Suara tawa yang awalnya pelan kini semakin keras dengan nada yang aneh. Nada yang membuat hati seketika miris dan takut.
"Hash! Dik, jangan menganggu Kakak di sini sendirian lagi pula ...." Mayra menghentikan ucapannya dan melirik le atas langit-langot rumah.
"Kenapa suaranya dari atas dan suara siapa itu?" tanya Mayra pada dirinya sendiri sembari terus memegang tengkuknya berulangkali.
"Dik. ini enggak lucu!" seru Mayra tak suka saat dirinya merasa terganggu dengan suara aneh yang didengarnya.
Namun, semua ucapannya seakan tak bisa menghentikan suara-suara aneh yang terus berdenngung di telingannya dan bisikkan sesuatu yang Mayra tak paham. "Berhenti dan jangan terus berbisik!" teriak Mayra sembari menutup telinganya rapat-rapat.
"Tolong jangan ganggu aku, aku hanya ingin sembunyi dari perjodohan gila yang Ayahku lalukan," ucap Mayra sembari menangis menahan semua rasa takutnya.
Cukup lama Mayra bersikap demikian hingga suara gadis kecil ini menyapa dengan heran.
"Kamu, apa yang kamu lakukan?"
Mayra hanya menggeleng dan masih menutup telingannya rapat-rapat. Menatap ke arah gadis yang berdiri di depannya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. "Aku takut Dik, aku takut ada suara yang terus berbisik memanggil namaku," tutur Mayra takut.
"Apa kamu suka tinggal di sini?" tanya anak ini lagi.
"Aku takut dan sebenarnya aku kemari hanya ingin sembunyi dari perjodohan yang di lakukan oleh Ayah," jawab Mayra.
Anak kecil ini kemudian duduk di samping Mayra. "Kamu tinggal di sini saja hingga Ayah kamu menyadari kesalahannya," tutur anak ini sembari tersenyum.
Perlahan Mayra melepaskan tangannya dan melihat ke arah anak ini seakan ingin menyelidik tentang sesuatu hal yang membuatnya penasaran. "Dik, kenapa kamu tak ingin mengganti baju kamu dan apa kamu tak merasa dingin?" tanya Mayra sembari meraih tangan anak kecil ini dan mengenggamnya erat.
"Lepas!" teriak anak ini tak suka.
Mayra yang terkejut akan teriakan dan penolakan anak ini semakin merasa heran dan memilih untuk duduk sedikit menjauh.
Mayra tak mengira jika niat tulusnya akan mendapat penolakan dari anak ini. "Kakak mengantuk dan ingin istirahat, Kakak minta tolong Adik jangan menganggu saat Kakak tidur," ucap Mayra sembari melangkah masuk dalam kamarnya.
Mayra yang penasaran dengan tingkah anak ini kemudian mengintip melalui pintu yang sedikit terbuka. "A-apa yang terjadi dengan anak ini," gumam Mayra sembari menutup mulutnya agar suaranya tertahan.
"Aneh. Ke-kenapa ... anak ini tiba-tiba menghilang?" tanyanya tak percaya.
Namun, belum hilang rasa terkejutnya Mayra kembali di kejutkan oleh sosok yang sudah bediri di depannya dan ikut mengintip melalui celah pintu. Mayra perlahan menunduk untuk melihat dan memastikan bahwa yang dilihatnya nyata. "Ka-kamu!" pekik Mayra tak percaya.
"Hihihi ... kamu terkejut ya?" tanya anak ini tak merasa bersalah.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanya Mayra tak suka.
"Hihihi ... sejak kamu mengintip ke arah saya," jawab anak ini dengan tatapan tajamnya.
"Kamu, sana-sana ke luar!" usir Mayra sembari mendorong tubuh anak ini.
Mayra langsung melepaskan tangannya dan mundur beberapa langkah saat mengetauhi tangannya memegang sesuatu yang tak nyaman di tangannya. Baju basah, bercampur lumpur dan bau yang baru Mayra sadari, bau menyengat yang tak nyaman di hidungnya.
"Kamu, baik-baik saja, 'kan?" tanya Mayra sembari menatap lekat ke arah anak ini.
Anak ini hanya menatap Mayra tajam jelas jika ada rasa tak suka dari tatapannya. Anak ini membuka pintu lebar-lebar dan berjalan mundur hingga untuk beberapa saat kemudian anak ini tertawa aneh tanpa suara.
Mayra seketika memburu langkah anak ini dan berusaha untuk meraih tubuhnya kembali. "Dik, tunggu!" teriak Maura tetapi tangannya tak kunjung bisa meraih tubuh anak ini.
"Kamu, berhenti! Aku berniat baik dan tak ingin mengejek kamu, pakailah baju milikku!" teriak Mayra keras.
Lagi-lagi anak ini tertawa tanpa suara, suaranya seakan menghilang begitu saja dengan wajahnya yang makin lama makin berubah aneh. "Dik, Tunggu!" teriak Mayra ulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments