"Si- siapa, jangan mencoba untuk menakuti?" tanya Mayra penasaran.
Namun, pertanyaan Mayra tak terjawab hanya hembusan angin dingin yang tiba-tiba menyapu rambutnya lembut serta aroma wangi dupa yang tak asing di hidungnya.
"Hash. Kenapa aroma ini masuh membekas dan sepertinya semakin kuat," gumam Mayra sembari berjalan menyusuri setiap sudut rumah.
Mayra sedikit terkejut saat netranya melihat dupa yang masih mengepul di sudut ruangan. Dupa yang berjumlah ganjl ini masih menyala meskipun sudah hampir semalaman di letakkan di oleh laki-laki tinggi besar. "Aneh." Hanya ini yang keluar dari bibir Mayra.
Pandangan Mayra terputus saat kabut mulai menipis saat ini dirinya melihat bayangan gadis kecil yang duduk terpekur di luar batas penangkal pandangannya tertuju pada rumah ini. Bergegas Mayra menghampiri tetapi semua yang di lihatnya menghilang begitu saja. "Apa ini mimpi?"
"Argh .... "Umpatnya kesal.
Mayra memilih untuk berdiri di halaman dengan perlahan ia menarik napas dan membuangnya dengan tenang. "Fokus Mayra, mulai saat ini kamu harus bisa mencari tahu siapa gadis kecil itu dan kenapa dia ingin di panggil Kakcil," gumamnya sendiri.
"Kamu, kemarilah!" panggil Mayra saat melihat gadis kecil ini sudah berdiri menatap tajam ke arahnya.
Gadis kecil ini hanya menggeleng dengan bibir membiru dan wajahnya yang putih pucat tanpa menggunakan sandal. "Kemarilah atau aku yang ke sana?" tanya Mayra sembari melangkah mendekat.
Gadis ini tak menjawab dan berlalu pergi tak menghiraukan panggilan Mayra. "Tunggu! Argh ... selalu seperti itu," omel Mayra tak suka.
Mayra yang penasaran memilh untuk mengekor langkah gadis ini dan lagi-lagi gadis ini menghilang di balik pihon besar dan rumah yang ia ceritakan tak pernah Mayra lihat. Mayra yang merasa putus asa akhirnya memilih berdiri di pohon besar, memindai tempat yang sudah beberapa kali ia kunjungi tetapi semuanya masih sama hanya ada semak belukar dan hamparan rumput yang mungkin berukuran tak luas di balik pohon besar ini.
"Hm ... sebaiknya aku ikuti saja permainan gadis kecil ini atau aku mencari tahu sendiri," ucap Mayra pelan.
"Sebaiknya aku kembali saja dan mungkin esok aku akan mencari tahu dan semoga kabut ini segera menghilang dan matahari esok bisa menghangatkan rumah," ujarnya sembari melangkah masuk dalam rumah.
Menutup pintu perlahan. "Aku di sini," suara gadis kecil ini tiba-tiba mengejutkan dirinya.
"Ka-kamu, bagaimana kamu bisa cepat sampai kemari?" tanya Mayra bingung.
"Ash ... kamu yang terlalu banyak melamun," jawab gadis kecil ini aneh.
Mendengar jawaban gadis kecil ini Mayra langsung menatap tak percaya. "Enggak mungkin, meskipun aku berdiri di sana pasti aku bisa melihat kamu lewat," kekeh Mayra.
"Kamu-kamu, panggil aku kakcil, paham!" seru gadis ini tak terima.
Mayra memilih pergi dan duduk begitu saja di sofa dan memindai tubuh gadis ini di bawah remang lampu ruang tamu. "Kemarilah aku keringkan rambut kamu dan aku sisir rambut kamu setelah itu gantilah baju kamu," tukas Mayra tak tega saat mendapati tubuh gadis ini dengan rambut dan baju yang selalu terlihat basah.
Kali ini gadis kecil ini hanya menurut dan mendekat ke arah Mayra, dia menyerahkan tubuhnya begitu saja bersamaan dengan aroma wangi melati yang menusuk hidungnya tajam. Mayra sesaat terkejut saat memegang tubuh gadis ini. "Ke-kenapa baju dan rambutnya kering, tetapi .... " Mayra memilih tak melanjutkan ucapannya saat gadis yang berdiri di depannya menatapnya tajam.
"Kemarilah!" pinta Mayra sembari menarik tangan gadis kecil ini.
Mayra tak menghiraukan rasa dingin yang ia rasakan. Tangannya kini sibuk menyisir dan terus berusaha mengajak gadis ini berbicara, tak ada jawaban hanya diam dan terus menunduk hingga Mayra menyelesaikan niatnya. Namun, Mayra kembali di kejutkan oleh sikap gadis yang duduk di depannya.
"Aroma tubuhmu mengingatkan aku akan seseorang," ujarnya sembari berdiri sedikit menjauh.
"Maksud kamu?" tanya Mayra bingung.
"Entalah, tetapi aku sangat tidak menyukainya," ucapnya pelan dan semakin menjauh di mana Mayra duduk.
"Tidurlah di sini Kakcil dan temani aku," pinta Mayra membujuk.
Usaha Mayra untuk membujuk sia-sia, gadis ini kemudian berlalu begitu saja dan tak lama tubuhnya menghilang bersama turunya kabut.
"Bagaimana aku bisa mendekat," gumam Mayra pelan.
Masih duduk dengan lamunan dan semua pemikirannya. "Hai .... " suara gadis ini lagi.
"Kamu, jangan terus membuatku terkejut," ujar Mayra pelan.
Gadis ini tersenyum menyeringai saat Mayra menegurnya pelan. Tak lama gadis ini menarik tangan Mayra. "Hujan. Ayo, kita main hujan," ucapnya sembari menarik paksa tangan Mayra.
Mayra yang merasa keberatan akhirnya menurut juga demi bisa mencari tahu siapa gadis ini sebenarnya. Hujan yang turun dengan deras tsk menyurutkan niat gadis ini ia terus menari di bawah guyuran air hujan dengan gembiranya. Mayra yang melihat sikap gadis ini seketika menghentikan langkahnya. Tubuhnya telah basah begitu juga dengan rambutnya tetapi dia tetap bertahan untuk melihat kebahagiaan gadis ini.
"Kamu, apa orang tuamu tak mencari kamu dan apa mereka tak marah jika melihat kamu bermain hujan seperti ini?" tanya Mayra.
Gadis ini langsung menghentikan sikapnya, menatap takut dan melihat tertunduk ke arah Mayra. Masih berdiri di bawah guyuran air hujan yang makin deras gadis ini berdiri mematung dan membeku ketakutan. Mayra perlahan mendekat ke arah gadis kecil ini dan menyentuhnya dengan pelan.
"Maaf, jika ucapanku menakutkan kamu tetapi setidaknya berteduh dan hentikan bermain hujan," tutur Mayra sembari memeluk tubuh gadis kecil ini.
Perlahan gadis ini menatap tak percaya dan kemudian mendorong tubuh Mayra keras dan berlari menjauh dan kembali hilang di balik pohon besar.
"Kenapa dia bersikap aneh seperti itu?" tanya Mayra yang masih berdiri terpaku di bawah guyuran air hujan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments