"Ini Kak, aku baru saja akan pamit pulang tapi segan untuk menjeda obrolan Tante dengan Kakek. Aku menunggu di sini sebab ku lihat beliau telah selesai. Bukan bermaksud menguping pembicaraan, karena memang aku tak mendengar apapun," tutur Maghala panjang kala Madaharsa menegurnya.
"Halah, ngeles. Tampang doang polos tapi isi otak belum tentu, licik. Lagipula kenapa harus muncul di saat perusahaan krisis dan tersebar isu pengalihan pucuk pimpinan, sih," cibir Maharani lagi, dia menepuk file dalam genggaman ke bahu Maghala.
Maghala hanya diam, melawan pun rasa percuma. Maharani sudah menyematkan julukan dan opini negatif sebab kepulangannya.
Madaharsa tak berkomentar setelah Maghala menjelaskan duduk perkara. Dia berlenggang pergi naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sementara Maharani, masih memberikan tausiah, tak lupa sedikit ancaman bagi sang kemenakan.
"Awas! kalau berani mengajukan diri menjadi pimpinan Magenta grup. Kamu tidak pantas!" bisik Maharani berlalu pergi.
Maghala, hanya menggelengkan kepala samar melihat kekakuan sikap antar penghuni Mansion. Meski telah menyingkir selama empat tahun, ternyata Maharani masih enggan menerima kehadirannya.
Janu mendengar keributan di luar kamar, susah payah dia bangkit hingga pada akhirnya menyerah. Lelaki renta itu memanggil Maghala dengan suara parau.
"Ghala!" seru Janu sekuat yang dia bisa.
Hening, beberapa detik.
Pintu kamar Janu, dibuka perlahan oleh Maghala. Pemuda itu lalu menutupnya kembali agar pembicaraan antar dirinya dan sang kakek tak didengar penghuni lain.
"Sini," pinta Janu agar Ghala mendekat.
Pendiri Magenta grup itu lalu menunjuk ke arah lemari besar di depan ranjang. Dia meminta Maghala mengambil sesuatu dari sana.
Maghala pun mengikuti. "Ini, Kek?" tanya Ghala memastikan bahwa satu bundel map coklat adalah benda yang di maksud.
Janu mengangguk. "Bawa sini, Ghala," pintanya lemah.
Ghala menghampiri sang kakek dan duduk di sisi ranjang seraya menyerahkan berkas. Janu meminta agar cucunya membuka isi dalam map coklat itu.
Beberapa lembar kertas berhasil dia tarik, Maghala membaca sekilas tulisan di atasnya. Dia lalu melihat ke arah tetua Magenta.
"Ini, laporan keuangan? akun kakak dan tante?" tanya Maghala dengan mata membola.
Janu mengangguk. "Coba kamu telaah sebentar Ghala. Apa menurutmu ada yang janggal dari situ?" lirih pendiri Magenta grup.
Maghala mencari alat tulis dari atas meja nakas. Dia pun beringsut turun dari sisi ranjang dan duduk di lantai agar leluasa.
"Di atas saja, Ghala. Masa di lantai," pinta Janu, melihat cucunya seakan begitu terbiasa duduk tanpa alas.
"Aku sudah biasa. Lagian lantai rumah ini lebih steril daripada kostan aku," kekeh Ghala.
Satu jam Maghala memeriksa semua berkas, hingga azan Maghrib menggema dia menjeda kegiatannya untuk menunaikan salat lebih dulu.
Janu meminta agar makan malam untuknya dan Ghala di antar ke kamar sebab cucunya ini tengah mengerjakan sesuatu dan dia tak ingin konsentrasi Maghala terganggu.
Tepat pukul sembilan malam, Maghala berhasil menandai beberapa poin penting temuannya. Dia menyodorkan pada Janu beberapa hal yang harus mendapat perhatian khusus para analis keuangan di perusahaan.
"Kredit, debit, purchase antara tanggal sekian dalam periode ini, siklusnya abnormal, Kek. Jika ada purchase harusnya stock bahan mentah naik, juga mungkin ada utang dan piutang atau pemasukan. Nah, untuk bagian itu, ternyata piutang kita malah tidak ada sedangkan stok fisik nol. Tolong Kakek cermati lagi," pinta Maghala, menunjukkan beberapa poin yang dia lingkari.
"Melihat ini bagai ember penuh pasir emas akan tetapi banyak lubang di dasarnya. Meski celah itu sangat kecil, tetap saja isi dalam ember akan menyusut perlahan. Ini namanya api dalam sekam, Kek," tutur Maghala panjang.
