Bab 19. Tempat apa ini

Mayra tak percaya dengan apa yang di dengarnya, ucapan wanita tua yang tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja. "Di mana ini? Lalu, kenapa aku bisa di sini?" tanyanya bingung.

Netranya memindai seluruh tempat aneh yang baru di pijaknya, bersamaan kesadarannya yang perlahan kembali. "Semua ini tak mungkin," gumamnya pelan.

"Kenapa, kamu terkejut?" tanya suara yang tiba-tiba ia dengar.

Mayra menutup telingannya, saat ini dirinya benar-benar lelah akan apa yang dia hadapi.

"Kamu!" seru suara gadis kecil yang kini dia dengar.

"Diam! Diam!" teriak Mayra kesal.

Gadis kecil yang mendengar teriakan Mayra hanya tersenyum dan kini duduk jongkok menatap ke arahnya tajam, tak lama tawanya terdengar memenuhi tempat ini.

"Jangan marah dan kamu tak berhak untuk marah," bisik gadis ini dengan suara serak.

"Pergi!" teriak Mayra kesal.

Gadis ini masih duduk jongkok dan menatap dengan tajam. "Aku tak akan pergi dan begitu juga dengan kamu," ujar gadis kecil seraya berbisik.

"Diam!" bentak Mayra.

Suara berbisik Mayra dengar silih berganti seakan terus berbisik tanpa henti di telingannya. Mayra yang merasa tak nyaman dengan suara-suara yang di dengarnya kini menutup telinganya rapat-rapat. "Tolong, hentikan semua bisikan kalian, suara kalian," pinta Mayra yang kini duduk sembari menutup telingannya rapat-rapat dan memejamkan mata.

Cukup lama Mayra berlaku demikian

perlahan Mayra melepas tangannya dan membuka netranya perlahan. "Ka-kamu!" seru Mayra terbata saat gadis ini sudah duduk di depannya dan menatap wajahnya lekat.

"Ash. Apa yang kamu lakukan," ucap Mayra tak suka.

Namun, tatapan gadis ini tak kunjung terputus dan terus melihat Mayra tanpa berkedip. "Wajah kamu," ucap gadis ini pelan.

"Wajah kamu, sangat mirip laki-laki pemarah itu dan apa benar dengan perkataan kamu?" tanya gadis ini aneh.

"Ya, dia Ayahku Rusli," jawab Mayra jujur.

Mendengar jawaban Mayra gadis kecil ini beringsut sedikit menjauh, seakan tak suka dengan ucapan Mayra. "Rus-Rusli?" tanyanya pelan.

"Ya, benar. Lalu siapa nama kamu dan di mana Ayah dan Ibu kamu?" tanya Mayra.

"Aku? Aku tidak tahu siapa namaku dan Ibu serta Bapakku? Aku lupa, tetapi aku mencium bau mereka, bau yang sama seperti kamu," jawab Kakcil pelan.

"Bawa, aku ke luar dari tempat ini dan jika kamu mau kita bisa tinggal bersama," pinta Mayra pelan.

Kakcil hanya menggeleng dan kemudian kembali menatap Mayra. "Aku tak bisa pergi karena aku sedang menunggu Ibu dan Bapakku dan aku tak tahu harus berapa lama lagi menunggu," jawab Kakcil aneh.

"Lalu jika kamu tak ingat siapa nama orang tua serta namamu sendiri bagaimana kamu bisa mencarinya dan siapapun yang kamu tanya pasti tidak akan bisa membantu," tutur Mayra pelan.

"Aku tak tahu, andaikan ada orang yang sekali saja memanggilku ... pasti aku bisa mengenali mereka dan siapa aku," jawabnya semakin aneh.

Mayra semakin tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Kakcil apa itu nama kamu?" tanya Mayra pelan.

"Bukan, hanya saja aku suka jika kamu memanggilku Kakcil," jawabnya sembari tersenyum senang.

"Apa ada saudara atau Kakek dan Nenek yang tinggal di kampung ini. Esok akan aku bantu untuk mencari," ucap Mayra memastikan.

Lagi-lagi hanya menggeleng dan kini semakin beringsut menjauh. "Kakcil, tolong jangan tinggalkan aku sendiri!" teriak Mayra keras saat Kakcil tiba-tiba pergi begitu saja.

