"Hash ... selalu pergi begitu saja," gerutu Mayra dan terus mengejar langkah anak ini.
"Dik, tunggu!" teriak Mayra keras lagi dan lagi.
Mayra berjalan sedikit cepat, tangannya yang tadi basah, lengket dan bau tiba-tiba hilang begitu saja saat dirinya ke luar dari dalam rumah. Mayra masih melihat dengan heran dan terus mencium dan melihat tangannya. "Aneh, kenapa tiba-tiba tanganku .... "Ucapan Mayra terhenti dan seketika netranya menangkap bayangan dari balik pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Dik, Dik .... "Panggil Mayra pelan.
Mengedarkan pandangannya untuk sesaat dan kembali melangkah sedikit maju. "Bukankah di balik pohon ini ada rumah? Lalu, kemana rumah yang aku lihat kemarin?" tanyanya bingung.
Mayra masih terus mencari rumah yang sempat di lihatnya, tetapi yang di temuinya saat ini hanya hamparan rumput dan tanah yang sedikit luas. Mayra yang semakin penasaran kembali melangkah satu langkah ke depan, rasa penasaran yang terus terselip di hatinya membuat dirinya semakin meyakinkan niatnya untuk melihat apa yang ada di depannya.
Merasa tak menemukan anak kecil dan rumah yang sempat di lihatnya akhirnya ia memilih untuk diam dan duduk di bawah pohon besar ini. "Hash, apa ini hanya ilusiku saja atau ... aku sedang bermimpi," gumamnya sembari melihat dengan seksama apa yang ada di depannya.
Mayra kini berpaling ke belakang untuk melihat rumah yang di huninya, sesaat senyumnya terlukis di ujung bibirnya saat melihat rumah itu masih berdiri di tempatnya.
"Huam ... akh, kenapa tiba-tiba aku sangat mengantuk dan angin di sini begitu segar," gumamnya sembari menguap untuk yang ke sekian kalinya.
Perlahan netranya terlelap, angin sepoi di siang hari menuntun netra Mayra terpejam dengan tenang, seakan suara gemersik daun tertiup angin menjadi alunan musik yang menina bobokan dirinya. Namun, tidak dengan tubuhnya yang berulangkali terlihat berjingkit dan terkadang terdengar napasnya yang memburu dan sesekali raut wajahnya menegang dan terlihat ketakutan.
"Agh ... tidak! Jangan!" teriaknya keras.
Bersamaan dirinya tersadar dari tidurnya dan melihat di mana saat ini dia berada. Keringat dingin sudah membasahi wajahnya yang putih bersih. "Rupanya hanya mimpi, tetapi seperti kejadian nyata," gumamnya sendiri.
Mayra yang masih berada di antara sadar dan tidak samar-samar mendengar suara berbisik ramai dan tepat seakan di dekat telingannya, suara beberapa anak kecil yang ramai berbicara, tetapi menggunakan bahasa yang sama sekali dirinya tak paham, suara gumamman yang terus berulang dan tak jelas.
"Dik ... apa kamu itu?" tanya Mayra sembari bangun dari duduknya dan mendatangi tempat di mana ia mendengar suara beberapa anak kecil yang sedang tertawa dan berbicara dengan berbisik.
"Dik ... kamu kah itu?" tanya Mayra sembari menyibak tumbuhan semak-semak yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Namun, Mayra segera mundur beberapa langkah saat melihat siapa yang sedang tertawa dan bermain di balik semak-semak.
"Ti-tidak, ini tidak mungkin," ucapnya pelan sembari menutup mulutnya rapat-rapat.
Mayra melihat beberapa anak kecil sedang bermain dan tertawa tetapi mereka tidak sempurna mata mereka, wajah mereka dan mereka menatapnya dengan tatapan aneh. "Enggak, ini hanya mimpi semua yang aku lihat hanyalah mimpi," ujar Mayra kini sembari duduk jongkok ketakutan.
"Tidak, aku tidak melihat ini. Ini hanya ilusi," gumam Mayra berulangkali sembari menutup matanya.
"Kamu, apa yang kamu lakukan di sini," panggil anak ini tiba-tiba muncul di depan Mayra.
"Aku-aku, aku enggak tahu! Semua ini hanya mimpi dan ini tak benar," ujar Mayra sembari menutup matanya dan menggeleng.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya anak ini menyelidik.
Mayra masih dengan takutnya, masih menutup matanya dan terus menggeleng tak percaya. "Hash! Sudah aku bilang jangan ke luar dari rumah," ucap anak ini sembari tersenyum puas.
"Semua ini gara-gara kamu dan aku kemari mencari kamu," jawab Mayra tak terima dan tak sadar akan ucapannya.
Gadis kecil ini tersenyum puas saat melihat Mayra ketakutan dengan apa yang dilihatnya.
"Pulang dan masuk, lihat sebentar lagi akan turun hujan," ujar gadis kecil ini pelan.
"Dik, temani aku. Aku sangat ketakutan dan tempat apa ini?" tanya Mayra penasaran.
Namun, belum juga dirinya menjawab gadis kecil ini sudah berlari bersembunyi duduk di balik semak-semak. "Sssttt ... cepat kemari ada monster," ujarnya pelan sembari melambai ke arah Mayra.
"Cepat! Atau kamu akan mati!" seru gadis kecil ini pelan.
Mayra yang tak paham akan maksud gadis kecil ini akhirnya hanya menurut saja, bagaimanapun juga saat ini dirinya hanya berbicara dan berinteraksi dengan gadis kecil ini. Mayra ikut duduk bersembunyi di balik semak dan melihat ke arah yang di tunjuk oleh gadis ini tanpa bicara dan hanya netranya yang menatap tajam penuh dendam.
Tubuh gadis kecil ini semakin meringkuk takit saat suara asing yang terdengar berteriak dan memerintah siapa saja yang ada di depannya.
"Saya, tidak mahu tahu. Cari dan temukan!" perintah seorang laki-laki yang tak asing untuk Mayra.
"Ssssttt ... diam dan jangan bergerak," ujar gadis kecil ini bersamaan kabut tipis yang turun perlahan menutupi tubuh mereka.
"Kamu, kamu kenal siapa mereka?" tanya gadis kecil ini berbisik semakin pelan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
Mia Roses
Siapa sebenarnya gadis kecil ini ya
2023-05-01
1