Janu mengamati sekilas, persis dugaannya. Ini adalah laporan keuangan yang dilakukan oleh Hilmi dan staff besutan pribadi. Bukan atas laporan audit perusahaan hasil kerja Maharani dan Madaharsa.
Pendiri Magenta grup, menatap Maghala takjub. Tak mengira jika cucu yang tersingkir justru memiliki analisa kuat nan berkembang pesat. Firasat Janu, Maghala memang berbakat di bidang bisnis sama seperti dirinya.
Untuk meyakinkan dan agar Janu memiliki bukti otentik, maka dia meminta Ghala membawa banyak berkas lain supaya dapat diselidiki bersama Hilmi.
"Tinggal di sini kembali ya, Ghala. Temani kakek, jangan pergi lagi," pintanya lemah, seakan menyesal dulu tak mencegah dia pergi.
"Aku gak bisa, Ashadiya menungguku. Dia istriku, Kek. Hidupnya masih bergantung padaku," ujar Ghala menolak ajakan Janu.
Pun apabila dia menginap tentu akan menimbun spekulasi atau bahkan keselamatan diri terancam sebab Maghala diduga menjadi kandidat kuat yang Janu ajukan.
Belum lagi tuduhan keluarga Cyra yang membabi buta. Bayangan depresi bakal mendera Asha kian menambah rasa bersalahnya.
"Jadi kamu mau pulang?" tanya Janu, memastikan meski berat melepasnya. Cucunya ini baru saja menceritakan kisah lengkap versi Maghala. (next bab di rinci)
Maghala mengangguk. "Asha belum fit, nanti aku ke sini lagi," ucap Ghala seraya tersenyum dan menepuk lembut lengan Janu yang tergolek di atas pembaringan.
Janu menggelengkan kepala. "Kamu menikah diam-diam, Ghala? jika saja Hilmi tak mendapat signal dari kartu yang kau gunakan itu, tentu kakek akan kesulitan menemukanmu," keluh Janu.
Maghala hanya tersenyum, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia terpaksa menggunakan kartu debit miliknya sebab Asha menginginkan buah import. Sedangkan dia tak lagi memiliki penghasilan sebab dilarang berjualan angkringan kembali oleh Alka.
"Seperti yang telah aku ceritakan tadi. Maaf ya Kek, tidak memberi kabar sebab semua terjadi tiba-tiba dan tanpa kesengajaan. Satu lagi, jika Kakek mendengar berita tentang aku yang tak senonoh, percayalah bahwa cucumu ini bukan pelakunya," terang Maghala.
Janu tidak mengerti apa yang Ghala maksud akan tetapi dirinya menghormati perkataan cucunya itu.
"Iya. Hati-hati di jalan, kabari Hilmi dan jangan lupa periksa berkas yang kakek minta," ujar Janu.
Maghala mengangguk, dia lalu membereskan semua kekacauan di sana sebelum pergi. Lantunan doa untuk Janu terucap dari bibir sensual pewaris Magenta grup.
Janu trenyuh, Maghala memang taat sejak dia baligh. Sangat bertolak belakang dengan Madaharsa yang cuek dan seenaknya.
"Aamiin. Pamit ya, Kek, assalamualaikum." Maghala meraih tangan renta untuk dia cium sebelum melangkah keluar kamar Janu.
"Wa 'alaikumsalam."
Sejurus pintu kamar Janu menutup, Hilmi sigap mendatangi sang tuan muda, lalu menyilakan Maghala untuk mengikutinya.
"Kita akan pakai private jet milik Sakhair yang sedang landing. Mereka hanya membawa kargo, dan kebetulan kita boleh menumpang agar tiba lebih cepat," kata Hilmi saat membuka pintu mobil untuk Maghala.
"Oke, yang penting aku pulang saat semua telah lelap. Asha bagaimana? aku mencemaskan dia," tanya Ghala pada sang asisten.
"Istri Anda baik saja, Tuan muda," jawab Hilmi seraya menekan pedal gas meninggalkan Mansion Mahananta.
Hati Maghala risau, bayangan Asha kesulitan melakukan banyak hal menghantuinya. Berkas dalam genggaman adalah amanah yang harus dia emban. Maghala menghela nafas berat, tanggung jawab pun semakin banyak.
"Kakek. Asha. Mampukah aku?"
.
.
..._________________...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
Lanjut bc ah..
2024-05-09
0
Sulaiman Efendy
KIRA2 SIAPA YG HAMILI ASHA,, APA NNTI MUNCUL LAGI TU LAKI2 YG HAMILI ASHA...
2023-08-01
1
Imam Sutoto Suro
mantuuul thor lanjutkan
2023-05-14
2