Maghala meninggalkan kediaman Cyra menggunakan motor matic kesayangan. Sungguh hati terasa berat menitipkan Asha pada maid, sebab dia memang menggantungkan segala aktivitas padanya.
Titik temu yang Hilmi siapkan lumayan jauh dari kediaman Cyra. Hingga beberapa menit kemudian dia tiba saat asisten kakeknya itu tengah memberikan instruksi.
Tin. Tin. Tuan muda Magenta membunyikan klakson beberapa kali.
"Hilmi," panggil Maghala kala dia kian dekat.
Sang asisten menoleh, berlari kecil menghampiri Maghala di sisi lapangan landasan yang mereka siapkan.
"Tuan muda, silakan. Motor Anda akan di simpan oleh orangku di sana," ucap Hilmi menunjuk beberapa pemuda dan sebuah gedung kosong.
"Baik, terima kasih. Apa lokasi Ini aman?" tanya Ghala saat memberikan kunci motornya lalu menuju helipad.
"Aman, Tuan muda. Saya menyewa landasan dan sudah steril," balas sang asisten Janu.
Maghala menahan langkah, dia harus memastikan bahwa dapat kembali ke kota ini saat tengah malam nanti.
"Hilmi, kamu tahu kan bahwa aku harus kembali segera. Nanti kau harus ikut meyakinkan kakek jika aku tak bisa berlama di sana," pinta Maghala di angguki oleh Hilmi.
Keduanya lantas mengudara, membelah angkasa ibu kota menuju jantung kota di Jawa tengah.
Dua jam waktu tempuh yang Maghala butuhkan untuk tiba di Semarang. Kota kelahiran nan menyimpan banyak kenangan manis.
Meski Maghala dibesarkan dengan didikan disiplin ketat oleh kedua orang tuanya, akan tetapi masa kecilnya tidak terenggut. Lahir di keluarga terhormat tak membuat Maghala tumbuh menjadi sosok pemilih.
Dia membaur dengan masyarakat sekitar bahkan kerap sekolah di tempat biasa, tidak seperti sang kakak, Madaharsa yang selalu menginginkan fasilitas kelas satu.
"Almamater," gumam Maghala kala melewati sekolah terakhirnya, yang membuat dia tersingkir dari keluarga.
Beberapa menit berikutnya, mereka tiba di kediaman Mahananta.
Pintu gerbang itu membuka pelan kala security mengenali sang tamu. Mobil yang di kemudikan Hilmi memasuki pelataran Mansion.
Perlahan, kaki jenjang milik tuan muda turun menyentuh tanah kelahiran. Maghala menghirup udara Semarang leluasa. Setelah itu, dia masuk, mendorong pintu utama hunian pelan.
"Assalamualaikum," ucapan salam mengalun dari Maghala.
Tak ada sahutan dari dalam, dia lalu merangsek masuk menuju kamar sang kakek.
Tiba-tiba. Prang! Suara benda jatuh membuat Maghala menoleh.
"Gha-ghala!" panggil Janu terbata, terkejut melihat kepulangan cucunya yang telah lama pergi.
Maghala tersenyum ke arah sepuhnya, dia lantas menghampiri. "Kek!" sebutnya.
Binar mata Janu sendu, dia merentang tangan menyambut cucu nan dirindukan.
"Alhamdulillah," bisik Janu saat Maghala mendekap tubuh rentanya erat.
Suara bising di ruang keluarga membuat seorang pria keluar dari ruang kebesaran.
"Ghala?" panggilnya untuk pemuda yang sedang berpelukan dengan Janu.
Maghala mengurai pelukan. Dia menoleh ke sumber suara. "Kak!" sapanya ramah.
Ekspresi wajah Madaharsa datar, dia curiga akan kepulangan adiknya yang lama menghilang.
"Ada apa, kok pulang tiba-tiba?" tanya sang kakak, sinis.
"Mada! bukannya senang adikmu kembali, malah begitu. Dimana letak sopan santun petinggi Magenta grup?" sergah Janu tak suka dengan sikap Madaharsa.
"Dia pulang buat gantikan aku, Kek? kan harus rapat direksi dulu, panjang prosesnya, kandidat sementara ini kan tante Maharani," ujar Madaharsa terang-terangan.
Maghala menengahi, dia tak ingin terjadi keributan kembali di rumah ini.
"Aku gak menggantikan siapapun kok, Kak. Hanya ingin menjenguk Kakek saja," elak Maghala.
Madaharsa tak lantas percaya alasan kemunculan tiba-tiba adiknya itu. Janu pasti merencanakan sesuatu untuk menggeser posisinya di perusahaan.
Lelaki renta itu kemudian meminta maid membersihkan pecahan gelas dan menyiapkan hidangan makan siang untuk menyambut Ghala.
Janu lalu mengajak Maghala ke teras samping, bercengkerama melepas rindu sembari mengutarakan banyak hal, sementara Madaharsa kembali masuk ke ruang kerjanya.
Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara lantang seorang wanita.
"Pa, ku dengar Maghala pulang sebab diminta oleh Papa? gak bisa gitu dong, Pa. Harusnya aku yang menggantikan Madaharsa bilamana dia akan dilengserkan," sergah Maharani, tanpa tedeng aling-aling dan tak memedulikan kehadiran Maghala di sana.
"Kamu ini, datang-datang nyerocos. Gak sopan! otakmu isinya duit duit dan duit. Rani, ponakanmu baru juga tiba, sudah menuduh macam-macam. Gak malu apa? kamu harusnya jadi panutan!" sindir Janu.
"Lagian kuasamu apa? aku masih hidup saja sudah rebutan begini. Bagaimana kalau aku mati, kamu ingin aku cepat mati, hah?" seru Janu naik pitam. Dia tak habis pikir, anak dan cucunya malah kisruh berebut takhta.
"Papa gak mungkin nyari dia kalau tidak punya maksud kan? aku tahu tabiat Papa. Rani mohon, pertimbangkan anak-anak Rani, Pa. Madaharsa itu suka gak tepat jika sharing profit ke aku," adu Maharani tentang keponakannya yang lain.
"Apa Tante bilang? aku dzolim gitu? sebutkan letak kesalahanku!" cecar Madaharsa, datang tiba-tiba bergabung dengan mereka.
"Stop!" seru Janu, dia kian merasa lelah.
"Permisi, Tuan besar, hidangan telah siap," ujar maid memecah obrolan mereka.
"Makan dulu, ayo Ghala, kalian juga," ajak Janu bangkit dan masuk ke dalam.
Semua menu kesukaan cucunya terhidang apik nan menggugah selera di meja. Mereka menghabiskan waktu makan dalam diam.
Setelah makan siang, Maghala pamit untuk salat Zuhur sementara Janu kedatangan dokter yang memeriksa kondisinya. Saat baru saja selesai menunaikan kewajiban ibadah, Madaharsa menemuinya di kamar.
Kakak sulung Maghala itu berterus terang akan maksudnya. Dia lantas meminta pendapat Maghala agar dapat mencuri ide kerja dari sang adik.
"Nah, gitu. Menurut mu bagaimana?" tanya Mada.
"Duh, Kak, aku gak paham masalah itu. Gimana ya?" elak Ghala berpura.
Madaharsa tak patah arang, dia mulai menawarkan banyak opsi keuntungan jika Maghala bersedia bekerjasama dengannya membesarkan perusahaan.
"Kamu gak usah mikirin apapun, biar aku saja menghandle semuanya, yang penting kita punya program kerja bagus. Profit dibagi dua, bagaimana?" tawar Madaharsa, dia tahu adiknya pasti mendapat misi dari Janu.
Maghala menggelengkan kepala, merasa tidak mengetahui apapun. Terlebih dia belum paham situasi di perusahaan, Ghala tak ingin gegabah. Biarlah dia menjadi pengamat dahulu.
"Aku gak tahu menahu, Kak. Boro-boro program kerja, duduk masalahnya apa, aku pun tidak ingin tahu. Aku puas dengan hidupku saat ini," balas Ghala.
Madaharsa pun mendengus kesal, dia lalu bangkit keluar dari bilik sang adik begitu saja. Membanting pintu kamar kencang sebagai tanda kecewa, tawarannya di tolak Ghala.
Brak!
Hari menjelang sore, Maghala mulai cemas, dia tak punya banyak waktu sementara Janu masih istirahat di kamar.
Ketika Maghala mencari Hilmi untuk mengantarnya kembali, dia tak sengaja mendengar sesuatu dari kamar Janu.
Maharani sedang membujuk kakeknya dengan mengajukan berbagai program kerja yang tepat di situasi genting perusahaan Magenta saat ini. Maghala berdiri di balik dinding kamar Janu.
"Coba Papa pelajari. Ini program kerjaku," tutur Maharani, tak menyerah membujuk Janu bahwa dirinya layak.
Ingin pamit, tapi Maghala tak enak menjeda obrolan serius mereka. Dia hanya diam menunggu. Ternyata keluarganya seperti ini, berebut kekuasaan. Maghala tersenyum sinis, menyadari sifat masing-masing penghuni.
Tiba-tiba.
"Heh! nguping ya kamu! ternyata benar kan, modus!" tuduh Maharani kala dia keluar dari kamar Janu, mendapati Maghala berdiri di balik dinding. "Ayo ngaku! muna ya kamu, Ghala!" imbuh Maharani.
"Bukan gitu, Tan. A-aku...." ucap Ghala menampik tuduhan.
"Kenapa lagi ini?" suara pria lainnya hadir di tengah kisruh.
.
.
...__________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Imam Sutoto Suro
mantap thor lanjut
2023-05-14
2
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Ya ampun ternyata keluarga Ghala pada gila harta semua ya, kasian gimna perasaan Ghala ya, 😌
2023-04-17
1
𝐀⃝🥀𝐑𝐚𝐧 ℘ṧ㊍㊍👏
Maaf Mom, "kedatang" "an" nya ketinggalan,, 🤭✌
2023-04-17
1