"Hash ... kenapa anak ini senang sekali menghilang dan mengabaikan panggilannku dan argh ... kenapa pula aku tak menanyakan namanya," gumam Mayra sembari menguap.
"Huam ... ngantuk sekali," gumam Mayra pelan sembari menggerakkan tubuhnya sesaat dan tersenyum. "Ternyata anak ini baik hati, dia mau menyiapkan ranjang untukku meskipun sederhana," tutur Mayra pelan.
Namun, semua senyum Mayra seketika hilang saat netranya menatap ke arah lampu yang menyala berkedip-kedip di antara kabut yang turun semakin merapat. "Huuff ... dingin sekali dan kabut ini?" tanyanya sendiri tak urung kakinya naik juga ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya dengan nyaman.
Namun, sesaat Mayra terdiam saat menyadari ada sesuatu di sisinya dengan cepat ia bangun dan menoleh seakan ingin membuktikan apa yang ia lihat sekilas tadi. "Enggak, mungkin," ujarnya sembari mengusap netranya berulang kali.
"Apa, ada yang salah dengan mataku atau ... ash. Apa ini efek dari rasa kantukku?" tanya Mayra pada dirinya sendiri saat apa yang di lihatnya sekilas tak terbukti.
"Sadar Mayra, sadar," gumamnya pelan dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Udara malam yang dingin mengandung air sisa hujan yang sedari tadi baru terhenti membuat tubuhnya meremang dingin. "Ada apa dengan rumah ini dan kenapa kabut turun dengan pekat sekali?" tanya Mayra heran.
Rasa lelah yang sedari tadi di tahan membuat dirinya sedikit tak menghiraukan semua rasa penasaran dan takutnya. "Rumah yang aneh dan kenapa Bapak dan Ibu begitu merahasiakan rumah ini," gumamnya dan berkali-kali menguap.
Tanpa mengganti baju, dirinya langsung merebahkan tubuhnya asal di atas ranjang sesaat ia terkejut saat merasakan ranjang yang di tidurinya ia merasa ranjang yang tak senyaman miliknya di rumah. "Mayra, nikmati saja semua yang ada masih beruntung kamu saat ini bisa menemukan ranjang ini," gumam Mayra untuk memberi sugesti pada dirinya sendiri. "Lalu, bagaimana dengan anak itu? Apa dia ...." Mayra memutus ucapannya begitu saja saat teringat akan anak kecil yang menolongnya.
"Huam ... se ... moga dia juga tidur dengan nyaman layaknya diriku," gumamnya dengan mata mulai terpejam dan tak lama sudah terlelap dalam alam mimpi.
Namun, Mayra tak menyadari jika saat ini dirinya tengah di awasi oleh gadis kecil yang ia khawatirkan keadaannya. Gadis ini tidur di samping Mayra denhan rambut dan baju basahnya menatap Mayra tajam. Terlihat dari cara dia melihat bahwa gadis ini sangat tidak menyukai Mayra, berulangkali dia mengendus tubuh Mayra seakan ingin memastikan sesuatu pada tubuhnya. Hingga beberapa menit kemudian anak kecil ini kemudian tersenyum penuh arti seakan dia sedang mempunyai rencana yang sedang dia sembunyikan. "Selamat datang di duniaku," ujarnya pelan dan kemudian pergi begitu saja.
Kepergian gadis ini diiringi dengan kabut yang turun dan angin yang tiba-tiba bertiup lembut tetapi terasa dingin dan iru mbuat Mayra tidur tak tenang terlihat dari gerak tubuhnya yang gelisah. Namun, Mayra tetap terlelap dalam tidurnya dan entah apa yang sedang Mayra alami dalam mimpinya.
Matahari mulai masuk dari jendela kamar yang tak bertirai sinarnya yang terang menyibak kabut yang perlahan menipis dan hilang dari kamar. Mengerjapkan netranya sesaat hingga dirinya tersadar saat ini ada di mana. "Ash ... kenapa aku bangun kesiangan," gumamnya sembari bergegas turun dari ranjang. Mayra sejenak duduk di sisi ranjang sesaat tersenyum saat mengingat akan sesuatu yang selama ini dirinya lewati. "Selamat datang kebebasan," ucapnya sembari tersenyum puas.
Senyumnya seketika surut saat melihat kamar yang di huninya. "Ash ... kenapa berantakan sekali," gumamnya sambil berdiri dan segera keluar melihat rumah ini secara menyeluruh. "Sekarang aku bisa melihat dengan jelas dan aku akan membersihkan secara perlahan. Rumah kecil sederhana dan tak banyak perabot," ucapnya sembari tersenyum senang.
Melangkah menuju ruang tamu Mayra melihat ke arah halaman dan pohon besar tempatnya berteduh sesaat ia menyengitkan dahi heran saat melihat ke arah pohon. "Lalu di mana rumah anak itu dan saat ini dia ada di mana? Apa dia sekolah?" tanyanya sendiri dan kini memilih masuk.
Duduk sebentar dan kemudian berdiri. "Sebaiknya aku membersihkan ruang tamu ini dulu sembari menunggu Anak itu," gumamnya sendiri, tetapi tangannya sembari mengerjakan ini dan itu.
Mayra sedikit heran saat semua pekerjaannya sudah selesai tetapi anak kecil ini tak kunjung datang. "Argh ... kenapa cuacanya panas sekali dan ash ...." Mayra baru menyadari akan satu hal saat perutnya merasa lapar.
Bergegas masuk dalam kamar dan mengganti baju yang di pakainya sejak semalam. "Sebaiknya aku beli makanan di depan saja," gumamnya sembari meraih tas miliknya.
Berjalan hingga sampai halaman, Mayra seketika menghentikan langkahnya dan kembali menatap heran dengan apa yang dilihatnya. "Aneh dan sejak kapan ada rumah di situ dan beberapa menit tadi," ucapnya pelan sembari menggaruk kepalannya dengan bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments