"Panca, matikan cepat!" seru Mayra gusar.
Panca melihat sekilas dan menatap Mayra dengan heran. "May, kamu yang bawa ponsel kenapa juga aku yang kamu suruh," ujar Panca heran. Mayra sesaat tersenyum dan menggaruk kepalanya bingung, seketika mematikan ponsel dan melemparnya begitu saja.
"Panca, terima kasih. Maaf, jika aku melibatkan kamu dalam masalah ini," tukas Mayra lirih.
Panca hanya bisa menghela napas, dirinya sadar jika akan menjadi orang pertama yang di cari tuan Rusli saat mengetauhi anak gadisnya menghilang. Panca secara tiba-tiba menghentikan laju mobilnya. "Hati-hati May, maaf jika aku hanya bisa mengantar sampai di sini," ucap Panca sembari menatap lekat ke arah sahabatnya. Memeluk Mayra erat hingga untuk beberapa saat Panca baru melepas pelukannya. "Aku harap, keputusan yang kamu ambil tidak membuat kamu menyesal May, jaga diri baik-baik dan bergegaslah," ujar Panca tak tega.
Mayra, tak menyangka jika perjalanan yang di tempuh begitu jauh menuju kota yang terkenal dingin. Mayra tak mengira jika dirinya akan pergi begitu jauh dari rumah untuk pertama kalinya. Mayra sesaat tersenyum saat dirinya bisa lari dari perjodohan yang sang ayah rencanakan.
"Akhirnya, selamat datang di kota ini Mayra," gumamnya.
Lamunan Mayra terputus saat suara keras Kondektur berteriak keras untuk mengingatkan para penumpang. "Yo, yang turun, terminal terakhir!" teriak Kondektur keras.
"Non. Bersiaplah sesuai pesan teman Anda, Nona segera turun dan akan saya bantu mencari angkot yang menuju tujuan Nona," tutur sang Kondektur.
Mendengar ucapan sang Kondektur Mayra sesaat merasa sedih, dirinya tak menyangka jika Panca akan mengkhawatirkan dirinya sebegitu rupa. Mayra segera mengikuti langkah kondektur hingga dirinya tiba di pangkakan angkot berwarna hijau. Kondektur ini berbicara sesaat dengan sopir angkot dan sesekali melihat ke arah Mayra hingga untuk beberapa saat. "Non!" panggil sang Kondektur.
Mayra mendekat dan masih menatap dengan bingung, saat sang kondektur memanggil. "Non, Bapak ini akan mengantar Nona sampai tujuan dan saya sudah melaksanakan amanat teman Nona, hati-hati Non," ucap sang Kondektur dengan sedikit berlari.
"Pak, terima kasih!" teriak Mayra dan hanya mendapat lambaian tangan sebagai jawaban.
Hampir lima belas menit perjalanan dari terminal akhirnya dirinya tiba juga, Mayra sedikit heran dengan kampung yang di tujunya. Mayra tak menyangka jika alamat yang di tujunya berada di tengah kota, tetapi masih terdapat pohon-pohon rindang di sepanjang jalan. Berjalan sembari melihat dan mencocokkan dengan alamat yang di bawanya, semakin siang udara semakin dingin dan alamat yang di carinya juga tak kunjung di dapat. Hingga dirinya melihat seorang wanita yang berjalan sedikit tergopoh.
"Bu!" pangginya keras.
Ibu ini seketika berhenti dan menatao Mayra dengan heran. "Bu, Ibu tahu alamat rumah ini?" tanyanya sembari menunjukkan alamat yang di bawanya.
Sang ibu kembali menatap ke arah Mayra lekat dan sesaat tersenyum. "Non. Non, yakin mau mencari rumah ini? Rumah ini letaknya ada di belakang kampung," ujar sang ibu pelan dan sembari melirik ke arah jalan. Ibu ini kembali menatap Mayra tak percaya seakan ibu ini memastikan sesuatu. "Non, yakin mau mencari rumah ini?" tanya ibu ini lagi.
"Ya, Bu!" jawab Mayra singkat.
"Nona, yakin?"
Mayra hanya mengangguk menghiyakan pertanyaan sang ibu. "Non, tetapi saya hanya bisa mengantar hingga perbatasan kampung dan selebihnya Nona cari sendiri," ucap sang ibu aneh. Berjalan beriringan di terik yang panas, tetapi udara terasa dingin membuat tubuh Mayra meremang tanpa di duga.
Langkah ibu ini tiba-tiba berhenti terdiam menatap tempat yang sedikit aneh, tempat yang jauh berbeda dan berbanding terbalik dari penampakan kampung yang berada di depan. "Non ... Non, yakin ingin masuk ke sana?" tanya sang ibu khawatir.
Mayra kembali mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih Bu," jawab Mayra sembari mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Mayra masih menatap tempat ini dengan tatapan yang aneh, hanya terdapat lahan kosong dan tumbuhan rumput liar yang tumbuh subur di sepanjang jalan dan ada beberapa rumah yang terlihat tak terawat. "Bu!" panggil Mayra, tetapi netranya masih menatap ke arah tempat di depannya.
"Bu!" panggilnya ulang dan kini melihat ke arah sang ibu. Mayra seketika terkejut saat dirinya tak mendapati sang ibu di sisinya, netranya seketika mencari sosok sang ibu.
"Bu! Bu ... Ibu!" teriak Mayra memanggil berulang kali sembari mencari sosok sang ibu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments