"Hantu? Aku bukan hantu, aku manusia," ujar Mayra sembari mengusap tengkuknya yang meremang.
"Aneh, kenapa mereka ketakutan hanya ada aku dan ... Dik ... Dik," panggil Mayra saat sadar jika saat ini dirinya sedang berdua dengan gadis kecil.
"Dik," panggil Mayra ulang.
Mayra sesaat menyengitkan dahi heran saat tak melihat gadis kecil yang menolongnya, tetapi hanya terdengar tawanya. "Hi hi hi ...." Tawa yang terdengar aneh.
"Dik ...."Panggil Mayra berjalan ke arah sumber suara.
Netranya seketika membola lebar saat melihat gadis ini tertawa dan membelakangi pohon ini. Tawa aneh yang membuat Mayra ngeri, masih memperhatikan sikap gadis ini dengan seksama. "Hem, kenapa kamu memperhatikan saya? Saya hanya menertawakan tingkah laki-laki tadi," ujarnya tanpa menoleh dan melihat ke arah Mayra.
Mayra tak tahu harus berbuat apa, dirinya semakin heran, kabut kembali turun dengan tebal hingga menghalangi pandangannya. Suasana semakin gelap hingga Mayra tak berani untuk bergerak sedikitpun hingga tak berapa lama kabut mulai menipis bersama datangnya sinar matahari dan angin yang berembus pelan. Perlahan Mayra bisa melihat apa yang ada di depannya, netranya membola tak percaya dengan apa yang di lihatnya. "Ru-rumah, i-itu?" tanya Mayra tertahan.
Berkali-kali Mayra mengusap netranya, dirinya seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya, terhipnotis untuk sesaat akan apa yang dilihatnya. "A-apa ini nyata dan bukan ilusi," gumam Mayra sambil mengusap kedua netranya berulangkali.
"Hash, apa ini?" tanyanya sembari mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa ... ru-rumah itu?"
Mayra yang masih terkejut dengan apa yang di lihatnya kini semakin terkejut saat gadis kecil ini kembali muncul. "Tara ... aku di sini Kak," jawabnya tiba-tiba dengan tubuh basahnya dan rambutnya yang basah tergerai sebahu.
Mayra, seketika memutus tatapannya dan melihat ke arah anak kecil yang ada di depannya. "Ka-kamu?"
"Hem, Kakak pasti terkejut," jawab gadis ini dengan tatapan dinginnya.
Mayra menatap sejenak gadis kecil yang ada di depannya seakan ingin melihat jelas wajah gadis yang ada di depannya. "Kamu, kedinginan dan di mana rumah kamu?" tanya Mayra.
"Itu!" serunya sedikit keras dengan tatapan kosong.
Mayra seketika melihat ke arah telunjuk gadis ini kemudian kembali melihat gadis ini dengan heran. "Kamu, yakin itu rumah kamu?"tanya Mayra bingung.
"Hem, itu memang rumahku, tetapi sekarang ...." Gadis kecil ini menjeda ucapannya dan tertunduk diam.
Melihat gadis ini sedih Mayra beringsut mendekat, mengusap lembut kepala gadis ini.
"Dik, boleh Kakak bertanya?" tanya Mayra pelan.
Gadis ini hanya menatap ke arahnya, tanpa berkedip dan tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tersenyum aneh dengan bibir membirunya karena dingin. "Apa adik tahu alamat rumah ini?" tanya Mayra pelan.
Sesaat gadis ini terdiam menatap kertas yang di sodorkan olehnya kemudian mengendusnya dan berganti mengendus tubuh Mayra. Gadis ini mengendus tubuhnya sekali lagi seakan dia tengah memastikan sesuatu. Tatapannya berubah tajam untuk sesaat dan kemudian tersenyum aneh. Perlahan gadis ini mundur untuk menjaga jarak hingga beberapa menit kemudian.
"Argh ...." Teriaknya kesal.
Namun, tak lama gadis ini kembali mendekat.
"Ayo, itu rumah kamu," jawabnya kemudian.
"Ta-tapi?"
"Hem. Ayo!" ajak gadis ini.
Mayra dengan semua kebingungannya mengekor saja gadis kecil yang sudah berjalan lebih dulu di depannya. Tubuh yang basah dan rasa dingin, membuat Mayra tak bisa berpikir dengan jernih. Langkahnya terasa ringan hingga dirinya tiba di halaman rumah ini. Menghentikan langkahnya, memindai rumah yang berdiri di depannya.
"Masuk Kak," ujar gadis kecil ini.
Mayra tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri, timbul pertanyaan yang membuat terus merasa penasaran. Namun, Mayra akhirnya menggeleng tak percaya bersamaan tangan dingin gadis ini yang menyentuhnya dan membuyarkan lamunan. "Kak. Ayo, masuklah," ajak sang gadis.
Mayra tersenyum, melangkah sedikit masuk dalam ruang tamu, netra Mayra seketika memindai ruangan yang nampak sepi. "Dik, mana orang tua kamu?" tanya Mayra tiba-tiba.
Gadis ini hanya menggeleng dan tersenyum aneh. "Ini rumah kamu dan rumah saya bukan di sini, tetapi ada di belakang pohon besar itu. Besok Kakak bisa melihatnya," jawab gadis kecil ini aneh.
"Maksud Adik?"
"Hem. Dulu memang rumahku, tetapi aku sudah pindah," jawabnya sembari melihat ke arah halaman.
"Wah! Hujan ... asyik, hujan!" teriaknya sembari berlari dan kemudian gadis ini bermain hujan, menari dan tertawa dengan riang.
Mayra masih melihat dengan heran, teriakannya seakan tak bisa gadis kecil ini dengar, dirinya telah hanyut beryanyi, tertawa dan menari dengan begitu gembiranya.
"Aneh, lalu rumah ini?" tanya Mayra sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu.
"Apa itu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mia Roses
polos bgt kamu mayra
2023-04-29
1