kabar. Ashadiya cemas, terlebih kala petang mulai datang.
"Tolong tutup pintu pakai palang itu ya, Denok. Jangan membukanya selain suara suamiku yang meminta akses," pesan Asha, dia berkali melihat ponsel berharap Ghala sudah menyimpan nomer kontaknya kemudian memberi kabar.
"Baik, Non. Anda mau makan? Den Ghala sudah siapkan. Dia akan baik saja kok, pasti kembali malam ini," tutur Denok menenangkan.
Ashadiya mengangguk, dia menahan lapar bermaksud menunggu suaminya kembali akan tetapi sosok itu tak jua muncul membuat cacing dalam lambung meronta bagai demo mahasiswa.
Tiba-tiba. Dug. Dug. Dug.
"Ghala, makan malam gue mana!" suara Alka menggedor pintu kencang.
Asha melarang maid berkata apapun, dia mengikuti sikap Ghala, mengabaikan teriakan Kakak dan ibunya.
Tanpa terasa waktu berjalan, tepat pukul satu dini hari, pintu kamar Asha di ketuk pelan.
"Asha, Asha!" lirih Maghala. Dia di papah Hilmi. Memaksa pulang sebab cemas dengan Ashadiya.
Maid membuka panel, Asha yang memang masih terjaga sontak memekik tertahan melihat penampilan suaminya.
Maghala melangkah gontai menuju sofa, tanpa bantuan Hilmi agar Asha tidak iba kala melihatnya. Namun, apa daya, tenaganya habis. Ghala tersungkur tepat saat menyentuh tempat dia biasa berbaring.
"Ghala!" seru Asha dari atas ranjang. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Nona, maaf, beliau di celakai seseorang sehingga baru kembali. Motor beliau sudah di garasi, selamat istirahat," kata Hilmi, undur diri setelah merapikan posisi Maghala. Dia menyamar memakai seragam salah satu pelayan di rumah Cyra.
Ashadiya panik, dia susah payah meraih kursi rodanya. Mengingat cara Ghala saat mengajari dirinya untuk mandiri. "Ghala, Ghalaaa!" ucapnya menahan isak.
Prang. Suara kap lampu tidur, jatuh sebab tersenggol bahu kala lengan Asha mencari penahan untuk menopang diri pada meja nakas.
"Alhamdulillah," gumam Asha, terengah setelah berhasil duduk di kursi rodanya. Dia langsung menuju pintu, menarik kursi untuk menahan handlenya.
Setelah itu, Asha mendekat ke arah Ghala. Ragu-ragu saat akan menyentuh dahinya. Keringat sebesar jagung muncul di sana. Asha menduga, Maghala demam.
"Panas sekali, Ghala, kamu kenapa?" isakan itu kian jelas.
Ashadiya lalu menuju bathroom, menarik banyak handuk lalu membasahi dengan air hangat untuk di kompres ke dahi sang suami. Dia melakukan itu berkali, membuka kancing kemeja Maghala, lalu mengusap pelan dengan kain lembab nan hangat di sana.
Wanita ayu itu meraih selimut guna menutupi tubuh suaminya. Tak lupa menyalakan humidifier agar sirkulasi udara juga pernafasan Maghala lancar. Asha lalu menangisi sosok tegar di hadapan, meski tak henti beristighfar.
"Kamu kenapa? jangan sakit, Ghala," tangisan Asha menyertai sepanjang malam.
Dalam alam bawah sadar. Maghala tengah tertidur lelap di atas tumpukan dedaunan. Sinar mentari hangat menerpa tubuhnya, perlahan, dia melihat sosok ayu membelakangi arah cahaya. Wajah itu kian jelas terlihat kini, dia tersenyum ke arahnya. "Kuatlah untukku ya, Mas."
Beberapa jam berlalu, fajar pun menggantikan Dewi Malam. Maghala perlahan membuka matanya. Dia melihat wajah ayu dalam mimpi kini duduk di atas kursi roda disampingnya, menunduk dalam seraya memegang tasbih.
Tubuhnya terasa hangat sebab selimut menutup rapat hingga dada. Dahi pun terasa sedikit berat dan lembab. Maghala menarik benda dari atas keningnya lalu melirik ke lantai, banyak handuk basah dalam wadah di sana.
"Kau merawatku, Sayang?" gumam Ghala, tersenyum samar meski sesekali memejam.
Maghala meraih kursi roda Asha dan menariknya mendekat. Dia lalu menggenggam tangan Asha dan membawa menuju bibir untuk di kecup.
Tubuh Asha merespon, perlahan mata cantik itu terbuka. Sorot matanya berbinar.
"Alhamdulillah, masih sakit? yang mana? mau minum?" tanya Asha beruntun, dia lupa bahwa selama ini irit bicara.
Maghala hanya tersenyum melihat perubahan istrinya pagi ini. "Syukron jiddan, Humaira ya Azizati," lirih Ghala tak lepas memandang wajah ayu.
"Apa artinya," cicit Asha menunduk malu di tatap intens dengan senyum menawan Ghala.
"Makasih banget, kesayanganku yang memiliki pipi merona," balas Ghala mengecup jemari Asha yang masih dia genggam.
Ashadiya tak dapat menyembunyikan malu. Dia menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan kiri sebab Ghala menahan jemari yang lain.
Maghala terkekeh atas sikap Asha yang menggemaskan baginya pagi ini. "Maaf ya, membuatmu menunggu dan cemas, aku gak mampu meski sekedar menekan angka pada ponsel. Kamu, baik saja kan?" tanya Maghala masih menahan jemari Asha di atas dadanya.
"Ehm, Alhamdulillah baik. Di temani Denok semalaman sampai kamu tiba. Kamu kenapa? ada yang jahat ya?," ujar Asha polos. "Eh," imbuhnya lagi menyadari sesuatu.
Ghala tertawa kecil, Asha telah banyak bicara dengannya. Wajah ayu itu kembali menunduk.
"Iya. Kamu mau tahu penyebabnya?" tanya Ghala, diangguki antusias oleh Asha. "Nanti aku ceritakan."
Pagi yang damai, indah dan manis mengawali kedekatan keduanya setelah banyak peristiwa mendera.
.
.
...____________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Sulaiman Efendy
ITU SADE HRS DIBERI PELAJARAN, HERANNYA ADHISTY KMN OTAKNYA, SEBAGAI IBU GK ADA HATI, PRASAAN & OTAKNYA..
2023-08-01
1
Imam Sutoto Suro
beneran super duper novel lanjutkan thor
2023-05-15
1
Fia Maziyya
tak ada kesabaran yang sia sia, salut banget dengan karakter ghala, sulit mencari laki-laki yang seperti ghala di dunia ini, yang mampu menerima seorang wanita yang sudah tertanam benih orang lain, untuk urusan karakter kak Qive gak ada lawan, selalu the best dan mengagumkan😘😘😘
2023-04-28
3