Maghala sakha memendar pandangan ke luas angkasa, kala burung besi membawanya kembali menuju Jakarta. Bayang wajah murung Janu ketika dia menceritakan awal mula kisah hidup setelah tersingkir dari klan Magenta kembali melintas.
"Aku gak bisa, Ashadiya menungguku. Dia istriku, Kek. Hidupnya masih bergantung padaku," ujar Ghala menolak ajakan Janu.
"Kamu menikah diam-diam Ghala?" tanya sang kakek.
"Aku punya alasan untuk itu," ucap Ghala, lalu menceritakan kisahnya. Lelah mendera fisik, membuat Maghala perlahan terpejam. Ingatan empat tahun silam pun kembali melintas dalam benak alam bawah sadar.
...*...
Maghala baru saja mengambil ijazah kelulusan sekolah menengah atas dengan predikat siswa terbaik di jurusan yang dia ambil, akuntansi perdagangan.
Saat dia memasuki Mansion, ayah dan kakeknya sedang bersitegang dengan Maharani. Kemunduran Mahananta dari pucuk pimpinan Magenta grup sebab kondisi kesehatan yang terus menurun, membuat Janu memutuskan Madaharsa naik takhta tanpa melalui prosedural resmi perusahaan.
Sikap Janu menuai konflik, alasan tetua memilih Madaharsa hanya karena dia seorang pria, lulusan perguruan tinggi ternama di Singapura sehingga dinilai mampu mengampu tanggung jawab sebagi pimpinan.
Maharani mengeluarkan segala kemarahan yang dia tahan sekian lama. Perusahaan suaminya bangkrut hingga membuat kepala keluarga itu meninggal akibat stres, ketiga anak mereka masih sangat kecil dan membutuhkan biaya tak sedikit.
Putri bungsu Janu murka, harapan sang ayah akan menunjuknya sebagai pimpinan sebab pelimpahan hak setelah Mahananta, luput dari genggaman. Maharani harus puas menjabat sebagai penasehat perusahaan sebab dinilai Janu dia memiliki pengalaman.
"Papa gak adil, harusnya aku yang menggantikan Mahananta bukan malah menunjuk Mada! jika begini, kapan anakku dapat mencicipi kursi hangat Magenta grup? Mahananta memiliki dua putra!" protes Maharani berapi-api.
"Kamu lebih cocok di belakang layar, mendukung Mada saja. Ini keputusan mutlak!" jawab Janu.
Mahananta tak banyak berkomentar. Dia sangat sesak, dada kirinya mulai terasa sakit. Dia melihat Maghala dari pintu kamarnya akan tetapi tak kuasa memanggil sebab kisruh akan kian menjadi jika Ghala masuk.
Mahananta tahu, Ghala pasti akan menunjukkan hasil kelulusan hari ini. Dia antusias menyambut sang putra bungsu yang kerap terabaikan tapi situasi saat ini tak tepat baginya.
Maghala melihat senyum sumringah sang ayah tertuju untuknya. Ghala pun sudah cukup merasa bahagia, meskipun kakek juga saudara lain mengacuhkan kehadiran seorang Maghala akan tetapi Mahananta sangat membebaskan pilihan untuk dia jalani.
"Kalau begitu, aku gak mau lihat Maghala di rumah ini lagi. Usir dia atau coret dari ahli waris, maka aku akan diam menerima nasib. Ini adalah bayaran yang harus Papa lakukan atas keputusan tadi," pinta Maharani, berlalu pergi.
Dhuar.
Maghala menyaksikan konflik keluarga yang menyeret namanya untuk pertama kali. Dia melihat tatapan Maharani teramat benci padanya.
"Bukan salahku. Jika kau butuh kambing hitam, salahkan Papa, kakekmu yang telah berlaku tidak adil!" bisik Maharani kala melewati Maghala.
Mendengar Maharani berkata demikian, membuat Mahananta terkena serangan jantung. Mantan CEO Magenta grup itu dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Beberapa jam setelah itu, Maghala resmi menyandang status yatim piatu. Ayahnya berpulang ke pangkuan ilahi.
Mendapat berita duka secara mendadak, Janu pun kolaps. Kolesterol pria paruh baya itu mendadak melonjak tajam. Maharani kian mendesak Ghala untuk pergi.
"Baiknya kamu pergi! ada di sini pun percuma saja. Kemampuanmu tak sebanding denganku atau putri sulungku nanti jika Madaharsa lengser. Apa guna seorang lulusan es-em-a. Yang kamu tahu hanya mengaji dan melukis huruf aneh," cibir Maharani setelah pemakaman Mahananta.
Maghala hanya diam, dia lalu menuju kamar sang kakak. Bukan pembelaan yang dia dapat melainkan tuduhan sama atas kematian ayah mereka.
"Andai kamu perempuan, mungkin keluarga kita tidak akan berebut kekuasaan seperti ini. Tante sangat menginginkan memimpin perusahaan. Baiknya memang kamu pergi, sebab tiada celah bagimu di sini. Kamu tak akan mengerti bagaimana cara memimpin," ujar Madaharsa, bahkan dia tak memberi kesempatan Maghala bicara.
