"Apa!" teriak Mayra terkejut.
"Ayah. Apa yang Ayah bicarakan, Mayra menolak perjodohan ini. Sekarang zaman sudah maju Ayah!" protes Mayra.
Namun, sang Ayah tak bergeming sedikitpun masih berdiri menatap anak gadisnya dengan berbagai penolakan yang di lakukannya. Mayra masih terus berusaha menolak dan terus mendebat sang ayah, tetapi semua yang Mayra lakukan seakan membentur tembok dari keangkuhan orang tuanya. Mayra dengan kesal akhirnya menyerah saat sang ayah memberi keputusan yang membuatnya tak percaya. "Ayah dan Ibu sudah memutuskan dan rencana pernikahan ini akan di gelar dalam dua minggu mendatang, Ayah harap kamu menerima semua keputusan Ayah dan Ayah tak ingin mendengar lagi penolakan dari kamu, Ayah harap kamu paham akan ini Mayra," tegas sang ayah.
"Tapi, Ayah!"
"Ayah bilang tidak ada tapi-tapi, siapkan saja dirimu untuk dua minggu ke depan," ujar sang ayah sembari berlalu pergi dan tak menghiraukan terikan Mayra dan penolakan yang terus sang anak lontarkan.
Mayra saat ini tak tahu harus berbuat apa sementara Panca sudah lama pergi sejak dirinya menolak perjodohan ini.
Perasaan kesal membuat dirinya memilih masuk dalam kamar, tetapi belum juga langkahnya masuk dalam kamar, Mayra mendengar sang Ayah tengah berbicara serius dengan seseorang dan itu menyebut suatu tempat yang tak pernah dirinya dengar nama kota yang begitu asing di telingannya. "Aneh. Apa yang sedang Ayah bicarakan dan sepertinya Ayah secara diam-diam sering membicarakan kota ini," gumamnya dan kini berjalan mengendap, mendekat berusaha mendengarkan percakapan yang sang ayah lakukan. Mayra benar-benar mendengarkan semua percakapan sang ayah.
Rasa penasaran yang tinggi membuat Mayra melupakan semua rasa kesalnya, sesaat bibir Mayra tersenyum penuh arti, Mayra segera mencatat dan menyimpan nama kota dan alamat yang di dengarnya. Hingga tepukan lembut hinggap di bahunya membuat dirinya terkejut, menoleh ke arah ke belakang.
"I- ibu .... "Sapa Mayra pelan.
"Anak bandel, sejak kapan kamu memiliki sikap mencuri dengar percakapan orang tua," kesal sang ibu sembari menjewer telinga Mayra.
Mayra tak menyangka jika ibunya sendiri enggan untuk membantunya dan seakan sang ibu menuruti saja semua sikap sang ayah yang keras dan semaunya. "Hash, Ibu. May hanya mencuri dengar dan itu pun hanya sekilas," jawab Mayra sembari berlalu pergi begitu saja.
Sang ibu yang melihat tingkah anaknya akhirnya hanya bisa diam menatap Mayra pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Namun, diam-diam Mayra melirik ke arah sang ibu. Mayra sesaat terdiam dan hanya bisa melihat dari tempatnya berdiri. "Apa, juga yang di lakukan oleh ibu, semua terasa aneh, belum lagi perjodohan ini," gumam Mayra tak suka.
Mayra kembali terkejut saat sang ayah berteriak dengan keras dan memanggil namanya berulang kali. "Ya. Ayah!" teriak Mayra tak kalah keras.
"Kemari!" panggil sang ayah.
Mayra dengan perasaan kesal datang memenuhi panggilan sang ayah, berjalan dengan wajah cemberut. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki asing menatapnya dengan tersenyum. Laki-laki yang berusia beberapa tahun darinya, jelas terlihat dari wajahnya yang kebapakan.
"Mayra, kenalkan dia calon suami kamu," tutur sang ayah sembari tersenyum.
Mayra yang terkejut, membuatnya hanya bisa menatap laki-laki yang berdiri di depannya, netranya seketika menatap tajam seakan ingin mengajak laki-laki ini berduel. "Mayra!" teriak sang ayah mengejutkan.
"Ayah! Mayra, menolak dan tak menyukai perjodohan ini titik!" pekik Mayra kesal dan memilih meninggalkan sang ayah dan laki-laki yang sedari tadi menatapnya seakan-akam ingin menelan Mayra bulat-bulat.
Di dalam kamar Mayra segera mengulir ponselnya menghubungi Panca, tetapi berulangkali dirinya melakukan panggilan Panca tak menjawab dan mengalihkan panggilannya. Mayra dengan kesal melempar ponselnya begitu saja dan menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan keras. Netranya terus menatap langit-langit kamar, Mayra tak menyangka jika sang Ayah tetap bersih kukuh melanjutkan perjodohan ini dan tak menghiraukan protes dan penolakan yang di lakukannya.
Mayra memutar otak bagaimana caranya bisa lepas dari perjodohan yang sudah di rencanakan dan berbagai persiapan sudah sang ayah dan ibunya lakukan. "Panca angkat teleponnya," ujar Mayra gusar.
Mayra tak menyangka jika Panca jadi begitu sulit untuk di hubungi dan melupakan dirinya begitu saja. Hingga satu minggu sudah berlalu dan berarti pernikahan ini tinggal menghitung tujuh hari ke depan. Namun, sore ini Mayra merasa senang saat Panca mau membalas panggilan yang di lakukan oleh Mayra. "Ayolah, Panca bantu aku lari dari pernikahan konyol ini. Ingat kamu sudah berjanji membantuku Panca," rengek Mayra pada Panca.
Mayra segera menutup ponsel miliknya dan meraih tak punggung kecilnya, memasukkan beberapa barang dan membaca sekilas kertas kecil yang di pegangnya. "Terima kasih Panca akhirnya kamu mau juga membantu," gumam Mayra sembari keluar dari kamar.
Mayra sedikit terbantu karena hari ini ibu dan sang ayah tengah pergi ke suatu tempat untuk melakukan ritual bulanan yang dikakukannya. Mayra berjalan mengendap memindai seisi rumah yang terlihat sepi, Mayra bergegas pergi ke tempat yang mereka sepakati, pelarian Mayra seakan alam ikut mendukung semua rencananya. Para antek-antek sang ayah juga tak terlihat berkeliaran di rumah. "Selamat," gumam Mayra senang dan masuk dalam mobil.
Namun, belum juga Mayra melaju terdengar teriakan keras dari arah belakang. "Nona, tunggu! Nona jangan pergi!" teriak seorang penjaga dan terlihat berlari mengejar mobil yang di kendarai oleh Mayra.
Mayra sesaat tersenyum saat semua aksinya berjalan lancar dan menghentikan mobil dan bibirnya tersenyum lebar saat melihat Panca dengan wajah tegang. "Panca!" teriak Mayra senang.
"Hash, kamu selalu membawa aku dalam masalah kamu dan apa juga menagih janji dariku," ujar Panca sembari bersungut-sungut kesal.
"Tolong, sekali ini saja. Antar aku ke alamat ini Panca," pinta Tania sembari memberikan alamat yang di bawanya.
Panca lalu membaca dan sedikit menyengitkan dahinya heran. "Kamu akan ke kota ini?" tanya Panca tak percaya.
"Benar! Mungkin di kota ini aku bisa bersembunyi," jawab Mayra sekenanya.
"Kamu nekat May, tetapi aku hanya bisa mengantar kamu hingga terminal terakhir dan selanjutnya kamu melakukan perjalanan sendiri, bagaimana?" tanya Panca seakan sedang merencanakan sesuatu.
Mayra segera masuk dalam mobil Panca, tetapi Panca tak kunjung melajukan mobilnya. "Ayo, kita tunggu apalagi. Ayah tak akan bersedih jika hanya kehilangan satu mobil seperti itu, lagipula kamu juga harus segera tiba di rumah," ujar Mayra panjang lebar.
"May .... "
"Ayo, Panca sebelum antek-antek Ayah datang," ucap Mayra bersemangat.
Perjalanan yang begitu jauh, Mayra tak menyangka jika alamat asing yan di tujunya berbeda dengan semua yang berada di dalam angannya. Namun, Panca seketika berhenti sebelum memasuki terminal terakhir menatap Mayra sesaat. "May, kamu yakin ingin pergi ke kota ini?" tanya Panca ragu.
"Demi menolak pernikahan aneh yang Ayah atur aku rela tinggal di sini hingga Ayah sadar akan keputusannya Panca," jawab Mayra bersamaan dengan suara ponselnya yang terus berdering.
"Matikan, cepat matikan," pinta Mayra cemas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments