"Bu!" teriak Mayra memanggil.
Namun, panggilan Mayra seakan menembus angin, dirinya tak menyangka jika ia akan ditinggal begitu saja di tempat ini. Memindai tempat yang dipijaknya Mayra sedikit heran saat melihat perbedaan yang begitu jelas antara kampung depan merupakan perumahan yang elit sementara kampung belakang perkampungan warga. Mayra merasakan ada sesuatu yang aneh saat kakinya memasuki perkampungan, angin tiba-tiba berembus dingin hingga menembus tulang hingga membuat tubuhnya meremang. "Huufff ... kenapa udaranya begitu dingin," gumam Mayra sambil terus berjalan.
Mayra masih memperhatikan beberapa rumah yang berjajar meskipun terlihat ada beberapa yang ditinggalkan pemiliknya. Berjalan perlahan sembari mencocokkan nomor rumah yang di lewati, tatapan aneh dapat Mayra rasakan dari beberapa warga yang berpapasan dengan dirinya. Mayra akhirnya memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang warga yang tengah menatapnya heran. Mayra yang merasa di perhatikan akhirnya tersenyum untuk menyapa. "Ibu. Maaf, boleh saya bertanya?"
Mendengar sapaan Mayra sang ibu ini sesaat menatap dan tersenyum. "Ya, ada yang bisa saya bantu," jawab sang ibu.
Mayra langsung mendekat dan menunjukkan alamat yang di bawanya. Sang ibu langsung menatap dengan heran, sesaat netranya membola dan tak lama berusaha bersikap biasa. "Nona, yakin akan datang ke alamat ini? Jika iya, Nona jalan lurus saja," jawab sang ibu singkat kemudian berlalu pergi begitu saja. Mendengar pertanyaan yang belum sempat di jawabnya Mayra menatap dengan bingung kenapa semua yang di ajaknya bicara meninggalkan dirinya begitu saja. "Aneh," gumamnya sembari berjalan.
"Ada apa ini? Kenapa mereka langsung pergi?" tanyanya sendri.
Melanjutkan perjalanan sesuai dengan arahan sang ibu, seketika dirinya merasa heran saat langkahnya terhenti tepat di bawah pohon yang tumbuh tinggi menjulang. Ada keanehan yang ia rasakan, jalan ini terputus dan merupakan jalan buntu sementara rumah yang ibu maksud tak bisa Mayra lihat hanya terdapat tanah kosong dan rumput yang baru di pangkas. Mayra memilih berdiri di bawah pohon, saat ini dirinya merasa jika pelariannya terasa sia-sia. "Huuff ... jika begini apa yang harus aku lakukan?" tanyanya penuh sesal.
Mayra masih berdiri dengan segala gundahnya, dirinya tak menyangka jika alam seakan ikut mengejek dirinya. Langit yang awalnya cerah dan terik, kini tiba-tiba mendung, suara petir bergemuruh dengan kilatan merah yang menyambar dengan suara keras yang membuat Mayra berulang kali terkejut. Hujan turun bersamaan dengan kabut yang turun perlahan menutupi tempat di mana dia berdiri dan semakin lama makin deras.
Memilih berdiri di bawah pohon dan berlindung meskipun tubuhnya kini juga sudah basah. Berkali-kali Mayra mendengus kesal saat keberuntungan tak berpihak padanya. Mayra sesaat terkesiap saat netranya menatap lurus ke arah halaman. berulang kali Mayra mengusap matanya tak percaya. "Enggak mungkin, ini bohong," ucap Mayra tak percaya.
Netra Mayra semakin membola tak percaya dirinya semakin menatap tajam dan tak menyangka di tengah hujan deras dan kabut yang tebal, Mayra melihat seorang gadis kecil tengah menari di tengah hujan sambil tertawa bahagia. Tubuh kecilnya terlihat samar tertutup kabut, Mayra tertegun menatap tak percaya, rambut panjangnya dan baju berwarna biru tua sudah basah dan melekat di tubuhnya. Gadis ini seakan tak menghiraukan hujan dan guntur yang sesekali menggelegar.
"Ash ... ini tidak mungkin," ujar Mayra sembari mengusap matanya berulangkali.
Mayra semakin terkejut saat gadis ini menatapnya dengan tajam, mata merah yang terkena air hujan dan menghentikan tariannya. Berjalan perlahan dan mendekat, netra gadis kecil ini seakan berbicara, tetapi Mayra tak paham akan maksud gadis kecil ini.
"Ssstt ...." Gadis ini menyuruhnya untuk diam dengan netranya yang memerah.
Gadis ini kemudian terdiam dan hanya berjalan berkeliling memutari pohon di mana Mayra berdiri. Gadis ini tersenyum penuh misteri netranya makin memerah. "Diam dan lihat," ujar gadis kecil ini tiba-tiba.
Mendengar ucapan gadis kecil ini seketika tubuh Mayra membeku, dirinya tak menyangka beberapa menit kemudian terdengar beberapa orang tengah berbincang. Mayra semakin menutup bibirnya rapat-rapat saat beberapa antek-antek ayahnya datang ke tempat ini. Namun, mereka hanya melihat dari jauh dan sesekali melihat ke arah pohon di mana dirinya berdiri. Mayra semakin tak percaya dengan apa yang di dengar dan dilihatnya. "Sudah, aku bilang. Nona muda tak ada di sini apalagi datang kemari. kamu tahu sendiri, 'kan," ujar salah satu dari mereka dan mendekat ke arah pohon besar ini.
Tubuh Mayra serasa lemas, lututnya sudah gemetar sedari tadi, saat ini udara yang dingin terasa begitu gerah. Mayra semakin takut saat laki-laki ini berdiri tepat di sampingnya, lelaki ini terlihat hanya diam dan tak menyadari jika saat ini dirinya tengah berdiri di tempat yang sama. 'Aneh, kenapa dia tak bisa melihatku,' batin Mayra.
Namun, Mayra bisa melihat jika laki-laki ini berdiri dengan gusar dan sesekali memegang tengkuknya dan selalu melihat ke arah belakang dan tangannya tak berhenti mengusap pipinya. "Aneh, ada apa ini? Hii ...." Ucap laki-laki ini sembari terus menoleh ke belakang.
"Ha-hantu!" teriak laki-laki ini berlari tunggang langgang ketakutan dan di susul oleh yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments