Mayra tak percaya dengan apa yang di dengarnya, ucapan wanita tua yang tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja. "Di mana ini? Lalu, kenapa aku bisa di sini?" tanyanya bingung.
Netranya memindai seluruh tempat aneh yang baru di pijaknya, bersamaan kesadarannya yang perlahan kembali. "Semua ini tak mungkin," gumamnya pelan.
"Kenapa, kamu terkejut?" tanya suara yang tiba-tiba ia dengar.
Mayra menutup telingannya, saat ini dirinya benar-benar lelah akan apa yang dia hadapi.
"Kamu!" seru suara gadis kecil yang kini dia dengar.
"Diam! Diam!" teriak Mayra kesal.
Gadis kecil yang mendengar teriakan Mayra hanya tersenyum dan kini duduk jongkok menatap ke arahnya tajam, tak lama tawanya terdengar memenuhi tempat ini.
"Jangan marah dan kamu tak berhak untuk marah," bisik gadis ini dengan suara serak.
"Pergi!" teriak Mayra kesal.
Gadis ini masih duduk jongkok dan menatap dengan tajam. "Aku tak akan pergi dan begitu juga dengan kamu," ujar gadis kecil seraya berbisik.
"Diam!" bentak Mayra.
Suara berbisik Mayra dengar silih berganti seakan terus berbisik tanpa henti di telingannya. Mayra yang merasa tak nyaman dengan suara-suara yang di dengarnya kini menutup telinganya rapat-rapat. "Tolong, hentikan semua bisikan kalian, suara kalian," pinta Mayra yang kini duduk sembari menutup telingannya rapat-rapat dan memejamkan mata.
Cukup lama Mayra berlaku demikian
perlahan Mayra melepas tangannya dan membuka netranya perlahan. "Ka-kamu!" seru Mayra terbata saat gadis ini sudah duduk di depannya dan menatap wajahnya lekat.
"Ash. Apa yang kamu lakukan," ucap Mayra tak suka.
Namun, tatapan gadis ini tak kunjung terputus dan terus melihat Mayra tanpa berkedip. "Wajah kamu," ucap gadis ini pelan.
"Wajah kamu, sangat mirip laki-laki pemarah itu dan apa benar dengan perkataan kamu?" tanya gadis ini aneh.
"Ya, dia Ayahku Rusli," jawab Mayra jujur.
Mendengar jawaban Mayra gadis kecil ini beringsut sedikit menjauh, seakan tak suka dengan ucapan Mayra. "Rus-Rusli?" tanyanya pelan.
"Ya, benar. Lalu siapa nama kamu dan di mana Ayah dan Ibu kamu?" tanya Mayra.
"Aku? Aku tidak tahu siapa namaku dan Ibu serta Bapakku? Aku lupa, tetapi aku mencium bau mereka, bau yang sama seperti kamu," jawab Kakcil pelan.
"Bawa, aku ke luar dari tempat ini dan jika kamu mau kita bisa tinggal bersama," pinta Mayra pelan.
Kakcil hanya menggeleng dan kemudian kembali menatap Mayra. "Aku tak bisa pergi karena aku sedang menunggu Ibu dan Bapakku dan aku tak tahu harus berapa lama lagi menunggu," jawab Kakcil aneh.
"Lalu jika kamu tak ingat siapa nama orang tua serta namamu sendiri bagaimana kamu bisa mencarinya dan siapapun yang kamu tanya pasti tidak akan bisa membantu," tutur Mayra pelan.
"Aku tak tahu, andaikan ada orang yang sekali saja memanggilku ... pasti aku bisa mengenali mereka dan siapa aku," jawabnya semakin aneh.
Mayra semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kakcil apa itu nama kamu?" tanya Mayra pelan.
"Bukan, hanya saja aku suka jika kamu memanggilku Kakcil," jawabnya sembari tersenyum senang.
"Apa ada saudara atau Kakek dan Nenek yang tinggal di kampung ini. Esok akan aku bantu untuk mencari," ucap Mayra memastikan.
Lagi-lagi hanya menggeleng dan kini semakin beringsut menjauh. "Kakcil, tolong jangan tinggalkan aku sendiri!" teriak Mayra keras saat Kakcil tiba-tiba pergi begitu saja.
"Kamu, tak berada di suatu tempat lihat saja di mana kamu berada," suara Kakcil tanpa wujud.
"Aneh, kenapa bisa jadi begini? Apa saat ini aku ...." Mayra tak melanjutkan ucapannya, sesaat dirinya sadar dengan apa yang di lihatnya.
"I-ini tidak mungkin. Kakcil!" teriak Mayra ketakutan.
Perlahan dia berdiri, tetapi lagi-lagi pandangannya terhalang oleh kabut yang terus menebal. "Tempat apa ini sebenarnya?" tanyanya heran.
Mayra masih berada di tempat yang menurutnya aneh, tempat yang membuatnya semakin takut, tetapi dirinya tak mampu untuk ke luar dari tempat ini karena kabut yang semakin menebal. Tubuhnya kini sudah menggigil kedinginan karena udara malam ini tiba-tiba menjadi begitu dingin. Tubuhnya yang gemetar menahan dingin membuatnya harus duduk meringkuk untuk menghangatkan dirinya sendiri. "Ayah, Ibu," gumamnya lirih dan netranya perlahan terpejam.
"Ayah, Ibu," panggilnya tanpa sadar.
Bibirnya terus memanggil dua nama dalam lelapnya hingga dirinya benar-benar terlelap dalam kedinginan. Mayra merasa saat ini tubuhnya begitu ringan antara sadar dan tidak saat ini dia sudah berdiri di sebuah rumah. Rumah yang sama yang pernah di lihatnya dalam mimpi, rumah yang nampak sepi.
"Kenapa aku selalu kembali melihat rumah ini dan ...." Mayra tak melanjutkan ucapannya bibirnya semakin membeku saat melihat gadis kecil yang ke luar dari rumah.
"Bukankah ini Kakcil dan rumah ini?" tanya Mayra pada dirinya sendiri.
Mayra masih berusaha untuk meyakinkan apa yang di lihatnya saat ini dirinya melihat Kakcil sedang menatap langit sore hari dengan senyumnya yang lebar, dirinya seakan menanti sesuatu yang lama di tunggunya.
Cukup lama ia menunggu, tetapi ia segera mengurungkan niatnya saat dirinya melihat bayangan dua orang dari jauh. Namun, dua orang itu hanya berupa bayangan yang tak bisa Mayra lihat hanya terdengar suaranya saja yang berbicara, tetapi Mayra tak paham dengan apa yang mereka ucapkan.
"Siapa mereka?" tanyanya sendiri.
Tubuh Mayra masih saja berdiri di tempat itu Mayra hanya melihat rumah itu dari tempat yang jauh. "Ada apa dengan tubuhku dan kenapa aku tertahan di tempat ini," gumamnya pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments