Bab 3. Pelarian

"Apa!" teriak Mayra terkejut.

"Ayah. Apa yang Ayah bicarakan, Mayra menolak perjodohan ini. Sekarang zaman sudah maju Ayah!" protes Mayra.

Namun, sang Ayah tak bergeming sedikitpun masih berdiri menatap anak gadisnya dengan berbagai penolakan yang di lakukannya.  Mayra masih terus berusaha menolak dan terus mendebat sang ayah, tetapi semua yang Mayra lakukan seakan membentur tembok dari keangkuhan orang tuanya. Mayra dengan kesal akhirnya menyerah saat sang ayah memberi keputusan yang membuatnya tak percaya. "Ayah dan Ibu sudah memutuskan dan rencana pernikahan ini akan di gelar dalam dua minggu mendatang, Ayah harap kamu menerima semua keputusan Ayah dan Ayah tak ingin mendengar lagi penolakan dari kamu, Ayah harap kamu paham akan ini Mayra," tegas sang ayah.

"Tapi, Ayah!"

"Ayah bilang tidak ada tapi-tapi, siapkan saja dirimu untuk dua minggu ke depan," ujar sang ayah sembari berlalu pergi dan tak menghiraukan terikan Mayra dan penolakan yang terus sang anak lontarkan.

Mayra saat ini tak tahu harus berbuat apa sementara Panca sudah lama pergi sejak dirinya menolak perjodohan ini.

Perasaan kesal membuat dirinya memilih masuk dalam kamar, tetapi belum juga langkahnya masuk dalam kamar, Mayra mendengar sang Ayah tengah berbicara serius dengan seseorang dan itu menyebut suatu tempat yang tak pernah dirinya dengar nama kota yang begitu asing di telingannya. "Aneh. Apa yang sedang Ayah bicarakan dan sepertinya Ayah secara diam-diam sering membicarakan kota ini," gumamnya dan kini berjalan mengendap, mendekat  berusaha mendengarkan percakapan yang sang ayah lakukan. Mayra benar-benar mendengarkan semua percakapan sang ayah.

Rasa penasaran yang tinggi membuat Mayra melupakan semua rasa kesalnya, sesaat bibir Mayra tersenyum penuh arti, Mayra segera mencatat dan menyimpan nama kota dan alamat yang di dengarnya. Hingga tepukan lembut hinggap di bahunya membuat dirinya terkejut, menoleh ke arah ke belakang.

"I- ibu .... "Sapa Mayra pelan.

"Anak bandel, sejak kapan kamu memiliki sikap mencuri dengar percakapan orang tua," kesal sang ibu sembari menjewer telinga Mayra.

Mayra tak menyangka jika ibunya sendiri enggan untuk membantunya dan seakan sang ibu menuruti saja semua sikap sang ayah yang keras dan semaunya. "Hash, Ibu. May hanya mencuri dengar dan itu pun hanya sekilas," jawab Mayra sembari berlalu pergi begitu saja.

Sang ibu yang melihat tingkah anaknya akhirnya hanya bisa diam menatap Mayra pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Namun, diam-diam Mayra melirik ke arah sang ibu. Mayra sesaat terdiam dan hanya bisa melihat dari tempatnya berdiri. "Apa, juga yang di lakukan oleh ibu, semua terasa aneh, belum lagi perjodohan ini," gumam Mayra tak suka.

Mayra kembali terkejut saat sang ayah berteriak dengan keras dan memanggil namanya berulang kali. "Ya. Ayah!" teriak Mayra tak kalah keras.

"Kemari!" panggil sang ayah.

Mayra dengan perasaan kesal datang memenuhi panggilan sang ayah, berjalan dengan wajah cemberut. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki asing menatapnya dengan tersenyum. Laki-laki yang berusia beberapa tahun darinya, jelas terlihat dari wajahnya yang kebapakan.

"Mayra, kenalkan dia calon suami kamu," tutur sang ayah sembari tersenyum.

Mayra yang terkejut, membuatnya hanya bisa menatap laki-laki yang berdiri di depannya, netranya seketika menatap tajam seakan ingin mengajak laki-laki ini berduel. "Mayra!" teriak sang ayah mengejutkan.

"Ayah! Mayra, menolak dan tak menyukai perjodohan ini titik!" pekik Mayra kesal dan memilih meninggalkan sang ayah dan laki-laki yang sedari tadi menatapnya seakan-akam ingin menelan Mayra bulat-bulat.

Di dalam kamar Mayra segera mengulir ponselnya menghubungi Panca, tetapi berulangkali dirinya melakukan panggilan Panca tak menjawab dan mengalihkan panggilannya. Mayra dengan kesal melempar ponselnya begitu saja dan menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan keras. Netranya terus menatap langit-langit kamar, Mayra tak menyangka jika sang Ayah tetap bersih kukuh melanjutkan perjodohan ini dan tak menghiraukan protes dan penolakan yang di lakukannya.

Mayra memutar otak bagaimana caranya bisa lepas dari perjodohan yang sudah di rencanakan dan berbagai persiapan sudah sang ayah dan ibunya lakukan. "Panca angkat teleponnya," ujar Mayra gusar.

Mayra tak menyangka jika Panca jadi begitu sulit untuk di hubungi dan melupakan dirinya begitu saja. Hingga satu minggu sudah berlalu dan berarti pernikahan ini tinggal menghitung tujuh hari ke depan. Namun, sore ini Mayra merasa senang saat Panca mau membalas panggilan yang di lakukan oleh Mayra. "Ayolah, Panca bantu aku lari dari pernikahan konyol ini. Ingat kamu sudah berjanji membantuku Panca," rengek Mayra pada Panca.

Mayra segera menutup ponsel miliknya dan meraih tak punggung kecilnya, memasukkan beberapa barang dan membaca sekilas kertas kecil yang di pegangnya. "Terima kasih Panca akhirnya kamu mau juga membantu," gumam Mayra sembari keluar dari kamar.

Mayra sedikit terbantu karena hari ini ibu dan sang ayah tengah pergi ke suatu tempat untuk melakukan ritual bulanan yang dikakukannya. Mayra berjalan mengendap memindai seisi rumah yang terlihat sepi, Mayra bergegas pergi ke tempat yang mereka sepakati, pelarian Mayra seakan alam ikut mendukung semua rencananya. Para antek-antek sang ayah juga tak terlihat berkeliaran di rumah. "Selamat," gumam Mayra senang dan masuk dalam mobil.

Namun, belum juga Mayra melaju terdengar teriakan keras dari arah belakang. "Nona, tunggu! Nona jangan pergi!" teriak seorang penjaga dan terlihat berlari mengejar mobil yang di kendarai oleh Mayra.

Mayra sesaat tersenyum saat semua aksinya berjalan lancar dan menghentikan mobil dan bibirnya tersenyum lebar saat melihat Panca dengan wajah tegang. "Panca!" teriak Mayra senang.

"Hash, kamu selalu membawa aku dalam masalah kamu dan apa juga menagih janji dariku," ujar Panca sembari bersungut-sungut kesal.

"Tolong, sekali ini saja. Antar aku ke alamat ini Panca," pinta Tania sembari memberikan alamat yang di bawanya.

Panca lalu membaca dan sedikit menyengitkan dahinya heran. "Kamu akan ke kota ini?" tanya Panca tak percaya.

"Benar! Mungkin di kota ini aku bisa bersembunyi," jawab Mayra sekenanya.

"Kamu nekat May, tetapi aku hanya bisa mengantar kamu hingga terminal terakhir dan selanjutnya kamu melakukan perjalanan sendiri, bagaimana?" tanya Panca seakan sedang merencanakan sesuatu.

Mayra segera masuk dalam mobil Panca, tetapi Panca tak kunjung melajukan mobilnya. "Ayo, kita tunggu apalagi. Ayah tak akan bersedih jika hanya kehilangan satu mobil seperti itu, lagipula kamu juga harus segera tiba di rumah," ujar Mayra panjang lebar.

"May .... "

"Ayo, Panca sebelum antek-antek Ayah datang," ucap Mayra bersemangat.

Perjalanan yang begitu jauh, Mayra tak menyangka jika alamat asing yan di tujunya berbeda dengan semua yang berada di dalam angannya. Namun, Panca seketika berhenti sebelum memasuki terminal terakhir menatap Mayra sesaat. "May, kamu yakin ingin pergi ke kota ini?" tanya Panca ragu.

"Demi menolak pernikahan aneh yang Ayah atur aku rela tinggal di sini hingga Ayah sadar akan keputusannya Panca," jawab Mayra bersamaan dengan suara ponselnya yang terus berdering.

"Matikan, cepat matikan," pinta Mayra cemas.

Episodes
1 Bab 1. Kesal
2 Bab 2. Perjodohan
3 Bab 3. Pelarian
4 Bab 4. Ibu yang aneh
5 Bab 5. Bertemu dengan gadis kecil
6 Bab 6. Gadis kecil
7 Bab 7. Rumah yang aneh
8 Bab 8. Mencari tahu
9 Bab 9. Ada yang aneh dengan gadis ini
10 Bab 10. Dik, jangan menggoda
11 Bab 11. Di balik pohon
12 Bab 12. Penangkal untuk Mayra
13 Bab 13. Penampakan yang seperti ini
14 Bab 14. Hm ... rupanya kalian sudah bertemu dengannya.
15 Bab 15. Wanita itu Danyang kampung
16 Bab 16. Mimpi yang aneh
17 Bab 17. Tingkah aneh gadis kecil
18 Bab 18. Pesan wanita tua
19 Bab 19. Tempat apa ini
20 Bab 20. Mayra pulanglah Nak
21 Bab 21. Panggilan untuk Mayra
22 Bab 22. Panggilan yang gagal
23 Bab 23. Mak, tolong
24 Bab 24. Ketakutan Rusli
25 Bab 25. Kampung ini
26 Bab 26. Aneh
27 Bab 27. Wajah itu
28 Bab 28. Mayra kita pulang Nak
29 Bab 29. Pertanyaan Mayra
30 Bab 30. Mayra berubah aneh
31 Bab 31. Rusli takut
32 Bab 32. Siapa Laras
33 Bab 33. Rusli flashback
34 Bab 34. Mayra kerasukan
35 Bab 35. Semakin hari semakin aneh
36 Bab 36. Benar itu kamu Mayra
37 Bab 37. Penyesalan yang terlambat
38 Bab 38. Suara yang aneh
39 Bab 39. Kerasukan
40 Bab 40.
41 Bab 41
42 Bab 42. Aku inginkan Mayra
43 Bab 43. Kesadaran Mayra
44 Bab 44. Kedatangan Mak Tum
45 BAB 45. Menyelamatkan Mayra.
46 Bab 46. Tentang Bi Nah
47 Bab 47. Masih Bi Nah
48 Bab 48. Sudah waktunya
49 Bab 49. Maaf Laras
50 Bab 50. Hanya siasat Bi Nah
51 Bab 51. Aku lah pemenangnya Tum
52 Bab 52. Ternyata firasatku benar adanya
53 Bab 53. Apa ada yang salah
54 Bab 54. Percakapan Panca dan Laras
55 Bab 55. Pergilah dengan baik
56 Bab 56. Pergi dengan senyum
57 Bab 57. Semua sudah berlalu
58 Bab 58. Kenyataan yang harus Mayra terima
59 Bab 59. Terima aku, agar aku bisa mengawal Nona.
60 Bab 60. Nama kamu Aisah
61 Bab 61. Tantangan pertama Mayra
62 Bab 62. Biarkan saya mengabdi pada Nona
63 Bab 63. Lihat kenyataannya
64 Bab 64. Aku tidak gila
65 Bab 65. Nona harus bersiap
66 Bab 66. Bertemu kembali
67 Bab 67. Menagih janji
68 Bab 68. Siapa Syahri
69 Bab 69. Aku lah sosok yang tepat untukmu
70 Bab 70. Energi kita sudah selaras.
71 Bab 71. Belajarlah untuk tenang
72 Bab 72. Tiba-tiba Sakti
73 Bab 73. Kejujuran Gendis
74 Bab 74. Gendis kerasukan
75 Bab 75. Serangan masa lalu
76 Bab 76. Duel
77 Bab 77. Maaf, Mayra
78 Bab 78. Tuan Anda
79 Bab 79. Cerita Panca
80 Bab 80. Dua tahun kemudian
81 Bab 81. Kenyataan yang lama tersimpan
82 Bab 82. Cerita Pak Satpam
83 Bab 83. Ada apa dengan rumah Mak Tum
84 Bab 84. Kedai yang aneh
85 Bab 85. Hutan ini
86 Bab 86. Ada-ada saja Mak Tum
87 Bab 87. Panca tiba-tiba aneh
88 Bab 88. Memori Mak Tum
89 Bab 89. Ini duniaku
90 Bab 90. Semua seperti mimpi
91 Bab 91. Taktik Mayra
92 Bab 92. Akhir dari Syahri
93 Bab 93.Perubahan sikap Mayra
94 Bab 94. Pulang ke rumah
95 Bab 95. Mayra beradu
96 Bab 96. Akhir Syahri
97 Bab 97. Tempat terakhir
98 Bab 98. Hari yang baru
99 Bab 99. Ada apa ini
100 Bab 100. Bangkit
101 Bab 101. Kedatangan Gendis
102 Bab 102. Cerita Gendis
103 Bab 103. Cupu kuningan
104 Bab 104. Berangkat Bis terakhir
105 Bab 105. Bis hantu
106 Bab 106. Suara itu memanggil
107 Bab 107. Saya anaknya Rusli
108 Bab 108. Cerita Kakek
109 Bab 109. Pulang dengan kecewa
110 Bab 110.
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Bab 1. Kesal
2
Bab 2. Perjodohan
3
Bab 3. Pelarian
4
Bab 4. Ibu yang aneh
5
Bab 5. Bertemu dengan gadis kecil
6
Bab 6. Gadis kecil
7
Bab 7. Rumah yang aneh
8
Bab 8. Mencari tahu
9
Bab 9. Ada yang aneh dengan gadis ini
10
Bab 10. Dik, jangan menggoda
11
Bab 11. Di balik pohon
12
Bab 12. Penangkal untuk Mayra
13
Bab 13. Penampakan yang seperti ini
14
Bab 14. Hm ... rupanya kalian sudah bertemu dengannya.
15
Bab 15. Wanita itu Danyang kampung
16
Bab 16. Mimpi yang aneh
17
Bab 17. Tingkah aneh gadis kecil
18
Bab 18. Pesan wanita tua
19
Bab 19. Tempat apa ini
20
Bab 20. Mayra pulanglah Nak
21
Bab 21. Panggilan untuk Mayra
22
Bab 22. Panggilan yang gagal
23
Bab 23. Mak, tolong
24
Bab 24. Ketakutan Rusli
25
Bab 25. Kampung ini
26
Bab 26. Aneh
27
Bab 27. Wajah itu
28
Bab 28. Mayra kita pulang Nak
29
Bab 29. Pertanyaan Mayra
30
Bab 30. Mayra berubah aneh
31
Bab 31. Rusli takut
32
Bab 32. Siapa Laras
33
Bab 33. Rusli flashback
34
Bab 34. Mayra kerasukan
35
Bab 35. Semakin hari semakin aneh
36
Bab 36. Benar itu kamu Mayra
37
Bab 37. Penyesalan yang terlambat
38
Bab 38. Suara yang aneh
39
Bab 39. Kerasukan
40
Bab 40.
41
Bab 41
42
Bab 42. Aku inginkan Mayra
43
Bab 43. Kesadaran Mayra
44
Bab 44. Kedatangan Mak Tum
45
BAB 45. Menyelamatkan Mayra.
46
Bab 46. Tentang Bi Nah
47
Bab 47. Masih Bi Nah
48
Bab 48. Sudah waktunya
49
Bab 49. Maaf Laras
50
Bab 50. Hanya siasat Bi Nah
51
Bab 51. Aku lah pemenangnya Tum
52
Bab 52. Ternyata firasatku benar adanya
53
Bab 53. Apa ada yang salah
54
Bab 54. Percakapan Panca dan Laras
55
Bab 55. Pergilah dengan baik
56
Bab 56. Pergi dengan senyum
57
Bab 57. Semua sudah berlalu
58
Bab 58. Kenyataan yang harus Mayra terima
59
Bab 59. Terima aku, agar aku bisa mengawal Nona.
60
Bab 60. Nama kamu Aisah
61
Bab 61. Tantangan pertama Mayra
62
Bab 62. Biarkan saya mengabdi pada Nona
63
Bab 63. Lihat kenyataannya
64
Bab 64. Aku tidak gila
65
Bab 65. Nona harus bersiap
66
Bab 66. Bertemu kembali
67
Bab 67. Menagih janji
68
Bab 68. Siapa Syahri
69
Bab 69. Aku lah sosok yang tepat untukmu
70
Bab 70. Energi kita sudah selaras.
71
Bab 71. Belajarlah untuk tenang
72
Bab 72. Tiba-tiba Sakti
73
Bab 73. Kejujuran Gendis
74
Bab 74. Gendis kerasukan
75
Bab 75. Serangan masa lalu
76
Bab 76. Duel
77
Bab 77. Maaf, Mayra
78
Bab 78. Tuan Anda
79
Bab 79. Cerita Panca
80
Bab 80. Dua tahun kemudian
81
Bab 81. Kenyataan yang lama tersimpan
82
Bab 82. Cerita Pak Satpam
83
Bab 83. Ada apa dengan rumah Mak Tum
84
Bab 84. Kedai yang aneh
85
Bab 85. Hutan ini
86
Bab 86. Ada-ada saja Mak Tum
87
Bab 87. Panca tiba-tiba aneh
88
Bab 88. Memori Mak Tum
89
Bab 89. Ini duniaku
90
Bab 90. Semua seperti mimpi
91
Bab 91. Taktik Mayra
92
Bab 92. Akhir dari Syahri
93
Bab 93.Perubahan sikap Mayra
94
Bab 94. Pulang ke rumah
95
Bab 95. Mayra beradu
96
Bab 96. Akhir Syahri
97
Bab 97. Tempat terakhir
98
Bab 98. Hari yang baru
99
Bab 99. Ada apa ini
100
Bab 100. Bangkit
101
Bab 101. Kedatangan Gendis
102
Bab 102. Cerita Gendis
103
Bab 103. Cupu kuningan
104
Bab 104. Berangkat Bis terakhir
105
Bab 105. Bis hantu
106
Bab 106. Suara itu memanggil
107
Bab 107. Saya anaknya Rusli
108
Bab 108. Cerita Kakek
109
Bab 109. Pulang dengan kecewa
110
Bab 110.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!