"Aku cuma mau melepaskan belitan selimut di kaki. Tak dapat menjangkau sebab sulit bangun," batin Asha. Lagi-lagi dia urung menyampaikan kata.
Maghala lalu membenarkan selimutnya lalu menuju sofa kembali, berkutat dengan kejanggalan yang dia temukan.
"Alka menyuap tim audit, sama seperti kakak dan bibi," gumam Ghala. Tak lama kemudian panggilan Hilmi membuat benda pipih yang tergeletak di atas meja bergetar.
Maghala melanjutkan misi dari Janu, hingga tepat pukul satu dini hari, dia baru membereskan semua perlengkapan dan bergegas tidur.
Keesokan pagi, setelah subuh.
Adhisty akan meninggalkan rumah lebih cepat dari biasanya sebab mempunyai janji temu dengan seorang klien. Dia berpapasan dengan Ghala dan menegur menantunya itu, mengingatkan bahwa hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Asha.
"Ghala, aku dan Alka tidak sarapan di rumah. Kami pergi dulu. Jangan lupa tugasmu yang lain. Aku tahu jika kau hanya berleha-leha di rumah ini!" sergah Adhisty seraya mendorong dahi Maghala dengan telunjuknya.
"Baik, Ma. Dokternya bebas kan?" tanya Ghala tak ingin di salahkan lagi.
"Bebas. Kan kamu yang bayar!" sahut Adhisty seraya tertawa renyah, wajah Nyonya besar Cyra amat sumringah pagi ini.
Adhisty sengaja menahan uang untuk pemeriksaan Asha, hanya karena ingin melihat Ghala memohon padanya. Namun, harapan itu pupus. Maghala malah melenggang pergi meninggalkan sang mertua, berdiri di ujung anak tangga.
Menjelang pukul sepuluh pagi. Asha dan Maghala sudah siap menuju ke rumah sakit. Dia lalu meninggalkan Ashadiya di teras sementara dirinya mengambil motor di garasi.
Ketika Ghala kembali dan akan memapah Asha menaiki motornya. Mobil Adhisty memasuki pelataran Mansion Cyra dan berhenti tepat di belakang motor Ghala yang terparkir di halaman depan.
"Belum pergi juga? apa kau menunggu uang dariku?" sergah Adhisty kala baru turun dari mobil. Dari pintu bagian kanan, muncul lelaki tampan menyusul sang mertua, menghampiri mereka.
Ashadiya terkejut kala melihat sosok pria yang datang bersama ibunya. Kepalanya menunduk dalam. Jemari pun saling bertaut dan mere-mas satu sama lain.
"Jadwal Asha jam sebelas, Ma," jawab Ghala lugas, tak peduli omelan Adhisty. Dia heran, Asha gelisah, seperti ketakutan.
"Kirain. Eh, tapi kamu pengangguran mana mungkin punya uang. Duh, aku lupa. Nih!" Adhisty merogoh tasnya lalu memasukkan uang paksa ke saku kemeja Ghala.
Sosok pria yang berdiri di belakang Adhisty pun terkekeh remeh.
"Ah, iya. Kenalin, dia Sade. Putra kolega Cyra. Asha, harusnya kamu punya suami macam Sade, bukan kek Bebegig sawah persis yang Alka bilang ini," sindir Adhisty pada Ghala.
"Halo, aku Sade. Wakil direktur Sadana grup," sapa Sade pada Maghala, seraya menjulurkan tangan untuk berjabat.
Maghala menanggapi polos, dia membalas uluran tangan Sade akan tetapi jemarinya hanya menggantung di udara. Sade mengalihkan pandangan pada Asha. Maghala tersenyum remeh, dia di abaikan.
"Hai Nona cantik. Apa kabar? siapa namamu?" tanya Sade hendak berjongkok didepan Asha.
"Asha, jangan diam saja. Sade mengajakmu bicara. Kamu tak pantas mengabaikan lelaki sepertinya yang memiliki kedudukan tinggi," ucap Adhisty menepuk lengan Asha.
Wanita ayu yang masih duduk di kursi roda pun kian gelisah kala Sade semakin mendekat. Dia memberanikan diri, memundurkan kursi rodanya dengan memencet tombol.
Reaksi Asha di luar dugaan Maghala, dia mengenali kebiasaan kecil istrinya apabila tidak nyaman. Ghala lalu menghalau pria yang bukan mahram bagi Asha.
"Tolong jaga sikap Anda, tuan muda. Dia istriku," ujar Ghala merentang satu lengan kanannya.
Adhisty menilai sikap Maghala berlebihan dan tidak sopan. Dia memukul bahu menantunya itu dengan tas. Buk!
"Awh, Ma!" keluh Ghala terkejut, menoleh ke arah Adhisty.
"Apa? gak sopan sama tamu. Aku sengaja mengajak beliau ke sini agar lebih private membicarakan bisnis. Kamu jangan merusak mood beliau," omel Adhisty, hendak mengajak Sade masuk.
Kiranya Adhisty salah ajak pria. Sade justru terlihat masih penasaran dengan Asha. Dia menggoda wanita ayu yang setia menunduk.
"Asha ya? nama yang cantik seperti orangnya. Bilang padaku jika kamu tak bahagia hidup dengannya. Aku bersedia memberikan kebahagiaan yang kau mau," ucap Sade terang-terangan di depan Ghala.
Adhisty merasa Sade tertarik dengan Asha, sekelumit rencana pun melintas dalam benak, senyum misterius tersungging di bibir wanita senja itu.
Ashadiya mulai tertekan, Maghala semakin yakin bahwa istrinya tak suka dengan kehadiran sosok pria idaman kolega Adhisty.
"Tolong jangan ganggu istriku, Tuan muda!" tegas Maghala, mengulang kalimatnya. Kali ini dia berdiri di depan kursi roda Asha.
Merasa Maghala melindunginya, tanpa sadar jemari kanan Asha terulur, meremat kuat bagian belakang kemeja Ghala.
Deg!
"Bener, Asha ketakutan. Siapa kamu sebenarnya?" batin Ghala.
"Aku hanya ingin mengenalnya. Dia terlalu cantik untuk diabaikan, apa salahku?" keluh Sade, seraya bangkit berhadapan dengan Ghala.
"Karena Asha, istriku! apa Anda masih kurang jelas? dia is-tri-ku!" tandas Ghala, melempar tatapan tajam pada Sade.
"Duh, maaf Tuan muda Sade, mantuku ini memang aib Cyra. Asha asal milih lelaki untuk di jadikan suami. Beginilah jadinya. Abaikan saja, mari masuk," ajak Adhisty sambil menarik pelan lengan Sade.
Lelaki itu memandang remeh Maghala, lalu melenggang pergi seiring langkah Adhisty yang masuk ke hunian.
Setelah kepergian keduanya, Maghala berbalik badan, lalu berjongkok di depan Asha.
"Kau kenal dia sebelumnya?" tanya Ghala curiga.
Ashadiya hanya diam, dia lalu menekan tombol ke arah samping bermaksud masuk hunian untuk menuju kamarnya.
"Oke. Aku gak akan tanya lagi. Ayo, kita ke dokter dulu," ajak Ghala, menahan laju kursi roda dengan memegang handlenya.
"Gak pake mobil. Kita ke rumah sakit menggunakan motor saja ya. Suamimu baru punya itu," tunjuk Ghala ke arah kendaraan roda dua yang terparkir tak jauh dari sana.
Asha mengangguk, Maghala pun mengikat rambut panjang istrinya, lalu membopong dan mendudukkan Asha di atas motor. Memakaikan helm dengan hati-hati ke kepala gadis itu serta tak lupa meresleting jaketnya.
"Pegangan dulu. Aku lipat kursi rodanya," kata Ghala kemudian. Tak lama, mereka pun meninggalkan kediaman Cyra.
Ini adalah kali pertama Ashadiya menaiki kendaraan roda dua. Dia mendekap tubuh Ghala erat seakan takut jatuh.
"Asha, apa kau sadar? kecepatan motorku, tidak lebih cepat daripada kayuhan sepeda kakek di depan sana," kata Maghala, merasa Asha takut berlebihan, perutnya terasa sesak.
"Buka mata dulu," pinta Ghala kembali.
Ashadiya merasa konyol, dia lalu memukul punggung Ghala berkali tanda bahwa dirinya kesal telah di bodohi.
Bukannya mengeluh sakit, Maghala malah tertawa lepas berhasil menggoda Ashadiya. Handle gas, dia tarik sedikit kencang hingga membuat Asha berteriak.
"Aaaaahhh!" pekik Asha terkejut.
Tuan muda Magenta, kembali tertawa riang sementara Asha memukuli Ghala sepanjang jalan. Lelaki ini tak tahu bahwa wanita di belakangnya, baru saja mengulas senyuman manis.
.
.
...________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Dhewi Nurlela
apa asha diperkosa Sade hingga hamil 🤔🤔
2024-07-24
0
IR WANTO
lc terlalu bodohh..
2024-03-24
0
Sulaiman Efendy
CURIGA SI SADE YG HAMILI ATAU PERKOSA ASHA..
2023-08-01
2