Di dalam ruang kerja itu, dua orang berpikiran picik mulai menyusun rencana. Mereka menunggu Maghala lengah.
Suami Ashadiya kembali masuk ke kamar. Dia memilih langsung menjatuhkan diri di sofa panjang, menutup wajah hingga memejam.
"Asha, maaf ya. Aku ingin sendiri dulu," gumam Ghala.
Ashadiya iba melihat Maghala, dia merasa menambah beban pria itu. Meski awalnya membenci tapi tak dipungkiri hanya Maghala yang peduli, hingga hati pun perlahan luluh dan menerima kehadiran lelakinya.
"Kamu lelah lahir batin ya, Ghala. Dan aku tidak bisa menjadi teman untuk melepaskan letih," gumam Asha, melihat suaminya dari kejauhan.
Asha ikut memejam, dia merasa aman bila tidur di temani Ghala meski jarak mereka membentang.
Seruan Adhisty pada salah satu maid, meminta menantu babu nya itu untuk menyiapkan kudapan bagi mereka, membuat Maghala terpaksa bangun dari rebahan nyaman yang baru dia jelang.
"Den, diminta buat chicken wrap pastry oleh nyonya juga juice wortel, apel dan strawberry untuk tamu," kata maid membangunkan Ghala.
"Ehm, nanti aku ke sana. Lima menit lagi," jawab Ghala masih dalam mode kantuk.
Maid pun tak beranjak hingga Ghala merasa risih dan memilih segera bangkit, mencuci mukanya dan bergegas ke dapur.
Di saat inilah. Bahaya mulai datang.
Adhisty membawa beberapa benda berharga miliknya lalu mengajak Sade menuju suatu tempat. Handle pintu kamar Asha di tekan perlahan hingga panel itu membuka pelan. Adhisty lalu menyelinap masuk dengan Sade.
Wanita ayu tengah terlelap di ranjang. Wajah damai Asha membawa Sade pada sepenggal ingatan masa lalu. Dia pun menghampiri tempat tidur Ashadiya.
Adhisty menuju sofa, menarik laci meja, tempat Maghala menyimpan sesuatu. Dia meletakkan beberapa benda berharga di sana. Menutupi dengan tumpukan kertas yang tak dia pahami.
Pemimpin perusahaan Cyra lalu mengangguk pada sang pria yang sudah bersama Asha di atas ranjang. Adhisty lalu keluar kamar putri bungsunya itu menuju lantai dua.
Setelah kepergian Adhisty, Sade menatap kemolekan tubuh Asha yang terlihat jelas. Dia membelai pelan perut yang mulai membuncit.
Asha, menggeliat. Tubuhnya merespon sentuhan. Melihat sang wanita tak terjaga, Sade mulai melanjutkan aksinya. Dia mulai mencium pipi Ashadiya.
Sebab terbawa perasaan iba pada Maghala sebelum tidur tadi, dalam alam bawah sadar, Asha merasakan sentuhan lembut juga kecupan di beberapa bagian tubuhnya. Asha mengira bahwa Maghala hendak meminta apa yang telah lama menjadi haknya. Dia membiarkan hal itu, khawatir jika membuka mata, Ghala akan mengurungkan niat.
Lambat laun, Asha mulai tidak nyaman. Dia memberanikan diri mengintip dari celah mata. Betapa terkejutnya Ashadiya kala melihat sosok yang dia takuti tengah berada di atas tubuhnya.
"Aaahh! pergi! Ghalaaaaa! Ghaa-la-aaa!" teriak Asha, akan tetapi mulutnya di sumpal Sade.
Asha menangis, memberontak kasar hingga perutnya terasa kram. Namun rasa itu dia tepis, sebisa mungkin harus lepas dari cekalan Sade.
Dari dapur, Maghala samar mendengar teriakan Asha. Hatinya mengatakan harus melihat sang istri yang saat dia tinggalkan masih terlelap di atas ranjang.
Brak! Ghala membuka pintu kamarnya kasar.
Betapa terkejutnya dia kala mendapati lelaki asing tengah menindih tubuh istrinya. Ghala terbakar amarah.
Dia berlari menghampiri ranjang lalu menarik tubuh pria yang menyentuh istrinya. Bluk. Sade terjatuh keras.
"Kurang ajar!" teriak Maghala, menyeret Sade agar berdiri.
Maghala mengepalkan tangan, meraih kerah baju Sade dan melayangkan bogem mentah ke wajah lelaki durjana. Wajahnya merah padam, dua kali, tiga kali, Ghala membabi buta.
Bugh! Bugh!
"Apa! kami saling mencintai!" Bugh! Sade membalas pukulan Ghala tepat mengenai wajah, tuan muda Magenta pun terhuyung beberapa langkah. Dia menyeka sudut bibir yang terluka dengan tangan kirinya.
"Tapi Asha tidak! Asha, kau cinta pada pria brengs-eekk ini?" ujar Ghala, kembali menyerang, masih berusaha membalas pukulan.
"Enggak! enggak!" pekik Asha menggelengkan kepalanya cepat.
"Si-alan kau, Sade!"
Lelaki itu menghindar dari serangan, dia melangkah mundur. Pukulan Maghala meleset beberapa kali. Membuat peluang Sade membalas pun terbuka.
Buk! Sade berhasil memukul pinggang Maghala hingga desisan nyeri terdengar. Tuan muda Magenta, membalas dengan melepaskan tendangan tepat di tempurung lutut Sade. Duk.
"Aargh!" erang Sade jatuh kesakitan.
Keduanya sama kesakitan. Di saat inilah Adhisty masuk ke dalam kamar mereka dengan maid.
"Ada apa ini!" seru nyonya besar berpura.
"Dia ... kurang ajar pada Asha!" jawab Maghala, menunjuk pada Sade dengan nafas memburu.
"Kami saling mencintai. Asha juga mengandung anakku," jujur Sade lagi.
Maghala tertatih menghampiri sisi ranjang, dia memeluk wanitanya untuk pertama kali, menenangkan Asha yang menangis histeris akan tetapi bola matanya kosong tak memancarkan binar apapun.
"Asha, ini aku. Ini aku, lihat aku," bisik Ghala lembut, mengecup dan membelai kepala istrinya.
Asha perlahan membalas pelukan Ghala, menengadah kepala menghadap wajah suaminya.
"Aku enggak cinta dia, enggak!" tutur Asha menangis dalam pelukan dada bidang Maghala.
"Mama dengar, DENGAR TIDAK? ISTRIKU BUKAN MILIKNYA!" Maghala berteriak lantang, menunjuk Sade dengan tegas, matanya membelalak nyalang bagai siap menerkam mangsa.
"Pergi kalian. PERGI! ... dan kau, aku ingat perlakuanmu pada Asha. Ku pastikan kamu akan membayarnya!" seru tuan muda Magenta.
Adhisty terpana melihat murka Maghala, tatapan tajam hingga bola mata pun berwarna kemerahan menjadikan sosok Ghala sangat sangar. Wajah yang biasa lembut itu, menegaskan gurat kasar ditandai dengan otot leher yang menonjol hingga rahang mengetat.
Sade di papah oleh maid keluar ruangan sementara Adhisty mundur terhuyung dari kamar pasangan muda Cyra. Keduanya lantas masuk ke ruang kerja.
"Aku gak akan menyerah. Asha cinta sejati ku. Kami berjanji hidup bersama sehingga aku menitipkan benihku padanya, Tante," ucap Sade meyakinkan Adhisty.
"Kau tak lihat dia tadi? orang pinggiran itu terbiasa nekad," balas Adhisty, menggigiti kukunya sebab dia gemetar melihat murka Ghala.
"Asha sudah mencintai Ghala. Jika dia tak mau melepaskan, maka harus Asha yang meminta cerai darinya. Bagaimana, apa Tante masih akan melanjutkan rencana kita? tuduhan itu juga belum terlaksana bukan?" bujuk Sade lagi.
"Terserah kamu saja. Tante ikut," sahut Adhisty.
Otak Adhisty hanya berisi tentang bagaimana Sade harus segera mengucurkan dana sebab kondisi perusahaan kembang kempis akibat kebocoran dana fiktif, dengan terduga pelakunya adalah Alka.
Merasa mendapat lampu hijau, Sade mulai menyusun rencana cadangan dan akan segera di eksekusi. Kali ini, pancaran mata tuan muda Sadana, yakin takkan gagal seperti tadi.
...*...
Sementara di dalam kamar pasangan Cyra.
Beberapa menit kemudian, suasana kamar mulai lengang, isakan Asha kini lirih terdengar.
Maghala mengatur nafasnya seraya terus beristighfar. Dia masih berdiri di sisi ranjang, tak melepas pelukan terhadap Asha sebab dirinya butuh peredam amarah.
"Ada yang sakit?" bisik Ghala lembut. Asha menggeleng samar dalam pelukannya.
"Dia berlaku apa padamu? kau ingat? jangan takut, ada aku, oke?" bujuk Maghala, dia melihat kancing baju bagian atas Asha terbuka.
"Dia ... i-ini, di sini, dan juga i--," ucap Asha menunjuk pipi, leher dan bagian atas dadanya. Ashadiya kembali menangis.
Maghala memejam, giginya mengetat. Dia mengusap bahu Asha pelan, lalu meletakkan pipi di kepala sang istri.
"Maaf. Maafkan aku teledor, maaf ya, Asha," lirih Maghala. Satu bulir bening lolos dari ujung netra, jatuh di atas kepala Asha.
Degh.
"Ghala menangis karena aku?"
.
.
...___________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Dhewi Nurlela
bawa aja sha keluar dr rumah itu ghala
2024-07-24
0
Nurlaela
penuh action...
2023-04-26
1
🍊🍾⃝ᴄʜͩᴀᷞɪͧʀᷠᴀͣ ғᴀᴊɪʀᴀ🅠🅛
mom aku d buat nangis lagi😭😭😭
sade kMu tu yaa gk tau malu bnget, tenang ya asha gala pasti membuang jejak sade dari tubub kamu,
2023-04-26
1