Senyum samar terlukis di wajah tampan keturunan Mahananta, miris. Maghala pun keluar dari kamar Mada dan kembali masuk ke biliknya.
Setelah mencurahkan isi hati pada Tuhan pemilik alam. Maghala memilih mundur demi keutuhan keluarga. Bukan sebab kekuasaan, dia hanya tak ingin Janu kian di desak publik karena tak memiliki alasan kuat menaikkan Madaharsa.
Hanya surat yang dia tinggalkan, sebab jika pamit langsung tentulah akan membuat Janu dilema.
"Bye Magenta grup. Aku pergi."
Maghala muda, meninggalkan kemewahan yang tak pernah dia cicipi. Melangkah menuju kediaman sahabat karib, ingin belajar berdagang bersama ayahnya yang seorang penjual angkringan.
Satu tahun di Semarang mempelajari detail urusan resep, akhirnya Maghala ikut merantau ke Jakarta bersama Karim, sang kawan penolong guna membuka cabang angkringan di kawasan belakang Taman Mini.
Malam berdagang, pagi hingga siang Maghala mencoba kuliah di universitas terbuka dengan biaya yang terjangkau olehnya. Dobel aktivitas ini dia lakukan selama tiga tahun hingga lulus menyandang gelar sarjana manajemen bisnis.
Karim sakit parah hingga dia pulang ke Semarang membuat Maghala kelimpungan seorang diri menyiapkan semua jenis bahan makanan.
Sudah satu bulan dia berjualan tanpa Karim, juga dalam kurun waktu tersebut, dagangan Maghala selalu ludes tak bersisa.
Suatu malam. Hujan deras tak membuat pembeli surut membeli semua menu khas di angkringan, hari itu Maghala menjadi sangat lelah. Saat mendorong gerobak di gang menurun, cekalan tangannya tak sengaja melemah hingga membuat gerobak pun meluncur cepat.
"Innalilahi. Jangan ada yang melintas ya Allah. Ujung gang ini adalah jalan raya," pekik Ghala mengejar laju gerobak yang kian cepat.
Hatinya mencelos manakala suara benturan menggema di pagi buta. Maghala menahan sesak saat mendapati gerobak angkringan hancur berkeping di tabrak sebuah mobil dengan kondisi sama mengenaskan.
"Tolong!" teriaknya membuat warga mendekat dan melakukan evakuasi.
Akibat kecerobohannya, Maghala harus bertanggung jawab atas kondisi fisik seseorang yang menjadi cacat. Demi menyelamatkan martabat seorang gadis, meminimalisir depresi, maka Ghala bersedia menikah dengan putri keluarga Cyra, sebagai bentuk tanggung jawab moral.
Maghala sakha menceritakan segala kisah hidupnya pada Janu secara lengkap. Lelaki renta itu kian murung. Sang kakek juga ternyata mengetahui perlakuan semena-mena keluarga Cyra terhadap cucunya.
"Jangan Kek, jangan balas mereka. Biar aku saja yang menghadapinya," kata Ghala, memohon pada Janu.
Tanpa terasa, keringat sebesar jantung muncul di dahi Maghala. Bola mata yang memejam itu mulai bergerak cepat, kepalanya menggeleng samar ke kanan dan kiri seakan dia tengah bermimpi buruk.
"Asha, kasihan Asha. Keluarganya seperti itu. Asha ... Asha!" gumam Maghala mulai gelisah.
Tiba-tiba.
"ASHA!" seru Maghala, terhenyak bangun dari tidurnya.
"Tuan muda, apa Anda baik saja?" tanya Hilmi melihat Maghala panik dengan nafas memburu.
"A-aku hanya mimpi buruk. Bayangan empat tahun silam melintas kembali. Juga ceritaku tentang penyebab semua ini pada beliau tadi siang, ikut muncul. Jangan biarkan kakek mencampuri urusanku di keluarga Cyra ya, Hilmi. Sampaikan pada beliau, aku akan menemukan solusi dan menepati janjiku menyelidiki ini," ujar Maghala menunjuk pada berkas di atas meja.
"Baik, Tuan muda." Hilmi mengangguk.
"Asha, maafkan aku ... ayah, apakah ini jalanku? mana yang harus ku selesaikan lebih dulu? Asha atau Magenta? ehm, dan kau kakak, aku akan pikirkan penawaran mu itu."
.
.
...__________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
top deh lanjut
2023-05-14
1
AlAzRa
kuat kuat kuat, dan insyaallah bisa MasGha👍🏼
2023-04-19
1
Nurlaela
maghala yang terusir mendapat emban yang rumit, disatu sisi dalam keluarga yang penuh ambisi disisi lain selalu lindungi Asha, ternyata masa lalu ghala tak diinginkan ya, tapi justru si anak ini yang dapat diandalkan ...ikuti hatimu mana yang dulu diselesaikan...ghala pasti bisa👍
2023-04-18
1