"Kamu, tak berada di suatu tempat lihat saja di mana kamu berada," suara Kakcil tanpa wujud.

"Aneh, kenapa bisa jadi begini? Apa saat ini aku ...." Mayra tak melanjutkan ucapannya, sesaat dirinya sadar dengan apa yang di lihatnya.

"I-ini tidak mungkin. Kakcil!" teriak Mayra ketakutan.

Perlahan dia berdiri, tetapi lagi-lagi pandangannya terhalang oleh kabut yang terus menebal. "Tempat apa ini sebenarnya?" tanyanya heran.

Mayra masih berada di tempat yang menurutnya aneh, tempat yang membuatnya semakin takut, tetapi dirinya tak mampu untuk ke luar dari tempat ini karena kabut yang semakin menebal. Tubuhnya kini sudah menggigil kedinginan karena udara malam ini tiba-tiba menjadi begitu dingin. Tubuhnya yang gemetar menahan dingin membuatnya harus duduk meringkuk untuk menghangatkan dirinya sendiri. "Ayah, Ibu," gumamnya lirih dan netranya perlahan terpejam.

"Ayah, Ibu," panggilnya tanpa sadar.

Bibirnya terus memanggil dua nama dalam lelapnya hingga dirinya benar-benar terlelap dalam kedinginan. Mayra merasa saat ini tubuhnya begitu ringan antara sadar dan tidak saat ini dia sudah berdiri di sebuah rumah. Rumah yang sama yang pernah di lihatnya dalam mimpi, rumah yang nampak sepi.

"Kenapa aku selalu kembali melihat rumah ini dan ...." Mayra tak melanjutkan ucapannya bibirnya semakin membeku saat melihat gadis kecil yang ke luar dari rumah.

"Bukankah ini Kakcil dan rumah ini?" tanya Mayra pada dirinya sendiri.

Mayra masih berusaha untuk meyakinkan apa yang di lihatnya saat ini dirinya melihat Kakcil sedang menatap langit sore hari dengan senyumnya yang lebar, dirinya seakan menanti sesuatu yang lama di tunggunya.

Cukup lama ia menunggu, tetapi ia segera mengurungkan niatnya saat dirinya melihat bayangan dua orang dari jauh. Namun, dua orang itu hanya berupa bayangan yang tak bisa Mayra lihat hanya terdengar suaranya saja yang berbicara, tetapi Mayra tak paham dengan apa yang mereka ucapkan.

"Siapa mereka?" tanyanya sendiri.

Tubuh Mayra masih saja berdiri di tempat itu Mayra hanya melihat rumah itu dari tempat yang jauh. "Ada apa dengan tubuhku dan kenapa aku tertahan di tempat ini," gumamnya pelan.

Episodes
1 Bab 1. Kesal
2 Bab 2. Perjodohan
3 Bab 3. Pelarian
4 Bab 4. Ibu yang aneh
5 Bab 5. Bertemu dengan gadis kecil
6 Bab 6. Gadis kecil
7 Bab 7. Rumah yang aneh
8 Bab 8. Mencari tahu
9 Bab 9. Ada yang aneh dengan gadis ini
10 Bab 10. Dik, jangan menggoda
11 Bab 11. Di balik pohon
12 Bab 12. Penangkal untuk Mayra
13 Bab 13. Penampakan yang seperti ini
14 Bab 14. Hm ... rupanya kalian sudah bertemu dengannya.
15 Bab 15. Wanita itu Danyang kampung
16 Bab 16. Mimpi yang aneh
17 Bab 17. Tingkah aneh gadis kecil
18 Bab 18. Pesan wanita tua
19 Bab 19. Tempat apa ini
20 Bab 20. Mayra pulanglah Nak
21 Bab 21. Panggilan untuk Mayra
22 Bab 22. Panggilan yang gagal
23 Bab 23. Mak, tolong
24 Bab 24. Ketakutan Rusli
25 Bab 25. Kampung ini
26 Bab 26. Aneh
27 Bab 27. Wajah itu
28 Bab 28. Mayra kita pulang Nak
29 Bab 29. Pertanyaan Mayra
30 Bab 30. Mayra berubah aneh
31 Bab 31. Rusli takut
32 Bab 32. Siapa Laras
33 Bab 33. Rusli flashback
34 Bab 34. Mayra kerasukan
35 Bab 35. Semakin hari semakin aneh
36 Bab 36. Benar itu kamu Mayra
37 Bab 37. Penyesalan yang terlambat
38 Bab 38. Suara yang aneh
39 Bab 39. Kerasukan
40 Bab 40.
41 Bab 41
42 Bab 42. Aku inginkan Mayra
43 Bab 43. Kesadaran Mayra
44 Bab 44. Kedatangan Mak Tum
45 BAB 45. Menyelamatkan Mayra.
46 Bab 46. Tentang Bi Nah
47 Bab 47. Masih Bi Nah
48 Bab 48. Sudah waktunya
49 Bab 49. Maaf Laras
50 Bab 50. Hanya siasat Bi Nah
51 Bab 51. Aku lah pemenangnya Tum
52 Bab 52. Ternyata firasatku benar adanya
53 Bab 53. Apa ada yang salah
54 Bab 54. Percakapan Panca dan Laras
55 Bab 55. Pergilah dengan baik
56 Bab 56. Pergi dengan senyum
57 Bab 57. Semua sudah berlalu
58 Bab 58. Kenyataan yang harus Mayra terima
59 Bab 59. Terima aku, agar aku bisa mengawal Nona.
60 Bab 60. Nama kamu Aisah
61 Bab 61. Tantangan pertama Mayra
62 Bab 62. Biarkan saya mengabdi pada Nona
63 Bab 63. Lihat kenyataannya
64 Bab 64. Aku tidak gila
65 Bab 65. Nona harus bersiap
66 Bab 66. Bertemu kembali
67 Bab 67. Menagih janji
68 Bab 68. Siapa Syahri
69 Bab 69. Aku lah sosok yang tepat untukmu
70 Bab 70. Energi kita sudah selaras.
71 Bab 71. Belajarlah untuk tenang
72 Bab 72. Tiba-tiba Sakti
73 Bab 73. Kejujuran Gendis
74 Bab 74. Gendis kerasukan
75 Bab 75. Serangan masa lalu
76 Bab 76. Duel
77 Bab 77. Maaf, Mayra
78 Bab 78. Tuan Anda
79 Bab 79. Cerita Panca
80 Bab 80. Dua tahun kemudian
81 Bab 81. Kenyataan yang lama tersimpan
82 Bab 82. Cerita Pak Satpam
83 Bab 83. Ada apa dengan rumah Mak Tum
84 Bab 84. Kedai yang aneh
85 Bab 85. Hutan ini
86 Bab 86. Ada-ada saja Mak Tum
87 Bab 87. Panca tiba-tiba aneh
88 Bab 88. Memori Mak Tum
89 Bab 89. Ini duniaku
90 Bab 90. Semua seperti mimpi
91 Bab 91. Taktik Mayra
92 Bab 92. Akhir dari Syahri
93 Bab 93.Perubahan sikap Mayra
94 Bab 94. Pulang ke rumah
95 Bab 95. Mayra beradu
96 Bab 96. Akhir Syahri
97 Bab 97. Tempat terakhir
98 Bab 98. Hari yang baru
99 Bab 99. Ada apa ini
100 Bab 100. Bangkit
101 Bab 101. Kedatangan Gendis
102 Bab 102. Cerita Gendis
103 Bab 103. Cupu kuningan
104 Bab 104. Berangkat Bis terakhir
105 Bab 105. Bis hantu
106 Bab 106. Suara itu memanggil
107 Bab 107. Saya anaknya Rusli
108 Bab 108. Cerita Kakek
109 Bab 109. Pulang dengan kecewa
110 Bab 110.
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Kesal
2
Bab 2. Perjodohan
3
Bab 3. Pelarian
4
Bab 4. Ibu yang aneh
5
Bab 5. Bertemu dengan gadis kecil
6
Bab 6. Gadis kecil
7
Bab 7. Rumah yang aneh
8
Bab 8. Mencari tahu
9
Bab 9. Ada yang aneh dengan gadis ini
10
Bab 10. Dik, jangan menggoda
11
Bab 11. Di balik pohon
12
Bab 12. Penangkal untuk Mayra
13
Bab 13. Penampakan yang seperti ini
14
Bab 14. Hm ... rupanya kalian sudah bertemu dengannya.
15
Bab 15. Wanita itu Danyang kampung
16
Bab 16. Mimpi yang aneh
17
Bab 17. Tingkah aneh gadis kecil
18
Bab 18. Pesan wanita tua
19
Bab 19. Tempat apa ini
20
Bab 20. Mayra pulanglah Nak
21
Bab 21. Panggilan untuk Mayra
22
Bab 22. Panggilan yang gagal
23
Bab 23. Mak, tolong
24
Bab 24. Ketakutan Rusli
25
Bab 25. Kampung ini
26
Bab 26. Aneh
27
Bab 27. Wajah itu
28
Bab 28. Mayra kita pulang Nak
29
Bab 29. Pertanyaan Mayra
30
Bab 30. Mayra berubah aneh
31
Bab 31. Rusli takut
32
Bab 32. Siapa Laras
33
Bab 33. Rusli flashback
34
Bab 34. Mayra kerasukan
35
Bab 35. Semakin hari semakin aneh
36
Bab 36. Benar itu kamu Mayra
37
Bab 37. Penyesalan yang terlambat
38
Bab 38. Suara yang aneh
39
Bab 39. Kerasukan
40
Bab 40.
41
Bab 41
42
Bab 42. Aku inginkan Mayra
43
Bab 43. Kesadaran Mayra
44
Bab 44. Kedatangan Mak Tum
45
BAB 45. Menyelamatkan Mayra.
46
Bab 46. Tentang Bi Nah
47
Bab 47. Masih Bi Nah
48
Bab 48. Sudah waktunya
49
Bab 49. Maaf Laras
50
Bab 50. Hanya siasat Bi Nah
51
Bab 51. Aku lah pemenangnya Tum
52
Bab 52. Ternyata firasatku benar adanya
53
Bab 53. Apa ada yang salah
54
Bab 54. Percakapan Panca dan Laras
55
Bab 55. Pergilah dengan baik
56
Bab 56. Pergi dengan senyum
57
Bab 57. Semua sudah berlalu
58
Bab 58. Kenyataan yang harus Mayra terima
59
Bab 59. Terima aku, agar aku bisa mengawal Nona.
60
Bab 60. Nama kamu Aisah
61
Bab 61. Tantangan pertama Mayra
62
Bab 62. Biarkan saya mengabdi pada Nona
63
Bab 63. Lihat kenyataannya
64
Bab 64. Aku tidak gila
65
Bab 65. Nona harus bersiap
66
Bab 66. Bertemu kembali
67
Bab 67. Menagih janji
68
Bab 68. Siapa Syahri
69
Bab 69. Aku lah sosok yang tepat untukmu
70
Bab 70. Energi kita sudah selaras.
71
Bab 71. Belajarlah untuk tenang
72
Bab 72. Tiba-tiba Sakti
73
Bab 73. Kejujuran Gendis
74
Bab 74. Gendis kerasukan
75
Bab 75. Serangan masa lalu
76
Bab 76. Duel
77
Bab 77. Maaf, Mayra
78
Bab 78. Tuan Anda
79
Bab 79. Cerita Panca
80
Bab 80. Dua tahun kemudian
81
Bab 81. Kenyataan yang lama tersimpan
82
Bab 82. Cerita Pak Satpam
83
Bab 83. Ada apa dengan rumah Mak Tum
84
Bab 84. Kedai yang aneh
85
Bab 85. Hutan ini
86
Bab 86. Ada-ada saja Mak Tum
87
Bab 87. Panca tiba-tiba aneh
88
Bab 88. Memori Mak Tum
89
Bab 89. Ini duniaku
90
Bab 90. Semua seperti mimpi
91
Bab 91. Taktik Mayra
92
Bab 92. Akhir dari Syahri
93
Bab 93.Perubahan sikap Mayra
94
Bab 94. Pulang ke rumah
95
Bab 95. Mayra beradu
96
Bab 96. Akhir Syahri
97
Bab 97. Tempat terakhir
98
Bab 98. Hari yang baru
99
Bab 99. Ada apa ini
100
Bab 100. Bangkit
101
Bab 101. Kedatangan Gendis
102
Bab 102. Cerita Gendis
103
Bab 103. Cupu kuningan
104
Bab 104. Berangkat Bis terakhir
105
Bab 105. Bis hantu
106
Bab 106. Suara itu memanggil
107
Bab 107. Saya anaknya Rusli
108
Bab 108. Cerita Kakek
109
Bab 109. Pulang dengan kecewa
110
Bab 110.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!