Gadis ini terus menatap datangnya suara yang terus berteriak memberi perintah.
"Kamu, kenal dengan mereka?" tanyanya sembari menunjuk beberapa laki-laki yang berlalu lalang dan seorang yang berdiri sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman.
Mayra seketika menutup mulutnya rapat-rapat dan semakin duduk merunduk menyembunyikan tubuhnya di balik semak-semak. "Ssttt ... dia Bapakku dan antek-anteknya dan kamu lihat, laki-laki tinggi besar itu?" bisik Mayra sembari menunjuk ke arah laki-laki yang terlihat garang dengan kumis bercabangnya dan kepala yang tertutup kain udeng.
"Ssstt .... "Ucap Mayra ulang saat salah satu antek bapaknya berjalan mendekat.
Kabut turun semakin lebat menyamarkan tubuh mereka berdua. "Bagaimana apa Nona muda terlihat bersembunyi?" tanya laki-laki satunya.
"Hiii ... kamu saja yang melihat," jawab laki-laki ini bergidik takut.
Mayra semakin gemetar saat laki-laki ini makin mendekat. "Hash, kenapa kabut ini hanya turun di sini dan ...." Laki-laki ini tak melanjutkan ucapannya dan memilih berjalan mundur ke belakang dan menarik tangan temannya dengan segera.
"Ada, apa. Benar, 'kan ceritaku?" tanya laki-laki ini sembari mengusap tengkuknya berulangkali.
Laki-laki ini tak menjawab hanya memilih diam meskipun saat ini hatinya begitu takut dan ketakutannya makin menjadi saat tiba-tiba netranya menangkap sesuatu yang aneh di hadapannya. "La-lari ... a-ada han-tuu .... "Teriak laki-laki ini dan lari tunggang langgang meninggalkan temannya.
"Tunggu ... jangan lari!" teriak teman satunya dan berlari kencang tak menghiraukan tatapan teman yang lainnya.
Sementara itu, Rusli dan laki-laki berkumis seketika berjalan mendekat ke arah keributan yang sedang terjadi. "Ada, apa? Kenapa kalian berisik!" seru Rusli tak suka.
"Entah Tuan, sepertinya mereka dari sana, dari balik pohon itu," jawabnya sembari mengusap tengkuknya dan mundur beberapa langkah untuk menghindari sesuatu.
Rusli yang mendengar jawaban dari anak buahnya langsung menghentikan teriakannya dan menahan langkahnya seketika. "Cepat bereskan ritualmu dan kita pergi dari sini, pastikan semuanya sudah terpasang dengan benar. Rudi, temani dia dan aku tunggu di mobil," titah Rusli sembari melangkah cepat dengan wajah takutnya.
Rudi seketika menatap heran, saat apa yang di lihatnya tadi ikut menghilang. "Anda melihat gadis kecil dengan rambut tergerai dan baju basah serta ...." Rudi tak melanjutkan ceritanya saat laki-laki ini memintanya diam.
Bibir laki-laki ini tampak komat-kamit seakan membaca mantra yang dia tujukan pada pohon besar yang tertutup kabut. "Aneh, apa yang terjadi di sini. Kenapa ada jiwa yang mendendam dan ingin menuntut balas," ujar laki-laki ini kemudian diam menghentikan semua rapal mantranya.
Laki-laki berkumis yang mirip dengan seorang cenayang atau orang yang memiliki linuwih kebatinan ini langsung mengedarkan pandangannya dan sesaat kemudian meletakkan benda yang di bawanya. "Maaf, aku tak bisa melakukan ini. Ada kesalahan dan kejahatan yang tak bisa aku tolong," ujarnya pelan sembari melepas ikatan kepalanya.
"Rudi, tolong rahasiakan apa yang aku lakukan," ucap laki-laki ini kemudian mendekat dan membisikkan sesuatu pada Rudi.
Laki-laki ini kemudian duduk untuk beberapa saat dan tersenyum penuh arti. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, aku tak akan menghalangi, tetapi tolong jangan biarkan yang tak bersalah ikut menanggung apa yang tak pernah dia lakukan," tutur laki-laki ini kemudian berdiri dan menaburkan sesuatu mengelilingi halaman besar ini.
"Aku, akan memberi batasan untukmu hingga apa yang kamu inginkan terwujud," ucap laki-laki ini sembari mengusap tangannya pada kain yang di pakainya tadi.
"Kita pulang Rudi, jika Tuan bertanya bilang kita tak menemukan Nona muda," ujar laki-laki ini sembari tersenyum dan melangkah pergi begitu saja.
"Ta-tapi, apa Tuan akan percaya dengan alasan kita?" tanya Rudi ragu.
Laki-laki ini berhenti dan menatap ke arah Rudi dan kemudian mengedarkan pandangannya ke arah kampung. "Coba lihat dan aku akan menujukkan padamu tempat apa yang baru kita datangi," terang laki-laki berkumis kemudian.
"Kamu, paham. Saat ini Tuan kita sedang menuai karma yang sedang dia tanam dan aku tak bisa ikut campur dalam hal ini," jelas laki-laki ini lagi.
Namun, belum juga Rudi dan laki-laki ini beranjak pergi mereka di kejutkan oleh kedatangan seorang wanita yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mereka. Wanita ini hanya tersenyum dan menunduk kemudian berlalu pergi begitu saja. Sesaat terdengar suara pelan dari wanita ini dan tak lama semuanya sudah kembali seperti awal saat laki-laki ini mengusap wajahnya sekali dan cepat.
"Aku titipkan dia padamu," ujar laki-laki ini dan berlalu pergi begitu saja bersama Rudi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments